
Jaka sedikit terkejut ketika mengetahui ada satu serangan Madi hampir mendarat di tubuhnya. Serangan yang semula ia rencanakan memukul Silo, ditariknya kembali, beralih menangkis pukulan Madi.
"Apa maumu, Madi? Sudah cukup kau mengacaukan hidupku!" Kali ini terdengar jerit Jaka begitu kencang. Serangan Madi tadi, akhirnya bisa juga ia tangkis.
"Bukan aku yang mengacaukan hidupmu, Jaka, tapi, kau sendiri!" Madi pun menimpali jeritan Jaka dengan suara tak kalah kerasnya.
Jaka bertanbah getam mendengar jawaban Madi. Ia pun lantas mengeluarkan beberapa jurus ysng sama sekali tak dikenal Madi. Jurus yang berbahaya, mematikan dan sepertinya memang berasal dari ilmu hitam. Hasil persekutuan dengan iblis.
"Terimalah seranganku ini, Madi! Ha .. ha ....!"
Madi tercekat, menerima serangan Jaka yang begitu cepat. Tubuh Jaka seperti melayang, sangat ringan, memegang sepotong kayu, mencoba menghantam kepalanya.
Madi sendiri cukup terperanjat, tak menduga serangan Jaka dengan memakai alat. Entah dari mana Jaka mendapat potongan kayu itu.
"Siit ...." Madi bergerak lebih cepat, mengimbangi kecepatsn pukulan Jaks. Dia juga harus bergerak lebih cepat agar tak terkena pukulan Jaka.
Pertarungan Jaka dan Madi pun terus berlanjut Bahkan semakin seru Di sisi lain, kyai Sarwa juga sedang berhadapan dengan nenek bungkuk. Salah satu sekutu Jaka itu juga dengan gencar menyerang kyai Sarwa.
Sungguh penampakan yang membuat jantung berdegup kencang. Apalagi di sekeliling nereka dipenuhi makhluk-makhuk tak kasat mata.
Arwah-arwah penasaran, bertubuh hancur mulai mengepung kyai Sarwa dan yang lainnya. Bahkan, kini mengelilingi aula, di mana para santri berada. Makhluk astral lainnya juga membantu arwah-arwah penasaran itu.
Suara ayat-ayat sucj yang dikumandangjan para ssntri masih terus terdengar. Membentengi aula dari gelombang serangan semus mskhluk halus yang mencoba masuk.
"Yu, agar para santri bisa tetus mengaji, sebsiknya, mereka dibagi beberspa kelompok, jadi sebagian santri bisa istirahat!" Ustad Amir memberikan saran, saat melihat beberapa santri ada yang sudah kelelahan.
__ADS_1
"Baik, Ustad. Bayu akan segera melaksanakan saran Usrad tadi. Kelihatannya memang sebagian dari mereka sudah mulai capek."
Ustad Amir mebgangguk, lslu bergerak bersama Bayu memisahkan para santti yang tetlihat letih, untuk beristirahat terlebih dahulu. Sedangkan yang masih terus mengaji, juga dibagi dalam beberapa kelompok.
Bayu dsn ustaf Amir terlihat cukup puas setelah berhasil membuat para santri mengelompok menjadi beberapa bagian. Pembacaan ayat-ayat suci ini jadinya akan terus berlanjut, tanpa harus terhenti karena ada santri yang kelelahan.
Di luar aula, beberapa makhluk tak kasat mata ada yang melarikan diri, tak kuat menahan panas, akibat bacaan ayat-ayat suci Al-Quran.
"Panas ... panas ...! Hentikan ... hentikan ....!" seru sebagian makhluk astral itu sebelum menghilang.
Kyai Senta juga tak mau ketinggalan, turut membaca zikir dan mengeluarkan beberapa hijib untuk mengusir makhluk gaib itu. Siluman berbentuk binatang kini mulai mendekati kyai Senta. Makhluk dengan berbagai bentuk binatang seperti ular macan, srigala, buaya terus berusaha mendekat dan menyerang.
Suara desis, auman dan lolongan bersahutan, membuat merinding siapa saja yang bisa mendengarnya. Kibasan ekor buaya hampir saja mengenai kyai Senta Belum lagi siluman ular yang memcoba melilit dan mematuk saudara kyai Sarwa itu.
"Untuk apa kalian membantu manusia sepert si Jaka itu?":Kyai Senta mencoba berkomunikasi dengan siluman-siluman itu ssmbil terus membaca zikir.
