
Aulia merasakan degup jantungnya berpacu dengan cepat. Gangguan yang mereka rasakan kali ini adalah yang paling hebat dari semua gangguan yang pernah mereka alami. Suara hingar bingar ditambah aura negatif benar-benar mengepung mereka.
Madi masih bersikap tenang, agar Aulia tidak terlalu khawatir menghadapi situasi yang tidak menguntungkan. Dia juga bisa merasakan kekuatan mereka juga luar biasa di luar rumah.
Bersyukur garis batas berbentuk gaib yang melindungi rumah mereka masih terpasang dengan baik sehingga untuk sementara waktu dapat menahan para penghuni pohon tua itu masuk.
“ Dik, berzikir saja, nggak usah takut. Kita serahkan saja semua pada Allah."
Aulia mengangguk mendengar ucapan suaminya itu. Memang betul apa yang disarankan Madi. Untuk situasi seperti ini, hal itu harus segera dilakukan. Jika, terus –menerus dilanda
ketakutan dan rasa cemas, makhluk-makhluk astral itu akan lebih leluasa untuk masuk.
“Baik, Kang. Adik akan terus berzikir, membaca ayat-ayat untuk menangkal dan menghalau para jin dan demit itu,” ucap Aulia. Rasa takut yang tadi mewarnai raut wajahnya perlahan mulai
memudar. Perkataan Madi tadi telah membuka mata hati dan pikirannya.
Sementara di luar rumah, kegaduhan semakin keras terdengar. Bunyi yang terkadang tidak masuk di akal. Udara semakin dingin menyelimuti sekitar Madi dan Aulia. Kali ini udara dingin yang tidak seperti biasanya. Bulu kuduk Madi sampai berdiri.
“Dik, jangan sampai bergerak dari sini. Apa pun yang terjad!” ucap Madi tiba-tiba. Aulia merasa heran dengan perkataan Madi barusan. Ada apa sebenarnya, kenapa juga dia tidak boleh bergerak dan keluar dari batas gaib yang telah dibuat suminya itu.
“Baik, Kang. Tapi, apa yang akan terjadi, Kang?” tanya Aulia penasaran.
“Di antara makhluk-makhluk itu, ada yang memiliki kekuatan yang luar biasa. Masih ingat dengan orang berbaju hitam, memiliki sorot mata aneh yang memperhatikan kita tadi?”
Aulia langsung mengangguk mendengar ucapan Madi. Iya, dia ingat orang itu memandang ke arah kios mereka dengan sorot mata penuh marah. Bahkan bukan hanya di kios saja, tapi, di gudang
tempat mereka mengambil sayur pun, orang itu juga terus-menerus memandang suaminya.
__ADS_1
“Iya,Kang. Adik masih ingat. Apa ada hubungannya dengan dia?” tanya Aulia, benar-benar bingung sekarang.
“Sepertinya, ada, Dik. Tapi, entahlah. Perasaan Akang berkata, kalau dia bukan orang sembarangan. Buktinya, dia berhasil memerintahkan para penghuni pohon tua itu mengepung kita.”
Aulia semakin konsentrasi membaca zikir agar pikirannya tidak akan dipengaruhi dan dirasuki para makhluk tak kasat mata itu. Madi juga bersiap menyambut kedatangan beberapa penghuni
pohon tua yang mampu menerobos garis gaib, pelindung rumah mereka selama ini.
Madi juga terus memutar murotal yang berada di pojok ruangan. Dia sengaja terus memutar murotal agar melemahkan kekuatan makhluk-makhluk yang berasal dari dimensi lain itu. Benar saja. Belum lama dia mengingatkan Aulia, sekitar dua atau tiga makhluk gaib itu telah muncul di hadapan Madi dan Aulia. Madi, tampak berusaha tenang. Situasi
ini sudah sering ia hadapi.
Perempuan cantik bertaring menyerupai demit itu memandang pongah ke arah Madi. Demikian pula dengan makhluk bertubuh tinggi besar yang pernah dikalahkan oleh Madi. Ditambah kakek
cebol yang memang selalu ikut-ikutan meneror dan mengusik kedamaian di sekitar tempat tinggal mereka.
