
Setelah melalui hadangan makhluk astral tadi, pak Parman sudah lebih tenang, dan benar saja, beberapa ratus meter kemudian mereka telah tiba di rumah pak Parman. Sebuah rumah cukup besar dengan arsitektur modern, memiliki sebuah taman yang indah.Cukup kontras dengan kebanyakan rumah di sekitarnya.
“Kyai, kita sudah sampai,” kata pak Parman saat mobil memasuki pekarangan rumah.
Kyai hanya mengangguk, kemudian perlahan keluar mobil. Madi menyusul dari belakang. Sementara pak Parman telah terlebih dahulu keluar dan menunggu di pintu. Setelah mengucapkan salam, seorang bocah berusia kurang lebih sepuluh tahun, membukakan pintu. Sepertinya dia putri pak Parman
“Yah, Ibu berteriak terus dari tadi. Nenek terpaksa mengikat tangan Ibu di tempat tidur.” Seru bocah perempuan itu berlari menyongsong kedatangan pak Parman sambil menangis. Cemas dan takut tergambar jelas di raut wajahnya.
“Iya, sekarang kita masuik dulu. Salim Kyai Sarwa dan Paman Madi dulu!” Bocah itu menurut ucapan pak Parman, menyalami kyai dan Madi.
“Ini, Ayukan? Sudah besar sekarang ya?” Kyai Sarwa menyapa anak kecil itu. Ternyata namanya Ayu dan kyai masih ingat dengan putri pak Parman itu.
“Benar, Kyai. ini Ayu,” jawabnya polos. “Kyai, tolong Ibu, Kyai. “ Ayu mulai merengek lagi
“Iya, nanti Kyai tolong, ibu. Sekarang, izinkan Kyai dan Paman Madi masuk dan melihat kondisi ibumu!” Ayu pun tak lagi merengek, setengah menggandeng tangan ayahnya, masuk ke dalam rumah, kemudian menuju kamar ibunya.
Kondisi Ningsih, isteri pak Parman, terlihat cukup mengenaskan. Mata cekung, karena kurang tidur, wajahnya pun terlihat pucat
karena keletihan berteriak terus. Duduk di sebelah Ningsih, seorang perempuan
berusia kurang lebih 60 tahun.
Melihat kedatangan kyai Sarwa dan Madi, seketika Ningsih berteriak sangat kencang. Bukan berteriak saja, ia juga meronta seperti orang ketakutan. Entah apa penyebabnya.
Melihat gelagat yang tidak baik ini, kyai Sarwa langsung mendekati isteri pak Sam yang sedang sakit itu. Melihat kyai Sarwa semakin mendekat, gerakan Nningsih pun semakin tidak terkendali. Kaki dan tangannya terus
meronta. Sementara matanya menatap penuh amarah pada kyai Sarwa.
__ADS_1
“Pergi …! Pergi …!” Teriakan ibu Ayu semakin histeris. Gerakannya pun kian liar. Nenek Ayu yang mencoba memegangnya terlihat sangat kerepotan. Berkali-kali ia terdorong karena kekuatan anaknya menjadi sangat besar.
Melihat situasi itu, pak Parman ikut memegangi isterinya. Kyai Sarwa kemudian memegang kepala isteri pak Parman sambil membaca beberapa doa. Makhluk yang berada dalam tubuh isteri pak Parman itu bertindak semakin liar. Semua ucapan kemarahan dilontarkannya pada kyai Sarwa.
Bukannya takut, malah kyai Sarwa semakin memperkuat serangannya. Madi yang ikut mengawasi, juga merasakan getaran negatif yang sangat kuat berasal dari istrei pak Parman.
Melalui mata bathinnya, Madi bisa melihat ada dua makhluk yang mendiami raga ibu Ayu itu. Sepasang perempuan dan laki-laki. Dua-duanya bertanduk dengan taring tersembul di antara giginya. Sepertinya mkhluk dari dimensi lain itu memiliki kekuatan yang besar.
“Siapa kau?” Kyai Sarwa mencoba membuka komunikasi dengan makhluk penghuni tubuh isteri pak Parman.
“Aku adalah makhluk yang dikirim untuk menyakiti perempuan ini.” Makhluk itu menjawab pertanyaan kyai Sarwa dengan geram. Ekspresi kemarahan terdengar jelas dari suara yang diperdengarkan melalui isteri pak Parman.