"Pantas saja kalian bersedia membantunya, ternyata jiwanya telah nenjadi milik kalian!" tuding kysi Senta, jengkel.
"Bukan kami yang memintanya. Dia datang sendiri, suka rela menukarkan jiwanya dengan kekuatan iblis yang kami punya." Siluman harinau itu kini yang memberikan penjelasan.
"Lebih baik bawa saja dia dari sini. Jangan nengganggu ketentramankjami di sini.
"He ... he ..., jangan sok Orang tTua! Usir saja kami kalau bisa. Jumlah kami lebih banyak dari kalian!"
Bukannya ketakutan malahan para siluman semakin berani mengejek kyai Senta, merasa akan menang dengan jumlah mereka yang sangat banyak.
__ADS_1
Siluman ular itu semakin mendekati kyai Senta, mencoba lagi membelit, mematuk. Suara desisan terdengar semakin kencang. Bukan hanya satu siluman ular saja yang menyerang kyai Senta tapi ada beberapa.
Kyai Senta semakin konsebtrasi, tetus membaca zikur dan hijib. Satu per satu serangan silymsn ular itu bisa dihindari kysi Senta. Bau amis begitu menyengat, membuat musl perut kysi Senta. Tanpa menunggu lebih lama, kyai Senta membaca hijib, mengalirkannya ke kepalan tangan, memukul semua siluman ular ysng semakin mendekati.
"Argh ... panas ... panas ...! Ampun ... ampun ...!" teriak beberapa siluman ular itu, tak tshan dengan serangan hijib kyai Senta.
"Rasakan itu, hai siluman! Sebaiknya kalian segera menyingkir!" Gertakan kyai Senta tampak membuat takut sebagian siluman yang bergerombol. Namun, sebagisn lagi masih terus mencoba mendekati ditambah arwah-arwah penasaran dengan berbagai wujud yang membuat perut mual.
"He ... he ...! Jumlah kami sangat banyak, Orang Tua. Lihatlah di sekelilingmu!" Salah satu sosok arwah penasaran berwajah hancur, matanya melotot hampir keluar, mengeluarkan bau amis darah mengejek kyai Senta.
Memang benar ucapan arwah itu. Meski pun sudah banyak makhluk astral, teman-teman mereka yang sudah berhasil diusir jumlah mereka bukannya berkurang malah .terus bertambah.
Sepertinya Jaka berhasil memanggil makhluk-makhluk gaib itu, datang dari seluruh penjuru membantunya menjatuhkan kepemimpinan kyai Sarwa. Membalaskan sakit hati dan dendamnya pada Madi dan kyai Sarwa.
Tanpa membuang waktu, kyai Senta kembali berzikir, bersiap melesatkan hijib, membuat makhluk-makhluk itu kepanasan. Memang jumlah mereia sangat banyak, tapi dengan hanya bersandar pada Sang Khalik, dia percaya bisa mengusir semua sekutu Jaka itu.
Nenek bungkuk yang melihat semua sekutu mereka sudah mulai berdatangan tertawa puas. Merasa mereka akan bisa memenangkan pertarungan ini. Satu dua pukulan diarahkannya pada kyai Sarwa, mengancam seluruh tubuh pemimpin pondok pesantren itu.
"Masih kuat, kau, Sarwa?" tanya nenek bungkuk dengan suara mengejek, meremehkan kekuatan kyai Sarwa.
"Ndak usah takut, Nyai. Aku masih kuat menghadapimu!" seru kyai Sarwa tegas.
"Ha ... ha .... Kau lihat itu, Sarwa! Muridmu Madi, terlihat kerepotan menghadapi Jaka, mantan santrimu itu."
Penuh kepuasan, nenek bungkuk itu kembali mengejek, menunjuk ke arah Madi yang memang terlihat cukup repot menghadapi dua lawan sekaligus, Jaka dan Nang. Berkali-kali tawanya berkumandang, mencoba meruntuhkan nental kyai Sarwa.
__ADS_1
"Tenang saja, Nyai. Madi akan bisa mengatasi Jaka dan cucumu si Nang itu!" Kyai Sarwa bukannya gentar malahan membalas ucapan nenek bungkuk itu dengan berani.
"Ha ... ha .... Kita lihat saja, nanti, Sarwa. Tak usah banyak membual!" Kyai Sarwa hanya tersenyum, membiarkan saja nenek bungkuk mengoceh.