
Ketika serangan makhluk halus menyerulai kakek cebol itu berhasil diatasu Madi, makhluk itu lun segera lenyap, menghilang. Tidak tahan dengan serangan Madi dan juga bacaan murotal yang terus menerus diperdengarkan Madi.
Pemilik baju hjtam yang serung menguntit mereka itu tersenyum aneh, membentuk sebuah seringai. Dua dedemit lain, tampak bersiap, juga mendejati Madi dan Aulia. Pancaran mata mereka begitu merah, mengisyaratkan keangkaramurkaan yang dalam. Apalagi pemilik baju hitam itu. Tak lagi mampu menyimpan dendam yang ternyata selama ini dipendamnya.
"Madi, masih ingatkah Kau denganku?" Suara berat pemilik baju hitam itu tetiba mengagetkan Madi.
"Apa hubunganmu dengan Nenek Bungkuk?" tanya Madi diliputi penasaran.
"Ha ... ha ...." Terdengar tawa orang itu. Lantang dan melengking. Aulia sampai menutup kedua telinga. Madi pun berkonsentrasi agar tak terpengaruh oleh tawa orang tersebut.
"Aku adalah salah satu cucu Nenek Bungkuk, saudara Nang."
Madi terperangah. Pantas saja tatapannya sangat mirip dengan Nang. Ternyata dugaannya benar. Pemilik baju hitam itu ternyata saudara Nang.
"Apa maksud kedatanganmu ke sini dan membuat makhluk-makhluk ini menyerang kami?"
Saudara Nang itu bukannya menjawab, malah tertawa terbahak-bahak.
"Kau, harus menerima pembalasan dari perbuatanmu yang telah membuat Nang terluka !"
Madi menatap tanpa gentar pada orang itu. Tak ada secuil pun perasaan takut bersarang dalam dadanya.
"Sebaiknya kalian pulang saja. Jangan membuat keributan di sekitar sini!" Madi dengan tegas mengusir keberadaan mereka.
Para penghuni pohon tua yang dipimpin demit perempuan cantik bertaring itu, bergerak cepat, menyerang Madi dari berbagai sisi. Demikian pula, Haqi, orang yang memakai pakaian hitam tersebut.
Madi semakin menajamkan penglihatan mata batinnya. Lawan yang dihadapinya sekarang bukan hanya manusia tapi juga makhluk tak kasat mata. Ini benar-benar membuat energinya terkuras.
Alunan murotal banyak sekali memberi manfaat bagi Madi. Dia seperti mendapatkan energi baru dan kian mempertebal keyakinan bisa mengusir para penghuni pohon tua.
"Pergilah, Kalian!" terian Madi debgan lantang
__ADS_1
"He ... he ... he ...! " tawa nyaring demit perempuan itu seakan memenuhi seluruh ruangan. Bulu kuduk Madi dan Aulia sampai tegak. Merinding.
"Tak semudah itu, Kau mengusir Kami!" Kali ini Haqi, salah seorang saudara Nang itu menjawab. Lantang dan menantang.
Madi lalu mencoba mengusir satu per satu penghuni pohon tua yang energinya tidak sebesar pemimpinnya. Dan, taktik Madi berhasil. Penghuni pohon tua yang tidak bisa bertahan dari serangan dan hijib Madi, perlahan banyak yang sudah bisa terusir. Lenyap, kembali kenpohon tua
Tinggal, Haqi dan demit perempuan serta makhluk tinggi besar hitam saja yang terus mencoba menguasai Madi. Aulua sendiri masih terus mendawamkan zikir, mencoba untuk tidak terpengaruh bujukan makhluk gaib itu.
"Isterimu ternyata memiliki pertahanan yang baik juga, Madi! Buktinya, dia bisa bertahan sampai sejauh ini!" Haqi berkata sembari melirik Aulia yang tetap konsentrasi.
"Jangan coba-coba melukai isteriku!" Kali ini, Madi bersuara keras, memperingatkan Haqi.
"Ha ... ha .... Dia sasaran empuk, Madi! Kenapa Aku harus melepaskan kesempatan ini. Lagibpula, Nang pasti suka, kalau Aulia bisa Kuajak pulang."
Darah muda Madi sejetika mendidih. Haqi diserangnya habis-habisan. Tidak memberi kesempatan sedikit pun bagi pria itu untuk mendejati isterinya.
Sementara kedua makhluk tak kasat mata yang masih bertahan mendampingi Haqi dikesampingkannya. Masih ada batas gaib yang membuat Aulia bisa bertahan dari gangguan mereka.
