Penghuni Pohon Tua

Penghuni Pohon Tua
Akhir Pertarungan


__ADS_3

Makhluk berbentuk dedemit dan kuntilanak itu, seketika meronta, berteriak kepanasan, tak mampu menahan serangan hijib kyai Sarwa. Wajah mereka memperlihatkan kemarahan luar biasa. Gusar, harus terpaksa tersingkir karena pukulan hijib kyai Sarwa tadi. Merasakan hal yang sama, seperti kedua makhluk jadi-jadian berbentuk setengah uar dan harimau, yang tadi dikalahkan Madi.


“Berhenti … ampun … panas … panas …!” teriak kedua makhluk itu, benar-benar tak tahan menerima serangan hijib dari kyai Sarwa dan Madi. Mereka, bergerak menuju jin bertubuh sangat tinggi itu, berkerumun sebentar, kemudian menghilang, sambil meninggalkan pesan teror yang akan terus dilakukan.


“Tunggu saja, Pak Tua pembalasan kami. Tak lama lagi, bala bantuan akan datang. Ha … ha … ha …!” Suara serak demit nenek tua itu terdengar begitu menakutkan. Diikuti,


lengkingan tawa kuntilanak berwajah sangat cantik itu. Sementara auman dan desisan mengerikan juga diperdengarkan kedua makhluk jadi-jadian itu, menambah suasana semakin mencekam.


Bersyukurnya, kejadian itu hanya sebentar, peninggal jejak saja, sebelum semua makhluk halus itu beranjak meninggalkan ruangan aula yang kini telah dikuasai hawa positif, yang disebarkan kyai Sarwa, saat mengelluarka hijib tadi.


Kemudian kyai Sarwa bergerak cepat, segera, membersihkan kembali  ruang aula dari hawa negatif, sepeninggal semua makhluk astral  tak diundang itu. Madi, juga membantu membantu kyai Sarwa. Mereka berdua tak memperdulikan sedikit pun ancaman yang ditinggalkan demit nenek tua itu.


Usai membersihkan ruangan, kyai Sarwa menuju salah satu sisi, tempat Bayu dan ustad Amir tadi meletakkan rekan-rekan mereka. Melihat para santri yang terkena pengaruh negatif yang tadi disarangkan makhluk-makhluk tak kasat mata itu.


Setelah itu, kyai Sarwa mengajak madi, berzikir, memberi perlindungan di seluruh ruangan aula, membentuk semacm garis gaib, pagar untuk mencegah kembalinya makhluk-makhluk astral lainnya yang ingin datang mengganggu.


Cukup lama mereka berdua berzikir, mengalirkan seluruh bacaan dan amalan ke seluruh ruangan, membentengi setiap sudut dengan meminta perlindungan Allah,sehingga, nanti, ketika serangan atau teror makhluk-makhluk tersebut kembali datang, para santri yang belum memiliki kekuatan supranatural, bisa berlindung dalam aula.


“Sepertinya sudah cukup, Madi. Pagar gaib, yang kita pasang sudah cukup tebal!” seru kyai Sarwa menghentikan zikir Madi. Rasa lelah kini benar-benar mendera Madi. Dia benar-benar sudah kehilangan banyak tenaga saat menghadapi penghuni pohon tua tadi. Belum lagi ditambah membantu kyai Sarwa, mengalahkan makhluk tak kasat mata yang dikirim Jaka.

__ADS_1


“Baik, Kyai. Madi mengerti,” jawab Madi segera berdiri dan meluruskan pinggang. Sementara, kyai Sarwa juga ikut berdiri, melangkah kembali menuju para santri dan ustad yang tadi terkena serangan makhluk jahat tadi. Madi, juga mengikuti langkah kyai, menuju para santri dan ustad tersebut.


Sesaat kemudian, terlihat kyai Sarwa memeriksa keadaaan mereka semua. Melihat kondisi tubuh para santri dan ustad tersebut yang melemah. Berusaha, membacakan beberapa ayat, agar mereka segera sadar.


