Penghuni Pohon Tua

Penghuni Pohon Tua
Kembali Berhadapan


__ADS_3

Madi tak akan memberi sedikit pun kesempatan pada penghuni pohon tua tersebut untuk memporak-porandakan


pertahanan yang telah ia buat sebelum pergi ke pondok. Malam ini, Madi akan berusaha sekuat tenga, memagari kembali sekeliling rumah, agar bisa menahan masuknya makhlukk-makhluk dari dimensi lain itu.


Di sudut lain, Jaka tersenyum puas, berhasil memecah konsentrasi Madi. Malam ini, Jaka juga bermaksud menyerang pondok Mempergunakan makhluk-makhluk astral, menggoda para santri, membuat mereka ketakutan, sehingga terjadi keonaran di seluruh pondok.


Ternyata, selain Madi, kyai Sarwa juga ikut berzikir di musala, bersama beberapa santri dan ustad , yang dianggap telah memiliki kemampuan standar untuk bertahan dari gangguan makhluk-makhluk tak kasat mata itu.  Meski tanpa kehadiran Madi, mereka berharap masih bisa bertahan dari serangan makhluk-makhluk tersebut.


Kembali ke penghuni pohon tua,  sepertinya mereka mengetahui kalau Madi telah bersiap menghadapi serangan mereka, buktinya ke semua makhluk tersebut merasa sulit untuk menembus pagar gaib. Madi semakin


khusuk. Waktunya tak banyak, hanya sampai azan Isya. Setelah salat isya, Madi baru akan kembali melanjutkan usaha mempertebal pagar gaib di sekeliling rumahnya.


“Menyerah sajalah, Madi!” Pemimpin semua makhluk itu, mulai membuka komunikasi. Madi tak menggubris sedikit pun. Dia masih terus berzikir dan mengasah hijib, menyalurkannya ke sekeliling rumah. Memang butuh proses cukup lama, agar rumah bisa terlindungi dengan sempurna dari serangan makhluk-makhluk tersebut.


“Sudahlah, Madi! Tak perlu susah-susah membuat pagar gaib, kami pasti akan bisa menembusnya.” Kembali terdengar ucapan mengejek dari pimpinan makhluk-makhluk tersebut. Madi, sekali lagi berusaha menghiraukan perkataan perempuan cantik bertaring itu. Saat ini, dia ingin berkonsetrasi dulu, dan tak mau meladeni mereka.


Sampai menjelang azan Isya, ke semua penghuni pohon tua, saling bergantian mengejek Madi, tertawa keras, mencoba mengacaukan pertahanan Madi. Meskipun jauh dari rumah, tapi, Madi bisa menembus ruang dan waktu, dengan ilmu dan amalan yang telah dipelajarinya dari kyai Sarwa.


Waktu salat isya sebentar lagi tiba, berarti sudah saatnya mengehentikan sejenak zikirnya. Setelah itu Madi baru akan melanjutkan kembali zikirnya, mempertebal garis gaib yang selama ini memagari rumah dari pengaruh negatif penghuni pohon tua itu.

__ADS_1


Bergegas, Madi, melangkah menuju musala. Di sana sudah berkumpul para santri dan ustad untuk melaksanakan kewajiban terakhir malam ini. Kyai Sarwa segera menuju tempat imam, segera memimpin salat berjamaah dengan khusuk. Wajah pemimpin pondok itu, tampak tenang, seolah tak menyimpan ketegangan. Padahal, sekelompok makhluk tak kasat mata, sudah bersiap menyerang pondok malam ini. Tinggal menunggu waktu dan perintah Jaka saja.


Satu per satu para santri dan ustad mulai meninggalkan musalah, tersisa Madi, empat orang santri senior dan tiga orang ustad yang tadi berzikir bersama kyai Sarwa. Setelah, semua duduk mengelilingi kyai Sarwa pemimpin pondok itu pun, bersuara, mengajak mereka berdiskusi, tentang keadaan pondok saat ini.


“Maafkan, Kyai harus mengumpulkan kalian semua malam ini. Ada sesuatu yang harus Kya sampaikan. Ini menyangkut pondok dan keselamatan kita semua.”


Semua yang hadir memandang tegang pada kyai Sarwa. Terlebih keempat santri dan ustad yang baru dikumpulkan malam ini.


“Ada apa, Kyai” tanya salah satu santri itu.


