
Harapan Aulia akhirnya terwujud. Madi sedikit demi sedikit mampu menahan serangan Haqi. Bahkab juga bisa membalas pukulan dan serangan saudara Nang tersebut.
"Brak ...."
Sekali lagi pukulan mereka beradu. Madi sedikut meringis menahan pukulan Haqi yang mengenai pundaknya. Beruntung, hanya sedikit saja, sehingga luka yang berada di pundak Madi pun tidak terlalu mengkhawatirkan. Hanya luka ringan saja.
Sedangkan pukulan Madi bisa mengenai dada Haqi. Sontak napas pemuda itu seperti terhenti. wajahnya pun memucat.
Sesegera mungkin, dia mengatur napas dan berusaha menebangkan detak jantungnya yang tadi sempat tak beraturan. Madi juga melakukan hal yang sama, mengatur irama napasnya seringan mungkin.
Setelah sama-sama sudah tenang, Haqi dan Madi bersiap kembali memulai pertempuran. Namun, sebekum pertarungan dimulai, Haqi seperti mengurungkan niatnya. Luka di dadanya membuat napasnya kembali tersengal.
"Sepertinya Kita sudahi saja pertarungan malam ini, Madi. Suatu saat nanti, Aku pasti akan kembali, membalasmu!"
Madi hanya tersenyum tipis. Diam. Tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia juga masih mengatur detaj jantungnya yabg masih kencang. Pundaknya juga mulai terasa sakut kini.
"Baik. Aku selalu siap menunggu kedatanganmu. Kalau boleh Aku memberi saran, Lebih baik menyingkir saja dari para penghuni pohon tua itu!
Haqi hanya diam.Tak menanggapi sedikitpun perkataan Madi. Dia tidak akan meninggalkan arwah-arwah tersesat, penghuni pohon tua du mana masih banyak orang yang menginginkan praktek pesugihan tetap hidup.
Setelah beristirahat beberapa saat lagi, Haqi lantas segera menghilang dari hadapan Madi. Menghadirkan perasaan lega di hati Aulia yang sedari tadi harap-harap cemas, menyaksikan pertarungan sengit itu.
"Alhamdulillah, Kang. Akhirnya mereka bisa pergi juga," ucap Aulia senang.
"Iya, Dik. Syukur alhamdulillah. Malam ini, kita bisa bernapas lega. Semoga mereka tidak datang lagi," jawab Madi.
Malam ini, Madi dan Aulia berhasil lepas dari jeratan Haqi dan makhluk gaib penghuni pohon tua itu. Sungguh malam yang panjang dan melelahkan. Beruntung, malam ini mereka masih memiliki waktu istirahat sebelum fajar tiba.
__ADS_1
Setelah kedatangan Haqi malam itu, Maduidan Aulia lebih waspada dan siaga. Salat 5 waktu, zikir dan alunan murotal terus mereka lakukan dengan rutin. Mereka tidak ingin penghuni pohon tua itu terus mengusik dan meneror.
"Kang, kenapa orang yang berpakaian hitam itu, kayaknya dendam sama Akang?" Suatu waktu Aulia bertanya, ketika mereka sedang duduk di teras rumah.
"Haqi, namanya, Dik. Dia masih saudara Nang, cucu nenek bungkuk yabg dulu sering meneror kita," jawab Madi perlahan. "Kalo dendam, kayaknya nggak, Dik. Akang juga baru bertemu dia beberapa hari ini saja."
Aulia memandang tajan ke arah Madi. Memang betul penjelasan Madi. Mereka juga bertemu dengan Haqi, pada saat mengambil sayur di gudang beberapa hari yang lalu. Itu pun hanya sepintas.
"Kang, sepertinya, Haqi itu lebih berbahaya dari Nang, ya?"
Madi mengangguk, merasakan hal yang sama dengan Aulia. Setelah bertarung dengannya kemarin malam, Madi bisa mengetahui ilmu yang dimiliki Haqi setingkat lebih tinggu dari Nang.
"Iya, Dik. Kita harus lebih berhati-hati."
"Benar, Kang. Adik tak ingin mereka terus menerus kembali datang dan membuat kegaduhan di rumah kita."
