
"Iya, Kyai," sahut Madi lemah. Memang benar apa yang dikatakan kyai Sarwa. Dia harus selalu waspada dan tidak boleh lengah sedikit pun, mulai sekarang.
Madi kemudian menarik napas panjang, membuang rasa cemas yang tadi menghuni hatinya. Berkali-kali dia mengucap syukur, membaca istifghar, karena isterinya bisa lepas dari gangguan sosok misterius itu.
Setelah merasakan kalau Aulia telah lolos dari gangguan sosok misterius itu, Madi lantas melanjutkan kembali perbincangannya dengan kyai Sarwa, yang sempat terputus tadi.
"Kyai, apa ada jalan untuk bisa lepas dari gangguan mereka? Kyai lihat sendiri kan, kalau mereka terus berupaya mengganggu ketenangan kami. Bahkan Aulia juga."
Kyai Sarwa tersenyum. Masih ada ganjalan tampaknya dalam hati beliau. Semacam perasaan cemas akan satu hal, tapi dia sukar untuk menjelaskannya pada Madi.
Dengan tenang, akhirnya kyai Sarwa, mampu juga menjelaskan secara sederhana dan ringkas, apa yang sedang ada dalam pikirannya.
"Bisa sekali, Madi. Kyai yakin, kamu pasti bisa mengalahkan mereka. Namun, memang perlu waktu dan itu tidak hanya sebentar. Lumayan lama. Apa kamu sanggup?"
Madi memandang kyai Sarwa, kemudian menunduk, sebelum memberikan jawaban.
"Iya, Kyai, saya sanggup." Akhirnya Madi mampu juga memberikan jawaban, setelah berpikir beberapa saat.
Kyai Sarwa pun tersenyum, melihat tekad dan semangat bekas santrinya ini. Dia sudah menduga, Madi akan terus berusaha agar bisa melenyapkan seluruh gangguan dari sosok misterius itu.
"Ya, sudah, sekarang kita kembali ke rumah. Kamu pasti lapar dan capek kan? Sudah menempuh perjalanan cukup jauh."
Madi mengangguk, sembari tersenyum malu. Perutnya memang sudah keroncongan, minta diisi dari tadi. Maklum saja, energinya juga sudah cukup terkuras selama perjalanan. Apalagi, perjalanan menuju pondok bukan perjalanan biasa, seperti yang dulu biasa ia lakukan.
Kyai Sarwa dan Madi pun akhirnya berjalan kembali ke rumah. Areal pesantren sudah sepi, karena para santrl sudah pada istirahat, membaringkan tubuh yang penat. setelah menimba ilmu seharian.
__ADS_1
Sampai di rumah, kyai Sarwa mempersilahkan Madi untuk makan. Karena kyai tinggal sendiri, maka setiap hari santri putera mengantarkan makanan dari dapur pesantren.
Madi dan kyai Sarwa pun mulai menyantap hidangan dengan menu sederhana itu. Alhamdulillah, Madi bersyukur, karena bisa melewati semua permasalahan yang cukup pelik itu, hari ini.
Sebelum tidur, kyai Sarwa mengingatkan Madi untuk mengambil wudhu dan bangun di sepertiga malam terakhir untuk melaksanakan salat tahajud, dilanjutkan dengan zikir bersama untuk mempertebal benteng pertahanan di rumah Madi dan orang tua Aulia.
Sementara itu, di sebuah rumah cukup megah, seorang nenek bungkuk, tampak berbincang dengan seorang laki-laki muda seumuran Madi. Ya, dia sosok misterius yang suka mengganggu Madi dan Aulia.
"Hm, sepertinya cukup sulit untuk menaklukkan mereka, Nang." Terdengar suara serak nenek bungkuk itu.
Laki-laki yang dipanggil Nang itu hanya menu duk, seperti enggan berbicara. Tangannya asyik memainkan seekor burung hantu.
Dia hanya memandang sekilas nenek bungkuk tersebut, sebelum memainkan lagi burung hantu, peliharaannya.
"Kalau dilepaskan, nanti tidak ada yang mau meminta pesugihan lagi sama Nenek." Tiba-tiba saja sosok yang dipanggil Nang itu bersuara, membuat sebuah anggukan terlihat dari nenek bungkuk itu.