“Iya, benar. Ada masalah apa sebenarnya, Kyai, kenapa kami dikumpulkan di sini?” Kali ini salah satu satu ustad juga mulai bertanya. Kyai Sarwa hanya tersenyum tipis. Menghirup napas panjang, mengisi seluruh paru-parunya dengan oksigen. Baru menjelaskan keadaan


“Ketahuilah para santri dan Ustad, saat ini, pondok telah disusupi beberapa makhluk tak kasat mata yang bertujuan ingin menghancurkan pondok ini. Ini semua adalah ulah Jaka.” Kyai Sarwa sengaja berhenti, memberikan kesempatan pada mereka untuk menyela sambil memperhatikan reaksi spontan mereka.


“Jaka, Kyai?” tanya salah satu ustad itu. Tak percaya kalau salah satu ustad senior di pondok ini akan mengadakan pengkhianatan.


“Iya, betul, Amir,” jawab kyai Sarwa tegas pada ustad yang bernama Amir itu. “Kenapa begitu, Kyai. Bukankah selama ini, dia adalah wakil kyai selama ini?” kembali ustad Amir itu bertanya.


Kembali Kyai Sarwa tersenyum. Mungkin, bagi sebagian dari penghuni pondok tak akan percaya kalau Jaka akan memberontak, mengacaukan kehidupan di pondok dengan mencoba menghadirkan sejumlah makhluk dari dunia lain, menggoda para santri hingga ketakutan dan tak mau mondok lagi  di sini.

__ADS_1


“Iya, Amir. Tak seorang pun percaya. Namun, bukankah hari ini Jaka tak salat berjamaah sampai isya ini?” Kyai Sarwa mencoba membuka mata para ustad dan santri, agar mau mendengar penjelasannya bahwa Jaka adalah biang keladi dari semua kerusuhan yang telah dimulai.


Para santri dan ustad yang hadir itu pun, mengangguk, membenarkan ucapan kyai Sarwa. Memang betul, seharian ini, Jaka tak muncul ke musala untuk salat berjaamaah. Bahkan, juga tak muncul di kelas-kelas untuk mengajar.


“Benar, Kyai. Tadi, saya dan beberapa santri lainnya, terpaksa berkeliling pondok mencari keberadaan ustad Jaka, karena kelas dibiarkan kosong dan tak belajar.


Kyai Sarwa mengannguk mendengar perkataan Bayu, salah satu santri yang diajak kyai Sarwa membantunya berzikir malam ini, menghadapi gangguan makhluk-makhluk tak kasat mata yang akan segera menyerang penghuni pondok.


Sebaiknya, kalian bersiap, pulanglah terlebih dahulu ke kamar masing-masing. Tapi, ingat, rahasiakan dulu dari santri lain, agar tak membuat kegaduhan. Setelah itu, pergilah ke aula secepatnya. Kalau ada ustad atau santri lain yang bertanya, katakan saja, ada


tugas dari Kyai Sarwa untuk dikerjakan!”


Semua ustad dan santri yang mengelilingi kyai Sarwa itu, mengangguk, mengerti akan perintah sang kyai dan segera melaksanakannya.


Kyai akhirnya bisa bernapas lega untuk sementara waktu, bisa memberi ruang sejenak untuk mempersiapkan diri. Begitu  pun dengan Madi. Laki-laki ini juga disarankan pulang bersama kyai Sarwa, mempersiapkan diri, mengisi perut agar mempunyai kekuatan, berperang melawan makhluk-makhluk penghuni pohon tua itu.


“Kyai, tadi pemimpin makhluk penghuni pohon tua itu, mencoba bekomunikasi, tapi, Madi tak mau menjawab, dan terus saja sibuk berzikir,” ucap Madi ketika tiba di rumah. Kyai Sarwa hanya tersenyum menanggapi cerita Madi.


Pemimpin pondok pesantren itu sibuk menyantap makanan yang telah disiapkan Madi. Sepiring nasi dengan lauk pauk sederhana, beserta segelas teh manis, sudah cukup menjadi energi, untuk melawan semua makhluk dari alam gaib tersebut.

__ADS_1


Madi juga terlihat lahap menyantap hidangan dengan menu sederhana itu. Untuk sejenak, mereka berdua harus bisa melupakan persoalan yang sedang menimpa. Mungkin, nanti, setelah mereka kembali berkumpul di aula, bisa lebih konsentrasi. Mengatur strategi, agar bisa menghalau semua kesulitan.


__ADS_2