Penghuni Pohon Tua

Penghuni Pohon Tua
Masih dalam Perjalanan


__ADS_3

Geraman kasar terdengar dari makhluk itu merasa tak nyaman karena usahanya mendapat perlawanan. Berulang kali mencoba, tapi serangannya selalu mental. Madi  perlahan sudah bisa mengatasi serangan makhluk tersebut.


Sepasang tangan itu hanya bisa menjangkau leher Madi saja, tanpa bisa mencekiknya.Sejurus kemudian Madi membaca hijib yang ia pelajari dari kyai kemarin,untuk mengetahui makhluk astral seperti apa yang telah menyerangnya tadi. Ternyata penampakan makhluk tersebut sangat mengerikan wujudnya tinggi besar, dengan mata merah menyala  seperti  warna darah.


Jin itu sedang menatap Madi dengan penuh kemarahan, merasa tidak mampu mencelakai. Madi pun mengorek keterangan maksud mahluk itu menyerangnya, karena Madi merasa tidak melakukan kesalahan apa pun yang menyebabkan mahluk itu menjadi marah.


“Mengapa kau menyerangku, hai, makhluk tak kasat mata?”  Madi bertanya sambil tetap berzikir.


Makhluk itu tersenyum mengejek memamerkan sepasang taring di sela giginya. Melihat perlakukan makhluk itu, Madi menjadi jengkel, terus bersiap melancarkan pukulan, mengusir jin itu jauh-jauh, agar tidak mengganggu lagi.


“Aku adalah salah satu jin yang berkuasa di daerah ini,” sahut makhluk itu masih tetap memandang Madi dengan matanya yang merah. “Auramu membuat kami terusik saat melintas daerah ini.”


“Tapi, aku tidak bermaksud  mengganggu ketentraman kalian,” sergah Madi . Jin itu tak langsung membalas ucapan Madi, malahan sibuk memamerkan taringnya yang kelihatan sangat tajam dan menjijikkan.


“Bagaimanapun, kami sudah terusik, jadi, kau harus menerima akibatnya!” seru jin itu lalu mengirimkan serangan. Madi menjadi geram. Seharusnya mereka tak saling mengganggu, apalagi berbeda alam seperti ini.


Madi tak lagi mencoba mengajak komunikasi dengan jin itu. Memang betul, jika berhadapan dengan makhluk astral seperti ini, lebih baik dipukul saja sebelum mencelakai nantinya


Jin itu terdorong sedikit, saat pukulan Madi mengenainya, menimbulkan pekik kemarahan. Matanya semakin melotot,


menatap Madi dengan sadis, seakan ingin ******* tubuh Madi. Sementara, Madi


tetap tenang, menunggu serangan balasan jin tersebut.


Pak Parman maupun kyai Sarwa masih tetap dengan posisi masing-masing, tidak merasakan serangan tersebut. Kyai Sarwa tiba-tiba berbisik, agar Madi berhati-hati. Ternyata, beliau juga menyadari serangan jin bermata seperti merah darah itu. Madi mengangguk, mendengar bisikan kyai Sarwa, yang terbangun sejenak saat merasakan hawa negatif begitu kuat melingkupi sekitar mereka.

__ADS_1


Jin itu terus saja mengejek, berusaha membuat Madi marah, sehingga kehilangan konsentrasi. Namun, beruntungnya Madi tidak terpancing sedikit pun. Malahan, dia semakin memusatkan perhatian, agar tidak lengah saat mendapat serangan dari makhluk astral


tersebut.


“Sudahlah, tidak ada gunanya menghalangi perjalanan kami. Lebih baik menyingkir saja!” Kembali Madi menggertak. Jin itu hanya melengos, tak menggubris gertakan Madi, malah terus menyurutkan semangat Madi dengan memperlihatkan ekspresi mengejek.


Untuk sepersekian detik , emosi Madi sempat tersulut, tapi, seperti mengetahui apa yang terjadi, tiba-tiba saja kyai Sarwa berdehem, membuat Madi sadar akhirnya. Bergegas ia


kembali konsentrasi dan bersiap membentengi diri dan mengusir jin itu dengan semua amalannya.


Sementara kyai Sarwa terlihat masih tertidur pulas, tapi Madi yakin kalau sang kyai pasti tetap memantau pergerakan Madi setiap saat. Buktinya tadi, ketika konsentrasi Madi hampir


ambyar, kyai Sarwa membantu dengan mengingatkannya.


