Penghuni Pohon Tua

Penghuni Pohon Tua
Masih Mencari


__ADS_3

Warga yang tadi ingin menebang pohon tua itu akhirnya menyerah semua. Tak sanggup bertahan Apalagi ada seorang rekan mereka kerasukan makhluk penghuni pohon tua itu.


Madi, lagi-lagi mengetahui peristiwa itu dari warga yang melaporkan padanya. Kejadian ini membuat Madi semakin bertekad, mengusir semua penghuni pohon tua yang semakin meresahkan warga sekitarnya.


"Ada apa, Madi? Sepertinya ada yang membebani pikiranmu?" Kyai Sarwa bertanya saat melihat Madi termenung, usai mendapat pesan singkat dari tetangganya di sana.


"Iya. Kyai. Penghuni pohon tua iti membuat ulah lagi. Ada seorang warga yang kerasukan, sewaktu mencoba menebang pohon tua itu."


Kyai Sarwa mengangguk-angguk, prihatin dengan keadaan tetangga Madi. Memang tidak mudah menebang pohon yang ada penghuninya.


"Kalau begitu, nanti, kita pikirkan bagaimana caranya mengusir semua makhluk tak kasat mata yang menghuni pohon tua itu."


Seketika Madi bernapas lega. Masih ada harapan, bisa mengusir semua makhkuk ifu suatu saat nanti.


"Terima kasih, Kyai. Lega, rasanya Madi mendengar ucapan Kyai."


Kyai Sarwa tersenyum, menutup pembicaraan. Hari ini, mereka akan kembali mengelilingi pondok, menemukan makhluk-makhluk astral yang akan mengganggu.


Setelah mendatangi tempat mandi para santri dan tak menemukan sesuatu di sana, kyai Sarwa memutuskan mengajak Madi, menuju dapur pondok. Mungkin di sana, ada petunjuk lain yang bisa ditenukan.


Suasana pondok sendiri, masih dalam keadaan terkendali. Meski demikian Kyai Sarwa tak mau lengah. Dia, tetap menekankan pada Madi dan kawan-kawan, agar tetap waspada. Sehingga ketika Jaka menyerang, meteka sudah siap.


"Kyai, sepertinya dapur ini dulu pernah mereka tempati!" seru Madi, saat meka berdua baru saja memasuki tempat itu.


"Kau, benar, Madi. Makhluk seperti mereka memang sangat menyukai tempat seperti ini untuk beraktivitas."


Madi mengangguk, mengerti kalau makhluk tak kasat mata, sama seperti manusia. Mereka juga melakukan hal -hal yang dilakukan manusia. Terutama sebangsa jin. Mereka juga dapat berkembang biak.

__ADS_1


"Kyai, sepertinya masih ada yang tetap bertahan di sini!" Madi berseru, usai dikagetkan desiran udara dingin yang menghampirinya.


Kyai Sarwa pun tak memberi kesempatan pada makhluk-makhluk itu. Sebuah hijib, dibaca mereka berdua, mengurung makhluk tak kasat mata itu.


"Ampun ... ampun ... panas ...!" Suara makhluk iti terdengar merintih tak mampu menahan rasa panas dari hijib.


"Tampakkan wujud kalian, hai makhluk tak kasat mata!" Kyai Sarwa mulai membentak, meminta semua makhluk itu menampakkan wujudnya.


"Ampun ... jangan serahkan kami pada Jaka!" seru mereka berulang kali. Bersamaan dengan itu, muncul tiga sosok makhluk tak kasat mata menyerupai sosok laki-laki, perempuan dan anak kecil.


Ternyata mereka adalah arwah yang dipaksa untuk menjadi sekutu Jaka, padahal mereka tak ingin. Mereka hanyalah arwah tersesat, tewas karena kecelakaan beberapa waktu yang lalu.


"Kalian, boleh pergi, kalau tak ingin bergabung dengan Jaka. Jangan bersembunyi di sini!"


"Ampun ... Kyai! Tolong bebaskan kami. Kami, tak ingin berlama-lama di sini!"


Ketiga makhluk tak kasat mata itu lalu meminta kyai Sarwa untuk mendoakan mereka agar segera pergi dan arwah mereka tak terkatung-katung dan dimanfaatkan dengan keji oleh manusia keji seperti Jaka.


Ketiga makhluk tak kasat mata itu mengangguk, mengucapkan terima kasih dan segera menghilang. Kyai Sarwa telah berjanji untuk mendoakan mereka, semoga saja arwah itu bisa tenang.


