
Sepanjang hari, Madi hanya menghabiskan waktu dengan salat, berzikir dan melatih semua hijib yang pernah ia pelajari di rumah kyai Sarwa. Madi, tak ikut kyai Sarwa, berkeliling disekitar pondok, memeriksa tempat-tempat yang mengandung aura-aura negatif. Rasa rindu pada Aulia begitu kuat, membuatnya sesaat menghentikan latihan. Merehatkan hati dan pikiran, agar kembali fokus.
Sebenarnya, Madi ingin menghubungi Aulia, tapi ragu. Dia belum bisa pulang saat ini, karena kyai Sarwa masih membutuhkan kehadirannya. Benar-benar jadi sebuah dilema.
Kyai Sarwa sendiri, juga tak terlalu lama berkeliling pondok, hanya sampai salat zuhur saja. Pemimpin pondok pesantren ini bermaksud memantau latihan Madi, sehingga nanti malam, dia sudah lebih siap.
"Bagaimana latihanmu, Madi?" Madi tersenyum, mendengar pertanyaan kyai Sarwa. Merasa sangat diperhatikan. Salat zuhur baru saja mereka lalui.
"Sejauh ini, berjalan lancar, Kyai!" .
Kyai Sarwa manggut-manggut, mengelus janggut panjang miliknya yang sudah berubah warna. Raut wajahnya memperlihatkan sedikit kecemasan, mungkin karena Madi akan berhadapan dengan Nang dan pengikutnya, malam nanti.
Sementara, di rumah orang tua Aulia. Kehebohan sedang terjadi di sana. Ibu Aulia tampak seperti orang linglung. Kadang tertawa sendiri, kemudian tiba-tiba menangia sendiri. Berteriak-teruak tak jelas.
Aulia sampai panik. Berkali-kali, ibunya menepis Aulia yang hendak memberi minum. Tingkah lakunya benar-benar berubah 180 derajat. Duduk sebentar kemudian berteriak, membuat bingung Aulia dan ayahnya.
"Bu ... ibu, kenapa ...?" Aulia mengguncang pundak ibunya. Perempuan muda itu kini menangis melihat keadaan ibunya yang tak seperti biasanya.
"Bu ... istifghar ...!" Ayah Aulia pun kini ikut turun tangan. Mencoba menyadarkan isterinya.
'Ya, Allah, apa yang terjadi pada istri hamba?' desis ayah Aulia. semakin bingung dengan perubahan sikap isterinya itu.
"Yah, apa yang harus kita lakukan?" tanya Aulia, memeluk ibunya yang masih terus meronta. Melihat Aulia yang mulai kewalahan, ayahnya pun segera mengambil alih. Takut, kalau sesuatu akan terjadi pada kandungan puterinya itu.
"Coba, panggilkan Mai, Lia. Itu nomernya ada di ponsel ayah!" Ayah Aulia benar-benar gugup kini.
Tanpa menunggu lebih lama, Aulia segera menelfon Mai, bidan yang tinggal selisih beberapa rumah dan masih ada hubungan keluarga dengan mereka. Beruntung sekali, dia ada di rumah dan berjanji akan segera memeriksa ibunya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi, Paman?" tanya Mai, ketika sudah tiba.
"Paman sendiri kurang tau, Mai. Pulang dari pasar, tau-tau bibimu sudah seperti ini."
Mai, perempuan sepantar Aulia itu, kemudian memberikan suntikan penenang, agar ibu Aulia bisa istirahat, tak lagi berteriak.
"Untuk sementara, bibi saya beri obat penenang dulu, Paman. Kalo tak ada perubahan, besok kita bawa bibi ke rumah sakit."
Ayah Aulia mengangguk, hanya bisa pasrah. Kejadian ini begitu tiba-tiba, mana Madi lagi tak ada di rumah.
"Kandunganmu, gimana, Lia?"" Mai kemudian beralih bertanya pada Aulia, agar suasana tak terlalu tegang.
"Alhamdulillah, baik, Mai!" Mai tersenyum, lega setelah mendengar jawaban Aulia. Lalu ia memberi nasihat agar kandungan Aulia tetap sehat dan kuat. Setelah berbincang-bincang beberapa lama, akhirnya ia pun pamit.
Ibu Aulia masih tertidur pulas, obat penenang itu sudah bekerja rupanya. Perlahan, tubuh perempuan itu diangkat dan dibaringkan di ranjang dalam kamar. Untuk sementara, keadaan ibu Aulia dalam kondisi tenang sekarang.
