Penghuni Pohon Tua

Penghuni Pohon Tua
Mulai lagi


__ADS_3

Setelah berhasil mengatasi gangguan makhluk halus suruhan Jaka, malam ini kyai Sarwa dan Madi bisa beristirahat dengan cukup. Suasana di pondok pun terlihat tenang. Sementara itu, keadaan Aulia di kediaman orang tuanya pun kelihatannya baik-baik saja. Aulia sudah mulai bisa beradaptasi dengan kepergian Madi. Sudah lebih dari seminggu, Madi meninggalkannya, mengunjungi kyai Sarwa di pondok.


Gangguan berupa panggilan-panggilan menyerupai suara Madi, tak lagi bisa mengelabuinya. Apalagi, dia selalu mengamalkan bacaan yang diberikan Madi sebelum berangkat ke pondok.


Namun, sosok Nang, masih sering mengawasi rumah orang tua Aulia. Memang, laki-laki muda, cucu nenek bungkuk itu, hanya mampu melihat Aulia dari kejauhan saja, memperhatikan gerak-gerik Aulia. Entah, apa yang berada dalam pikiran cucu nenek bungkuk itu, sehingga hampir setiap saat selalu mengintip gerak-gerik Aulia.


Seperti pagi ini, dari balik sebuah pohon besar yang berada di seberang rumah orang tua Aulia, Nang melihat Aulia  sedang duduk di teras, menghirup udara pagi dengan santai.Cuaca memang terlihat sangat cerah, semilir angin terasa begitu sejuk, seiring dengan mulai bergeraknya matahari dari ufuk timur.


“Lia, jangan terlalu lama duduk di teras!” Terdengar ucapan ibu Aulia dari dalam.


“Iya, Bu. Lia hanya sebentar saja, setelah itu menyapu halaman,” jawab Aulia, sembari memperhatikan keadaan sekeliling. Daun-daun yang berasal dari pohon mangga di


bagian sisi kiri rumah, banyak berserakan di halaman. Dengan kondisi angin yang cukup kencang subuh tadi, menyebabkan daun-daun banyak yang berguguran, memenuhi halaman.


Merasa sudah cukup beristirahat , Aulia pun menuju halaman, mengambil sapu lidi di pojok teras, lalu mulai menyapu


halaman dengan perlahan. Kondisi tubuhnya yang sedang berbadan dua, membuatnya


lebih mudah lelah. Nang, yang berada di seberang jalan, masih terus memperhatikan Aulia. Beruntungnya, dia hanya memperhatikan, dan tak mengganggu Aulia.


Setelah menyapu halaman, beberapa saat Aulia menatap ke seberang jalan, merasa seperti ada yang memperhatikan. Berkali-kali, Aulia menatap ke arah pohon di seberang jalan itu, meyakinkan diri apakah ada atau tidak seseorang  yang sedang memperhatikan dirinya.


Setelah yakin tak ada yang orang yang mengawasi dirinya, Aulia segera menyelesaikan pekerjaannya dan segera

__ADS_1


masuk ke rumah. Perasaannya tiba-tiba tak enak. Ada sesuatu hal tiba-tiba membuatnya merinding. Ternyata, bersama Nang, kini berada makhluk tak kasat mata, yang berasal dari penghuni pohon tua itu, menemani Nang.


Ada sepasang kakek nenek cebol berwajah menyeramkan yang masih menaruh dendam karena tak bisa merusak pagar gaib di rumah Madi. Selain itu, masih ada beberapa makhluk astral lain yang memang berasal dari daerah sekitar tempat tinggal orang tua Aulia.


“Biarkan saja dia untuk sementara!” ucap Nang sambil menatap kumpulan makhluk tepung itu.


“Iya, kita akan tunggu waktu yang tepat. Sekarang, pagar gaib yang dipasang suaminya masih cukup tebal,” jawab kakek cebol berwajah seram itu. Sebenarnya dia ingin menyamar menjadi seorang kakek pengemis yang minta sedekah, tapi, karena masih ada pagar gaib yang melindungi Aulia dan kedua orang tuanya, makhluk astral seperti mereka akan merasa kepanasan berada dalam rumah Aulia.


