Penghuni Pohon Tua

Penghuni Pohon Tua
Sesuatu yang Tak Diharapkan


__ADS_3

Setelah memeriksa gudang dalam asrama, kyai Sarwa dan Madi bergerak ke lantai dua. Di bagian atas, terdapat beberapa bagian sering terlihat makhluk halus yang selalu usil mengganggu santri. Sudah beberapa kali kyai Sarwa mengusir makhluk tersebut tapi, selalu ada saja ada yang lain datang mengusik mereka.


“Apa, di lantai dua masih kerap diusili makhluk-makkhluk astral jelek itu, Kyai?” tanya Madi, sambil memeriksa lantai dua.


“Sesekali masih, Madi. Tapi, mereka hanya menakut-nakuti saja. Hanya itu.” Madi terdiam, saat kyai Sarwa menjawab pertanyaannya tadi. Sungguh di luar dugaan, ternyata makhluk-makhluk itu terus saja mengganggu. Dulu, sewaktu Madi tinggal di loteng dua, asrama ini, tak ada satu pun makhluk tepung ini mau tinggal dan mengganggu para santri. Para makhluk itu tak tahan dengan aura yang dipancarkan Madi.


 Jaka ternyata memang memiliki niat yang kurang tulus saat memasuki kembali pondok, ingin menguasai dan membuat kyai Sarwa tak


berdaya dan meninggalkan pondok.Beruntungnya, Madi,, berkunjung ke pondok pada saat yang tepat. Sehingga, bisa membantu kyai Sarwa menghadapi Jaka.


“Kalau begitu, sekalian, kita bersihkan saja lantai dua ini, Kyai!” seru Madi sembari terus menyusuri setiap sudut. Mencari jejak yang ditinggalkan oleh para lelembut itu. Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk membersihkan pondok dari pengaruh Jaka.


“Betul, Madi. Kita harus secepatnya membersihkan tempat ini!” Setelah kyai Sarwa menyelesaikan ucapannya, pemimpin pondok itu pun memulai aksinya, berzikir, membaca banyak amalan dan doa untuk membuat semacam garis baib, mencegah masuknya kembali makhluk-makhluk tak diundang tersebut.


Cukup lama juga, kyai Sarwa dan Madi berada dalam asrama, memeriksa dan membersihkan seluruh pengaruh negatif yang disebabkan oleh makhluk-makhluk tak kasat mata. Kemudian membentenginya, sehingga, nanti, para santri bisa merasa aman berada dalam asrama. Kalaupun ada gangguan yang dilancarkan oleh makhluk-makhluk astral tersebut, tak akan berakibat fatal.


 “Kyai, apa kita bisa turun sekarang?” Madi


bertanya seraya menyeka peluh yang mulai membasahi keningnya.


Kyai Sarwa tampak merenung sebentar sebelum menjawab pertanyaan Madi. Mata batinnya bergerak mengawasi seluruh keadaan di tingkat dua tersebut. Meneliti kalau ada bagian-bagian yang belum terpasang pagar gaib.


“Iya, sekarang kita bisa turun dan keluar dari asrama. Sebentar lagi, sebagian dari para santri sudah ada yang pulang ke asrama.” Akhirnya kyai Sarwa menjawab juga pertanyaan Madi. Sudah hampir dua jam mereka berada dalam asrama.

__ADS_1


Setelah keluar dari asrama, kyai Sarwa dan Madi, berjalan menuju mushala, melaksanakan salat dhuha. Hari masih menunjukkan angka 9. Kyai Sarwa lebih banyak diam saat dalam perjalanan menuju mushala. Mungkin banyak yang dipikirkan oleh sang kyai.


Sesampainya di depan mushala, kyai Sarwa dan Madi segera menuju ruang untuk mengambil wudhu. Setelah itu, mereka berdua masuk ke mushala, dan memulai salat dhuha. Suasana terasa begitu lengang, membuat Madi merasakan ketenangan saat salat.


“Sekarang, kita ke bagian sebelah kiri pondok, Madi. Di sana ada beberapa bangunan, tempat di mana santri belajar!” Kyai Sarwa pun berkata, usai Madi menyelesaikan salat dan mencium punggung tangan kyai Sarwa.


