Penghuni Pohon Tua

Penghuni Pohon Tua
Terus Berlanjut


__ADS_3

Setelah berjalan cukup cepat, akhlirnya kyai Sarwa dan Madi tiba juga di asrama para santri. Ternyata benar dugaan Madi, mereka sedang bersiap-siap menuju kelas untuk memulai kegiatan pagi ini.


“Ada apa Kyai ke asrama pagi-pagi seperti ini?” Tiba-tiba, Bayu sudah berada di samping mereka.


Kyai Sarwa tersenyum, kemudian memperhatikan ke seluruh asrama. Tak ada yang aneh. Suasana di sana biasa-biasa saja. Makhluk-makkhluk itu belum berani menampakkan hdung mereka, mengganggu


para santri.


“Ndak apa-apa, Bayu. Kyai hanya memeriksa keadaan pondok saja. Siapa tau makhluk-makhluk kemarin datang kembali dan membuat kekacauan.” Bayu hanya diam mendengar penjelasan kyai Sarwa.


“Tak usah, takut, Bayu. Semua akan baik-baik saja!” kata Madi, sambil menepuk  lembut pundak Bayu. Santri berusia sekitar 17 tahun itu mengangguk, yakin kalau kyai Sarwa akan melindungi mereka semua yang berada dalam pondok.


“Iya, Kang. Bayu, yakin itu,” jawab Bayu sambil memamerkan senyum tipisnya. Suasana pondok pagi ini terlihat sama saja seperti hari-hari kemarin.


“Bagaimana keadaanmu sekarang.  Apa  istirahatmu cukup tadi malam ?” Kyai lalu menanyakan keadaan Bayu setelah pertarungan dengan jin dan dedemit malam tadi.


“Alhamdulillah, baik, Kyai. Kondisi Bayu baik-baik saja. Santri yang lain juga sudah bisa beraktivitas lagi pagi ini.” Bayu berkata sambil menunjuk beberapa santri yang ikut berzikir malam tadi.


Kyai Sarwa tersenyum lega, berarti untuk saat ini, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Masih ada beberapa waktu untuk mengadakan persiapan sebelum Jaka beraksi kembali. Paling tidak, masih bisa membuat beberapa pagar gaib di beberapa tempat agar para santri bisa terlindung dari gangguan para jin.


“Ya, sudah, kalau begitu. Sekarang, pergilah ke kelas, sebentar lagi pelajaran akan segera dimulai!” Kyai Sarwa lalu memerintahkan Bayu untuk melakukan kegiataan selanjutnya. Madi hanya memperhatikan saja percakapan kyai sarwa dengan Bayu. Memberikan sebuah senyum dan anggukan saat Bayu berpamitan hendak ke kelas.

__ADS_1


“Sepertinya keadaan pagi ini baik-baik saja, Kyai,” ucap Madi masih memperhatikan barisan santri meninggalkan asrama.


“Betul, Madi. Sekarang, sudah waktunya kita masuk ke dalam asrama, memeriksa, kalau-kalau ada makhluk astral bersembunyi dan akan mengganggu.” Madi menatap heran pada kyai Sarwa. Mengapa tiba-tiba kyai mengajak masuk memeriksa semua bagian dalam asrama. Bukankah, tadi tak ada peristiwa yang membuat mereka khawatir.


Seperti mengetahui jalan pikiran Madi, kyai Sarwa berkata, “Ndak apa-apa, kita periksa keadaan di sana, Madi. Sekalian, memberikan benteng gaib sehingga semakin memperkecil peluang makhluk tak kasat mata suruhan Jaka untuk mengganggu.”


Madi yang mendengar penjelasan dari kyai Sarwa akhirnya mengerti, mengangguk saja dan berjalan mengikuti kyai masuk ke dalam asrama.


Suasana dalam asrama sendiri, senyap karena para santri sudah menuju areal pondok, untuk menerima pelajaran pagi ini. Semua kamar diperiksa kyai dan Madi dengan seksama, mencari kalau-kalau ada sosok astral sengaja tinggal di sana dan akan membuat onar.


“Sepertinya aman, Kyai,” ujar Madi sembari menutup pintu salah satu kamar santri. Suasana benar-benar sepi karena penghuni asramanya sedang pergi.


“Coba periksa lebih teliti lagi. Beberapa waktu yang lalu, sebelum kau datang berkunjung ke pondok, ada beberapa santri yang melihat beberapa sosok halus berkeliaran tengah malam. Menakut-nakuti para santri.”


