
Usai terpentalnya jin yang ketiga, tertinggal dua jin lagi. Kali ini lebih mudah bagi kyai Sarwa dan Madi untuk menghadapi jin-jin
tersebut. Madi melirik jam di dinding. Sudah jam tiga dini hari. Berarti kurang lebih tiga jam berkutat dengan jin-jin yang hendak mengganggu ketentraman rumah pak Parman.
“Sekarang, menyerah saja. Segeralah pergi dari sini!” Kali ini kyai Sarwa bersikap lebih menekan jin-jin tersebut agar segera
hengkang dan tidak menimbukan gangguan lagi
“Jangan, sombong, anak manusia”! Kami masih bisa menandingi kalian. Bersiaplah menerima serangan!” pekik makhluk tak kasat mata itu. Lagi-lagi, kyai Sarwa dan Madi hanya tersenyum, tak banyak bicara.
Sementara keluarga pak Parman tidak ada yang terbangun satu orang pun.
Sebenarnya tenaga kyai sudah cukup terkuras, juga karena usia yang mulai uzur, sehingga membuat kekuatannya berkurang. Namun, karena masih ada Madi membantu, kyai Sarwa masih bisa mengatasi semmua gangguan jin tersebut . Akhirnya, setelah membaca beberapa doa dan zikir, disertai amalan yang selama ini dilatih, kedua jin itu dapat juga diusir.
Kyai Sarwa dan Madi pun lantas mengucap syukur, karena bisa terbebas dari gangguan jin-jin tersebut. Rumah pak Parman akan aman dari gangguan semua jin itu.
“Alhamdulillah, Kyai, akhirnya kita berhasil juga mengusir semua jin-jin itu,” ucap Madi penuh syukur, menyeka peluh yang jatuh
di dahinya.
“Iya, Alhamdulillah, Madi Sekarang, kita selesaikan saja membentengi rumah ini dengan pagar gaib. Semoga saja di waktu yang akan datang, gangguan jin bisa dicegah!”
Madi mengangguk dan meneruskan membaca beberapa amalan dan zikir, dan membiarkan kyai Sarwa beristirahat sebentar. Jam di dinding sudah menunjukkan angka 3, berarti tak lama, subuh akan tiba. Masih bisa
beristirahat untuk sementara waktu.
Madi terus saja berzikir, sampai tiba waktu salat subuh. Kyai Sarwa juga sudah selesai beristirahat, melangkah ke kamar mandi, mengambil wudhu. Madi, ikut berdiri, punggungnya sudah pegal karena duduk saja selama beberapa jam.
Setelah salat subuh berjamaah, kyai Sarwa dan Madi memutuskan untuk keluar kamar. Sudah terdengar ada aktivitas di ruang tamu. Ternyata, nenek Ayu sedang menghidangkan seteko kopi dan sepiring gorengan. Mungkin, beliau sudah bangun dari sebelum subuh.
__ADS_1
“Silahkan, Kyai, Nak, sarapan dulu! Mumpung masih hangat,” ujar nenek Ayu. Pak Parman yang juga sudah selesai salat subuh, segera
bergabung.
“Mari, Kyai, Madi, silahkan disantap sarapannya!” Pak Parman juga ikut mempersilahkan kyai Sarwa dan Madi untuk segera menyantap maknan di meja. Sementara, nenek Ayu masuk kembali ke dapur, mempersiapkan masakan agar bisa disantap sebelum kyai Sarwa dan Madi kembali ke pondok.
Setelah sarapan dilanjutkan dengan makan, agar perut tidak kosong selama perjalanan pulang, pak Parman mempersilahkan Kyai Sarwa dan Madi masuk ke dalam mobil. Ningsih, isteri pak Parman dan Ayu mengantar kepergian mereka sampai di pintu Kondisi bu Ningsih sudah berangsur membaik dan tidak lagi berteriak histeris
“Terimakasih Kyai atas bantuannya,” ucap bu Ningsih penuh terima kasih.
“Alhamdulillah, Allah masih melindungimu, Ningsih. Pesan Kyai, salat jangan ditinggal, untuk membentengi diri dari hal-hal yang kurang baik!”
Bu Ningsih mengangguk, sambil menggulirkan senyumnya dengan lembut. Sementara Ayu melambaikan tangan, mengucapkan salam perpisahan.
