
Madi hanya diam, terus memusatkan konsentrasi, tidak terpengaruh dengan pandangan kemarahan mereka.
Pasti mereka ingin masuk karena ingin menyeret arwah wanita hamil itu ke pohon tua. Perempuan yang meninggal jadi tumbal pesugihan yang diamalkan pengikut sosok misterius itu. Mereka membutuhkan arwah itu untuk dijadikan salah satu penghuni pohon tua untuk membantu tuan mereka membujuk orang-orang agar mau mengambil pesugihan.
Demit berbentuk seperti perempuan cantik bertaring panjang itu, tampak menyuruh semua penghuni pohon tua itu mengelilingi rumah Madi. Entah apa yang akan mereka lakukan. Madi jadi penasaran, apa yang dilakukan oleh makhluk-makhluk itu.
Sementara Madi dibantu kyai Sarwa, semakin berkonsentrasi mempertebal garis gaib yang mengelilingi rumah. Wajah seluruh penghuni pohon tua itu sekrang berubah dan tampak begitu menyeramkan.
Semua kekuatan dikerahkan mereka agar bisa masuk ke dalam rumah. Ada yang mencoba masuk dari depan, belakang, samping bahkan atap rumah. Namun, setiap kali mencoba, tubuh ringan makhluk dari dimensi lain itu terpental. Begitu berulang-ulang. Menimbulkan kemarahan di wajah mereka.
Madi dan kyai Sarwa tidak sedikit pun memberi kesempatan pada penghuni pohon tua itu untuk masuk dan menguasai rumah serta arwah perempuan hamil itu. Tampak sosok misterius yang merupakan cucu nenek bungkuk. musuh bebuyutan kyai Sarwa, turut mengawasi dengan seksama.
Dia juga terlihat memejamkan mata, memusatkan konsentrasi membantu semua penghuni pohon tua itu agar bisa mendobrak pertahanan garis gaib itu.
Wajah makhluk-makhluk itu tersenyum menyeringai. merasa mendapat bantuan agar seger bisa menembus benteng pertahanan tak kasat mata yang mengelilingi rumah Madi. Tawa panjang dan lengkingan menyayat dikeluarkan makhluk penghuni pohon tua itu. Membuat suasana malam ini terasa sangat mencekam. Kekuatan iblis sedang hadir.
Kuntilanak yang bertaring panjang itu, juga tampak semakin gencar mencoba masuk ke dalam rumah. Meski berulang kali gagal, makhluk itu tetap berusaha kuat.
Madi bisa melihat keringat dingin sudah mengucur di dahi sosok misterius itu. Rasa geram, marah terpampang jelas dari raut wajahnya. Begitu pula di wajah makhluk penghuni pohon tua itu. Terlebih pada demit perempuan itu.
Madi juga was-was, khawatir kalau pertahanan mereka bisa jebol. Namun melihat sikap tenang kyai Sarwa, Madi bisa meredam rasa cemas itu.
__ADS_1
Madi akhirnya kembali berkonsentrasi, menghadapi gelombang serangan semua makhluk tak kasat mata itu. Bibirnya masih mengeluarkan suara, berzikir memohon perlindungan dan kekuatan dari Allah.
Jeritan panjang dan menyanyat keluar dari mulut perempuan bertaring panjang itu. Jika masih ada orang yang masih bangun dan bisa mendengar jeritan itu, pasti akan jatuh pingsan. Apalagi di malam yang gelap gulita seperti ini.
Tak jauh dari rumah Madi, sebenarnya ada sekelompok pocong mendiami sebuah kebun pisang. Banyak orang telah bertemu dengan pocong-pocong tersebut. Namun, karena hanya mendiami kebun pisang itu saja, dan tak mengganggu, jadi ketika ada orang yang bertemu mereka, tidak menimbulkan dampak yang negatif, seperti kesurupan atau sakit.
Sosok itu berusaha keras meminta bantuan pocong-pocong, agar mau menakut-nakuti warga. Namun sayangnya, para penghuni pohon pisang berwarna putih itu tidak menggubris permintaan Nang, si sosok itu. Mereka tidak ingin terikat dalam perjanjian dengan sosok tersebut.
