
Ketika sedang asyik menyantap bekal makan siang mereka, Madi dan Aulia tidak menyadari ada sepasang mata yang kembali mengawasi. Mencermati setiap gerakan mereka berdua. Namun, Madi akhirnya tersadar saat dirinya merasa ada yang mengawasi.
Madi bersusaha untuk tetap bersikap tenang, membaca zikir lamat-lamat dalam hati denfan khusyuk. Memohon perlindungan dari Allah agar terhindar dari gangguan sepasang matavyang sedang memperhatikan dari kejauhan.
"Ada apa Kang. Kenapa makannya berhenti?" tanya Aulia, heran melihat suaminya itu tiba-tiba berhenti makan.
"Nggak ada apa-apa, Dik. Akang hanya teringat sesuatu saja," ucap Madi mencari alasan Dia tidak ingin membuat isterinya menjadi cemas mengetahui apa sesungguhnya yang terjadi.
"Oh ... syukurlah kalau begitu, Kang. Ayo, dilanjut lagi makannya. Sebentar lagi pasar akan tutup!"
Madi tersenyum mendengar ucapan Aulia. Iya, hari sudah beranjak siang. Pasar tempat mereka berjualan hanya buka sampai menjelang tengah hari saja, karena pembeli yang datang tinggal satu dua orang saja. Jadi kebanyakan, pedagang di pasar ini banyak yang pulang dan menutup kios mereka.
Sementara sepasang mata itu masih memperhatikan mereka berdua dari satu tempat. Namun Madi tidak gentar sedikit pun. Dia bebar-benar percaya bahea Allah akan melindungi mereka dari godaan dan maksud terselubung dari sepasang mata itu.
Melihat suaminya, Madi kembali menyantap makanan siangnya, Aulia merasa lega. Berarti, memang tidak ada hal yang patut dikhawatirkan. Aulia pun mulai membereskan satu per satu sayur-sayur yang tidak tahan lama dan masih tersisa. Biasanya mereka bawa pulang kembali dan memberikan pada beberapa tetangga. Sedangkan yang masih bisa dijual, akan dijaga kesegarannya untuk dijual kembali seok hari. Ada juga beberapa tetangga yang membeli dagangan mereka di rumah. Memang harganya sedikit diturunkan Madi dan lebih murah dibandingkan saat dijual di kios mereka.
"Kang, sebentar lagi akang-akang yang bantuin kita buat ngangkat sayur akan datang. Alhamdulillah, hari ini tak banyak sayuran segar yang tersisa!" Kembali Madi tersenyum mendengar ocehan isterinya. Yah, memang betul apa yang dikatkan Aulia. Hari ini hanya sedikit sayuran yang tersisa, itu berarti pelanggan mereka kembali membeli sayuran. Meski mereja sudah cukup lana tidak berjualan.
"Iya, Dik. Syukur Alhamdulillah. Ayo, kita taruh keranjang sayuran di luar kios Sebentar lagi mereka akan datang.!"
__ADS_1
Benar saja, beberapa kuli panggul yang biasa membantu mereka berdua atau pedagang lain mulai berdatangan. Karena sisa sayuran tak banyak, Madi hanya membuiuhkan satu orang saja, sementara yang lain bergerak menuju pedagang lain yabg juga sudah mulai berkemas.
Madi dan Aulia berjalan terlebih dahulu menuju parkiran, disusul oleh akang kupi pabggul yang membantu mereka.
"Kang, kita langsung pulang atau ke tempat ibu?"
"Kita langsung pulang saja, Dik. Nanti, jalau sedang senggang kita pasti silaturahim ke rumah ibu." Aulia mengangguk, mengerti. Lagi pula mereka baru saja dari sana.
Seoanjang perjalanan Aulia terlihat cukup gelisah. Madi cukup heran melihat perubahan sikao Aulia yang tidak seperti biasanya.
"Ada apa, Dik. Kok, gelisah begitu?"
Madi lantas memutar mirotak lewat telephon genggamnya. Cara ini biasanya sangat efektif dan selalu dipakainya jika Aulia mengalami hal-hal semacam ini. Aulia memang terlihat lebih tenabg, saat mendengar alunan ayat-ayat suci tersebut. Sikap gelusah yang tadi diperlihatkannya tadi sudah jauh berkurang.
