
Sepertinya memang ada sesuatu yang ganjil tentang sosok misterius itu. Membuat Madi semakin penasaran. Sekali ini ia bertekad untuk menemukan petunjuk tentang siapa sebenarnya sosok itu.
“Kang, kerumunan apa tadi di
depan rumah?” Madi tersenyum kecil menanggapi pertanyaan Aulia, sesaat ia baru
saja tiba di rumah.
Aulia melongokkan kepala, bermaksud melihat keadaan di luar. Madi sendiri dilanda dilema. Mau menerangkan yang sebenarnya, takut membuat isterinya malah tambah ketakutan. Namun, jika tidak dijelaskan bisa membuat Aulia bertanya terus -menerus.
“Ada mayat perempuan tidak dikenal ditemukan di bawah pohon tua itu tadi, Dek,” akhirnya Madi mengatakan juga yang sebenarnya. Awalnya sih, Aulia sangat terkejut. Bahkan membuat alis mata perempuan sederhana itu sampai terangkat. Namun, perlahan ia mampu juga menetralisir keterkejutannya tadi.
“Kasihan sekali, ya, Kang. Kok, ada orang yang setega itu. Membunuh perempuan yang sedang hamil.” Aulia menumpahkan seluruh kekesalan melalui gerutuan khasnya. Sebuah senyum terlukis di bibir Madi. Geli, melihat
bibir Aulia sampai monyong begitu.
Madi tidak terlalu menanggapi ucapan Aulia, takut nanti merembet ke mana-mana. Dia hanya menyarankan agar Aulia segera mengambil wudhu. Azan zuhur sebentar lagi tiba. Apalagi perutnya sudah keroncongan minta diisi. Makan terakhir tadi sekitar pukul 10, menyantap bekal yang dibawa dari rumah.
Menjelang magrib, suasana di sekitar tempat tinggal mulai sepi. Pintu-pintu rumah sudah banyak yang ditutup dari sore tadi. Ketakutan mulai menimpa penduduk di sekitar pohon tua itu. Apalagi tadi siang ada peristiwa pembunuhan. Hawa dingin, juga semakin membuat warga enggan meninggalkan rumah.
Madi merasakan banyak hawa negatif melingkupi sekitar tempat tinggal mereka. Bahkan kini bertambah kuat. Dia bisa mendeteksi bahwa kekuatan makhluk-makhluk itu menguat semenjak peristiwa pembunuhan wanita hamil tadi.
Apa memang, pembunuhan itu disengaja untuk dijadikan tumbal atau persembahan pada penghuni pohon tua itu? Apa itu juga ada timbal baliknya. Madi menggeleng, mencoba membuang emikiran yang sedari tadi merasuk. Bagaimana pun, butuh waktu untuk bisa menguak kebenaran di balik semua kejadian ini.
“Kang, Adek ke kamar mandi dulu. Sudah hampir magrib. Mau ngambil wudhu. Akang tidak baik bengong begitu, sambil ngeliatin pohon tua yang agker itu!”
__ADS_1
Peringatan Aulia, dengan cepat menyadarkan Aulia. Memang benar kata Aulia, tidak baik termenung terlalu lama di saat energi negative begitu banyak berkeliaran, karena pintu gerbang kegelapan terbuka lebar. Dia pun lalu menyusul Aulia, mengambil wudhu,
memebersihkan diri sebelum menghadap Sang Khalik nantinya.
Sebelum azan magrib, Madi duduk dengan tenang di atas sajadah. Dia selalu meluangkan waktu untuk berzikir menjelang magrib. Itu berguna untuk mempertebal pagar gaib yang nantinya akan membentengi mereka dari serangan makhluk-makhluk penghuni pohon tua itu.
Magrib belum tiba, tapi satu serangan sudah dilancarkan padanya. Namun, kali ini bukan berasal dari makhluk-makhluk itu, tapi berasal dari manusia. Sepertinya itu ulah orang asing
dan misterius itu. Serangan itu ganas dan mendadak. Jika tidak siap, tentu saja bisa membuat Madi terluka dalam.
