
Ibu Aulia masih berteriak, bergerak tak tentu arah. Dia memburu bayangan Madi yang berada di dekatnya. Sungguh, kenyataan yang sangat sulit untuk dipahami dan dihadapi Aulia.
Masih sambil berzikir, Madi berusaha mengeluarkan pengaruh kuntilanak pada tubuh mertuanya. Meski harus bertarung dari jarak jauh, Madi memiliki kemampuan untuk berada di tempat lain. kemampuan yang jarang dimiliki oleh kebanyakan orang.
"Masih belum menyerah juga, kau, manusia!" ejek kuntilanak itu.
"Kau, yang tak pernah kapok, kuntilanak! Lepaskan pengaruhmu dari ibu mertuaku!" Kali ini Madi benar-benar gusar. Bagaimana tidak jengkel, makhkuk-makhlhk ini selalu mencari keributan. Sudah diusir berhlang kali, masih belum jera juga, bahkan semakin jadi.
Gerakan ibu Aulia semakin liar. Aulia sudah menangis kini. Tak tahan melihat ibunya bergerak ke sana ke mari, melotot dan mengeluarkan kata-kata yang kurang pantas.
"Ibu, istifghar! Nyebut, Bu ...!"Aulis terus berteriak, mengingatkankan ibunya.
"Diam kau, perempuan. Sebentar lagi giliranmu! He ... he ... he ...."
Mendengar ancaman kuntilanak yang tinggal dalam tubuh ibunya, Aulia sangat terkejut. Wajahnya langsung pias.
Madi tak mau tinggal diam, segera bergerak kembali, mencoba memukul kuntilanak itu. Sementara di luar, Nang dan beberapa pengikutnya yang terdiri dari makhluk-makhluk astral dari berbagai tempat telah bersiap, menyerbu.
Madi, kemudian, mengunci, beberapa titik, yang bisa dimasuki oleh makhluk-makhluk sekutu Nang itu. Tanpa sepengetahuan Madi, kyai Sarwa telah meninggalkan rumah, berjaga di depan rumah. Segerombol makhluk-makhluk tak kasat mata, berusaha masuk ke dalam rumah, ingin mengacaukan konsentrasi Madi.
Ternyata benar, dugaan Madi tadi. Jaka, akan mempergunakan kesempatan ini, untuk mencelakai Madi.
"Cukup, sampai di situ saja. Jangan harap kalian bisa mengacau di dalam rumah!" Kyai Sarwa mulai berkomunikasi, menggertak dan mengusir semua makhluk astral yang berjumlah lebih dari tiga itu.
Satu sosok perempuan cantik melayang mendekati kyai Sarwa. Mencoba menghipnotis kyai Sarwa dengan tatapan berdaya magis. Kalau saja yang dihadapinya bukan orang sekelas kyai Sarwa, pasti orang itu akan tunduk dan takluk di hadapan makhkuk berparas cantik itu.
"Minggirlah, tak ada gunanya, kau mencoba menghipnotisku!" usir kyai Sarwa.
Bukannya marah, malah makhluk itu berusaha mendekati kyai Sarwa. Memamerkan kegenitannya.
__ADS_1
"Sekali lagi, menyingkiah, sebelum kesabaranku habis!" Mendengar ucapan tegas sang kyai, makhluk itu segera tunggang langgang. Apalagi pukulan hijib kyai Sarwa telah mengenainya.
Sementara ketiga makhluk astral lainnya masih berdiri di depan rumah kyai Sarwa, sengaja mengulur waktu, agar Madi tak ada yang membantu saat bertarung dengan Nang.
Di rumah orang tua Aulia, Aulia tak henti-hentinya membujuk ibunya agar mau membaca istifghar. Namun, pengaruh kuntilanak yang merasuk tubuh ibunya lebih kuat.
Pukulan yang tadi dilepaskan Madi berhasil dielakkan oleh kuntilanak itu. Madi mencoba mencari cara agar bisa segera melepaskan pengaruh buruk dari kuntilanak itu.
Di luar rumah orang tua Aulia, Nang beserta sekutu-sekutunya, mulai beranjak masuk. Namun, hanya Nang yang berhasil mencapai depan pintu. Makhluk tak kasat mata pengikut cucu nenek bungkuk itu seperti tedtahan oleh suatu batas. Belum bisa menembus hingga ke dalam rumah.
Kuntilanak yang berada dalam tubuh ibu Aulia mengetahui keberadaan teman-temannya di luar. Mencoba melepaskan diri dari kejaran Madi dan bermaksud membjka pintu.
