Penghuni Pohon Tua

Penghuni Pohon Tua
Masih dalam Gudang


__ADS_3

Setelah lebih fokus mempersiapkandiri, Madi dan kyai Sarwa pun tak lagi memperdulikan gertakan kedua jin tersebut. Bahkan semakin berusaha meningkatkan pertahanan, jin-jin itu harus segera disingkirkan, diusir, sebelum yang lain tiba


“Lebih baik, menyingkir saja sekarang! Jangan berusaha menggoda manusia lagi!” kedua makhluk astral itu,  bukannya merasa takut dengan ucapan kyai Srwa, malah tertawa terkekeh-kekeh. Merasa kalau mereka


tidak akan mungin dikalahkan oleh Madi dan kyai Sarwa.


“Tidak ada gunanya melawan, Pak Tua!” terdengar  jin berwajah hancur itu berucap “Turuti saja permintaan kami, pergi jauh-jauh dari sini!”, lanjutnya.


Kyai Sarwa tidak lagi mau menjawab ejekan jin-jin tersebut, dan mengeluarkan satu jurus hijib dan menyerang kedua jin tersebut. Tampaknya sang kyai memang tak lagi memberi  ruang pada kedua jin tersebut.


“Sudah cukup, Pak Tua! Sekarang terimalah balasan dari kami!” seru jin bertubuh tinggi besar itu, menahan, sembari membalas serangan kyai  Sarwa tadi. Seertinya kedua jin itu memang memiliki kesaktian yang bisa


mengimbangi kyai Sarwa. Tak salah memang Jaka dan nenek bungkuk memilih jin-jin


tersebut menjadi sekutu mereka.


“Lebih baik kalian diam dan menyingkir sekarang!” Nada suara kyai Sarwa pun semakin meninggi bersamaan dengan semakin gencarnya serangan yang dilancarkan oleh kedua jin tersebut. Tidak ada lagi waktu, mereka harus segera diusir sebelum mereka akhirnya menang dan merajalela mengusik ketenteraman para santri di pondok.


Kedua jin itu pun tak lagi mengejek, dan sibuk membalas serangan kyai Sarwa dan Madi. Jin yang bermuka hancur tersebut ilmunya ternyata lebih lemah dari rekannya. Madi bisa


mengimbangi serangan-serangannya bahkan kini hampir berhasil memukul jin tersebut.

__ADS_1


Kepalan tinju Madi yang telah diasah dan diisi hijib berkali-kali bersarang mengenai jin tersebut. Teriakan panas berulang kali keluar dari mulut jin bermuka hancur tersebut.


“Panas … panas …, ampun …!” Suara jin bermuka hancur itu semakin melemah. Tak ada lagi seringai mengejek di wajahnya. Kini, perlahan, penampakan jin itu semakin samar, akhirnya menghilang menyerupai kabut tipis.


Jin yang bertubuh tinggi besar  itu kian murka setelah mengetahui jin yang berwajah hancur itu telah berhasil dikalahkan Madi. Jin tersebut lalu semakin kalap dan menyerang kyai Sarwa maupun Madi dengan membabi buta. Salah satu serangannya hampir mengenai Madi dan membuat Madi tersudut .


Kyai Sarwa  pun tak mau tinggal diam, segera membantu Madi, menahan serangan dan membalas jin itu secepat mungkin. Mereka harus bergerak cepat. Jika jin ini bisa segera diusir, teman-temannya yang lain akan


tertunda kedatangannya, karena tak ada yang menuntun kehadiran  jin tersebut nantinya.


“Ternyata, kalian sakti juga!” jerit jin itu dengan penuh kemarahan. Kali ini, sebuah serangan pamungkas diarahkan pada Madi yang dianggapnya lebih lemah dari kyai Sarwa. Madi yang mendapat serangan pun segera bersiap. Kali ini, dia tak boleh lengah.


“Duar …!” Bunyi dentuman keras terdengar memenuhi ruangan gudang yang tampak kian suram itu. Sepertinya hijib Madi beradu dengan serangan dari jin tersebut. Memang, jin hampir sama dengan manusia. Mereka juga memiliki ilmu dan kesaktian yang bahkan bisa melebihi manusia dan mampu merubah bentuk menjadi apa dan siapa pun.


