
Madi hanya terdiam, tidak tahu mesti berbuat apa. Suasana di sekitar hutan itu begitu sepi. Tidak ada satu orang pun yang lewat.
“Tunggu saja, Madi! Sebentar lagi permainan akan segera dimulai.” Jaka, nenek bungkuk dan sejumlah mahluk tak kasat mata penghuni hutan itu tertawa keras.
Madi terkejut dan segera terbangun. Keringat dingin membanjiri punggung dan seluruh bagian tubuhnya yang lain. Hal apa yang sedang terjadi? Madi tidak pernah menduga akan menghadapi permasalahan seperti ini.
Niatnya untuk meminta perlindungan dan solusi agar lepas dari gangguan makhluk penghuni pohon tua itu malah menyeretnya ke permasalahan lain. Sebegitu dendamkah Jaka kepadanya, sehingga rela bekerja sama dengan Nini yang jelas-jelas memiliki ajian sesat.
Turun dari tempat tidur, Madi melirik jam yang berada di dinding. ‘Sebentar lagi salat ashar,’ bisik Madi. Kemudian mengambil handuk, lalu berjalan ke kamar mandi. Mungkin seelah mandi dan mendinginkan tubuh, Madi berharap bisa lebih segar.
“Bagaimana tidurmu, Madi? Nyenyak?” Madi tersenyum tipis, lantas duduk di sebelah kyai Sarwa. Memandang wajah pemimpin pondok pesantern itu dengan ragu. Namun, setelah menimbang, akhirnya Madi memberanikan diri untuik menjawab pertanyaan kyai Sarwa lebih dahulu, baru menceritakan isi mimpinya
tadi.
“Alhamdulillah, cukup nyenyak, Kyai. Hanya saja, tadi, Madi bermimpi aneh.” Kyai Sarwa hanya memandang Madi tanpa berkomentar apa-apa. Kemudian, Madi pun melanjutkan ceritanya.
“Dalam mimpi, tadi Madi melihat Nini si nenek bungkuk, Jaka dan beberapa makhluk halus penghuni hutan kecil. Madi dan nenek
bungkuk tampaknya bekerja sama dan ilmu mereka berdua berkembang pesat. Ada Kyai
juga menyalurkan tenaga dalam.” Madi kembali berhenti, mengatur napasnya yang
mulai tersengal. Kyai Sarwa masih tetap diam, tidak berkomentar, hanya mendengar cerita Madi dengan seius
“Satu hal yang membuat Madi takut adalah, ancaman Jaka pada Madi, Kyai. Jaka berkata bahwa sebentar lagi permainan akan segera dimulai dan dia akan menyerang dan membuat Madi tidak berdaya.” Kali ini, kyai Sarwa mulai menggeser duduknya, menatap Madi lekat.
__ADS_1
“Tak perlu khawatir dengan mimpi seperti itu, Madi! Seperti yang Kyai katakan tadi, fokus saja pada latihanmu. Mereka juga tidak akan bertindak gegabah.” Madi hanya bisa bengong mendengar tanggapan kyai Sarwa. Sepertinya memang beliau tidak terlalu
mengkhawatirkan hal ini.
“Begitu, ya, Kyai?” tanya Madi. Penasaran saja, kenapa sikap kyai seperti ini. Apa itu karena kyai tidak ingin membuat konsentrasi Madi terpecah? Entahlah. Madi mengangkat pundaknya.
“Iya, sekarang kita ke musala, sebentar lagi salat ashar. Setelah itu lanjutkan latihanmu. Untuk sementara, kurangi pertemuanmu dengan Jaka. Dan, jangan sekali-kali kau ceritakan amalan yang telah Kyai ajarkan padanya!” Ucapan kyai Sarwa tadi membuat
Madi sedikit bingung. Apa sebenarnya yang terjadi. Kenapa kyai melarang mereka bertemu? Meskipun tidak tahu apa maksudnya, Madi menurui perintah tegas kyai
Sarwa itu.
Semenjak bermimipi aneh itu, Madi sedikit menghindar dari Jaka, apalagi kalau berjalan dengan kyai Sarwa. Madi hanya menyelesaikan latihan agar bisa segera pulang. Dia merasa khawatir dengan kesehatan dan keadaaan Aulia.
