Penghuni Pohon Tua

Penghuni Pohon Tua
Menanti Pergerakan


__ADS_3

Selama satu harian ini, situasi di pondok, masih terbilang aman. Kondisi Madi, Bayu dan ustad Amir juga sudah pulih sedua kala. Terutama, Bayu, santri ini tak lagi muntah-muntah dan terpengaruh dengan aura negatif milik makhluk tak kasat mata, yang kemarin merasukinya.


"Hari ini, kondisi kalian sudah membaik, Madi,"ucap kyai Sarwa selepas salat ashar.


"Iya, Kyai. Bayu dan ustad Amir, juga sudah pulih seperti biasa," jawab Madi, tersenyum kecil.


Hari ini, kondisi pondok terasa seperti saat Jaka belum meneror pondok. Ekspresi para santri terlihat ceria, tak perlu khawatir dengan gangguan makhluk tak kasat mata.


"Bagaimana, kalau, makhluk yang menghuni lukisan itu, kita keluarkan, Kyai? Mungkin saja, ada beberapa keterangan yang bisa diperoleh!"


Kyai Sarwa mengangguk-angguk, mencoba mempertimbangkan usul Madi. Bisa jadi, apa yang dikatakan Madi itu benar.


"Begini saja, Madi. Besok malam saja, kita cari keterangan dari makhluk itu. Malam ini, istifahat saja, sambil terus mengasah hijib yang ada!"


Madi mengangguk, mendengar ucapan kyai Sarwa. Meski sudah bisa bertempur melawan makhluk astral tersebut tapi kalau harus dipaksakan berhadapan dengan makhluk-makhluk itu, mungkin bisa saja kondisi mereka tak kunjung membaik.


"Baiklah, kalau menurut Kyai, itu yang terbaik!"


Akhirnya, malam ini, kyai Sarwa dan Madi, tak jadi membuka lukisan yang berisi makhluk halus tersebut. Malam ini, mereka bisa beristirahat cukup tenang meski harus tetap siaga, mengantisipasi pergerakan Jaka.


Keesokan malamnya, kyai Sarwa sengaja tak mengajak Bayu dan ustad Amkr, menghadapi makhluk yang berada dalam lukisan. Mereka berdua, ditugaskan kyai Sarwa patroli, mengawasi tempat-tempat yang disinyalir sebagai tempat persembunyian makhluk-makhluk tak kasat mata itu.


"Kyai, apa kita berdua mampu mengalahkan dan menghsir makhlhk-makhluk itu?"


"Iya, Madi. Kyai, yakin itu. Biarlah, Bayu dan ustad Amir, berjaga-jaga sambil mengawasi pergerakan Jaka."


Madi mengangguk, menghela napas, mempersiapkan diri, menghadapi makhluk astral itu.


"Sekarang, Kyai, akan buka segel itu. Bersiaplah, Madi!"


Madi kembali mengangguk, mempersiapkan diri, berzikir, membaca hijib, menyalurkannya ke kepalan tinjunya.

__ADS_1


Perlahan, kyai Sarwa mengambil gulungan lukisan yang disimpan di lemari. Aura negatif masih terpancar dari lukisan itu. Udara dingin, menusuk tulang, semakin terasa kini.


Usai membaca bismillah, memohon perlindungan pada Allah, kyai Sarwa langsung membuka gulungan lukisan itu.


Tiga sosok tak kasat mata segera muncul di hadapan mereka. Berbeda dengan bebetapa makhluk yang berada di lukisan sebelumnya, yang berwajah menyeramkan.


Makhluk yang berada dalam lukisan ini, terdiri dari arwah satu keluarga yang mdnjadi tumbal pesugihan. Wajah mereka tak seseram makhluk astral lainnya.


"Siapa kalian, hai makhluk yang mendiami lukisan?" Kyai Sarwa, mulai membuka komunikasi.


"Kami, adalah arwah korban pesugihan yang disuruh seorang nenek bungkuk, untuk meneror santri di si sini!" Arwah menyerupai seorang laki-laki sekitar tiga puluhan itu menjawab.


"Apa yang akan kalian lakukan untuk menakut-nakuti para santri?" Kyai Sarwa, terus berupaya, mengorek, keterangan dari para arwah tersebut.


"Kami, akan muncul di saat tengah malam, saat santri melakukan aktivitas di malam hari. Bahkan, di siang hari, kami pun akan menakut-nakuti dengan mengeluarkan suara-suara aneh."


Sepertinya arwah yang berada dalam lukisan ini, tak sejahat makhluk-makhluk tak kasat mata sebelumnya.