“Kamu ndak apa-apa. Madi?” Penuh kekhawatiran, kyai Sarwa bertanya segera membungkus Madi dengan ajian untuk menahan sementara serangan dari jin tersebut.


“Hehehe …, jangan coba-coba melawan, anak muda. Sekarang sudah merasakan akibatnya kan?” Tawa jin itu terdengar begitu panjang dan menyeramkan. Kyai Sarwa tidak memperdulikan tawa bernada ejekan dari jin tersebut, dan bergerak mendekati Madi.


Jin itu berusaha mencegah pergerakan kyai Sarwa dengan mengeluarkan pukulan yang disarangkan ke tubuh kyai Sarwa, yaitu jantung. Sambil terus berzikir, membaca doa, amalan dan hijib, kyai Sarwa menahan serangan jin tersebut dan terus mendekati Madi, mencoba membantu memulihkan keadaannya.


Madi juga tak mau tingggal diam, dan berusaha mengalirkan tenaga dalam dengan membaca zikir dan mengalirkan hijib ke seluruh tubuh, mengusir hawa negatif yang membungkus tubuhnya. Perlahan, rasa dingin yang tadi membuat tubuhnya lemas dan hampir tak mampu bergerak itu, perlahan kembali bisa bergerak. Rasa nyeri yang menyerang dada laki-laki itu pun mulai memudar.

__ADS_1


“Hahaha … ternyata besar jugabnyalimu!” ujar jin tersebut pada Madi. Tawa panjangnya masih terdengar memenuhi gudang. Madi kali ini lebih mempersiapkan diri dan tak mau kecolongan sepertictadi.


“Sekarang lebih baik menyingkir saja dari sini. Tak ada gunanya terus melawan!” ucapan Madi seketika membakar amarah jin tersebut. Tanpa berkata apa-apa lagi, jin tersebut terus-menerus menyerang Madi dan kyai Sarwa tanpa henti.


Kyai Sarwa pun sibuk menahan serangan jin tersebut, demikian pula Madi. Mereka berdua, kali ini tak lagi hanya sekadar menahan serangan, tapi juga kiab gencar melancarkan perlawan dengan mengeluarkan hijib, melawan serangan jin itu.


Melihat serangan kyai Sarwa dan Madi yang semakin meningkat dan berbahaya, jin itu berusaha memanggil teman-temannya. Melihat gelagat yang kurang baik tersebut, kyai Sarwa segera mencegah dan membuat jin tersebut terpental dan menjerit minta ampun, merasa kepanasan terkena hijib pamungkas kyai Sarwa.


Lolongan panjang masih terdengar samar disertai dengan menghilangnya wujud jin bertubuh tinggi besar tersebut. Saat ini, gudang yang semula dipenuhi kabut tebal berupa hawa negatif, akhirnya kembali mulai normal seperti sedia kala.


Kyai Sarwa tampak mengucap syukur dan menyapu kedua tangan di wajah. Satu gangguan bisa diatasi, semoga saja, mereka masih memiliki energi agar bisa mencegah masuknya kembali makhluk-makhluk astral yang bermaksud mengusik kedamaian di pondok.


“Alhamdulillah, Kyai. Saat ini, jin-jin itu bisa kita usir,” kata Madi sambil mengusap beberapa tetes keringat yang masih membasahi dahinya.


“Iya, Madi. Masih ada beberapa hal yang harus kita lakukan. Termasuk mengurus masalah Jaka. Dia  tak boleh lagi berkeliaran di pondok, mengakibatkan kegaduhan yang bisa membuat ketentraman dalam pondok terganggu.”


“Mudah-mudahan, kita bisa segera menemukan Jaka, Kyai. Mungkin dia masih bersembunyi di sekitar pondok. Lagi pula, belum ada yang curiga kalau dia akan mengacau.” Madi berkata sembari


menyisir seluruh sisi dalam gudang tersebut, sambil membersihkan sisa-sisa hawa negatif yang masih ada.


Kyai Sarwa mengangguk, setuju dengan ucapan Madi, kemudian mengikuti langkah Madi mengitari seluruh sisi dalam

__ADS_1


gudang, sambil memagar tempat tersebut.


__ADS_2