Penghuni Pohon Tua

Penghuni Pohon Tua
Bayangan Misterius


__ADS_3

Satu persoalan telah diselesaikan, pak Parman pun telah kembali ke rumahnya. Tinggallah Madi dan kyai Sarwa, menghadapi satu permasalahan lain. Jaka, sepertinya telah membunyikan genderang perang, meskipun masih sembunyi, belum berani terang-terangan.


“Madi, sebaiknya, segera persiapkan dirimu. Kita sisiri bagian selatan pondok. Sepertinya, ada sesuatu yang mencurigakan di sana!” Tiba-tiba saja kyai Sarwa mengajak Madi,


padahal dia ingin beristirahat sebentar, setelah tadi cukup menguras energi melawan jin yang tinggal di sekitar hutan, tepatnya perebunan karet yang ada di sepanjang jalan.


“Baik, Kyai. Sekarang, Kyai?” Madi bertanya, seraya membereskan gelas kosong yang tadi berisi kopi.


“Iya, sekarang. Tapi, bereskan dulu semua gelas-gelas itu. Ndak baik, masih berserakan!” Madi menurut, membawa gelas-gelas kosong dan segera mencucinya. Sedangkan kyai Sarwa masuk ke dalam kamar  menukar sorban yang tadi malam dipakainya dengan yang bersih.


“Madi sudah siap, Kyai,” ucap Madi setelah selesai dengan pekerjaannya tadi. Kyai Sarwa mengangguk dan bergerak terlebih dahulu menuju pintu. Madi mengikuti langkah pemimpin pondkk pesantren itu.


“Sepertinya ada seseorang yang tengah bersembunyi di sana, Madi!” seru kyai Sarwa, sesaat mereka berjalan meninggalkan rumah. Madi memandang wajah kyai Sarwa.Tercengang. Tak menduga, kalau mata hati kyai tersebut maih sangat tajam. Madi saja tidak menyadari ada seseorang yang sedang bersembunyi di bagian selatan pondok.


“Apa, Kyai tau siapa dia?” Madi bertanya sembari mencoba menajamkan penglihatan mata batinnya.


“Kyai ndak tau pasti, Madi. Hanya saja, orang ini cukup berbahaya. Banyak sekali hawa negatif yang melingkupi sekitarnya.” Kyai Sarwa mendesah. Madi bisa merasakan ada


khawatiran terpancar dari nada bicaranya.


“Kalau begitu, kita harus segeramemastikan , apa maksud orang itu masuk dan bersembunyi di pondok, Kyai!” ucap Madi perlahan. Madi sendiri tak bisa membayangkan akibatnya, jika membiarkan


orang itu berkeliaran di pondok. Bisa saja nantinya akan menimbulkan kekacauan. Apalagi, jika orang misterius itu adalah kaki tangan Madi.

__ADS_1


Kyai Sarwa tidak berkata apa-apa lagi, hanya mengangguk saja, menanggapi ucapan Madi. Di bagin Selatan pondok, memang terletak bangunan-bangunan yang tidak terlalu sering dikunjungi santri, karena banyak terdapat bangunan berisi peralatan pesantren. Juga


bangunan berisi logistik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari  penghuni pondok.


Memang nantinya akan dibangun beberapa sarana pendukung pondok di sana. Namun, karena pembangunannya bertahap, jadi lahan kosong  masih cukup luas.


“Kyai, sepertinya orang itu memang tidak bermaksud baik. Madi merasakan auranya yang jelek." Kyai Sarwa mengangguk setuju.


“Benar sekali, Madi. Kyai juga bisa merasakan hal itu."


“Kalau begitu, kita harus bergegas, Kyai. Sepertinya, orang itu tau kita akan menuju ke sana!” Madi memperingatkan kyai Sarwa, yang terus tampak sibuk membaca doa di sepanjang perjalanan. Dari  tempat mereka berada sekarang menuju ke selatan cukup jauh, bisa memakan waktu kurang lebih 105


menit.


Madi dan kyai Sarwa pun segera mempercepat langkah mereka, dan tak lagi bercakap-cakap. Udara di sekitar mulai


Madi sebenarnya ingin berhenti beberapa saat, melihat Jaka yang juga tengah memperhatikan mereka. Perasaan Madi  menjadi tak enak setelah melihat Jaka berdiri di ujung asrama santri. Sepertinya. dia sedang menyembunyikan sesuatu. Entah, apa itu.


