
Aulia memandang kepergian suaminya
dengan sedih. Pagi ini, Madi memang akan berangkat menuju pondok pesantren,
menemui kyai Sarwa. Setelah cukup lama berencana, akhirnya baru hari ini bisa
terlaksana.
“Kang, kalau sudah sampe, khabari Adek segera, ya!” Suara Aulia terdengar sedikit bergetar. Menahan tangis. Sebagai seorang isteri, Aulia bisa merasakan ada marabahaya yang mengintai suaminya di sepanjang perjalanan. Dari rangkaian cerita yang sering
didengarnya, sosok misterius itu sering sekali menyerang secara tiba-tiba dan sangat membahayakan keselamatan Madi, suaminya.
“Iyaa, Dek. Nggak usah khawatir. Akang pasti baik-baik saja. Jangan lupa untuk terus merapalkan doa yang sudah Akang ajarkan kemarin!” Gantian Madi mengingatkan Aulia. Memang Madi patut cemas mengingat Aulia cukup rentan untuk diganggu makhluk astral yang mengancam jiwanya untuk dijadikan
tumbal.
Aulia pun mengangguk, membesarkan hati Madi. Dia tidak membuat suaminya menjadi terlalu khawatir. Apalagi mengingat perjalanan yang harus ditempuh sang suami lumayan lama dan jauh. Dan setelah melepas kepergian Madi, Aulia kembali masuk ke dalam rumah. Meneruskan aktivitasnya memutar muuurotal dan membaca beberapa doa dalam hati. Mencegah makhlukmakhluk astral itu menngusiknya dengan menyamar sebagai Madi yang baru saja berangkat.
Ketika sedang asyik membaca doa -doa tersebut terdengar ketukan halus di depan pintu. Juga terdengar suara yang mirip dengan Madi. Hati Aulia seketika berdegup kencang. Sepertinya ucapan suaminya itu
terbukti kini. Makhluk-makhluk itu sepertinya masih akan terus mencoba mengganggunya dengan berbagai cara.
Perlahan, Aulia berjalan mendekati pintu, mengintip terlebih dahulu melalui jendela kaca, siapa sih gerangan orang yang mengetuk pintu. Alangkah terperanjatnya Aulia. Ada seorang laki-laki persis sekali dengan Madi, suaminya, berdiri di sana. Hanya saja mobil yang dikendarainya sewaktu berangkat tadi tidak kelihatan.
Langsung tetringat dengan pesan suaminya, Aulia secara terus menerus merapal doa untuk menangkal gangguan makhluk tak diundang itu. Benar saja, dalam pandangan Aulia, yang berdiri di depan pintu adalah sosok makhluk bertubuh hitam legam dan tinggi besar. Semua permukaan tubuhnya ditumbuhi bulu yang lebat. Aulia seketika langsung merinding dan takut. Tidak menduga bisa melihat penampakan makhluk yang mengerikan itu.
__ADS_1
Makhluk itu pun terlihat semakin gelisah. Terus mondar-mandir, mencoba memanggil Aulia maupun kedua orang tuanya. Namun, karena sudah mendapat pesan dari Madi, tidak ada satu pun diantara mereka yang mau membuka pintu.
Lama kelamaan makhluk itu seperti kepanasan. Apalagi Aulia masih terus membaca doa-doa yang telah diajarkan Madi kemarin. Tidak tahan, akhirnya makhluk yang menyerupai Madi, suaminya itu pun akhirnya menghilang begitu saja.
Kepergian makhluk itu kembali mengagetkan Aulia. Benar-benar di luar dugaannya. Awalnya, Aulia merasa sedikit
takut. Namun, setelah melewati peritiwa ini, akhirnya menumbuhkan keberanian
dan keyakinan, bahwa dia juga bisa melewati masa memprihatinkan ini.
“Sudah pergi, Lia, makhluk itu?” Ibu Aulia bertanya sambil mengintip dari jendela kaca.
“Alhamdulillh, udah, Bu. Semoga aja nggak
puterinya. Memang benar apa yang dikatakan Aulia, semoga tidak ada lagi gangguan dari makhluk-makhluk tak kasat mata itu.