Selama hampir sepuluh menit, Madi berzikir dengan khusuk. Dia sendiri belum ingin membuka komunikasi dengan orang tersebut, karena waktu salat magrib akan segera tiba. Tentu saja tidak akan cukup waktunya untuk mengorek keterangan dan keberadaan makhluk misterius tersebut.
“Kang, sudah azan, tuh!” terdengar ucapan Aulia memutus zikir Madi. Madi lalu bangkit, membenahi sarung yang sedikit kusut. Sementara Aulia juga sudah membentang sajadah, dan berdiri di belakangnya.
Mereka berdua melaksanakan prosesi salat dengan khusuk. Dengan salat bisa membentengi diri dari godaan makhluk-makhluk tak kasat mata itu. Terutama nanti saat mereka menggoda dengan cara menakut-nakuti, Madi dan Aulia sudah siap mental. Jadi, tidak akan terlalu takut lagi jika mereka tiba-tiba saja datang.
Sementara Aulia mulai membuka Al-quran dan mengaji dengan suara lembut. Suara murotal dari speaker, sementara mereka matikan dulu.
Ketika Madi sedang asyik berzikir, sebuah hempasan angin yang sangat kuat tiba-tiba menghantam atap rumah, seperti suara benda padat jatuh di atap. Aulia masih saja mengaji, demikian pula Madi.
Mungkin karena sudah lebih terbiasa dengan berbagai bentuk gangguan dari makhluk-makhluk itu, membuat pasangan itu tidak terlalu memperdulikannya. Rasa takut yang biasa menghantui Aulia pun sepertinya sudah
mulai berkurang.
Ketika Madi dan Aulia sedang fokus dengan pekerjaan masing-masing, tiba-tiba saja tercium aroma yang sangat busuk. Seperti bau daging busuk. Aulia mendadak jadi mual. Perutnya seperti terguncang dan ingin muntah.
__ADS_1
Madi langsung mendekati Aulia, mengusap wajahnya dengan lembut dan membisikkan beberapa ayat di telinga perempuan yang sedang hamil itu. Sedikit demi sedikit rasa mual yang tadi menyerang, mulai menghilang.
Peluh sebesar-besar biji jagung tampak menghiasi dahi Aulia. Benar-benar gangguan yang sangat tidak nyaman. Aulia menghela napas, bersyukur berhasil lepas dari gangguan bau yang sangat menyengat itu.
Bersyukur, serangan kali ini, hanya berupa bau yang sangat busuk. Aroma khas pertanda hadirnya sosok berbadan gelap, juga tinggi. Itu juga tidak berlangsung lama. Tidak tahan, dengan energi positif milik Madi.
Sampai menjelang salat isya pun, bau itu masih tercium, tapi tidak sekuat tadi. Masih ada bekas-bekasnya.
Dan ketika memasuki salat isya, Madi dan Aulia kembali melakukannya dengan khusuk. Mencoba membentengi diri dari serangan penghuni pohon tua itu.
Setelah salat Isya, saat mereka sedang asyik menyantap makan malam, Aulia kemudian bertanya apa yang mengganggu ia tadi.
Madi tidak segera menjawab pertanyaan Aulia. Dia masih terus menyantap hidangan nasi, lengkap dengan lauk-pauknya.
"Akang, nggak dengar, ya?" tanya Aulia dengan mimik kesal.
Madi kembali tersenyum, mengerti ketidaksabaran isterinya. Ia memang sengaja
mengulur waktu, karena itu bisa jadi pengaruh makhluk penghuni pohon tua itu.
"Iya, sabar, Dek! Akang, selesaikan makan dulu. Ntar keselek." Madi, akhirnya bersuara juga, meminta Aulia untuk bersabar sejenak.
Mendengar seruan suaminya, Aulia tidak lagi mendesak. Duduk dengan manis. di kursi yang tempat duduknya. Biasanya Madi akan terus menasehati ada juga hatinya jika tidak berhenti bertanya.
Setelah usai makan malam, Aulia mencoba membersihkan dan merapikan meja makan. Dia tidak menyadari, ada, satu sosok perempuan, mengikutinya hingga ke belakang.
__ADS_1
Aulia tidak mengetahui sama sekali, kalau arwah perempuan itu telah mengikutinya dari tadi. Madi sendiri juga sempat ragu, mengatakan kebenaran ini pada Aulia.