Penghuni Pohon Tua

Penghuni Pohon Tua
Satu Per Satu


__ADS_3

Madi senakin menambah bacaan zikir dan hijib yang selalu terpasang di kepalan tangannya. Dia harus tetap waspada. Kalau tidak, dia bisa menjadi korban keganasan makhkuk tak kasat mata itu.


Makhluk itu juga semakin tajam memperhatikan tindak tanduk Madi. S3s3kali mendengus, menyiratkan ada rasa gusar dalam dirinya. Dalam satu kesempatan, makhluk itu sudah berada di depan Madi, siap menerkamnya kembali.


Madi sedikit mundur, tak menduga serangan crpat makhluk tersebut. Beruntung, Madi memangvsudah bersiaga sejak awal, jadi bisa menghindar serangan itu.


"Beruntung, Kau bisa mengelak seranganku, hahaha!" seru ki Buto.


Madi tersenyum, terus waspada Makhkuk pendatang itu ternyata cukup kuat. Tidak terlaluvmudah mengusirnya.


"Sebaiknya, Kau segeralah menyingkit dari sini!" Madi kali ini membentak, mulai merasa tak nyaman dengan kehadiran Ki Buto. Hawa dingin disertai aroma busuk yang berasal dari makhluk itu, semakin mengganggu. Pernapasannya jadi tersumbat. Sesak, menahan bau amis.


"He ... he ... he .... Ini adalah daerah kekuasaanku yahg baru bersama makhluk-makhkuk yang lain," ucapnya, menunjuk pohon tua di seberang rumah Madi.


"Makhluk seperti kalian ,tak seharusnya tiiggal di sini dan mengganggu ketejtraman manusua. Alam kita sudah berbeda dimensi."


Kali ini Madi bersikap lebih tegas Makhluk astral seperti mereka memang seharusnya tak usah diajak berkomunikasi. Bukannya pergi, makhluk makhluk itu kini kembali menyerang Madi. Udara dalam ruang tengah itu semakin dingin. Benar-benar membuat suasana semakin mencekam.


Suara lengkingan tawa milik perempuan bertaring panjang mulai terdengar. Pertanda satu per satu mereka mulai mengisyaratkan kehadiran mereka. Madi bersyukur karena mereka hanya berada di bagian luar rumah, belum berani masuk ke dalam.


Makhluk aneh itu menyeringai, menampakkan wajah seramnya. Ki Buto yang memiliki tubuh menyerupai raksasa, memiliki sepasang taring, siap menerjang Madi kembali.


'Makhluk ini semakin pongah saja. Apalagi setelah mendengar cekikikan tawa dedemit perempuan penghuni pojon tua itu. Aku harus lebih bisa berkonsentrasi, mengusir makhluk ini secepatnya, sebelum makhkuk yang lain berhasil masuk,' bathin Madi. Ya, memang betul ucapan Madi tadi. Laki-laki muda ini harus benar-benar mengerahkan semua kemampuannya agar bisa mengusir si makhluk bernama ki Buto itu.

__ADS_1


Dua pukulan hijib pun langsung diarahkan Madi pada makhluk itu. Disambut dengan erangan tipis si ki Buto. Ternyata salah satu pukulan hijib Madi tadi ada yang mengenai makhluk tersebut.


"Argh ... panas ... panas ...." Makhluk itu terus menerus berteriak.


"Rasakan pukulan hijibku itu, hai Ki Buto. Seharusnya, Kau sudah harus pergi dari tadi!" Madi pun membentak makhluk astral itu.


Ki Buto tampaknya masih mencoba untuk bertahan. Makhluk itu mengekuarkan bau amis yang semakin menusuk indera penciuman. Begitu pun lagi kabut tipis berisi udara dingin pun. Kali ini makhkuk itu berjuang habis-habisan.


Beberapa barang dalam ruang tengah mulai bergetar hebat, akibat pijakan ki Buto yang berat. Tubuh Madi bergoyang, seperti dilanda gempa bumi.


Madi menutup mata, mencoba untuk tetap berzikir, membaca sholawat juga menyebut Asmaul Husna dan terakhir melapisi ke dua kepalan tangannya dengan hijib. Dia benar-benar tak boleh lengah kali ini.