Setelah itu, Madi dan Haqi pun terlibat dalam pertarungan yang sengit. Masing-masing mengeluarkan pukulan dan serangan andalan. Ternyata, Haqi juga memiliki pukulan yang hampir sama dengan Nang. Hanya saja, kekuatannya lebih besar.
"Kau, juga terima seranganku ini, Madi!"
Sementara Madi dan Haqi saling menyerang, kedua makhluk tak kasat mata itu berupaya mendekati Aulua. Mereka berusaha mempengaruhi alam pikiran isteri Aulia itu. Itu adalah satu-satunya cara mendekati dia.
Garis batas gaib di sekeliling Aulia masih ada dan berfungsi melindungi perempuan yang sedang mengandung itu. Itu membuat kedua makhluk dari alam lain itu tak bisa mendejati dan menyentuh Aulia.
"Des ...." Sebuah hijib diarahkan Madi pada ke dua makhluk gaib tersebut. Sontak, hawa panas menjalari mereka.
"Jangan coba-coba mempengaruhi pikiran isteriku!"
Serangan dan ancaman Madi barusan, membuat niat kedua makhluk itu tertahan. Madi pun kembali beralih pada Haqi.
__ADS_1
"Hm ... pertarungan yang menegangkan sekaligus menghibur," ucap Haqi sembari melancarkan satu pukulan.
Sigap, Madi menghindar dan kembali bersiap. Ada rasa dingin luar biasa yang disebabkan pukulan Haqi tadi. Haqi bukan lawan yang bisa dianggap remeh. Butuh waktu untuk menaklukkannya.
"Terimalah ini Haqi!" Sebuah pukulan pun diarahkan Madi ke bagian pundak Haqi, mencoba melumpuhkan kekuatannya
Haqi yang mengetahu maksud serangan Madi tadi segera bergeser ke kiri, menghindarinya. Namun, ith hanya tipyan belaka. Kaki kanan Madi sudah mendarat di pundak kanan Haqi.
"Argh ... aduh ... sakit!"
Wajah Haqi seketika memucat menahan sakit. terkena tendangan Madi. Serangan yang tidak disangka'-sangka. Sementara Madi, masih berdifi tak jauh dari hadapan Haqi, memperhatikan apa yang terjadi. Raut wajahnya datar, tanpa ekspresi.
Melihat sikap Madi yang dingin, Haqi menjadi kalap. Serangan yang dilancarkan sudah tidak beraturan. Satu yang menjadi tujuannya, pukulannya mampu mengenai tubuh Madi dan membuatnya jatuh.
"Aku belum kalah, Madi. Terimalah kembali seranganku ini!" Suara beringas dan tajam diperdengarkan Haqi, memecah kebisuan malam. Kedua makhluk astral yang masih bertahan, juga tidak ingin ketinggalan.
Kali ini dia tidak boleh gagal menjatuhkan Madi. Hari juga sudah semakin larut, energinya pun sudah banyak terkuras. Dia mesti menuntaskan serangannya malam ini.
"Des ....!" kedua serangan itu lantas beradu, membentuk sebuah gelombang. Kedua makhluk astdal yang masih berada di ruangan itu seketika menjauh. Hawa panas terpancar akibat beradunya kedua pukulan itu.
Melihat kondisi yang kurang menguntungkan, demit dan makhluk bertubuh tinggi hitam itu segera melarikan diri. Tidak tahan dengan banyaknya aura positif yang terpancar dari kedua pukulan itu.
"Jangan kembali lagi, kalian, makhluk gaib!"
Suara Madi terdengar cukup keras, tatkala melihat kedua makhluk itu lari terbirit-birit, kembali ke markas mereka, pohon tua.
"Bagaimana, Haqi? Sekutumu sudah menghilang, malam ini, tak ada lagi yang membantumu!"
"Aku tak takut, Madi. Mari bertarung lagi!" Sebuah serangan kilat pun segera dikeluarkan Haqi. Sepupu Nang ini sepertinya tidak main-main. Serangannya pun luar biasa cepat dan berbahaya.
Kembali kedua pria itu bergumul, bertarung, saling melancarkan serangan. Bukan hanya Madi, Aulia juga memperhatikan pertempuran itu. Isteri Madi itu sejengkal pun tidak beranjak dari tempatnya duduk. Raut wajahnya diliputi kecemasan, semoga segera berakhir.
__ADS_1