“Bagaimana keadaan mereka, Kyai?” tanya Madi, setelah memberi pijatan pada nadi salah satu santri itu. Madi, juga terlihat begitu khawatir melihat keadaan para santri dan ustad tersebut. Bagaimana tidak, mereka belum memiliki kemampuan yang mumpuni dalam dunia supranatural. Belum bisa melihat dan menghindari gangguan yang diberikan para makhluk jahat tersebut.


“Alhamdulillah, Madi. Mereka semua baik-baik saja. Tak ada hal yang serius yang menimpa mereka.” Kyai Sarwa menjawab, seraya memerintahkan pada Bayu untuk mengambil beberapa gelas air, agar bisa didoakan  dan segera diminumkan nantinya, sehingga kondisi para santri dan ustad tadi bisa segera pulih.


Biasanya, cara ini efektif untuk mengusir sisa-sisa hawa ngetif yang berasal dari makhluk-makhluk dimensi lain yang ingin menggoda manusia. Dan, sudah banyak orang, yang telah dipengaruhi makhluk astral, berhasil disembuhkan kyai Sarwa dengan metod


pengobatan ini.


Ada sekitar beberapa menit, waktu yang dibutuhkan kyai Sarwa untuik membacakan doa dan bacaan-bacaan yang diambil dari ayat-ayat Al-Quran pada gelas berisi air tersebut. Madi, dan yang lainnya menunggu, sembari beristirahat sejenak, menarik napas panjang.


“Bayu, Ustad Amir, Madi, berikan air ini pada santri dan ustad yang terkena serangan para lelembut tadi. Semoga, semua pengaruh negatif yang masih ada, akan segera hilang!”


Mendengar perintah kyai Sarwa, Madi, Bayu dan ustad Amir pun bergegas memberi air yang sudah diberi doa itu pada mereka yang telah terkena serangan tadi.. Hasilnya sungguh di luar dugaan, para santri dan ustad tersebut seketika kembali muntah,mengeluarkan semua isi dalam perut.


“Biarkan saja, itu hanya akibat dari minuman berisi doa yang mereka minum!” Kyai Sarwa  mencoba menenangkan, saat melihat ekspresi Bayu yang tiba-tiba berubah penuh kekhawatiran. Begitu pula dengan ustad Amir

__ADS_1


dan Madi.


Benar saja. Kejadian itu tak berlangsung lama. Setelah muntah-muntah beberapa saat, kondisi mereka , pun kembali pulih. Wajah mereka pun kembali berangsur segar, tak lagi pucat seperti tadi.


“Alhamdulillah, Kyai. Kondisi para santri dan ustad yang terkena serangan tadi mulai membaik!” seru Madi. Tersenyum, senang, malam ini kondisi bisa tenang kembali.


“Ya, sudah, sekarang kalian lebih baik kembali ke kamar masing-masing. Segera beristirahat, memulihkan tenaga. Besok, masih ada persoalan lebih besar lagi menanti!” Kyai Sarwa akhirnya menyuruh par santri dan ustad tersebut kembali menuju tepat


peristirahatan merka, untuk tidur dan memulihkan tenaga.


Setelah pamit dan mencium punggung tangan kyai Sarwa, mereka semua meninggalkan aula, menyisakan kyai Sarwa dan Madi.


“Hari ini, selesai satu masalah, Madi. Tapi, kita masih harus terus waspad. Gelombang teror dan gangguan, masih akan terus datang. Jaka, tentu tak akan puas dengan kekalahan


yang harus ditelannya,” ucap kyai Sarwa, sesaat setelah para santri dan ustad tersebut meninggalkan aula.


“Iya, Kyai. Madi, akan tetap waspada dan berjaga-jaga,” jawab Madi sembari berjalan perlahan, mengikuti kyai Sarwa, meninggalkan ruang aula.


Pemimpin pondok pesantren itu mengangguk, kemudian tersenyum. Lalu, melanjutkkan perjalanan kembali menuju

__ADS_1


rumah. Malam ini, mereka dapat tiur pulas, mengganti energi yang tadi terkuras akibat pertarungan sengit melawan semua makhluk dari dunia lain yang ingin meneror keberadaan mereka di pesantren. Semoga saja, besok,  ke depannya, makin bnyak lagi para santri akan akan siap berjaga dan membantu kyai Sarwa menghadpi serangan dan gangguan para makhluk jahat tersebut.


__ADS_2