Sementara di suatu tempat sepasang mata yang menyimpan dendam dan amarah itu memandang sepasang suami isteri itu dengan senyum misterius. Seperti ada yang direncanakan. Persis seperti yang dilakukan oleh Nang, cucuk nenek bungkuk itu dahulu. Madi menggeleng mencoba mebarik benang berah yang ada. Apakah Nang memiliki saudara laki-laki lain? Mengapa tatapan itu hampir menyerupai tatapan Nang?
Madi menarik napas sangat panjang, terus betzikir dalam hati. Meminta petunjuk dan pertolongan dari Yang Mebgetahui dan Maha Melindungi. Samar dia melihat jin-jin penghuni pohon tua itu berjejer rapi, ketika mereja berdua melewati tempat itu. Ada seringai mengejek di wajah-wajah mereka.
'Apa lagi yang akan diperbuat makhkuk astral itu? Tidak cukupkah korban yang sudah jadi tumbal selama ini?' bathin Madi. Benar-benar gusar dengan tingkah laku para makhkuk gaib itu yang bisa mempengaruhi banyak manusia yang lemah imannya.
__ADS_1
Demit atau jin berbentuk perempuan cantik bertaring panjang itu terlihat berdiri paling depan. Kuku tangannya yang runcing seperti memberi isyarat bahwa akan ada korban baru, pelampiasan hawa negatif yang melekat pada roh mereka.
Madi hanya memandang sekilas pada mereka. Hatinya terus berzikir mencegah pengaruh jahat para makhluk tak kasat mata itu. Beruntung murotal yang sedari tadi diputarnya membuat semacam benteng pertahanan dari serangan gaib makhluk-makhluk tersebut.
Madi lantas memarkirkan mobilnya di halaman. Suasana sedikit gekap. Rinai sudah mulai berjatuhan. Madi membimbing Aukia terlebih dahulu masuk ke dalam rumah. Baru setelah itu, ia sendiri masuk dengan membawa keranjang sayuran yang masih tersisa. Baru saja Madi masuk ke dalam rumah turun hujan sangat deras. Air yang tercurah begitu banyak dan lebat.
Madi mengucap syukur. Semoga dengan turunnya hujan bisa mencegah perbuatan-perbuatan jahat dari seseorang desisnya perlahan.
"Kang, sepertinya sudah masuk lohor. Kita salat zuhur yok, Kang!" Madi mengangguk, kemudian melenggang menuju kamar mandi. Aulia dan Madi sudah terbiasa mengingatkan satu sama lain dalam hal beribadah.
Madi oun menuju terlebih dahulu menuju kamar mandi. Menpersiapkan diri dan mengambil wudhu. Aulia juga melakukan hal yang sama Setelah dirasakan sudah siap, mereka berdua pun melakukan salat zuhur secara berjamaah.
Sampai menjelang salat magrib, keadaan di sekitar rumah mereka masih bisa dikatakan cukup tenang. Kondisi masyarakat yang lalu lalang pun terlihat berjalan seperti biasanya. Hanya saja, sisa hujan yang turun tadi siang menyisakan suasana dingin.
Keadaan lembab, gelap dan dingin menang sangat disukai makhluk-makhluk astral, termasuk penghuni pohon tua itu. Madi bisa merasakan aura negatif yang dipancarkan oleh semua penghuni pohon tua itu.
Selepas salat isya, gangguan itu satu per satu mulai dirasakan Madi dan Aulia. Mulai dari lemparan benda-benda sampai gedoran di pintu. Madi merasa geram. Meski telah berkali-kali diusir, tetap saja para penghuni pohon tua itu mengganggu mereka.
Aulia pun berusaha untuk duduk lebih merapat ke arah Madi dalam sebuah batas yang telah dibuat oleh suaminya terlebih dahulu. Batas gaib yang bisa mencegah masuknya makhluk-makhluk tak kasat mata itu. Gangguan yang terus-menerus dilakukan penghuni pohon tua itu kini meresahkan.
__ADS_1