
Setelah mendengar cerita Aulia tadi, kedua orang tua Aulia, duduk santai, setelah salat magrib berjamaah. Madi lalu berjalan perlahan mendekati bapak Aulia dan mulai menceritakan semua kejadian yang menimpa mereka di rumah itu. Awalnya, bapak dan ibu Aulia tidak memberikan reaksi yang berlebihan. Namun, setelah mengetahui kalau yang menjadivincaran mereka sekarang adalah Aulia, barulah timbul perasaan khawatir.
“Jadi, besok, Nak Madi akan kembali ke pondok ?” Bapak Aulia bertana sambil merapikan peci yang bertengger di kepalanya.
“Iya, Pak. Madi nitip Aulia dicsini untuk beberapa hari. Kalo ditinggal di rumah sendirian, saya malah khawatir,Pak.”
Bapak Aulia manggut-manggut. Sepertinya beliau bisa mengerti kegelisahan menantunya itu. Memang dari beberapa kerabat, pernah terdengar cerita yang cukup seram mengenai rumah yang didiami Madi dan Aulia. Juga tersiar kabar kalau penghuni pohon tua itu adalah makhluk-makhluk suruhan seseorang untuk mencari korban atau tumbal untuk mencapai satu tujuan tertentu. Seperti menghasilkan kekayan secara tidak wajar.
“Nak Madi, ndak usah cemas. Aulia aman di sini. Anak konsentrasi saja di pondok. Biar cepat menyelesaikan permasalahan ini.” Jawaban bapak mertuanya tadi membuat Madi bisa bernapas lega. Aulia akan aman jika ditinggalkan di sini. Kebutuhan sehari-harinya pun akan terpenuhi.
Lagi pula, ada orang tuanya yang mengawasi tindak-tanduknya yang labil, sehingga tidak bisa dipengaruhi makhluk tak kasat mata yang selalu mengincarnya.
Maadi mengucap syukur dan berterima kasih karena satu permsalahan sudah bisa mereka selesaikan malam ini. Tinggal besok lagi. Perjalanan ke pondok pesantren yang memakan waktu hampir satu hari takutnya bisa membuat Madi kehabisan waktu. Belum lagi, selama di sana harus mencari waktu yang tepat untuk menceritakan permasalahan yang dihadapinya sekarang.
Yang ada dalam pikiran Madi adalah saat harus meninggalkan Aulia sendirian tanpa pengawasan darinya. Sosok misterius itu pasti akan berusaha untuk menggoda dengan berbagai cara. Bahkanvbisa juga menggoda kedua orang tua Aulia.
“Dek, kalo besok, Akang jadi berangkat ke pondok, jangan lupa untuk tetap salat dan mengaji. Murotal juga diputar terus. Jangan terpedaya dengan orang yang mirip dengan Akang!”
Pernyataan Madi tadi bukan hanya mengejutkan Aulia, tapi juga kedua orang tuanya.
“Maksud Akang, ada makhluk yang bermaksud menyamar jadi Akang?” Madi mengangguk, membenarkan pertanyaan Aulia.
“Iya, Dek. Sebaiknya waspada saja. Biasanya makhluk seperti itu akan terus menggoda dan mencoba segala cara, agar keinginannya terwujud. Termasuk dengan menyamar sebagai Akang.”
__ADS_1
Aulia dan kedua orang tuanyavmengangguk-angguk. Mulai mengerti dengan penjelasan Madi. Agar mereka tidakvcemas, kemudian Madi mengajarkan satu doa agar bisa melihat apakah ketika ia berangkat besok ada yang menyaru seperti dirinya atau tidak. Jadi tidak ada lagi keraguan dan bisa membedakan apakah mkhluk itu adalah asli atau makhluk jadi-jadian.
"Makasih, Kang. Aulia akan lebih berhati-hati, besok.´Aulia pun terus menghapal dan merapalkan doa itu. Dia tidak ingin menjadi permainan makhluk penghuni pohon tua itu. Dan ketika malam sudah bertambah larut, di luar sana, sebuah gerakan halus mencoba masukbke dalam rumah Aulia. Namun, lagi-lagi Madi sudah membuat persiapan dengan
membuat pagar gaib, membatasi gerak makhluk atau sosok yang mencoba menerobos masuk.