“Madi, coba lihat, Jaka. Ada sesuatu yang ganjil berada di belakangnya!” Kyai Sarwa berkata seraya menunjuk ke arah Jaka. Refleks, Madi melihat ke arah yang ditunjuk kyai Sarwa tadi. Benar saja, di belakang Jaka, seperti ada  bayangan hitam, begitu isterius.


“Apa itu, Kyai?” tanya Madi penasaran. Kyai Sarwa menggeleng, juga merasa tidak yakin dengan bayangan hitam itu.


“Apa mungkin, Jaka telah bersekutu dengan makhluk-makhluk astral dari dimensi lain, Kyai?” tanya Madi lagi. Benar-benar penasaran. Kyai Sarwa tak menjawab pertanyaan Madi. Malah memperingatkan Madi, untuk terus berjalan saja, jangan memperdulikan Jaka dulu untuk  sementara waktu.

__ADS_1


Madi menurut saja. Namun, kakinya tib-tiba  susah melangkah. Seperti ada sepasang tangan yang memegang kedua pergelangan kakinya. Dengan geram, laki-laki itu membaca hijib untuk membebaskan kakinya dari genggaman sepasang tangan yang usil itu. Siang-siang bolong seperti ini, kok mau ya, makhluk astral menggoda dan mengganggunya.


Sambil menghentakkan kaki kuat-kuat, Madi berusaha mengejar kyai Sarwa yang kini berada di depannya. Madi juga tak ingin menganggap enteng sepasang tangan itu. Pasti ini adalah salah satu jin ifrit yang kerjanya memang menggodak dan mengusik


manusia.


“Hai, Jin! Tak sepatutnya, kau mengganggu perjalananku!” Madi menegur jin yang berusaha menahan langkahnya.


Sepasang tangan yang merupakan penjelmaan jin yang dipelihara Jaka itu, hanya terkekeh, tak memperdulikan sedikit pun gertakkan Madi. Dasar  makhluk rendah, nanti kalau sudah terkena pukulan baru akan merengek agar segera dibebaskan,gerutu Madi dalam hati.


Kali ini, Madi benar-benar menjadi geram. Hijib yang dibacanya berulang sempt membuat jin itu terpental, menahan rasa panas akibat pukulan hijib Madi.Sementara Jaka dan bayangan hitam itu masih mengawasinya dari kejauhan.


Benar_benar nekat, jin ini. Dia masih terus berupaya menghentikan langkah Madi, seolah memang tidak menginginkan Madi mengikuti kyai Sarwa ke bagian selatan pondok.


“Sudah,  cukup!” gertak Madi. “Segeralah menjauh. Kalau tidak, jangan salahkan tubuhmu akan melanting kembali ke asalmu!: kembali Madi mengingatkan jin itu.


Bukannya takut, malah kembali jin itu tertawa keras.  Bayangan misterius yang berada di belakang  Jaka. Benar-benr di luar nalar. Bagaimana bisa seorang lulusan pondok pesantren ini mau bekerjasama dengan makhluk astral.


Jin yang ingin membut Madi terisolir dari kegiatan bermanfaat harus mau menuruti ucapannya baruan. Mengakibatkan Madi bingung, kenapa kok hanya  dia yang di serang. Sementara kyai Sarwa masih bisa melenggang bebas.


“Kyai, tunggu!” Akhirnya, Madi berteriak memanggil kyai. Beliau merasa ada sesuatu yang ganjil. Apalagi saat ini Madi diserang seasang tangan yang memiliki kekuatan cukup besar.


Mendengar teriakan Madi, kyai Sarwa pun segera berhenti, memutar tubuh menghadap Madi, yang telah tertinggal kurang lebih seratus meter. Madi lagi-lagi melihat seringai jahat di bibir Jaka. Benar-benar berubah dia sekarang.

__ADS_1


Kyai Sarwa akhirnya sadar kalau Madi mendapat serangan dari makhluk tak kasat mata. Siapa makhluk yang begitu nekat menyerang di pondok pesantren. Apalagi masih siang seperti ini.


Kyai Sarwa langsung menyerang sepasang tangan itu, jin yang sepertinya disuruh oleh Jaaka untuk menghalangi perjalanan mereka menuju bagian selatan pondok. Tidak berlangsung lama, akhirnya genggaman makhluk itu pun melemah dan akhirnya menghilang lari akibat mersa kepanasan terkena pukulan hijib dari sang Kyai.


__ADS_2