"Sebaiknya kalian keluar saja dari sini!" usir kyai Sarwa, tegas.


"Baiklah, saya akan coba, mendoakan kalian, sehingga tak lagi menjadi budak dari orang yang memanfaarkan keberadaan kalian."


Kyai Sarwa pun menyanggupi permintaan ketiga arwah tersebut.


"Terima kasih, Kyai. Sebaiknya, semua penghuni di pondok ini, tetap siaga. Tak lama lagi, banyak arwah penasaran dan makhluk-makhluk halus lainnya akan datang membuat keonaran di sini."


Kyai Sarwa, mengucapkan terima kasih, untuk semua keterangan yang telah disampaikan ketiga arwah tadi. Ternyata, mereka tak bermaksud jahat. Ketiga arwah tersebut, perlahan, menghilang dari pandangan kyai Sarwa dan Madi.


Dari ketiga arwah tadi, kyai Sarwa dan Madi, berhasil mendapatkan keterangan, mengenai rencana Jaka. Jika yang dikatakan arwah itu benar, situasi ini akan sangat membahayakan penghuni pondok. Tidak semua santri menguasai ilmu supranatural.


"Kyai, apa yang harus kita lakukan? Apa sebaiknya sebagian para santri, kita pulangkan saja!"

__ADS_1


Kyai Sarwa, menatap Madi, mencermati ucapannya barusan. Dari air mukanya, tampak, kyai Sarwa kurang menyerujui saran Madi tadi.


"Untuk saat ini, sebaiknya para santri, ndak usah kita pulangkan, Madi. Nanti malah menimbulkan tanda tanya!"


Madi mengangguk, mendengar penjelasan kyai Sarwa. Memang ada benarnya. Pasti, orang tua santri akan bertanya-tanya, jika anak mereka dipulangkan, bukan pada saat waktunya libur sekolah.


"Iya, Kyai. Madi mengerti. Jadi, apa yang harus kita lakukan, untuk mencegah peristiwa yang bisa membahayakan para santri?"


Kyai Sarwa merenung, berpikir keras, mencari jalan keluar terbaik, sehingga nantinya tak terjadi hal-hal yang di luar dugaan.


"Begini saja, Madi. Para santri kita buatkan peraturan, untuk membaca Al-Quran setiap saat, secara bergiliran. Bisa juga, menghidupkan murotal. Sehingga pada akhirnya, makhluk-makhluk itu tak kan berani mendekati pondok."


"Iya, Kyai. Cara ini efektif juga. Jika cara ini bisa diterapkan, maka, tak akan banyak santri yang mengalami bahaya."


"Kamu betul, Madi. Semoga saja, begitu. Kita harus yakin bahwa Allah akan tetap menolong seluruh hamba-Nya yang membutuhkan pertolongan."


Madi mengangguk, bertambah semangat, bahwa mereka pasti bisa mengalahkan Jaka.


Obrolan kyai Sarwa dan Madi pun terus berlanjut, sementara di suatu tempat, Jaka sedang menyiapkan bala tentaranya, menyerang kyai Sarwa.


Tampak, banyak makhluk tak kasat mata terdiri dari jin, lelembut, siluman dan makhluk halus lainnya. Ada juga arwah-arwah penasaran yang memang dipersiapkan untuk memvantu penyerangan ini.


Selain itu, nenek bungkuk beserta cucunya Nang, tampak mengawasi kegiatan makhluk-makhluk tersebut. Bukan perkara mudah, mengumpulkan begitu banyak makhluk-makhluk tak kasat mata itu.


Harus ada sesuatu yang dijadikan mahar, agar makhluk seperti mereka mau membantu. Jiwa Jaka akan menjadi milik mereka sepenuhnya. Menjadi bagian dari mereka selamanya.


"Jaka, mulai saat ini, menang atau kalah, kau akan menjadi bagian dari kami. Sekutu-sekutu iblis yang selalu haus dengan kekuasaan dan darah."


Jaka pun mengangguk. Mata hatinya telah tertutup dengan dendam dan keserakahan. Dia hanya berpikir bahwa dengan bersekutu iblis bisa memberikan apa pun yang diinginkan.


Namun, sepertinya, Jaka lupa bahwa Allah, Maha Mengetahui. Allah tak akan membiarkan iblis mengalahkan hamba-hamba-Nya.

__ADS_1


"Iya, Nyai. Jaka tak pernah lupa!"


Tawa nenek bungkuk menggema, menyuarakan kemenangan iblis.


__ADS_2