Melihat Madi yang mencoba bertahan, makhluk itu semakin kuat menghentakkan kakinya, membuat guncabgan yang bertambah dashyat. Madi menarik napas panjang. Ketika mendapat satu kesempatan, dua segera menghujamkan hijibnya kepada ki Buto.


Kali ini, pukulan hijib Madi hanya lewat di sisi makhluk itu, tak ada dampaknya pada makhkuk itu. Madi kembali bersiap, dan menyiapkan hijib yang lain.Sementara ki Buto terus tertawa, seolah telah meraih kemenangan.


"Desh ...." Kali ini sebuah pukulan hijib Madi mengenai tubuh makhluk astral itu. Sontak raungan kemarahan terdengar dari makhluk itu.


"Panas ... panas ... panas .... Lihat pembalasanku, Manusia!"


Madi hampir terjungkal saat sabetan makhluk itu lewat di sisi kirinya. Angin yang dirasakan dari serangan itu lebih dingin dari tadi. Madi segera mengisi seluruh tubuhnya dengan bacaan zikir juga hawa panas dari tenaga dalamnya.


Sebuah pukulan hijib lagi kemudian dilepaskan Madi, tak mau membuang kesempatan. Saat ini makhluk itu sedang meraung kesakitan dan kepanasan. Ini adalah waktu yang tepat untuk menyerang sejali lagi.

__ADS_1


"Dash ...." Pukulan hijib Madi kembali mengenai makhluk tersebut. Jeritannya semak8n keras terdengar.


"Panas ... panas ... panas ... ampun ...."


Madi semakin gencar melancarkan pukulan hijibnya, tak ingin melepas kesempatan ini. Zikir, sholawat juga terus dibacakan, membuat makhkuk iru merasa semakin terbakar. Guncangan dalam ruangan itu jadi terasa semakin kencang karena makhluk itu terus menjerit kepanasan.


Namun, setelah Madi terus mendesak debgan bacaan hijib dan zikir, guncangan itu semakin melemah. Makhluk itu tampaknya sydah menyerah, tak kuat menahan hawa panas dari pukulan hijib dan bacaan zikir Madi.


"Kali ini, Aku akan pergi. Tunggu saja, suatu saat Aku dan makhluk penghuni pohon tua lainnya akan membuat perhitungan. Lihat saja, akan semakin banyak orang yang bersekutu dengan kami."


Madi tersenyum, membalas ucapan makhkuk itu. Sebuah hijib lagi dilepaskan, membungkam dan membuat makhluk itu akhirnya keluar.


"Sampai kapan pun, Aku akan terus berusaha mengusir dan membuat kalian tak berkutik, tak akan bisa lagi mengganggu orang-orang di sekitar sini." Madi membalas ucapan makhluk itu.


Hawa dingin dan bau amis tak lagi memenuhi ruangan kini. Perlahan situasi sudah kembali normal. Bunyi tawa panjang dan dentuman langkah pun ikut menghilang. Madi seketika mengucap syukur pada Sang Khalik. Tanpa bantuan Nya, pasti Madi tak akan bisa mengusir makhluk astral bertubuh bak raksasa itu.


lengkingan tawa demit perempuan di luar rumah pun ikut menghilang. Suasana kembali seperti biasa. Hening tapi tak mencekam. Hanya suara hewan malam yang mengisi kesunyian malam.


Merasakan situasi sudah kembali seperti semula, Madi masuk kembali ke dalam kamar. Di sana, Madi mendapati kalau istrinya sedang tertidur pulas.


Madi tersenyum, puas karena telah berhasil mengalahkan dan mengusir makhluk astral tadi. Sesaat rasa kantuk mulai menyerang. Madi tak mengindahkannya, malahan pergi ke kamar mandi, mengambil wudhu lalu melaksanakan salat malam


Madi biasanya meminta pertolongan dan perlindungan Allah, Sang Pelindung dengan melaksanakan salat malam. Meluangkan waktu di sepertiga malam terakhir.

__ADS_1


Aulia masih tertidur lelap ketika Madi sudah menyelesaikan salat tahajud. Perlahan, ia mendekati Aulia dan ikut merebahkan diri. Waktu salat subuh masih sekitar satu setengah jam lagi. Masih bisa beristirahat dan tiidur beberapa saat di samping Aulia.


Malam ini begitu melelahkan bagi Madi. Besok, dia masih harus mekakukan beberapa pekerjaan yang lain.


__ADS_2