Sebuah senyum lebar, mengembang di bibir Nang. Siasatnya berhasil kali ini. Nanti malam, akan lebih mudah bagi mereka untuk menerobos pagar gaib yang selama ini dibuat Madi.
Kembali ke pondok, kyai Sarwa hanya bisa menarik napas panjang, melihat kondisi ibu Aulia, dari penglihatan mata batinnya. Benar-benar keji perbuatan Nang, membiarkan sosok kuntilanak menyusup ke dalam raga ibu Aulia.
"Madi, nanti malam, kau harus berhasil mengusir Nang dan pengikutnya!"ucap kyai Sarwa tegas.
"Baik, Kyai," jawab Madi sambil mengakhiri latihannya. Sebentar lagi magrib. Tak terasa memang. Semoga babfi malam, dia sudah siao, menghadapi Nang dan pengikutnya.
"Bagus, Kyai akan membantumu, sambil berjaga, kalau Jaka berulah lagi malam lagi!" lanjut kyai Sarwa.
"Bukankah makhlhk astral dalam lukisan yang ditemukan Kyai kemarin masih disegel?" tanya Madi penasaran.
__ADS_1
"Iya, masih, Madi. Bukan itu yang Kyai cemaskan. Makhluk lain yang kemungkinan bisa saja dikirim, saat kau berhadapan dengan Nang."
Madi tercenung mendengar penjelasan kyai Sarwa. Masuk di akal, kalau kyai Sarwa cemas. Jika itu terjadi, jelas sekalu konsentrasi mereka akan terpecah lagi. Dengan kondisi Bayu dan ustad Amir yang belum pulih 100 persen, hal ini jelas kurang menguntungkan bagi kubu mereka.
"Kalo begitu, kita harus lebih keras lagi mempersiapkan diri. Terus waspada, menghadapi musuh tak kentara itu!" Madi kemudian berkata, mengambil kesimpulan.
Kyai Sarwa pun mengiyakan, setuju dengan ucapan Madi barusan. Sudah sepatutnya mereka lebih meningkatkan penjagaan, mencegah masuknya makhluk-makhluk tak kasat masa itu.
Tanpa terasa malam telah mulai menjelang, gelap mulai menyelimuti pondok. Rintik hujan kian menambah heningnya suasana. Samar, terdengar suara santri mengaji bersama, membuat batin terasa lebih tenang.
Di rumah kyai Sarwa, Madi dan kyai sedang duduk berzikir di atas sajadah. Selepas salat isya, Madi akan mencoba membuka mara batinnya, berhadapan dengan musuh bebuyutannya.
"Madi, sebentar lagi salat Isya, persiapkan mentalmu melawan mereka!"
'Baik, Kyai!" jawab Madi, pendek. Suasana benar-benar semakin mencekam. Apalagi selepas salat Isya. Jantung Madi berdebar kencang.
Sambil berzikir, Madi membuka mata batinnya kini, menelisik meadaan rumah orang tua Aulia. Betapa terkejutnya dua, ketuka melihat kondisi ibu Aulia yang sedang dirasuki sosok kuntilanak. 'Ini tak boleh dibiarkan!' desisnya mebahan marah.
Sosok kuntilanak yang berada dalam tubuh ibu Aulia terkekeh, nelihat kepanikan di wajah Madi.
"He ... he ..., kau lihat, ibu merruamu! Aku akan terus diam dalam raganya.
"Tak seharusnya kau berada di sana!" bentak Madi sambil memberikan sebuah pukulan hijib pada kuntilanak itu.
Kuntilanak itu, mengelak, mempergunakan tubuh ibu Aulia untuk menyerang Madi. Aulia jadi bingung, melihat tingkah ibunya seperti orang berkelahi.
"Yah, ibu kenapa lagi?" tanya Aulia panik. Ayah Aulia berusaha menahan gerakan isterinya, tapu, apa yang terjadi tubuh sang ayah terpental.
__ADS_1
Melihat kondisi ayah dan ibunya, Aulia bertambah panik. Apa ada sesuatu yang merasuki ibunya? Kenapa gejalanya hampir sama seperti yang ia alami dulu?
Ayah Aulia sontak memandang tubuh istrinya, memperhatikan dengan seksama. Sepertinya betul apa yang dikatakan Aulia. Semoga ada yang akan menolong.