Penghuni Pohon Tua

Penghuni Pohon Tua
Ada Apa Gerangan


__ADS_3

Beberapa hari keadaan mulai tenang, kalaupun ada gangguan dari penghuni pohon tua itu, hanya sekadarnya saja. Tudak ada yang mengkhawatirkan. Lagi pula Madi dan Aulia sudahbterbiasa debgan teror makhlul tak kasat mata itu.


Nun, jauh di sana, di sebuah rumah, berkumpul beberapa orang dalam satu ruangan. Ada nenek bungkuk, Jaka, Nang dan Haqi serta beberapa orang lainnya.


"Nang, lukamu bagaimana sekarang?" terdengar suara Haqi. Pakaian hitamnya tampak kontras dengan pakaian putih milik Nang.


"Sudah lebih baik. Tidak separah kemarin,". Haqi tersenyum, turut senang mendengar semakin membaiknya kesehatan Nang.


Jaka yang berada dalam ruangan itu duduk menyendiri, agak menyudut. Sepertinya dia sedang tidak ingin dipusingkan dengan persoalan perseteruan antara Madi dan keluarga nenek bungkuk.


"Jaka, kenapa kamu duduk di sudut sana. Ayo, kemarilah!" Jaka menoleh ke sumber suara itu. Ternyata si nenek bungkuk yang membuka mulut.


"Sebentar, Nyi. Aku masih ingin menyendiri di pojokan ini!"


Mendengar Jaka berkelit, nenek bungkuk pun tak lagi memaksa Jaka untuk duduk bersama yang lain. Jaka merasa sungkan mencampuri urusan nenek bungkuk.


"Duduklah di pojokan situ. Kau boleh mendengar dan memberi saran, jika mendengar sesuatu yang ganjil atau aneh."


Jaka lantas mengikuti permintaan nenek bungkuk. Dia tampak semakin nyaman duduk di teras rumahnya.


"Haqi, Nang, sengaja Nyi kumpulkan kalian di sini. Ada beberapa hal yang harus segera Kita lakukan!" Bola mata Haqi membulat sempurna. Nang juga tampak terbelalak. Mereka berdua menunggu kelanjutan pembicaraan itu.


,"Nyi, apa sebetulnya yang ada dalam pikiran Nyi,?


"Kita harus sesegera mungkin membereskan urusan dengan Madi atau pun si Sarwa itu!" seru Nenek Bungkuk dengan nada agak tinggi. Raut wajahnya mengeras menahan emosi. Kyai Sarwa adalah salah satu musuh bebuyutannya.


"Betul itu, Nyi. Aku setuju. Sudah cukup lama rasanya berdiam diri." Kali ini, Jaka yang bersuara. Pancaran kemarahan pun terlihat di mukanya. Tidak dipungkiri, kedua nama itu adalah orang yang selama ini menghalangi langkahnya.


"Kalau begitu, sebelum bergerak, sebaiknya Kita menyusun rencana. Mereka bukan lawan yang bisa dianggap enteng!" Terdengar kembali suara Nenek Bungkuk itu. Selanjutnya mereka pun sibuk, kasak-kusuk membicarakan langkah selanjutnya yang harus diambil.


Dalam satu kesempatan Jaka mengajukan usul untuk memancing kyai Sarwa keluar dari pondok, agar lebih mudah membekuknya.

__ADS_1


Nenek bungkuk, Haqi dan Jaka langsung setuju. Menurut mereka ketika di luar pondok, makhluk astral juga lebih leluasa menggoda dan menyerangnya.


"Jaka, Kau bisa menyaru sebagai seseorang yang membutuhkan pertolongan dan mengadu domba mereka!"


"Caranya bagaimana, Nyi? Bukankah kyai Sarwa punya penglihatan mata batin?" Sangat penasaran, Jaka bertanya.


"Itu urusanku, Jaka. Aku akan mencoba menyamarkan penglihatan mata batinnya!"


Jaka mengangguk, mencoba memahami ucapan Nenek Bungkuk. Sepertinya kemampuan yang dimiliki Jaka memang belum bisa dibandingkan dengan Nenek Bungkuk.


"Bagaimana dengan Kami, Nyi?" Kali ini, Nang yang angkat suara.


Nenek Bungkuk, tersenyum kecil, sedang membayangkan kekacauan yang akan dibuatnya.


"Sebaliknya, Nang, Kau akan Nyi ubah menjadi Madi. Mungkin, sudah beberapa kali Kau mencoba tapi tak pernah berhasil. Kali ini, biar Nyi yang mencoba menutup aura Madi sehingga Kau bisa menyamar sebagai dia.