“Baik, Kyai. Semoga di sana, keadaan lebih baik!” ucap Madi, seraya memperbaiki  letak kopiahnya.


“Iya, Madi. Cepatlah, sedikit. Paling ndak, kita bisa membentengi sebagian dari tempat itu, sampai salat zuhur!” Mendengar ucapan kyai Sarwa barusan, Madi bergegas mengikuti dan


menyejajarkan langkah dengan kyai Sarwa. Memang benar, mereka hanya punya waktu sekitar dua jam saja.


Madi pun tak lagi berkata apa-apa, sibuk berzikir, mempersiapkan diri agar nanti bisa lebih konsentrasi membantu kyai Sarwa membuat benteng penangkal masuknya makhluk-makhluk jahat yang akan mengganggu para santri dan penghuni pondok yang lain.


Hawa negatif samar dia rasakan di sepanjang perjalanan, apalagi saat memasuki lingkungan bagian   sebelah kiri pondok, dI tempat biasanya aktivitas belajar para santri berlangsung. Entah mengapa, Madi tiba-tiba merasa sangat mual. Segera, dia menetralisir hawa negatif yang menyebabkannya tiba-tiba mual.


“Ada apa, Madi?” Kyai Sarwa bertanya setelah melihat keadaan yang tiba-tiba mual.


“Madi, ndak tau, Kyai. Tadi, tiba-tiba saja, perut  Madi terasa mual,” jawab Madi sembari melap dahinya yang berkeringat. “Mungkin, ada makhluk astral yang memiliki kekuatan besar yang pernah berada di sekitar tempat ini,” lanjut Madi kemudian.


 Kyai Sarwa tampak memejamkan mata, mencoba menerawang melalui pandangan mata batinnya. Terdengar helaan nafas kyai


Sarwa  begitu panjang. Kelihatannya, memang ada makhluk yang bisa saja menjadi seteru mereka nantinya.

__ADS_1


“Memang benar, Madi. Ada makhluk yang memiliki hawa negatif yang begitu besar. Itu sangat berbahaya. Terbukti, kau tadi sempat merasa mual tadi.” Kyai Sarwa membenarkan apa yang  sempat dirasakan Madi tadi.


“Jadi, apa yang harus kita lakukan, Kyai?” Madi bertanya  sembari menyeka kembali keringat dingin yang mengucur di dahinya.


“Sekarang, kita masuk dan telusuri, setiap tempat yang mungkin pernah disinggahi makhluk itu. Setelah itu, kita bersihkan hawa negatif yang mungkin masih tertinggal!” Madi


mengangguk, mengerti dengan ucapan kyai Sarwa yang tegas.


Para santri masih terlihat beraktivitas seperti biasa dalam kelas, ketika kyai Sarwa dan Madi perlahan, menyelusuri, sedikit demi sedikit semua tempat dalam gedung tersebut.


Mencoba  mencari tempat yang mungkin


sempat menjadi tempat tinggal makhluk itu.


Semua kelas sedang berisi dengan para santri yang sedang belajar, berarti kyai Sarwa maupun Madi tak bisa memeriksa setiap kelas. Ini bukan waktu yang tepat. Mereka hanya bisa memeriksa bagian ruangan yang sedang kosong.


Sebuah ruangan perpustakaan, akhirnya dimasuki kyai Sarwa dan Madi, setelah melihat hanya ada dua orang ustad yang berjaga di sana. Sementara santri belum ada yang masuk dan membaca di sana. Ketika melihat kedatangan kyai Sarwa dan Madi, kedua ustad itu mendatangi dan menyalami kyai Sarwa. Kemudian, berlalu, memberi kesempatan pada kyai Sarwa untuk memeriksa seluruh ruangan.


“Madi, coba periksa bagian rak-rak berisi buku-buku, mulai dari pojok sana!” Lugas, kyai Sarwa mulai membagi tugas,  memeriksa seluruh ruangan, sebelum santri mulai berdatangan.


Mengikuti arahan dari kyai Sarwa, Madi mulai memeriksa ruangan, dimulai dari rak-rak buku, berlawanan arah dengan kyai Sarwa. Dengan teliti, Madi, memeriksa satu per satu rak berisi


buku-buku tersebut.  Mencari tempat yang

__ADS_1


mungkin disinggahi makhluk astral tersebut.


__ADS_2