Makhluk tak kasat mata itu, semakin geram, apalagi melihat ada campur tangan pihak lain yang ingin menggagalkan rencananya. Jin itu pun tak lagi membuang waktu dan terus


Setelah berjuang beberapa lama, akhirnya jin itu berhasil juga dikalahkan, berlari menuju tempat yang sangat juh. Madi telah melemparkan jin itu ke gunung, di mana manusia sangat jarang berada di sana, sehingga tak akan banyak mengganggu lagi.


Kyai Sarwa menggeliat, bangun, sesaat, setelah Madi berhasil memukul jin itu. Wajahnya tampak benar-benar baru tertidur pulas. Sambil tersenyum, kyai Sarwa menyapa Madi dan menanyakan bagaimana keadaannya sekarang. Madi hanya mengatakan kalau keadaannya baik-baik


saja. Kyai Sarwa mengangguk dan kembali mengalihkan pandangannya ke depan.


Sebentar lagi, mereka akan tiba di pondok. Pemandangannya pun sudah banyak melewati rumah-rumah penduduk.


Meskipun berada di daerah pegunungan, tapi di sekitar piondok, banyak perkampungan yang dilewati.

__ADS_1


“Madi, hari ini, mungkin sudah banyak pengalaman yang bisa kau petik. Gangguan makhluk tak kasat mata seperti jin itu bisa terjadi kapan saja.” Madi mengangguk, mendengar ucapan kyai Sarwa. Memang betul sekali, jin tidak akan mengenal waktu menggoda manusia dan selalu berupaya agar manusia selalu takluk.


Pak Parman masih dengan santa menyetir mobil, dan tak menggubris obrolan kyai Sarwa dan Madi. Sepertinya dia paham betul untuk tidak mencampuri urusan yang dia tak mengerti. Sementara itu, gerbang pondok sudah kelihatan, dan mobil pun melaju memasuki pondok.


Aktivitas masih berjalan seperti biasa. Para santri sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, belajar dalam ruang kelas.


“Terima kasih, Parman. Alhamdulillah,


kami sudah sampai dengan selamat.” Pak Parman tersenyum, sembari mengangguk.


Pria itu kemudian turun dari dalam mobil. Mengikuti kyai Sarwa dan Madi menuju rumah, bermaksud berisirahat sejenak. Madi pun segera beranjak menuju dapur, menyalakan kompor dan membuat 3 gelas kopi untuk menghangatkan badan.


Madi menghela napas, ketika dalam pikirannya tiba-tiba terlintas bayangan Jaka. Masih ada satu urusan lagi yang harus ia selesaikan di pondok, sementara ia sudah rindu dan mengkhawatirkan keadaan isterinya, Aulia.


Sebenarnya ia, ingin pulang lebih dahulu, sekedar menjenguk istreinya, tapi, ragu, apakah akan diperbolehkan kyai Sarwa apa tidak. Kondisi pondok sendiri dalam keadaan kurang baik, karena Jaka sudah bersiap-siap menyusun kekuatan.


Agar tak membuat kyai Sarwa bertanya-tanya, Madi segera menyelesaikan pekerjaannya dan membawa 3 gelas kopi hangat ke ruang tamu. Setoples kue kering ia ikutkan juga, tadi masih ada dalam lemari.


“Kyai, Pak Parman, dilahkan diminum, mumpung masih hangat!” Madi mempersilahkan mereka untuk minum. Pak


Parman pun segera menyeruput kopi itu  untuk menghilangkan dingin dan kepenaan akibat perjalanan tadi.


Meskipun hanya memakan waktu sekitar 2 sampai 3 jam, api itu cukup melelahkan, apalagi malam tadi, tenaga pak Parman juga pasti ikut terkuras menjaga isterinya.


“Terima kasih, Madi,” ucap pak Parman, masih terus menyeruput kopinya. Sesekali ia mencelupkan roti kering ke dalamnya. Pak Parman masih mengobrol dengan kyai, sesekali diselingi Madi.

__ADS_1


Kurang lebih hampir satu jam lamanya. Hingga kemudian, pak Parman pamit, pulang, karena masih ada beberapa pekerjaan yang telah menunggu. Maklum, beliau adalah salah seorang kontraktor yang cukup terkenal, memiliki beberapa proyek.


__ADS_2