‘Mau apa kau mendiami tubuh wanita ini?” Kembali kyai Sarwa bertanya, sembari terus melancarkan serangan.
“Aku dikirim seseorang untuk mengganggu perempuan ini. Membuatnya bertindak seperti orang yang kurang waras.” Makhluk itu mulai melemah sekarang, tidak segarang tadi.
“Hai, Makhluk yang menghuni tubuh perempuan ini, enyahlah, ini bukan tempatmu!” Suara kyai Sarwa kini terdengar semakin kuat. Madi yang mendengarnya pun menjadi kaget.
Tiba-tiba saja makhluk itu tertawa keras, seolah mengejek ucapan kyai Sarwa. Namun, sebentar kemudian menangis menggerung-gerung seperti anak kecil. Pak Parman dan Madi yang sekarang ikut memegang ibunya Ayu, sedikit kewalahan.
“Tidak usah berakting seperti itu.Sebaiknya sekarang keluar atau terpaksa kau dikeluarkan dengan paksa!” seruan kyai Sarwa bukan hanya sekedar gertak sambal belaka. Beliau tampak bersiap memukul makhluk itu dengan amalan dan bacaan doa-doa. Madi juga bersiap membantu kyai Sarwa.
Melihat hal itu, mata Ningsih, isteri pak Parman melotot, dari mulutnya terdengar sumpah serapah. Mkhluk yang mengendalikan tubuh Ningsih berupaya sekuat tenaga untuk melawan.Memanfaatkan
raga Ningsih untuk bergerak dan menyerang siapa saja, termasuk pak Parman, suaminya.
“Kenapa kalian terus saja menggangguku. Perempuan ini harus menjadi tumbal, tidak ada yang boleh menghalanginya!” Kembali makhluk itu berteriak lantang melalui Ningsih.
__ADS_1
“Siapa yang menginginkan kematiannya?” Kali ini kyai Sarwa terus menekan kekuatan makhluk itu agar segera melemah.
“Ha … ha …, dia saingan
Parman, suaminya. Siapa suruh dia menang tender dengan menyalip seseorang”
Makhluk itu mulai menguak siapa yang menyuruhnya.
“Sekarang, keluarlah dari tubuh perempuan ini. Jangan mencoba untuk kembali lagi, kalau tidak tubuhmu akan terbakar!” Kyai sarwa tidak memberi ampun lagi, segera memukul makhluk itu. Meski, melakukan perlawanan, tapi tidak berarti lagi.
Tubuh Ningsih langsung melorot setelah makhluk halus itu pergi. Ternyata makluk iktu adalah sebangsa jin yang memang ditugaskan untuk mengganggu dan akhirnya bisa membuat Ningsih meninggal
“Kejam dan jahat sekali orang itu,” ucap pak Parman kemudian. Ada sedikit nada amarah dalam suaranya.
“Sudahlah, Parman! Bersyukur saja, isterimu sudah selamat sekarang. Kalau itu memang perbuatan sainganmu, biarkan saja. Biar Alah yang menyelesaikannya.”
Pak Parman menunduk, mendengar nasihat kyai Sarwa. Memang betul apa yang diucapkan beliau. Tidak perlu mempermasalahkan siapa yang telah mengirim jin itu, yang penting sekarang isterinya sudah selamat
“Baik, Kyai Terima kasih sudah mengingatkan dan membantu mengusir jin itu.” Akhirnya pak Parman tidak membahas lagi mengenai orang yang tega mengirimkan jin itu
Kyai Sarwa tersenyum, memegang kepala Ningsih, kemudian memberikan segelas air putih yang telah berisi bacaan doa. Sontak, setelah meminum air ramuan itu, perut Ningsih menjadi mual, kemudian muntah-muntah. Pak Parman sibuk memberikan sebuah baskom untuk menampung muntah Ningsih. Namun, yang keluar hanya air saja
“Keluarkan semua, Ningsih! Jangan ada yang ditahan, biar tidak ada lagi sisa-sisa kekuatan makhluk itu yang menempel di tubuhmu!” Kyai Sarwa merintahkan Ningsih untuk terus
muntah. Itu memang bisa mengurangi pengaruh jin itu.
Ikut mengusir jin dari tubuh Ningsih adalah pengalaman tak ternilai bagi Madi. Ia berharap semoga amalannya kian mumpuni dikemudian hari.
__ADS_1