Sementara itu, dalam perjalanan menuju pondok pesantren, Madi juga menglami gangguan dan serangan dari sosok misterius yang tidak menginginkan Madi bisa sampai dengan selamat ke pondok pesantren. Ketika perjalanan sudah melewati desa di mana orang tua Aullia tinggal, Madi melewati sebuah sawangan, tempat yang tertutup oleh semak belukar cukup lebat.. Ketika melintas di sana, rasa kantuk teramat sangat tiba-tiba menyerang Madi.
Di kanan kiri sawangan itu terdapat jurang yang cukup dalam. Beberapa kendaraan pernah dikhabarkan terperosok ke dalamnya. Bisa jadi karena rasa kantuk yang ditiupkan
makhluk-makhluk itu. Beruntung Madi bisa segera sadar dan segera menepikan
kendaraan persis di pinggir jalan, nyaris masuk ke dalam jurang.
Bulu kuduk Madi seketika berdiri. Dalam pnglihatan mata batinnya terlihat sosok misteriius itu menatapnya tajam dengan senyum mengejek. Tidak jauh dari sosok itu ada seorang nenek bungkuk juga tertawa terkekeh menatapnya. Madi semakin tercekat. Nenek itu adalah pemilik beberapa pesugihan yang sering ditemui ketika dulu ia mengikuti kyai Sarwa pimpinan pondok
__ADS_1
pesantren, memberantas praktek pesugihan yang meresahkan warga.
Apa hubungan nenek bungkuk itu dengan sosok misterius yang kerap hadir dan menyerangnya. Apa dia adalah murid atau pengikutnya? Kenapa mereka bisa berbarengan? Madi menggeleng, mencoba merangkai setiap kemungkinan yang mungkin ada, Lalu, pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar dalam benaknya. Meminta jawaban yang tepat.
Sementara di belakang nenek bungkuk itu ada beberapa makhluk tak kasat mata yang menyamar menjadi penduduk setempat. Ada yang berjualan di sepanjang jalan dengan membuka gubuk-gubuk untuk beristirahat. Rata-rata wajah mereka mengerikan dan hancur. Namun ada juga yang memiliki wajah yang utuh dan menawan.
Semua siap menggoda manusia yang memiliki keimnan yang tipis. Tempat ini memang terkenal sebagai tempat untuk menuntut pesugihan dan sudah banyak memakan korban. Mungkin bagi orang awam tidak akan percaya kalau sebagian dari penjual yang berada di sekitar tempat itu bukan manusia tapi makhluk-makhluk astral yang siap menjerumuskan manusia menjadi pengikut mereka. Hanya orang-orang tertentu yang dapat melihat kehadiran mereka.
Madi kemudian segera mengusap wajahnya dan terus berzikir dalam hati, memohon pertolongan dan petunjuk yang hanya ada Allah semata, agar terlepas dari gangguan sosok misterius itu. Perlahan, rasa kantuk yang sedari tadi menyerang mulai menghilang. Sosok nenek tua bungkuk dan laki-lkai misterius itu pun juga menghilang. Hanya beberapa makhluk astral lain yang masih bertahan di beberapa gubug,
menyamar menjadi penjaja makanan.
Namun, setelah melihat Madi mulai bergerak
dari mobil, satu persatu makhluk itu pun menghilang, meninggalkan gubug-gubug
yang sepi dan kelam. Memang fatamorgana yang aneh dan membingungkan, bagi mereka yang tidak memiliki kemapuan indera keenam.
Namun, begitulah pekerjaan makhluk-makhluk itu. Selalu membuat orang-orang yang lalu lalang di situ menjadi korban-korban tumbal pesugihan dari manusia-manusia yang telah bersekutu dan mengikat perjanjian dengan mereka.
Benar-benar mengerikan. Andai saja manusia lebih kokoh imannya, tentu saja mereka tidak akan mudah meraja lela. Menguasai manusia, melemahkan keimanan manusia.
Cara mereka pun bisa dengan jalan mrnggoda, mempengaruhi, pikiran manusia yang sedang lengah.
Setelah mengucap syukur dan istifghar, Madi perlahan menghidupkan mesin mobil. Menekan pedal gas dan langung meninggalkan tempat itu. Dari spion dia melihat makhluk-makhluk itu ada yang kembali mengisi gubug-gubug di sepanjang jalan itu, mencoba menyesatkan manusia yang sedang lengah. Semoga tidak banyak yang terkena gangguan mereka.
__ADS_1