Nang bersiul gembira. Senang rasanya kalau ia bisa menyamar sebagai Madi. Itu berarti, dia akan sering berdekatan debgan Aulia. Nang memang terobsesi dengan Aulia.


"Dan Kau, Haqi, bersiaplah di sekitar pohon tua. Tugasmu adalah mengarahkan orang-orang yang ingin bersekutu dengan iblis, datang kepada Kita."


Nenek bungkuk mengangguk, membenarkan ucapan Haqi tadi. Semakjn banyak orang yang tersesat, maka semakin kuatlah para penghunu pohon tua tersebut.


Tawa mereka pun menggema dalam ruangan. Merasa yakin kalau rencana mereka akan berhasil. Dengan iming-iming mendapatkan kekayaan, orang-orang yang sedang putus asa akan mudah tergoda.


Kembali pada kehidupan Madi dan Aulia. Penghuni pohon tua yang merupakan makiluk astral itu semakin sering menakut-nakuti orang-orang di sekitar. Kesan seram pun semakin melekat. Keseraman dan teror dari para penghuni pohon tua itu bahkan sudah tersebar dari mulut ke mukut.


Tak jarang orang yang ingin lewat jalan itu, akhirnya rela mengambil jalan lain atau mengurungkan niatnya jika harus bepergian malam hari.


"Kang, malam ini, kok dinginnya nggak sama kayak biasanya?" seru Aulia, semakin masuk ke dalam selimut.


"Mungkin karena habis hujan sore tadi, Dik. Sekarang juga masih gerimis," jawab Madi, memandang ke luar jendela. Indera keenamnya menangkap ada sesuatu di sekitar pohon tua itu.

__ADS_1


Madi berusaha menetralisir hawa dingin yang mencoba mengganggu mereka, terutama Aulia. Sudah berulang kali makhluk-makhluk itu mengganggu kehidupan mereka. Madi tidak ingin makhluk-makhluk itu terus menerus mengganggu.


"Dik, sebaiknya tidur saja. Jangan lupa berwudhu dan baca doa sebelum tidur!" Madi terdengar mengingatkan isterinya.


Aulia mengangguk, menuruti saran Madi dan menuju kamar mandi. Madi mengikuti Aulia dengan perlahan. Perasaannya kembali mengatakan ada makhluk yabg mencoba menggusik Aulia.


Benar saja sesosok makhluk astral berwujud perempuan cantik tengan menatapa Aulia dengan liar. Air liur makhkuk itu seperti menetes. Wangi yang berasal dari tubuh Aulia sungguh menggoda makhluk itu.


"Shit ... " Madi berhasil membuat makhluk itu mundur.


Makhluk berwajah cantik itu memandang penuh amarah pada Madi.


"Kenapa kau ganggu santapanku!" Dengan gusar makhluk itu menuju Madi hendak mencekik dan mencabik tubuh Madi.


"Tak semudah itu, Kau memperdayaku! Lebih baik menghilanglah segera dari hadapanku!"


Makhluk itu tertawa panjang. Aulia sampai terkejut. Bulu kuduknya berdiri semua.


"Bagaimana mungkin, Aku meninggalkan perempuan yang sedang mengandung di sebelahmu itu. Dia dan bayinya adalah makananku."


Madi menatap makhluk itu, sambil membaca zikir dan beberapa ayat sebagai benteng pertahanan. Tidak ada perasaan takut di wajahnya


Sementara Aulia yang hendak masuk kamar mandi segera ditahan Madi. Dia tidak ingin makhkuk itu berhasil mengganggu isterinya saat berada di sana.


"Ada apa, Kang?"


"Akang temani ngambil wudhunya. Ada makhkuk yang ingin mengganggu!"


Wajah Aulia sedikit memucat ketika Madi menceritakan ada makhluk yang ingin mengganggunya.


"Sudah. Nggak usah takut. Tetap berzikir saja! Makhluk itu nggak akan berani menyakitimu," seru Madi.

__ADS_1


Aulia yang semula merasa bimbang, akhirnya menguatkan diri, membaca ayat-ayat pendek. Dia juga berhasil menenangkan diri dan tidak larut dalam ketakutan tak beralasan.


Ketika mereka sudah berada dalam kamar mandi, tiba-tiba saja pintu kamar mandi seperti ada yang mendorong. Aulia sampai terkejut dan hampir terjatuh. Beruntung Madi bisa segera memegangnya.


__ADS_2