
“Sebaiknya serahkan saja, roh perempuan hamil itu, kalau tidak ingin diteror terus!” Demit perempuan mulai membuka komunikasi. Wajah cantiknya terlihat memucat dan bertambah mengerikan.
Benar-benar aura iblis. Tatapannya begitu dingin menghujam jantung.Jika tidak memilik nyali yang cukup kuat pasti akan lari ketakutan.
Madi bukannya takut malah balas menggertak. “Jika urusannya sudah beres, ia akan kembali kepada Sang Pencipta, tidak akan tersandera di sini. Sebaiknya katakan pada tuanmu agar segera mengakhiri perbuatan kejinya. Mencari tumbal untuk memenuhi napsu dunianya.”
Demit itu kembali tertawa keras. Tubuhnya melayang, tapi tidak mampu mendekati Madi. “Tunggu saja, pasti kau juga tidak akan bisa bertahan, anak manusia. Tuan kami lebih sakti darimu!”
Madi hanya melengos mendengar ucapan demit bertaring panjang itu. Dalam hati laki-laki muda itu tetap berzikir, tidak ingin memberi celah sedikit pun.Walaupun menahan geram, ia makin gencar membaca rapalan doa untuk mengusir dedemit itu. Jika
dibiarkan terlalu lama, Madi bisa keletihan dan tidak bisa beraktivitas normal besok.
“Tidak usah banyak bicara, pergilah ! Kembali ke asalmu!” Usai membentak, Madi mengeluarkan seluruh tenaga sambil terus berzikir, memukul demit bertaring itu, agar segera kembali ke pohon tua.
Seperti malam-malam yang sudah, malam ini pun Madi bisa mengatasi serangan makluk tak kasat mata itu. Sosok misterius yang menyetir makhluk-makhluk itu juga tidak melakukan perlawanan berarti. Mungkin saja dia memiliki rencana jahat lain. Madi harus lebih berhati-hati mulai sekarang.
Keesokan harinya, saat menyiapkan dagangan berupa sayur-sayur, Madi mengungkapkan niatnya pada Aulia untuk
berkunjung ke pondok pesantern tempat ia mondok dulu. Mengunjung kyai Sarwa, yang dulu sering membimbing Madi saat menimba ilmu di sana. Rencana Madi, Aulia
akan dititipkan sementara di tempat orang tua Aulia.
Awalnya, Aulia merasa sangat keberatan, karena rumah akan ditinggal cukup lama. Paling tidak seminggu. Itu akan membuat penghuni pohon tua itu semakin merajalela. Itu yang dikhawatirkan Aulia.
Belum lagi kios tak akan bisa beroperasi seperti biasa, padahal berdagang sayur adalah satu-satunya mata pencaharian mereka.
“Kang, nggak apa-apa, rumah ditinggal cukup lama. Lagi pula kalau rumah kosong, apa makhluk-makhluk itu nggak akan semakin leluasa? Lagi pula lumayan repot kalau pulang ntar, harus ngebersihannya lagi.”
__ADS_1
Madi bisa mengerti perasaan cemas Aulia, isterinya. Apalagi, apa yang diucapkannya benar sekali. Namun, Madi berusaha menenangkan Aulia untuk tdak terlalu takut.
“Nggak usah takut, Dek. Rumah tetap Akang pasang pagar gaib dan akan selalu akang pantau dari jauh. Lagi pula ada arwah perempuan hamil itu. Sedikit banyak dia akan membantu menjaga rumah.”
Aulia mengangguk. Perasaan khawatir yang tadi sempat hadir, perlahan mulai mencair. Dia percaya, kalau suaminya itu akan terus berusaha melindungi dirinya dan rumah ini. Lagi pula, Madi akan meminta bantuan Kyai Sarwa, yang juga terkenal bisa menghancurkan kekuatan makhluk-makhluk astral dan manusia yang memanfaatkan kekuatan mereka untuk tujuan yang tidak baik.
"Gimana dengan kiks, Kang? Apa dibiarin kosong?"
Madi menatap lembut Aulia. Tidak bisa dipungkiri, memang hal ini juga yang menjadi pertimbangan paling berat saat memutuskan untuk mengunjungi kyai Sarwa di pondok.