Madi dan Aulia saling pandang setelah isterinya itu mengucapkan kalimat tersebut. Madi bisa merasakan kalau sampai sedetik ini pun, saudara Nang itu, masih memperhatikan mereka dari kejauhan. Sebab itulah, Madi juga setiap saat selalu mengingatkan Aulia untuk tidak lupa berzikir.
Madi terdiam sejenak. Tampak berpikir sebelum memberikan jawaban yang menurutnya paling bisa diterima oleh Aulia.
"Itu karena mereka memang sudah dari dulu tinggal di sana. Ditambah masih banyaknya orang-orang yang datang, meminta pesugihan. Memberikan sesajen dan tumbal."
"Mengerikan, ya, Kang. Kenapa juga, orang-orang itu mau bersekutu dengan iblis!" ujar Aulia. Sekali ini matanya menatap tajam ke arah pohon tua yang berada di seberang rumah.
"Itu lah, Dik. Kebanyakan mereka ingin mendapatkan kekayaan dengan jalan pintas. Jadi semua cara dipake, termasuk melakukan praktek pesugihan."
Aulia tampak termenung. Matanya terus menatap je arah pohon tua itu. Seperti ada yang menarik perhatiannya.
__ADS_1
"Kang, itu, banyak berserakan sesajen di bawah pohon tua itu. Kembang, kemenyan dan peralatan sesajen yang lain."
"Nah, itu dia, maksud Akabg tadi, Dik. Kalau masih banyak yang menyekutukan makhluk seperti mereka, maka keberadaan mereka akan selalu ada."
Madi memegang pundak Aulia agar tidak terlalu memperhatikan pohon tua utu. Ada aura negatuf yang bisa saja mempengaruhi pikiran Aulia nantinya.
"Dik, sebaiknya Kita segera masuk. Hari juga sudah semakin sore. Sebentar lagi magrib."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Madi menggandeng Aulia masuk ke dalam rumah. Pandangan mata batinnya bisa melihat kakau makhluk tersebut sedang menperhatikan Aulia dengan seksama. Seolah mereka sudah tidak sabar ingin segera mengganggunya.
"Kang, kepalaku kok sedikit pusing, ya?" tutur Aulia, lalu duduk di salah satu kursi di ruabg tamu. Madi tetap menggandeng Aulua, takut terjadi sesuatu pada dirinya.
"Istirahat saja dulu, Dik. Akang ambilkan minum dulu. Jangan lupa terus berzikir!".
Madi pun berlalu ke dapur, mengambil segelas air putih. Bisa saja Aulia keletihan, apalagi kondisinya yang sedang berbadan dua.
"Ini, Dik. Minum lah dulu!" perintah Madi secara halus.
Aulia pun lantas menghabiskan segelas air putih yang disodorkan Madi. Rasa dahaganya hilang seketika. Pusingnya pun berangsur pulih.Aura negatif penghuni pohon tua yang mencoba mempengaruhi Aulia lewat keadaan fisiknya itu akhirnya bisa ditepis Madi.
"Makasih, Kang. Alhamdulillah, pusing Adik sudah berkurang." Wajah Aulia kelihatan lebih segar srkarang, tidak sepucat tadi.
Madi tersenyum, mengucap syukur karena kondisi Aulia tidak memburuk. Makhluk astral seperti mereka memang sangat suka mengganggu orang-orang yang sedang termenung, melamun.
"Iya, Dik. Makanya, pikiran jangan dibiarin kosong. Mereka suka mempengaruhi Kita lewat pikiran."
Aulia mengangguk. Mrski masih terasa lemas, dia sudah bisa menguasai diri dan merasal ebih segar. Sementara waktu terus beranjak, waktu magrib pun hampir tiba. Madi perlahan, membimbing Aulia menuju kamar mandi. Mengambil wudhu.
__ADS_1
Lampu-lampu di seluruh ruangan juga sudah dinyalakan. jendela dan pintu pun sudah terturup. Magrib adalah wajtu terbaik bagi makhluk-makhluk tak kasat mata itu beraksi. Karena pada saat inilah gerbang antara dunia gaib dengan dunia kita akan terbuka lebar.
Dengan demikian makhluk seperti mereka akan bebas berkeliaran, mengusik dan mengganggu manusia. Sungguh menyeramkan, jika gangguan mereka bisa mengakibatkan kita tak berdaya, terpengatuh aura negatif makhluk-makhluk berasal dari dunia lain itu.