Kuntilanak bertaring panjang itu kerap menggoda para lelaki yang kebetulan lewat di sana dengan memperlihatkan wajah cantiknya. Setelah berhasil digoda, korbannya digiring ke pohon tua yang dalam penglihatan mereka adalah sebuah rumah bagus dan mewah.
Beruntungnya warga yang dibawa ke pohon tua itu tidak sampai diambil nyawanya, hanya tidak bisa berbicara untuk beberapa saat. Itu pun mereka harus dibantu kyai atau seseorang yang bisa menetralisir pengaruh jahat kuntilanak itu.
Bukan hanya kuntilanak itu saja yang beraksi, juga sepasang kakek nenek cebol yang berwajah menyeramkan. Mereka terkadang menyamar menjadi anak kecil yang minta diantar pulang, karena terpisah dengan orangtua. Benar-benar mulai meresahkan tindak-tanduk penghuni pohon tua itu.
Aulia juga dibuat pusing dengan gangguan makhluk astral yang dibawa oleh Nang untuk mengganggu dan menjebol pagar gaib yang
telah dibuat Madi. Beberapa kali Aulia
mengabarkan sering mndengar namanya dipanggil oleh seseorang yang mirip dengannya. Bahkan bisa beberapa kali dalam sehari. Hal itu membuat Aulia sedikit ketakutan.
__ADS_1
Seperti yang diceritakan Aulia melalui pesan yang dikirimkannya. Ternyata baru beberapa hari berada di pesantren, sudah begitu banyak gangguan yang diterima Aulia. Aulia bercerita,
bahwa pagi tadi, setelah salat dhuha, Aulia mendengar suara seperti Madi memanggilnya dari depan. Kali ini sama persis. Bukan lagi memanggil nama tapi
dengan panggilan yang biasa Madi lakukan.
“Neng, Akang pulang. Tolong bukakan pintu!” Aulia terhenyak. Perasaan rindu yang dirasakan membuat logikanya tak lagi bermain.
“Akang sudah pulang?” Tanpa sadar Aulia menjawab panggilan itu. Seperti dihipnotis dia berjalan ke pintu dan bermaksud membukanya. Namun, seperti ada kekuatan, membuatnya tersadar, sehingga tak jadi membuka pintu. Berkali-kali Aulia membaca istifghar, memohon perlindungan Allah.
Setelah menenangkan detak jantungnya yang berdebar kencang, Aulia mengintip keluar melalui jendela. Ternyata memang tidak ada siapa-siapa di sana. Bagaimana jadinya kalau tadi ia tergoda dan membuka pintu. Mungkin sesuatu yang buruk akan menimpanya.
Madi hanya bisa menarik napas panjang, membaca semua pesan Aulia. Beruntungnya, sampai saat ini, Aulia masih bisa bertahan dari gangguan Nang dan makhluk astral suruhannya. Madi hanya butuh beberapa hari lagi untuk menyempurnakan latihannya sehingga bisa segera mengusir penghuni pohon tua itu.
Tidak terasa sudah beberapa hari Madi berada di pesantren. Latihannya pun sudah memasuki tahap akhir. Sekarang Madi
semakin peka merasakan kehadiran makhluk astral meskipun keberadaannya masih jauh. Bukan hanya makhluk asral, kehadiran manusia pun bisa dirasakannya. Tenaga dalamnya juga semain kuat. Kyai Sarwa tampak sangat bersyukur melihat perkembangan Madi.
“Sepertinya latihanmu berjalan lancar, Madi. Nanti malam, setelah salat isya, ikut Kyai ke suatu tempat.”
Madi tersenyum mendengar ucapannya kyai Sarwa yang mengatakan kalau latihannya sudah mulai sempurna. Namun, yang membuatnya penasaran adalah ucapan kyai terakhir. Akan ke mana ia dibawa nanti malam? Ada urusan apa? Benar-benar misterius.
“Iya, Kyai. Madi berterima kasih telah diberikan beberapa amalan untuk mengusir penghuni pohon tua itu dan membuat tenaga dalam Madi lebih kuat.”
Kyai Sarwa t tersenyum lebar mendengar penuturan Madi. Sambil menepuk pundak Madi, kyai Sarwa berlalu, tanpa ada penjelasan sedikit pun mengenai kepergian nanti malam. Sebenarnya Madi ingin bertanya, tapi, kyai Sarwa telah pergi melaksanakan tugasnya, berkeliling pondok pesantren.
__ADS_1