"Soal rejeki, kita serahkan pada Allah ya, Dek. Semoga setelah semua permasalahan ini, kios kembali bisa dibuka." Aulia mengangguk perlahan.
“Kapan, Akang, mau berkunjung ke pondok pesantren?” tanyanya sambil mempersiapkan semua keperluan dagangan. Sebentar lagi fajar tiba.
“Secepatnya, Dek. Lebih cepat, lebih baik. Jadi, kita bisa terhindar dari teror sosok misterius dan makhluk penghuni pohon tua ini.” Madi mengungkapkan keinginannya.
“Kalo gitu, nanti sore, Akang antar Adek ke rumah bapak. Besok pagi, baru berangkat ke pondok dari rumah bapak.” Madi menyetujui usul Aulia. Dia mengangguk, sebuah senyum kecil terlukis di bibirnya.
“Tapi, Kang. Adek amankan di rumah, Bapak? Nggak akan ada kan gangguan seperti di rumah kita ini?” Pertanyaan Aulia sedikit mengagetkan Madi. Jujur, ada terselip sedikit
kekhawatiran di hati laki-laki itu. Lagipula Aulia juga dalam keadaan hamil muda. Tentu saja makhluk-makhluk itu pasti akan bisa mengejar Aulia, walaupun dia berada cukup jauh dari sini.
“Iya, aman, Dek. Kita serahkan saja semua pada Allah. Adek juga nggak boleh lalai, dan melupakan salat atau mengaji. Pokoknya harus tetap fokus, jangan suka melamun.”
Aulia hanya mengangguk mendengar nasihat Madi. Sebagai manusia normal yang tidak memiliki kemampuan khusus seperti suaminya, memiliki rasa cemas, itu wajar saja. Apalagi menurut suaminya, teror makhluk-makhluk tersebut sangat menakutkan. Bahkan mereka ingin mengambil nyawa Aulia.
Aulia hanya bisa berharap, usaha Madi, suaminya dapat mengusir bahkan menghancurkan kekuatan semua penghuni pohon tua yang sudah sering meresahkan warga di sekitar. Kemudian bisa mencegah orang-orang yang berpikiran musrik untuk tidak melakukan ritual pemujaan dengan memberikan banyak sajen di bawah pohnn tua itu.
__ADS_1
“Iya, Kang. Adek berharap, teror makhluk-makhluk itu bisa segera diatasi. Kasihan juga, kalau nanti ada lagi perempuan hamil yang akan menjadi korban. Adek juga kan bisa terhindar dari incaran sosok misterius yang
mengendalikan makhluk-makhluk itu.”
Madi tertawa kecil mendengar ucapan istrinya itu. Sedikit jahil dia mencolek dagu sang isteri, kemudin mencubit pipinya yang mulai berisi.
“Akang, jahil, ah!” jerit Aulia pura-pura marah. Madi tambah tertawa keras melihat kelakuan Aulia. Rasanya puas sekali dia bisa menjahili
Aulia, isterinya.
“Ya, udah, Dek. Siap-siap salat, dulu. Baru kita sarapan, terus ke pasar. Mudah-mudahan, hari ini rejeki kita banyak. Jadi, bisa buat persiapan. Kan, kita nggak bisa jualan selama
seminggu ini.”
Aula mengangguk, mengaminkan doa Madi. Memang benar, kata suaminya tadi. Mereka perlu persiapan untuk bisa memenuhi kebutuhan selama seminggu ke depan.
“Iya, Kang. Amin.”
Madi tersenyum, girang karena Aulia mengerti dan mendukung rtencananya Mudah-mudahan saja, kondisi Aulia
tetap bagus, jadi tidak muidah terkena serangan makhluk-makhluk penghuni pohon
tua itu, terutama dedemit perermpuan cantik bertaring panjang itu.
Sepasang suami isteri pun melenggang ke kamar mandi, membersihkan diri, mengambil wudhu, sebelum menghadap Allah, Sang Pemilik Kehidupan. Mereka pun melakukan kewajiban dengan khusuk. Meminta semoga apa yang mereka rencanakan dapat ridho dari Allah, dan selalu mendapat perlindungan.
Ketika selesai salat, mata batin Madi seperti menangkap gerakan dari sosok mistrus itu. Sepertinya, dia juga mempersiapkan sesuatu.
__ADS_1