"Untuk sementara sudah cukup kita berkeliling hari ini, Madi! Kita lebih baik konsentrasi, mempertebal pagar gaib di aula dan tempat istirahat para santri saja!"


Mendengar ucapan kyai Sarwa, Madi mengangguk, mengikuti langkah gurunya, menuju rumah. Perkataan kyai Sarwa memang benar, Jaka pasti sedang merencanakan sesuatu yang sangat berbahaya dan melibatkan banyak makhluk gaib untuk membantunya.


Setelah kejadian tadi siang, kyai Sarwa lebih banyak berdiam diri di musalah atau di rumah. Berzikir, mempertebal iman dan terus mengasah hijib, penakluk makhluk-makhluk gaib, sekutu Jaka.


Arwah-arwah tersesat, karena korban kecelakaan atau penyebab lain, segera didoakan kyai Sarwa, sehingga lapang jalannya menuju Sang Khalik. Tak bisa dimanfaatkan oleh Jaka maupun nenek bungkuk.

__ADS_1


Beberapa kali kyai Sarwa masih berkeliling mencari makhluk gaib yang mungkin akan menimbulkan kekacauan di sekitar pondok. Namun sepertinya mereka memang bersembunyi di suatu tempat, menunggu saat yang tepat untuk bergerak.


Madi juga terus mengiringi kyai Sarwa, mencari makhluk-makhluk gaib yang mungkin masih bersembunyi, takut untuk dijadikan sekutu oleh Jaka. Namun, sudah beberapa hari ini, kondisi pondok tetap bersih dan berjalan seperti sedia kala.


Malam hari, para santri juga terus mengaji, bergantian, memohon perlindungan dari Allah. Selain itu, murotal juga diperdengarkan dan diputar hampir seluruh santri.


Kondisi kondusif seperti ini, sebenarnya membuat resah kyai Sarwa dan Madi. Mereka sulit menebak, rencana Jaka selanjutnya. Apalagi mengetahui waktu penyerangan mereka.


Namun seperti yang sudah-sudah, mereka selalu melakukan salat tahajud dan istikharah, meminta Perlindungan dan petunjuk pada Allah. Sehingga mereka bisa mengantisipasi serangan Jaka.


Doa dan permintaan kyai Sarwa dan Madi dijawab Allah juga. Satu hari sebelum penyerangan Jaka, kyai Sarwa dan Madi mendapat furasat. Melihat pergerakan dan aura negatif banyak makhluk tak kasat mata di suatu tempat melalui mata batin.


Banyak sekali jumlah makhluk-makhluk itu. Madi sampai merinding. Tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi, ketika semua makhluk gaib itu menyerang mereka.


"Apa yang harus kita lakukan, Kyai? Jumlah mereka sangat banyak?" Madi bertanya, menatap kyai Sarwa dengan sorot mata penuh kekhawatiran.


Wajar saja, Madi cemas. Jumlah mereka kalah banyak dibandingkan sekutu Jaka. Pasti, akan sangat repot dan kewalahan menghadapi makhkuk-makhkuk itu.


"Kyai bisa merasakan kekhawatiranmu. Ndak usah cemas. Kyai sudah meminta pertolongan kyai Senta. Mudah-mudahan nanti malam, beliau sudah sampai!"


"Syukurlah, Kyai. Madi lega mendengarnya."


Kyai Sarwa ikut merasa lega juga. Kemampuan kyai Senta, boleh dikatakan sebanding dengan dirinya. Sehingga bisa memperkuat pertahanan, menghadapi serangan Jaka. Kali ini, mantan muridnya ini tak boleh dikasih kelonggaran lagi. Pergerakannya harus segera dihentikan.


"Agar para santri tak terkena bahaya, besok malam, sekepas salat isya, semua dikumpulkan di aula. Mengaji dan beristirahat di sana. Jangan lupa, siapkan juga asupan makanan dan minuman!"


'Baik, Kyai. Nanti Madi akan bekerjasama dengan Bayu dan ustad Amir. Mereka akan membantu, menggerakkan para santri yang lain."

__ADS_1


Madi menjawab perintah kyai Sarwa. Mengutarakan pergerakan yang akan ia lakukan besok. Kyai Sarwa pun menyetujui tindakan yang akan dilakukan Madi besok.


Mereka juga harus bertindak cepat dan tak boleh ceroboh. Harus lebih berhati-hati. Banyak santri yang harus dijaga.


__ADS_2