Penghuni Pohon Tua

Penghuni Pohon Tua
Musuh DalamSelimut


__ADS_3

 Madi meninggalkan bangunan di belakang pondok, di mana mereka dulu sering berkumpul saat masih menjadi santri. Perasaan kurang enak yang tadi menyerang, dipendamnya saja. Madi berusaha tetap tenang. Bebannya sudah banyak saat ini dan ia tidak ingin gegabah dalam mengambil tindakan.


‘Aku harus meminta pendapat Kyai Sarwa secepanya,’ bisik Madi. Mungkin dengan berdiskusi dengan beliau bisa mendapatkan satu solusi terbaik menghadapi permasalahan ini.


Ketika hendak pulang, Madi mendapat


penjelasan dari beberapa santri yang ditemuinya di jalan bahwa kyai Sarwa telah


selesai memberi pelajaran pada santri dan telah kembali ke rumah. Madi pun bergegas berjalan pulang.


“Assalammualaikum ….” Madi mengucapkan salam dengan suara tidak terlalu keras. Biasanya kyai Sarwa sering duduk di ruang tamu, beristirahat sambil membaca beberapa buku.


“Waalaikumsalam ….” Suara kyai Sarwa terdengar menjawab salam Madi.


Madi pun perlahan masuk, mengambil tempat duduk di hadapan kyai Sarwa. Wajah pemimpin pondok pesantren itu terlihat tetap tenang dan teduh. Tidak ada perasaan cemas atau khawatir tampak di sana.


“Dari mana, Madi? “ Itu pertanyaan pertama yang diucapkan kyai Sarwa. Mungkin karena Madi tidak berada di rumah ketika pulang tadi.


“Madi jalan-jalan keliling pesantren, setelah latihan tadi, Kyai,” jawab Madi menunduk.Tidak berani memandang mata kyai Sarwa. Netra tua milik kyai Sarwa sedang memandang tajam dirinya. Seperti ada yang ingin diceritakan tapi terhalang oleh sesuatu.


“Hm …, latihanmu sudah sampai mana tadi? Apa ada kesulitan, Madi?”  Madi menarik napas sesaat sebelum menjawab pertanyaan kyai Sarwa.


“Alhamdulillah, tidak ada kesulitan, Kyai. Tadi, Madi juga mengulang-ulang amalan yang lama.” Air muka kyai Sarwa masih tetap tenang. Tidak terpengaruh dengan ucapan Madi tadi. Merasa yakin kalau Madi akan berlatih dengan keras.


Kemudian Madi dan kyai Sarwa terlibat dalam percakapan yang mulai serius. Madi pun menceritakan pertemuannya dengan Jaka tadi. Juga pengalamannya di bangunan di belakang pondok. Kemudian meminta tanggapan kyai Sarwa tentang semua peristiwa itu.

__ADS_1


Kyai Sarwa pun akhirnya menceritakan kenapa akhirnya Jaka diterima menjadi salah satu staf pengajar di pesantren.  Memang Jaka pribadinya sedikit tertutup, tapi dia merupakan salah satu santri yang cerdas. Jaka dan Madi dulu selalu bergantian menjadi santri terbaik. Itulah mengapa setelah menamatkan pendidikannya disalah satu perguruan tinggi, Jaka diterima menjadi


ustad di pondok ini.


Madi pun mengangguk, merasa lega, karena tidak ada sesuatu yang perlu dicurigai dari sikap Jaka. Namun, penuturan kyai Sarwa selanjutnya membuat Madi terkejut. Ternyata Jaka selama ini berhasrat ingin menggantikan posisi kyai Sarwa menjadi pemimpin pondok pesantren ini. Memang, kyai Sarwa belum mendapatkan buktinya, tapi dari desas-desus yang beredar, Jaka memang berambisi menggeser kyai Sarwa.


“Madi tak menyangka, Kyai. Apa yang membuat Jaka bersikap seperti itu? Apa Jaka juga yang memata-matai  Madi tadi?” Madi pun memberondong kyai Sarwa dengan pertanyaan.


Wajah kyai Sarwa sedikit berubah kini. Raut penyesalan  sangat jelas terpampang di wajah tuanya. Rupanya memang selama ini kyai Sarwa memendam perihal tentang Jaka. Hanya saja, belum berani mengungkapkanya secara terang-terangan.


