
Setelah salat isya, kembali kyai Sarwa mengajak Madi untuk berbicara dalam mushala. Sementara santri yang lain sudah kembali ke kamar masing-masing. Sepertinya memang lebih nyaman kalau berbincang-bincang di sana.
"Jadi, bagaimana, Madi, lanjutkan lagi ceritamu tadi!" Madi mengangguk, mendengar perkataan kyai Sarwa. Dia pun kembali menceritakan semua keresahan yang selama ini ia pendam.
"Ya, begitulah, Kyai. Sosok misterius dan penghuni pohon tua itu, semakin lama makin mengganggu bahkan akhir-akhir ini sudah mengancam keselamatan kami."
Kyai Sarwa mengangguk, mendengar curhatan Madi. Mata kyai Sarwa terpejam, seperti hendak menerawang sesuatu.
"Hm ... sepertinya rumahmu dan rumah orang tua isterimu, sudah dipagari secara gaib, ya?"
Madi mengangguk, membenarkan pertanyaan sang kyai. Kyai Sarwa pun memberitahu kalau tindakan Madi sudah benar. Hanya saja, pagar gaib itu bisa saja jebol, kalau tidak terus-terusan dipertebal.
pernyataan kyai Sarwa barusan, memang ada benarnya. Suatu saat, pertahanan srcara gaib itu bisa saja runtuh, kalau dibiarkan begitu saja.
"Sebaiknya, nanti malam, kita zikir bersama, mempertebal pagar gaib itu, jadi, keselamatan isterimu bisa terjaga."
Madi kembali mengangguk. Bersyukur, ada kyai Sarwa yang akan membantunya. Kembalinya ia ke pondok, meminta pertolongan kyai Sarwa, adalah langkah yang teoat.
"Kyai, siapa ya, sosok mistsrius yang sering menyerang Madi. Bahkan belakangan ini, sudah mulai terang-terangan menyerang. Tidak lagi sembunyi-sembunyi."
Untuk beberapa saat, kyai Sarwa hanya terdiam, memperhatikan wajah Madi dengan tajam. Ada perasaan gelisah terlihat jelas dari raut wajahnya. Sepertinya memang beliau sangat prihati. dan memperhatikan keadaan Madi.
"Hm .., tampaknya dia memang memiliki hubungan dengan nenek bungkuk, pemilik pesugihan, yang sering Kyai kalahkan."
Madi terperangah, mendengar keterangan kyai Sarwa barusan. Berarti benar dugaannya selama ini, ia seperti mengenal sosok misterius itu.
"Memang, dia siapa, Kyai? Kenapa dia sering sekali menyerang Madi?"
Kyai Sarwa tersenyum kecil. Namun, tiba-tiba senyumannya segera menghilang. Ada sesuatu yang melintas dalam penglihatan mata batinnya
__ADS_1
"Madi, coba tajamkan, mata batinmu sepertinya ada yang ingin. mengganggu isterimu!" Suara kyai Sarwa sedikit bergetar, saat mengatakan hal itu.
Madi juga jadi tercekat mendengar perintah kyai Sarwa yang tiba-tiba tadi. Tidak menyangka, masih saja makhluk misterius dan makhluk astral tersebut mengganggu AulIa di sana. Kenapa mereka masih saja mau yang menganggunya, bisik Madi, sedikit menahan kesal.
Tidak berlama-lama, Madi segera melaksanakan perintah kyai Sarwa. Benar saja, dari penglihatan mata batinnya, Madi bisa merasakan sekarang sosok misterius itu sendiri yang turun tangan.
Menahan geram, Madi langsung memberikan pertahanan di sekitar rumah orang tua Aulia. Apa pun rencana jahat sosok misterius itu harus dicegah, kalau tidak bisa membahayakan nyawa Aulia.
Sosok itu terlihat sangat marah, ketika mengetahui tidak bisa mendekati rumah di mana Aulia tinggal. Dia pun memanggil beberapa makhluk lelembut lainnya, agar bisa mendobrak benteng pertahanan yang telah dibuat Madi.
Makhluk bertubuh tinggi besar yang kemarin menyamar sebagai Madi, adalah salah satunya. Kemudian beberapa pocong dan makhluk siluman berwujud binatang. Semuanya siap mendobrak pagar gaib yang telah dibuat Madi.