Setelah merenung beberapa saat, akhirnya nenek bungkuk itu terlihat berbicara pada, Nang cucunya.
"Kamu, juga sebaiknya lebih berhati-hafi dari sekarang, Nang. Gurunya bernama Sarwa itu bukan orang sembarangan. Tidak mudah untuk melewatinya. Banyak makhluk astral yang takut dan tidak berani mengganggu, sehingga akhirnya malahan menjadi pengikutnya.
Sosok itu hanya diam. Dalam hati ia bertekad, meski sulit, dia harus berhasil mengalahkan Madi dan membawa lari Aulia. Sekaligus bisa membalas dendam pada Aulia. Cintanya dulu pernah ditolak oleh Aulia, ketika sama-sama bekerja di kota.
Ya, Madi menikah dengan Aulia, setelah berhasil menyembuhkan gadis itu dari sakit cukup parah, sewaktu bekerja di kota. Dia seperti kehilangan semangat hidup dan selalu melamun.
Nang, nama panggilan sosok itu, memang menyuruh salah satu jin peliharaannya untuk memelet dan mengganggu pikiran Aulia. Sempat, perempuan yang kini berhijab itu, tidak bisa hidup nyaman. Tidur juga hanya bisa sebentar. Ingatannya hanya tertuju pada Nang, sosok yang pernah ditolak secara halus olehnya.
__ADS_1
Setelah lelah mencari orang yang bisa mengobati Aulia, akhirnya orang tua menemui bapak Madi agar Madi mau mengobati Aulia. Madi, yang memang mengenal Aulia dari kecil akhirnya bersedia menolong.
Pada saat itu, Madi yang sangat menghormati keluarga Aulia karena sudah banyak membantu keluarganya, akhirnya berjanji secepat mungkin akan
menolong Aulia
Benar saja, keesokan harinya, setelah pulang berdagang sayuran di kios, Madi mendatangi rumah Aulia. Kedatangannya disambut ramah dan penuh harapan, semoga putri satu-satu mereka bisa sembuh dan normal seperti semula.
Madi, kala itu berkata semua tergantung pada pertolongan Allah semata. Dia hanya menjalankan amanah ini karena yakin Allah akan menolong seluruh hamba-Nya yang dalam kesulitan.
Saat pertama kali melihat Madi, Aulia histeris, berteriak agar Madi menjauh, jangan mendekatinya. Madi bisa melihat jin yang berada dalam tubuh Aulia bereaksi karena mulai merasa ada gangguan yang membuatnya tidak betah berada dalam tubuh gadis itu.
Madi masih tersenyum, tapi dalam hati telah merapal sejumlah bacaan dan doa untuk mengusir jin itu. Ternyata jin dalam tubuh Aulia terus mengadakan perlawanan. Dia menggerakkan tubuh Aulia untuk melukai Madi. Melemparkan benda apa saja yang berada di dekatnya pada Madi. Bahkan gadis itu tidak segan mengamuk, mencoba mencakar, memukul dan melukai Madi.
Madi masih bisa bersikap tenang. Laki-laki muda lulusan pondok pesantren itu memang sudah mengetahui kalau ada jin yang mendiami dan ingin menguasai tubuh serta pikiran Aulia.
Setelah mulai berhasil menguasai keadaan, Madi pun berkata lantang pada jin itu.
"Keluarlah daru tubuh gadis ini. Kembali ke alammu. Tidak sepatutnya, kau mengganggu manusia!"
Meski mulai melemah, tapi jin itu masih berusaha untuk melawan.
"Tidak mau. Tuanku sudah memerintahkan agar tinggal dalam tubuh perempuan ini."
Madi terdiam sejenak. Memejamkan mata sambil merapal bacaan yang membuat jin itu kepanasan.
__ADS_1
"Panas ..., panas ...." Jin itu terus berteriak tapi lagi-lagi belum ingin keluar dari badan Aulia. Bahkan kini dia menyebabkan Aulia terus bergulingan, menyakiti tubuhnya sendiri dengan cara membenturkan diri pada tembok.
Melihat ulah jin itu, Madi menjadi marah, lalu mendekati Aulia. Membaca ayat Al-Quran, membuat jin itu kembali berteriak, meminta Madi segera menghentikan aksinya tersebut.