Penghuni Pohon Tua

Penghuni Pohon Tua
Gerakan Tersembunyi


__ADS_3

Jaka yang merasa bisa mewujudkan ambisi yang selama ini terpendam pun tersenyum lebar. Dia merasa yakin akan mampu menyingkirkn kyai Sarwa dan Madi dengan bantuan nenek bungkuk.


“Bagaimana caranya, Nini, membantuku menyingkirkan kyai Sarwa dan Madi?”  tanya Jaka kemudian. Sepertinya ia ingin meminta kepastian dari nenek bungkuk.


“Tenang saja. Setelah kau berhasil menemukan kelemahan si Sarwa dan saat akan  menyingkirkannnya, aku pasti berada di belakangmu, membantu mengalahkannya.” Jaka pun mengangguk, sepertinya mengerti maksud nenek bungkuk tersebut.


Namun, tanpa sepengetahuan mereka, kyai Sarwa memperhatikan dan mengetahui persengkongkolan mereka itu. Namun, dia pun tidak ingin bertindak ceroboh. Tetap tenang sambil menunggu waktu yang tepat untuk membongkar persekutuan mereka bertiga.


Tampak sekali ada rona sedih dan kecewa di wajah kyai Sarwa. Bagaimana tidak, selain Madi, Jaka adalah salah seorang mantan santri yang dianggapnya mampu meneruskan mengembangkan pondok pesantren ini. Kyai


Sarwa pun tidak pernah membedakan Madi dan Jaka.  Semua mendapat perlakuan yang sama.


Ilmu dan pelajaran agama yang diturunkan pada Madi dan Jaka pun juga sama. Tak ada yang berbeda. Kalau sikap mereka memang berbeda, karena Madi lebih terbuka dan bersikap apa adanya di depan kyai Sarwa.


Sementara, Jaka tertutup dan sesekali tampak  memanipulasi sikap dan wataknya.


Sekali lagi, kyai Sarwa menghela napas panjang, menyesalkan sikap Jaka yang kurang baik itu. Sementara itu, pertemuan antara Jaka dan Nini, si nenek bungkuk juga sudah berakhir. Jaka pun sudah terlihat


memasuki kawasan pondek pesantren. Sebentar lagi azan zuhur berkumandang, Jaka harus berada dalam pesantern. Kalau tidak, bisa menimbulkan kecurigaan, karena


Jaka terkenal tegas dan disiplin. Sangat jarang, mangkir dari tugas atau kewajiban yang dibebankan padanya.


“Ustad, sebentar lagi azan!” Seorang santri berlari mendatangi Jaka yang bergegas menuju tempat khusus mengambil wudhu dekat musala.


“Iya, tolong diingatkan santri yang lain untuk segera mengambil wudhu dan menunggu di musala untuk salat berjamaah!” Santri yang


bernama Danu iu pun segera berjalan menuju tepat di mana para santri baru saja


menyelesaikan pelajaran.


“Baik, Ustad. Saya segera ke sana!” seru Danu. Dia pun telah selesai mengambil wudhu dan setengah berlari memanggil rekan-rekannya.

__ADS_1


Jaka mempercepat langkahnya, mengambil wudhu langsung menuju musala. Kyai Sarwa dan Madi sudah berada di sana. Jaka pun menganggukkan kepala pertanda hormat. Wajahnya tetap tenang, tidak menunjukkan tanda-tanda ingin memberontak.


“Jaka, kamu yang azan!” Tiba-tiba saja kyai Sarwa memerintahkan Jaka untuk mengumandangkan azan.


Tanpa membantah, Jaka menuju ke depan, mengambil mikropon dan mulai azan. Suara Jaka memang merdu dan napasnya pun panjang, sehingga ketika azan, terdengar indah dan menyejukkan hati.


Usai azan, Jaka berhenti sebentar, menunggu para santri untuk berkumpul, lalu membacakan qomat. Kyai Sarwa segera bersiap mengambil tempat untuk memimpin salat berjamah . Jaka pun kembali lagi ke belakang, berdiri di sebelah Madi. Benr-benar pintar si Jaka. Dia tetap bersikap tenang.


Ekspresi wajahnya pun biasa saja. Tidak menunjukkan gejala ingin mengambil alih kepemimpinan pondok pesantren ini. Madi juga menanggapi sikap tenang Jaka, dengan senyum lebar. Dia pun tidak ingin menuduh


Jaka  yang tidak-tidak. Takut akan menimbulkan fitnah.