Nang mengangguk, mengamati kepergian Aulia, masuk ke dalam rumah. Pagi ini, dia hanya ingin memperhatikan gerak-gerik Aulia saja, sambil menunggu waktu yang tepat agar bisa masuk ke sana.


Di salah satu tempat di pondok, Kyai Sarwa dan Madi berjalan mengelilingi beberapa bangunan, sembari mencari lokasi Jaka berada. Dia pasti berada di suatu tempat yang sudah dibentengi dengan hawa negatif yang begitu tebal, agar tak mudah ditemukan.


“Kyai, apa mungkin Jaka akan memanfaatkan para santri untuk mengacau?” Madi bertanya sesaat setelah mereka mulai berjalan meninggalkan rumah.


“Kemungkinan besar, iya, Madi. Lebih cepat kita memberitahu mereka, itu lebih baik. Jadi, para santri dan ustad  yang kira-kira menjadi sasaran Jaka, bisa kita lindungi!”


Madi mengangguk-angguk, sangat setuju dengan pendapat kyai Sarwa. Itu adalah tindakan yang tepat, agar nantinya tak akan banyak korban yang jatuh, kesurupan atau ketakutan karenavdiganggu oleh makhluk usil dan jahat yang akan disuruh Jaka.


“Iya, Kyai. Sebaiknya kita sekarang ke asrama saja. Di sana, banyak santri yang akan bersiap-siap menjalani kegiatan hari ini.” Kyai Sarwa setuju dengan saran Madi. Mereka berdua bergegas melangkah menuju asrama para santri yang letaknya sekitar limaratusan


meter.


Sepanjang perjalanan menuju asrama, tiba-tiba saja penglihatan mata batin Madi menangkap sesuatu di sekitar asrama. Hanya saja hasil penglihatannya masih samar. Belum tau dengan pasti, makhluk apa yang berada dalam penglihatannya tadi.

__ADS_1


Hawa negatif tiba-tiba saja hadir di sekitar mereka, membuat keadaan menjadi kurang nyaman. Madi berpaling ke arah kyai Sarwa, memperhatikan raut wajahnya yang terlihat datar. Apa kyai Sarwa tak merasakan perubahan ini ya? Batin Madi.


Sementara bayangan yang tadi dilihat oleh Madi seperti berhenti, tak melanjutkan kembali pergerakannya. Sepertinya, sesuatu yang dilihat Madi tadi hanya ingin mengamati kondisi mereka saja.  Hawa negatif yang tadi


menyelimuti, perlahan mulai memudar. Tampaknya, sosok itu mulai menjauh.


“Apa, Kyai tadi merasakan ada sesuatu yang mengawasi gerak-gerik kita?” Penasaran, Madi bertanya sambil tetap berjalan dengan langkah yang cukup lebar. Kyai Sarwa, tak  segera menjawab pertanyaan Madi. Laki-laki


tua itu, hanya terus berjalan, mencoba mengimbangi jalan Madi yang semakin cepat.


Melihat kyai Sarwa yang mulai kewalahan mengikuti langkahnya, Madi memperlambat jalan. Namun, tindakan Madi bukannya membuat langkah kyai Sarwa melambat, malah tetap normal seperti tadi.


“Iya, Kyai merasakannya juga. Mereka belum berani bergerak sekarang. Kekuatan Jaka belum terlalu kuat, Madi. Dia masih menunggu datangnya bala bantuan!”


Madi menghela nafas panjang dari hidung, lalu membuangnya perlahan-lahan dari mulut. Perasaan khawatir begitu menyesakkan dada. Kepergiannya ke pondok ini ternyata melebihi perkiraan semula. Seharusnya, saat ini ia sudah kembali ke rumah orang tua Aulia dan


selanjutnya menyelesaikan pekerjaannya, mengusir semua makhluk penghuni pohon


tua itu, memotong  pohon tua itu, sehingga


tidak akan bisa lagi mengganggu.


Namun, kenyataannya, malah persoalan yang dia hadapi  sekarang bertambah dengan gangguan dari Jaka dan makhluk-makhluk gaib yang jahat dan suka menggoda manusia. Permasalahan yang dia sendiri tak tahu awal mulanya, penyebab kenapa Jaka ingin mengusik ketenangan di pondok.

__ADS_1


__ADS_2