Namun, Madi lebih sigap, sebuah hijib diarahkannya tepat di tubuh ibu Aulia. Sontak, kuntilanak yang berada dalam tubuh ibu Aulia itu segera berteriak kepanasan, tak mampu meredam hijib Madi.
"Panas ... panas ...!" Ibu Aulia terus menerus berteriak, membjat Aulia bingung. Nang yang berada di balik pintu menjadi bingung, rencananya bisa gagal.
" Dek ... dek ... Akang pulang!" Tiba-tiba Nang menirukan suara Madi. Cucu nenek bungkuk itu berharap, bisa mempengaruhi Aulia yang sedang kalut.
"Akang ... Akang, pulang?" tanya Aulia.
"Iya, Dek. Cepat buka pintunya!" Nang yang meniru suara Madi terus berusaha membujuk Aulia.
"Benaran, Kang?" tanya Aulia lagi, seolah tak percaya. Hati kecilnya berkata kalau itu bukan suaminya, tapi, rasa rindu dan butuh pertolongan membuat dia tak bisa berpikir. Dalam benaknya hanya ingin ada seseorang yang bisa meringankan beban mereka saat ini.
"Iya, Kang, tunggu, pintunya bentar lagi di buka!" seru Aulia setengah berlari menuju pintu.
Beruntung, ayah Aulia sigap, menahan laju putrinya itu.
"Lia, itu bukan Madi, suamimu!" Suara ayah Aulia keras sekali, mencoba menyadarkan Aulia. Sangat berbahaya, kalau Aulia sampai membuka pintu. Bahaya yang lebih besar akan menimpa mereka.
__ADS_1
"Itu Kang Madi, Ayah!" seru Aulia sambil meronta, merasa yakin kalau pendengarannya tak salah.
"Bukan, Lia. Coba dengarkan baik-baik!" Kembali ayah Aulia mengingatkan.
Madi yang mengetahui, usaha Nang yang ingin mempengaruhi Aulia, kemudian meniup telinga istrinya itu dengan beberapa zikir. Mencegah agar Aulia tidak membuka pintu.
Kuntilanak yang merasuki tubuh ibu mertuanya pun akhirnya keluar, tak sanggup menahan rasa panas dari pukulan hijib Madi tadi. Sepeninggal kuntilanak itu, tubuh ibu Aulia langsung lemas, melorot, jatuh ke lantai.
Aulia segera berlari memeluk ibunya, disusul ayahnya. Panggilan Nang yang menyerupai suara Madi tak digubrisnya. Telinganya seperti tak mendengar lagi panggilan itu. Terlebih setelah tadi Madi membisikkan zikir di telinganya.
Nang yang mengetahui usahanya gagal, marah besar. Dia mengetahui Madi telah membantu Aulia dari jauh.
Dia lalu mengjrim pukulan jarak jauhnya pada
Madi, gusar karena belum berhasil lagi menembus pertahanan di rumah orang tua Aulia.
Madi mengelak dari pukulan Nang, baginya bsrkelahi jarak jauh seperti ini memberikan satu keuntungan baginya. Dia bisa leluasa menyerang, karena tidak akan membuat Aulia merasa cemas, kalau berada dekat istrinya itu.
"Lagi-lagi, kau, Madi! Suatu hari nanti, kita pasti akan berhadapan langsung. Tidak seperti ini!"
Madi tersenyum mendengar ucapan penuh geram si Nang. Dia tau cucu nenek bungkuk itu memang sangat ingin menyingkirkannya. Dendam, akibat sakit hati tak bisa memiliki Aulia mengakibatkan Madi menjadi musuh bebuyutannya.
"Nanti, akan tiba, waktunya, Nang. Saat ini, kau sendiri belum bisa menembus pagar gaib milikku!"
Ucapan Madi membuat Nang bertambah marah. Sebuah pukulan kembali diarahkannya pada Madi. Sebuah pukulan yang benar-benar berbahaya, mengandung aura negatif yang sangat jahat.
"Jangan anggap remeh kekuatanku, Madi. Terimalah, pukulanku ini!"
Madi bisa merasakan betapa dashyatnya pukulan Nang barusan. Tubuhnya sampai bergetar. Cucu nenek bungkuk itu ilmunya ternyata sudah berkembang pesat. Dia memang lawan yang tak bisa dianggap ringan.
__ADS_1
Sambil terus berzikir, Madi memejamkan mata, menyiapkan beberapa pukulan lagi. Nang, rupanya masih menyimpan dendam.