“Baik, Kyai, akan segera Madi periksa kembali!” ucap Madi segera menuju sudut-sudut asrama dan tempat-tempat lembab dan gelap seperti kamar mandi yang disenangi oleh makhlukk-makhluk dari dunia gaib tersebut.


Kyai Sarwa mengikuti Madi, menuju bagian belakang asrama, di mana etrdapat kamar mandi dan gudang untuk meletakkan beberapa peralatan kebersihan seperti sapu, kemoceng dan alat pengepel. Gudang yang berukuran tak terlalu lebar itu, terlihat sedikit gelap, karena kurangnya penerangan.


Madi lalu menghidupkan saklar lampu yang berada dekat pintu masuk. Suami Aulia itu, terperanjat, kaget, ternyata ada sisa-sisa hawa negatif yang masih terasa di sana.


“Tampaknya, di sini pernah tinggal beberapa makhluk astral, Kyai!” seru Madi sambil terus masuk lebih dalam.

__ADS_1


“Hm … kamu benar, Madi. Hawanya masih sangat terasa, berarti belum lama makhluk itu pergi,” sahut kyai Sarwa, membenarkan ucapan Madi tadi.  Suasana gelap, pengap dan lembab adalah tempat kesenangan makhluk halus untuk tinggal.


“Berarti, mulai saat ini,  kita harus lebih waspada, Kyai!” seru Madi, sedikit panik, karena tak bisa membayangkan kegaduhan yang terjadi akibat penampakan makhluk-makhluk halus ini.


Kyai Sarwa hanya mengangguk sembari mengitari gudang.  Mulutnya bergerak, membaca beberapa bacaan doa dan zikir. Kali ini, kyai Sarwa langsung membuat sendiri pagar gaib, mencegah kembalinya makhluk halus seperti jin dan demit, yang tujuannya mengganggu ketenangan para santri.


Madi pun tak lagi berani mengusik, membiarkan saja kyai Sarwa membuat perlindungan gaib dalam gudang. Dia hanya memperhatikan saja, bersiap-siap membantu, jika dibutuhkan.


Hawa negatif yang tadi tersisa tadi benar-benar kuat, pertanda, makhluk yang bersembunyi di sini sebelumnya memiliki kekuatan yang cukup besar. Sangat berbahaya jika nanti muncul di hadapan para santri dan menakut-nakuti mereka.


Sebuah bayangan secara tiba-tiba melintas dalam penglihatan mata batinnya. Sekilas dan samar. Sepertinya, makhluk itu ingin mempertontonkan kekuatannya pada Madi,  memang sengaja tampil dan berhadapan dengan dirinya.


“Ada apa, Madi?” Kyai Sarwa yang sedari tadi memperhatikan Madi, tiba-tiba bertanya.


“Tadi, ada,sekelebatan bayangan terlihat lewat,” ucap Madi sembari menarik napas cukup panjang.


Mendengar ucapan Madi, kyai Sarwa semakin teliti membuat pagar gaib, menurtup semua celah masukknya kembali makhluk-makhluk tepung tersebut.


“Makhluk itu hanya ingin memperlihatkan dirinya siapa,” jawab kyai Sarwa tenang. Ada sedikit kekhawatiran dalam raut wajahnya, tapi, hanya sedikit saja, Selebihnya, kyai Sarwa kembali bisa mengontrol emosi dan melanjutkan pekerjaannya, memagari gudang dengan pagar gaib.


“Sepertinya, begitu, Kyai. Tadi Madi, bisa merasakan kekuatan makhluk itu cukup besar. Hawa negatif yang ditinggalkannya pun masih tebal.”

__ADS_1


Kyai Sarwa tampak mengernyitkan dahi, ketika mendengar penuturan Madi.  Memang sisa hawa negatif yang tertinggal dalam gudang masih terasa begitu tebal dan seperti yang dikatakkan Madi tadi, itu pertanda mahkluk itu bukan hanya sekadar jin yang mudah ditaklukkan. Makhluk itu pasti memiliki kekuatan iblis yang sangat besar. Terbukti, makhluk tersebut bisa  bertahan untuk beberapa saat, padahal banyak santri berada di sekitarnya.


Kyai Sarwa pun segera mengakhiri membuat pagar gaib dalam gudang. Untuk saat ini, pagar gaib itu cukup sebagai pertahanan mencegah masuknya kembali makhluk jahat tersebut.


__ADS_2