Tidak tinggal diam, Madi semakin konsentrasi menahan lajunya pergerakan makhluk-makhluk dari dimensi lain itu. Sementara si sosok misterius tampak sedikit menyingkir, memberi ruang pada lelembut jahat tersebut.
Madi sangat bersyukur karena Aulia masih mengamalkan bacaan dan doa-doa yang telah ia ajarkan untuk menghalau makhluk-makhluk yang ingin mengganggunya.
Dia pun berdiri di depan pintu, karena tidak bisa melangkah lebih dekat lagi. Memanggil. meminta agar Aulia segera keluar dan membukakan pintu.
"Dek, Akang pulang. Tolong bukakan pintu." Suaranya mirip sekali dengan Madi. Bahkan rupanya pun sama persis, tidak ada yang beda.
Aulia menggeliat, ingin berlari menuju pintu. Namun, ada sebuah kekuatan menahan kakinya untuk tidak beranjak apalagi berjalan menuju pintu.
Aulia semakin bingung dengan suasana ini. Di satu sisi dia teringat dengan pesan suaminya sebelum berangkat, di sisi lain ingin melihat apa benar suaminya yang berada di depan pintu.
Sebelum pertahanan Aulia runtuh, Madi pun berusaha terus meneguhkan iman Aulia, membantunya melewati tahapan ini.
Sosok misterius yang mengetahui Aulia mulai goyah terus berusaha memanggil agar Aulia segera keluar rumah.
"Dek, ayo buka pintunya. Akang, capek mau istirahat!" Sosok misterius itu kembali meminta Aulia segera membukakan pintu.
__ADS_1
Kali ini, Aulia sudah bergerak dan keluar dari kamar, beruntung ibu Aulia menghentikan langkahnya.
"Lia, mau ke mana? Ini udah malam. Ingat pesan suamimu kemarin!" Ibu Aulia berusaha mengingatkannya karena merasa ada yang tidak beres.
"Ada Kang Madi di depan, Bu. Minta dibukakan pintu. Capek, katanya."
Ibu Aulia menatap bingung puterinya, merasa tidak mendengar apa-apa. Aulia pun ditahannya dan disuruh masuk kembali ke dalam kamar.
"Lia, tidak ada siapa-siapa, istifghar ya, nak. Kita masuk ke kamar sekarang!"
Aulia kebingungan. Jelas-jelas, tadi dia mendengar suara suaminya memanggil, tapi ibunya tidak mendengar. Segera Aulia sadar dan membaca istifghar. Alhamdulillah, bersyukur masih ada ibunya yang menahan di luar kamar tadi, kalau tidak entah bagaimana nasibnya nanti.
Sementara di luar, merasa gagal, sosok misterius itu berlalu menahan geram. Makhluk yang tadi membantu sosok misterius itu juga ikut menghilang. Lenyap dalam kegelapan malam.
Aulia juga kembali larut mendawamkan semua bacaan doa untuk memperkuat diri, menahan gangguan dari siapa pun. Dia sadar sangat berbahaya jika lalai. Sangat berbahaya
DI pesantren, Madi bernapas lega, usaha sosok misterius itu masih gagal untuk mengganggu Aulia. Perasaan cemas yang dari tadi menghuni dasar hatinya, perlahan mulai sirna. Madi, bergarap, isterinya bisa bertahan dari setiap godaan dan gangguan yang dilakukan sosok misterius dan pengikut-pengikutnya itu.
"Alhamdulillah, Madi. Isterimu bisa selamat dari gangguan cucunya nenek bungkuk itu."
Ucapan kyai Sarwa mengejutkan Madi. Ternyata benar, sosok itu memang cucu nenek bungkuk tersebut.
"Cucunya, Kyai?" kembali Madi bertanya, mencoba meyakinkan kembali kalau pendengarannya tadi memang tidak salah.
"Iya, kamu pernah bertemunya sekali dulu. Sudah nggak ingat lagi?"
Madi mengangguk. Iya, dia ingat dulu pernah bertemu dengannya sekali, tapi sekarang karena sudah lama tidak pernah bertemu, dia jadi lupa dengan raut wajahnya.
"Mulai sekarang, kamu harus lebih hati-hati! Jangan lengah sedikit pun!" Kyai Sarwa kembali mengingatkannya.
__ADS_1