Penghuni Pohon Tua

Penghuni Pohon Tua
Menyingkir Sementara


__ADS_3

Melihat sikap santai kyai Sarwa, si nenek bungkuk menjadi geram. Ditambah pernyataannya barusan membuat hati nenek itu semakin panas. Segera saja sebuah pukukan diarahkannya pada musuh bebuyutannya itu. Cepat dan mematikan.


"Terimalah pukulanku ini, Sarwa ...!" seru nenek bungkuk itu.


Kyai Sarwa terkejut karena tongkat yang dipergunakan nenek bungkuk itu berubah menjadi seekor ular yang sangat besar. Selain itu terdapat puluhan ular yang mengiringi ular raksasa itu.


"Akhirnya, kau pergunakan juga ilmu abdalanmu, Nyai!" ucap kyai Sarwa.


"Ha ... ha .... Aku adalah pewaris tunggal Nyi Sentari. Kau tau itu kan, Sarwa?"


Sarwa tersenyum, berusaha meredam kekhawatiran yang tadi sempat menyelinap dalam hatinya. Kyai ini semakin konsentrasi merapal semua hijib yang akan dipakai untuk melawan ular-ular peliharaan nenek bungkuk.


Kembali ke tempat Nang, Jaka dan Madi. Silo yang senula sempat terkena pukulan Jaka beberapa kali, akhirnya sudah mulai bisa mengendalikan dirinya. Kembali pulih.


"Bagaimana keadaanmu, Silo?Tampaknya, kau sudah pulih,"


"Betul, Madi. Sekarang, aku sudah lebih siap menghadapi serangan yang diarahkan mereka padaku."


""Syukurlah, Silo. Sekarang, bersiap saja. Lihat, Jaka dan cucu nenek bungkuk, si Jaka sudah menyiapkan kuda-kuda untuk menyerang!"


Silo mengangguk mendengar seruan Madi. Kali ini, murid kyai Senta ini bertekad untuk tetap fokus dan bertahan.


Beberapa makhluk tak kasat mata yang berada di sekitar Silo, satu per satu sudah menyingkir, tak tahan debgan bacaan zikir dan hijib yang terus dibacakan Silo.


"Panas ... panas ....!" seru makhluk-makhluk itu berulang kali. Kali ini, Silo tak memberi ampun lagi pada makhkuk astral itu.


Pukulan Nang pun berhasil ditangkisnya. Bahkan berhasil mendaratkan sebuah tendangan keras di bagian perut Nang.

__ADS_1


"Aduh ...!" jerit si Nang menahan rasa sakit. Sambil memegangi perut, cucu nenek bungkut itu, surut beberapa langkah ke belakang.


Jaka yang melihat Nang mengaduh kesakitan, melancarkan serangan kembali ke aeah Madi dan Silo. Mengancam bagian dada dan kepala mereka berdua.


Madi menahan napas, menerima pukulan Jaka yang ceoat. Beruntung tinju Nang meleset, tak mengenai Madi. Sementara Silo berhasil meloncat, saat tendangan Jaka hampir mengenai dadanya.


"He ... he ...."


Tawa Jaka terdengar nyaring, puas berhasil membuat Madi dan Silo kerepotan menghadapinya. Sementara, Nang yang tadi hampir terkena pukulan Silo, ikut tertawa.


Madi dan Silo saling memandang, berusaha menenangkan satu sama lain. Untuk saat ini, mereka harus lebih berhati-hati dan mengatur strategi. Jaka memang lawan yang patut diperhitungkan.


"Tenang saja, Jaka. Kami masih sanggup menghadapimu!" sahut Madi berusaha bersikap setenang mungkin.


"Kalo begitu terimalah seranganku sejali lagi!" teriak Jaka, menyerbu Mafi dan Silo. Bersamaan dengan itu Nang, cucu nenek bungkuk juga ikut serta menyerang mereka. Perkelahian pun bertambah seru. Makhluk halus yang selalu siaga di sekeliling mereka tak mau tinggal diam. Kembali mendekati Madi dan Silo.


Sangat beruntung, Madi dan Silo sudah ditempa oleh guru-guru yang memiliki ilmu supranatural dan kanuragan yang mumpuni. Kalau tidak, mereka sudah lari ketakutan, tak tahan menerima gangguan makhluk astral itu.


Sementara itu, ular-ular milik nenek bungkuk sudah mulai mendekati kyai Sarwa. Aroma amis dan tajam pun mulai menyelubungi. Bunyi desis terdengar ramai, siap menyerbu kyai Sarwa.