Seluruh santri , ustad, Jaka dan Madi yang menjadi makmum siang ini, mengikuti salat dengan khusuk.  Suara setiap ayat yang dibaca kyai Sarwa begitu syahdu, membuat salat mereka  bertambah khusuk, bahkan hingga salat berakhir. Setelah kyai Sarwa membacakan doa, barulah semua santri


bubar, kembali ke tempat masing-masing.


“Di, aku kembali ke ruang kelas dulu. Masih ada beberapa pelajaran tersisa hingga sore nanti,” ucap Jaka sebelum beranjak dari musala. Sementara Madi dan Kyai Sarwa, berjalan beriringan, pulang kembali ke rumah.


bisa fokus untuk puasa dan latihan amalan yang diberikan kyai Sarwa.


“Bagaiamana Jaka menurutmu, Madi” tanya Kyai Sarwa saat berjalan menuju rumah.


“Biasa saja, Kyai. Sikapnya tidak ada yang mencurigakan,” lanjut Madi lagi.


Kyai Srwa mengangguk, mengelus janggutnya yang telah berubah warna menjadi putih semua. Sebelah tangannya memegang tasbih yang terbuat  dari cendana. Kyai Sarwa tidak


langsung menanggapi perkataan Madi. Dia seperti sibuk memikirkan sesuatu.


“Kyai ….!” Madi memanggil kyai Sarwa, karena tidak mendengar ucapan Madi barusan.


“Iya, sebentar, Madi. Kyai tadi mendengar ucapanmu. Hanya saja, tadi Kyai sedang memikirkan sesuatu.”

__ADS_1


Madi tersenyum malu. Bermaksud ingin mengingatkan kyai Sarwa, ternyata kyai Sarwa bukannya tidak mendengar, tapi sedang berpikir.


“Kyai sedang memikirkan apa?”  Sedikit penasaran, Madi bertanya. Perjalanan


mereka akan segera berakhir. Rumah kyai Sarwa sudah kelihatan.


“Belum waktunya Kyai memberitahumu, Madi. Sekarang, lebih baik konsentrasi saja dengan latihanmu!"


Madi hanya mengangguk mendengar teguran halus kyai Sarwa. Hanya karena rasa ingin tahu, dia jadi sedikit lancang, bertanya tentang sesuatu hal yang ternyata hanya ingin dipendam kyai.


“Sekarang, istirahat saja dulu. Tidur sana Nanti sore, lanjutkan lagi latihanmu!”  Madi


tambah tidak berkutik. Tidak berani menyanggah dan membantah perkataan kyai


Sarwa barusan. Dia pun segera masuk ke kamar.


Siang ini, tidur Madi pulas sekali.  Mungkin karena capek, atau  mungkin juga karena suasana di pondok pesantren begitu sejuk. Dalam pengaruh alam bawah sadar, Madi seperti berada di sebuah hutan kecil. Di sana dia melihat Jaka sedang tertawa terkekeh bersama Nini,si nenek bungkuk. Mereka menunjuk padanya. Madi tidak bisa melihat dengan jelas apa yang diucapkan Jaka dan nenek bungkuk itu.


Isi  mimpi yang dialami Madi benar-benar  aneh. Seperti nyata sekali. Padahal hanya mimpi belaka. Dan yang membuat Madi seperti ingin menjerit, adalah setelah melihat Aulia sepertinya seperti terlilit oleh


sesuatu. Padahal Aulia, sedang mengandung.


Dalam mimpinya, Madi juga melihat kyai Sarwa berdiri di luar sebuah lingkaran, memandang Madi, kemudian memegang pundaknya, seakan mengalirkan tenaga dalam. Rasa hangat segera menjalar ke seluruh tubuh Madi. Ada apa gerangan? Kenapa kyai Sarwa melakukan hai itu?


Madi terus bertanya dalam mimpi. Kyai Sarwa tidak terlalu menanggapi sikap Madi yang menginginkan sebuah jawaban yang bisa dimengerti. Bukan hanya sekedar jawaban  yang tidak berarti.


Masih dalam mimpi, Madi juga melihat kekuatan Nini, si nenek bungkuk dan Jaka bertambah kuat. Mereka mampu menumbangkan beberapa pohon, yang memiliki diameter lumayan lebar. Belum lagi gabungan tenaga dalam Jaka dan nenek bungkuk, menyebabkan pusaran angin, meliuk-liuk, menghantam benda apa saja yang ada.


Madi bergidik, memandang kekuatan yang  kini tidak bisa dianggap remeh itu. Dan yang


membuat Madi semakin merinding, saat Jaka menunjuk ke arah dirinya dan berusaha

__ADS_1


menyerang serta  melumpuhkakannya.


__ADS_2