“Sebenarnya sudah lama Kyai mengamati perilaku Jaka. Meskipun tertutup, tapi, terlihat jelas kalau Jaka sangat berambisi memimpin pesantren ini. Berbagai cara ia gunakan agar bisa menggantikan Kyai dalam menjalankan tugas rutin di pesantren.”


Aku mengangguk. Bingung, karena tidak menyadari sifat Jaka sesungguhnya. Dulu, walaupun mereka sering bersaing, tapi, Jaka tidak memperlihatkan sifat ambisiusnya. Bahkan terkesan ia sering mengalah dan mau membantu mereka saat menghapal.


“Selama ini Jaka menutupi sifat ambisinya itu, agar bisa mencapai keinginannya. Dia bersedia mengalah untuk semenara agar masudnya tercapai.” Madi semakin terperangah mendengar penjelasan kyai Sarwa. Ternyata, begini sifat dan sikap Jaka. Benar-benar di luar dugaan.


 “Ya, sudah, Madi! Tidak usah diperpanjang dulu untuk sementara ini. Tetap waspada saja. Kyai juga akan terus mengawasi gerak-gerik Jaka. Takutnya, ada seseorang yang memanfaatkan sisi gelapnya.”


Madi hanya terdiam. Sebenarnya dia ingin bertanya lebih terperinci tapi pernyataan kyai Sarwa barusan membungkam rasa penasarannya. Dia pun akhirnya memilih diam sambil mencari cara mengorek keterangan mengenai Jaka. Apa sebenarnya yang membuat dia berubah?


“Iya, Kyai. Kalau begitu, Madi, minta izin istirahat dulu, sambil menunggu waku salat lohor.”


Akhirnya  Madi pamit dan membuang


sementara semua tanda tanya yang memenuhi isi kepalanya. Rasa letih karena

__ADS_1


latihan dan berjalan mengelilingi pesantren tadi  membuatnya ingin segera beristirahat. Rehat untuk beberapa saat.


Di bagian lagi dari pesantren, tampak Jaka berjalan sedikit terburu. Seperti hendak menemui seseorang, Langkahnya pun panjang-panjang. Sesekali, dia menoleh sekitar, seakan takut bertemu dengan seseorang.


Jaka kemudian keluar kawasan pesantren dan menuju gapura. Di luar pintu gerbang, ternyata ada seseorang yang telah menunggu d isebuah tempat yang sedikit terlindung. Ada sebuah pohon besar di situ.  Jaka berjalan semain cepat, tidak ingin ketahuan.


Pada jam seperti ini, para santri sedang belajar, jadi tidak ada yang berjalan di sekitar tempat ini. Seorang nenek bungkuk telah menunggu kedatangan Jaka. Nang, juga ikut


bersamanya.


“Maaf, Ni! Saya sedikit telat. Tadi, belum bisa secepatnya keluar pesantren.”


Nini, si nenek bungkuk tersenyum. Mata liciknya seperti menyimpan rencana keji. Salah satu ustad bawahan kyai Sarwa telah berhasil dipengaruhinya. Pasti usahanya untuk mengalahkan seterunya ini akan lebih mudah.


“Tidak apa. Nini juga baru sampai. Tadi juga ada urusan,’ sahut si nenek bungkuk pura-pura bijak. Tidak ingin gegabah mengumbar amarah. Takutnya Jaka akan merasa tidak nyaman, dan membatalkan perjanjian yang akan mereka sepakati.


“Jadi, bagaimana selanjutnya, Ni? Apa yang harus kita bicarakan sekarang?” Jaka tampak bersemangat dan sangat ingin mengetahui langkah selanjutnya.


Kekehan tawa terdengar dari nenek bungkuk, juga dari Nang, cucu sinenek. Sepertinya mereka berdua sangat senang karena umpan mereka telah dimakan oleh Jaka.


“Kau harus bisa mengawasi tindak-tanduk si Sarwa dan Madi murid kesayangannya itu. Cari titik lemahnya. Kemudian pengaruhi beberapa santri dan ustad yang tidak setuju dengan kepemimpinan kyai Sarwa!” Nenek bungkuk itu pun mulai membicarakan beberapa cara licik untuk mengalahkan kyai Sarwa.


“Baik, Ni. Saya akan mencoba terus mengawasi mereka. Setelah itu, baru mempengaruhi yang lain agar membangkang pada peraturan pondok selama ini.”


Suara tawa nenek bungkuk pun kian keras, merasa sangat gembira karena Jaka benar-benar sangat mudah dipengaruhi. Keburukan tabiat Jaka perlahan mulai terkuak.

__ADS_1


__ADS_2