Serta yang menguntungkan juga, kedua orang tua Aulia juga sangat taat beribadah. Itu semakin memperkokoh benteng pertahanan pagar gaib itu. Dengan seringnya rumah disirami ayat-ayat suci Al-Quran, membuat penghuninya menjadi bertambah kuat dan bisa mengurangivrasa takut terhadap kehadiran makhluk-makhluk astral.
Malam ini, Madi bisa tidur sedikit lelap. Kondisi rumah yang selalu dipasang murotal juga sedikit banyak member ketenangan bagi Aulia. Sama seperti di rumah mereka. Hanya saja fokus kekuatan makhluk-makhluk yang selama ini mengganggu Aulia adalah pohon tua itu. Sementara saat ini mereka cukup jauh berada dari pohon tua yang angker itu. Sehingga, otomatis Aulia masih bisa bertahan dari gempuran dari makhluk stral yang kekuatannya sedikit melemah itu.
Seperti biasanya pun, Madi selalu terbangun tengah malam, melaksanakan salat tahajud. Hanya kali ini, Madmembangunkan Aulia untuk salat tahajud bersama. Suami Aulia itu ingin isterinya segera melancarkan hapalan beberapa doa yang sudah diajarkan pada Madi sejak jauh-jauh hari. Itu bisa mempertebal garis gaib yang telah dibuat oleh Madi sebelumnya.
“Kang, malam ini Adek bermimpi didatangi seseorang. Sayang, mukanya tertutup oleh topeng hitam, jadi tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.”
kepada Allah saja.
“Nggak apa-apa. Dek. Dia hanya
mencoba mengusik saja dan buat Adek ketakutan.” Aulia hanya memandang Madi
dengan tatapan bingung. Tidak seperti biasanya, dia selalu ketakutan setelah
diganggu makhluk tersebut melalui mimpi. Kali ini Aulia terlihat lebih tenang.
__ADS_1
“Iya, Kang. Semoga Adek bisa
lebih kuat menahan gangguan mereka,” ujar Aulia penuh harap. Sudah tiba saatnya
membuang rasa takut yang selama ini sering menghinggapi hati kecilnya.
“Harus itu, Dek. Kalo berani
mereka pati tidak akan sembarangan menggoda. Malahan mereka bisa berbalik pada
diri mereka sendiri.” Lanjut Madi kembali. Memang benar apa ang dikatakan Madi.
Jika kita berani dan selalu melafazkan nama Allah, pasti kita memiliki kekuatan
tersendiri untuk membentengi diri dari pengaruh iblis yang mencoba menggoda.
Akhirnya, di sisa penghujung sepertiga malam terakhir, Madi pun merapalkan kembali semua doa yang pernah ia pelajari di pesantren untuk mempertebal garis gaib di seluruh sisi rumah. Dia tidak ingin memberi kesempatan atau celah sedikit pun yang menyebabkan makhluk atau sosok misterius itu bisa menerobos masuk.
Kemungkinan, akan timbul hal yang mengerikan, kalau sampai ada makhluk tak kasat mata menyerang mereka. Takutnya, Aulia bisa menjadi celaka, sebagai korban keganasan mereka.
Hal itu yang membuat mereka menjadi sangat khawatir dan selalu berusaha menjaga keselamatan Aulia.
Alhamdulillahnya lagi, sampai pagi, serangan dari makhluk itu tidak terjadi. Madi yang sudah bangun dari tadi, sibuk mempersiapkan diri untuk menyambut salat subuh. Demiukian pula dengan Aulia, dan kedua orang tuanya. Mereka ternyata juga sudah bersiap-siap. Di ruang tengah, beberapa sajadah telah digelar Aulia. Saatnya untuk salat subuh berjamaah. Mereka melaksanakan kewajiban itu dengan khusuk.
__ADS_1
Selama mereka salat subuh, tidak ada satu lun gangguan seperti yang sering Madi dan Aulia alami saat berada di rumah mereka. Ini adalah awal yang baik.