Jengkel, akhirnya sosok itu menyerang pocong-pkcong itu, membuat makhluk gaib yang jalannya melayang, walau terlihat seperti melompat menjadi marah. Tidak terima, rumah mereka diobrak -abrik, kawanan pocong itu menyerbu sosok dan penghuni pohon tua itu.
Pemandangan yang tidak biasanya. Madi, melalui mata bathinnya bisa menyaksikan hal yang diluar perkiraannya. Ternyata, gidak semua makhluk halus mau dikuasai dan diperintah orang seperti sosok itu.
Hari ini, ia gagal lagi mengobrak-abrik rumah Madi. Apalagi, kini ia juga mempunyai lawan lagi, sekelompok pocong yang tidak mau tunduk padanya.
Madi menarik napas, benar-benar lega, karena hingga saat ini, masih berada dalam lindungan Allah dan bisa terlepas dari gangguan makhluk-makhluk astral itu.
Kyai Sarwa, tampak telah bangkit dari sajadah, menuju ruang tengah, duduk di kursi tamu membaca Al-Quran, sambil menunggu subuh tiba.
Melihat hal itu, Madi ikut juga bangun dan berjalan ke dapur, memasak air untuk membuat minuman penghangat tubuh. Ya, kyai Sarwa dan Madi, memang suka minum kopi pagi-pagi seperti ini. Apalagi ada tambahan jahenya.
Suara merdu kyai Sarwa membava Al-Quran. sangat menyentuh. Meski. sudah terbilang sepuh. suara kyai Sarwa tetap terdengar enak di telinga. Apalagi subuh-subuh seperti ini.
__ADS_1
"Kyai, minum kopi dulu!" ujar Madi, sembari menyodorkan segelas kopi pahit. Beliau memang lebih menyukai kopi tanpa gula, kalaupun mau dikasih gula, takarannya sedikit saja.
Kyai Sarwa pun berhenti mengaji, meletakkan Al-Quran, lalu menyeruput kopi pahit itu, seteguk demi seteguk. Setelah itu, mengambil sepotong roti, oleh-oleh Madi.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" Kyai Sarwa bertanya sambil meminum kopi.
"Alhamdulillah, Kyai, saat ini sudah lebih tenang. Cuma, ya, masih khawatir dengan serangan mereka. Madi juga agak susah menahan serangan mereka, jika harus melindungi dua rumah sekaligus."
Madi mengemukakan keresahan hatinya. Masuk di akal juga, karena sangat sulit untuk membagi konsentrasi, melindungi dua rumah sekaligus. Aulia, juga menjadi salah satu target seranvan mereka. Di samping dia memang jadi target tumbal dari pengikut nenek bungkuk, dia juga jadi korban balas dendam dari cucu nenek bungkuk itu.
"Iya, Kyai bisa mengerti, Madi. Tapi, sabar ya, bersihkan dulu hati dan pikiranmu, nanti Kyai beri amalan untuk memperkuat pertahananmu."
Madi mengangguk. Besok, pasti ia akan disuruh berpuasa, membersihkan diri selama beberapa hari, sehingga siap menerima amalan itu.
"Ya, sudah, hari ini kamu istirahat saja dulu, sambil lihat-lihat suasana di pesantren. Besok, kamu mulai puasa selama 3 hari!"
Madi mengiyakan perintah kyai Sarwa Memang betul perkiraan Madi tadi. Dia pasti akan disuruh berpuasa terlebih dahulu sebelum menerima dan belajar satu amalan. Hal seperti itu memang selalu diterapkan kyai Sarwa, agar dalam mempelajari setiap amalan, pikiran tetap jernih dan bersih. Sehingga proses belajarnya bisa lebih cepat dan fokus.
"Baik, Kyai, besok, saya akan berpuasa seperti yang dianjurkan, Kyai."
Kyai Sarwa lalu tersenyum, dengan tenang menghabiskan sisa kopi yang masih sepertiga gelas. Azan subuh sebentar lagi akan bergema mereka harus segera bersiap.
__ADS_1