Kyai Sarwa menutup matanya kini. Menahan napas, membaca hijib melindungi dirinya dari patukan ular-ular itu. Sebuah sinar berwarna putih melesat dari tubuh kyai Sarwa membentuk semacam perisai, membuat beberapa ular yang mencoba mendekati terpental.


Nenek bungkuk menjafi gusar melihat beberapa ular peliharaannya ada yangbterpental. Mulutnya komat-ksmit seperyi membacakan sesuatu yang mengakibatkan ular raksasa tadi mengeluarkan semacam cairan ke arah kyai Sarwa.


"Desh ...." Cairan itu tak berhasil melewati perisai yang membentengi kyai Sarwa. Namun, tetesan nya menimbulkan bunyi mendesis begiti nyaring saat mengenai tanah. Bau bisa sangat tajam menusuk indera penciuman kyai Sarwa. Asap tipis juga keluar.


Kyai Sarwa segera membaca istifghar. Sungguh berbahaya sekali bisa yang disemburkan ular raksasa itu. Kalau tak dilindungi perisai tadi, pastilah dia sudah tergeletak, gosong.

__ADS_1


"Hm ... berbahaya seksli ular peliharaanmu, Nyai! "teriak kyai Sarwa, mundur beberapa lankjah. Bau bisa tadi masih sangat menyengat.


"He ... he ... itu belum seberapa, Sarwa. Tunggu saja, masih ada serangan selanjutnya!" Nenek bungkuk itu kini berada di antara gerombolan ular-ular itu.


Kyai Sarwa tetap berusaha tenang. Dia sadar kalau murid Nyi Sentari ini memang terkenal sabgat menguasai hewan-hewan berbusa seperti ular.


Di sisi lain, Madi dan Silo bahu membahu menghadapi serangan Jaka. Nang mencoba membantu Jaka, meski terkadang serangannya malah membuat gerakan Jaka jadi terhalang.


Melihat situasi ini, Madi memberi isyarat agar Silo nenghadapi Nang sementara ia sendiri menghadapi Jaka. Silo terlihat lebih bisa menghadapi Nang daripada Jaka.


"Silo, aku akan berhadapan debfan Jaka. Kau hadapilah Nang."


Tanpa menjawab, Silo segera mengeluarkan beberapa jurus dan hijib untuk mengalahkan Nang. Hijib yang dikeluarkannya kembali membuat beberapa makhkuk tak kasar mata yang mencoba membantu menyingkir. Tak kuat menahan hawa panas akibat hijib tadi.


Nang sendiri cukup jewalahan menghadapi Silo. Satu dua kali dua berhasil menepus, mebangkis seranfan Silo. Namun ada satu saat dia tak mampu menahan laju pukulan Silo yang begitu cepat dan kuat.


"Braak ... " Satu pukulan telah mengenai dagu Nang. Kontan, cucu nenek bungkuk itu terhuyung, mundur beberapa langkah. Wajahnya seketika memucat. Tenaga dalam yang dimiliki Silo ternyat kuat sekali.


Nang mencoba bangkit, melayangkan pukulan andalannya, mengarah ke bagian dada Silo. Pukulan tenaga dalam Nang begitu panas, membuat Silo agak bergidik. Maklum, ilnu yang dimiliki Nang merupakan ilmu hitam.


Dari sudut matanya, nenek bungkuk terus memperhatikan keadaan Nang, cucu kesayangannya. Ketika, Nang tiba-tiba terkena pukulan telak Silo, nenek bungkuk itu menjerit.


"Nang ...!"


Tubuh Nang, cucunya itu tergeletak. Darah segar mengalir dari ujung bibirnya. Untuk beberapa saat, Nang tergeletak, tak mampu bangkit. Silo pun menghentikan serangannya saat melihat keadaan Nang yang terluka dalam akibat pukulannya tadi.


"Awas ... Kau ...! Tunggu pembalasanku ....!" jerit nenek bungkuk sembari membopong tubuh Nang yang masih pingsan. Pukulan telak Silo masih berbekas di bagian dada Nang.

__ADS_1


"Jaka, aku tak bisa membantumu saat ini. Cucuku Nang, harus aku selamatkan secepatnya!" Nenek bungkuk itu berseru sebelum meninggalkan arena pertempuran. Semua ular-ular peliharaannya pun kembali ditarik, termasuk ular raksasa yang kembali berubah wujud menjadi tongkat.


__ADS_2