“Parman, kau juga, salatmu jangan sampai tinggal. Itu sangat perlu. Apalagi ada-ada saja orang yang tidak suka dengan keberhasilanmu!” Kyai Sarwa juga menitipkan pesan pada pak Parman.
“Baik , Kyai! Saya akan mengingat pesan Kyai dan melaksanakannya sehari-hari,” jawab pak Parman sambil tetap berkonsenrasi
Suasana perjalanan kembali seperti biasa, tidak setegang tadi malam, saat menuju rumah pak Parman. Udara pun cerah meski menyisakan sedikit rasa dingin akibat berada di sekitar pegunungan. Masyarakat yang mereka temui pun tidak ada yang aneh.
Kyai Sarwa sudah tertidur di sandaran kursi, mungkin keletihan karena kurang tidur malam tadi, mengusir jin yang ingin mengganggu
ketentraman rumah pak Parman. Sementara Madi juga mulai diserang rasa kantuk. Ia juga merasa lelah karena tenaganya terkuras malam tadi.
Menghadapi makhluk tak kasat mata seperti jin meskipun tidak melakukan pukulan fisik seperti orang berkelahi tapi tenaga dalam yang digunakan juga besar. Bahkan lebih banyak digunakan karena kekuatan jin itu di
atas kekuatan manusia.
Ketika mulai terlelap, antara sadar dan tidak, Madi merasa ada sepasang tangan memiliki kuku sangat tajam, tiba-tiba sudah berada dekat lehernya, seperti ingin mencekik. Madi terkejut, dan mencoba bangun, tapi matanya seperti terkunci, tertutup rapat. Kemudian, napasnya pun seperti sangat sesak dan tidak mampu berteriak, memanggil kyai Sarwa.
__ADS_1
Sepasangan tangan itu kini telah mencengkram leher Madi. Lkai-laki itu mencoba bersikap tenang, membaca semua amalan dan hijib yang pernah diajarkan
kyai Sarwa. Hawa dingin terasa sangat menusuk membuat bulu kuduk Madi tegak, merinding.
Kuku tajam di sepasang angan itu terasa tajam, sangat mencekik leher Madi. Cukup lama Madi berjuang melepaskan diri dari cengkeraman makhluk itu. Tubuhnya bergerak-gerak sendiri, mencoba melepaskan diri.
Sepasang tangan itu terus mencekik leher Madi, tidak memberi kessempatan baginya untuk melepaskan diri. Madi juga terus berusaha melepaskan diri, tidak ingin diintimidasi dengan serangan-serangan makhluk itu.
Napas Madi begitu memburu ketika akhirnya cengkraman sepasang tangan berkuku tajam itu berhasil ia lepaskan. Bekas goresan kuku makhluk itu masih menyisakan rasa perih di lehernya. Makhluk apa yang mengganggunya
pagi-pagi begini? Apa dia disuruh oleh seseorang, atau memang makhluk tak kasat
mata penghuni daerah ini yang jahil? Madi mulai bertanya-tanya.
Di sebelah Madi, Kyai Sarwa masih teridur pulas, tidak terganggu dengan sepasang tangan itu. Pak Parman juga masih tetap berkonsenrasi menyetir, tidak mengetahui kejadian yang dialami Madi.
“Pak Parman tidak merasakan sesuatu?” Penasaran, Madi bertanya. Pak Parman menoleh sekilas melalui kaca yang berada di atas kepalanya.
“Ada apa, Madi? Bapak sibuk nyeir dari tadi, jadi nggak ngerasain sesuatu yang ganjil.”
Madi termenung sendiri mendengar jawaban pak Parman barusan. Berarti sasaran makhluk itu hanya Madi, buktinya kyai Sarwa dan pak Parman tenang-tenang saja, tidak mendapat gangguan sedikit pun.
“Nggak ada apa-apa, Pak. Mungkin tadi karena Madi kecapekan saja,” sahut Madi sembari memperbaiki letak duduknya.
Mendengar jawaban Madi, pak Parman tersenyum dan kembali menyetir.
Madi pun tidak ambil pusing dengan kejadian tadi. Mungkin saja dia karena keletihan atau memang ada makhluk di sekitar sana yang iseng, ingin mengganggunya. Madi pun kembali melanjutkkan istirahatnya. Perjalanan
pulang masih memakan waktu kurang lebih satu jam lagi, cukup untuk memulihkan
__ADS_1
tenaga dan menghilangkan rasa kantuk.