“Sebaiknya kalian keluar sekarang juga. Tidak kapok apa dikalhakan dan diusir dari rumah ini!” seru Madi mengusir ketiga makhluk gaib tersebut.
Bukannya takut, malah ketiga makhluk tersebut tertawa, merasa kali ini mereka bisa mengalahkan Madi dan membuat sepasang suami isteri ini akhirnya menyerah dan meninggalkan rumah ini.
“Jangan sombong. Msaih bisa kah, Kau, mengusir kami malam ini?” tantang makhluk berubuh tinggi besar itu sekarang.
“Aku tidak pernah takut pada kalian Hai, Makhluk Tak Kasat Mata. Ada Allah yang akan menguisir kalian nantinya!”seru Madi, berani. Dia tidak ingin dipengaruhi dan dilemahkan oleh makhluk penghuni pohon tua itu. Apa pun yang terjadi, dia harus bisa mengusir mereka malam ini.
“He … he … nyalimu semakin besar, Anak Manusia. Apakah, nanti kau masih bisa berkoar-koar seperti ini!” Kakek cebol itu mengejek Madi.
Madi berusaha tidak memperdulikan ejekan para makhluk penghuni pohon tua yang mencoba melemahkan pertahanannya. Malah Madi kini semakin konsentrasi membaca ayat-ayat yang bisa
__ADS_1
mrngusir makhluk seperti jin dan demit yang menghuni pohon tua itu. Tampak ketiga makhluk itu mulai merasa gelisah mendengar zikir dan murotal yang terus dipasang Madi. Zikir Aulia pun turut membuat ketiga makhluk astral itu
merasakan hawa panas yang luar biasa.
Demit menyerupai perempuan cantik bertaring panjang itu berusaha mendekati Madi dan Aulia. Disusul oleh makhluk bertubuh tinggi besar itu. Aroma harum seperti bunga melati berpadu
dengan bau amis menyelubungi ruangan itu. Aulia sampai menahan napas, tidak kuat menahan bau amis yang sangat menyengat.
Madi tidak ingin makhluk-makhluk itu bisa mendekati mereka berdua. Sambil terus berrzikir dia mencoba melepaskan hijib yang bisa mengusir makhluk-makhluk astral seperti demit dan jin yang suka mengganggu ketentraman manusia.
“Argh … panas … panas …!” terdengar erangan kepanasan dari makhluk bertubuh tinggi besaritu. Aroma amis semakin pekat, berputar-putar dalam ruangan. Ditambah dengan aura negatif dan hawa
dingin luar biasa.
Lantai bergoyang-goyang terkena injakan makhluk bertubuh tinggi besar itu. Tubuh Madi sampai bergerak ke kiri dan kanan. Goyangan itu semakin kencang, membuat Madi bisa terlempar dari batas gaib itu. Meski pun Aulia tidak memiliki penglihatan ata batin yang mampu melihat keberadaan ketiga makhluk astral itu, tapi, dia juga merasakan dampaknya, meski tidak sehebat yang diterima Madi.
“Kang, sepertinya kekuatan mereka sangat besar,” ujar Aulia, memandang suaminya yang sedang berkonsentrasi penuh menghadapi ketiga makhluk astral itu.
“Iya, benar, Dik. Tapi, yakinlah, kekuatan mereka pasti bisa kita kalahkan,” jawab Madi penuh
keyakinan. Tidak sedikit pun luntur kepercayaannya bisa mengalahkan dan mengusir keberadaan makhluk itu dari rumah mereka.
“Iya, Kang. Adik juga percaya, Akang pasti bisa mengusir mereka semua.”
Mendengar percakapan Madi dan Aulia ketiga makhluk itu tertawa, menyeringai, mengejek. Mereka merasa kalau sepasangsuami isteri itu terlalu naif. Namun,di sanalah letaknya keyakinan.
Tiba-tiba saja kakek cebol, salah satu dari ketiga makhluk penghuni pohon tua itu berteriak kepanasan. Namun, dia masih sempat mengeluarkan beberapa serangan dan mencoba bertahan dari bacaan-bacaan zikir dan murotal, yang terus-menerus didengungkan Madi.
__ADS_1