
Kyai Senta, Silo dan kyai Sarwa, masih duduk di ruang tamu, saat Madi pulang dari aula. Melihat keberadaan kyai Senta, Madi segera menjumpai salah satu tetua pondok itu.
"Bagaimana khabar, Kyai?" sapa Madi sembari mencium punggung tangan kyai Senta debgan hormat.
"Alhamdulillah, baik, Madi. Kelihatannya kau juga baik-baik saja," balas kyai Senta, menepuk lembut pundak Madi.
"Betul, Kyai. Sampai sejauh ini, keadaan Madi baik-baik saja."
Mereka berempat pun segera terlibat dalam percakapan yang hangat. Apalagi, setelah Madi diperkenalkan pada Silo, salah satu murid kyai Senta yang sebaya dengannya.
"Silo, ini, memiiliki kemampuan yang sama denganmu, Madi. Kalian bisa saling bertukar pengalaman!"
"Baik, Kyai," sahut Madi, memberikan senyum pada Silo.
Untuk sepersekian detik, mereka berdua saling berpandangan kenudian masing-masing memberikan senyum.
Obrolan hangat pun segera mengalir. Hingga tak terasa magrib telah tiba. Keempatnya bergegas mengambil wudhu dan berjalan ke musala. Malam ini, mereka akan menghadapi Jaka dan sekutu-sekutunya.
"Sudah lama jadi murid kyai Senta, Silo?" tanya Madi, usai salat magrib.
"Hampir tiga tahun," jawabnya sambil menyejajarkan langkah dengan Madi.
Selepas salat magrib, mereka sengaja pulang terlebih dahulu, untuk mengisi perut, karena selepas isya, akan langsung menuju satu tempat, dekat aula.
Ruangan yang tak terlalu besar, tempat di mana santri biasanya membicarakan sesuatu hal yang bersifat pribadi dengan ustad mereka. Ruangan di mana para santri meminta saran dan bimbingan pada ustad yang mereka mintai petunjuk.
Selepas salat isya, dari musalah para santri langsung menuju aula, tak lagi pulang ke asrama. Sesuai petunjuk kyai Sarwa. Tak ada raut kekhawatiran berkebihan di wajah mereka. Senua terkendali. Mungkin karena mereka merasa aman dan percaya pada kyai Sarwa.
"Madi, Bayu, Amir, coba periksa, apa semua santri dan penghuni pondok sudah berada dalam aula!"
__ADS_1
Merasa mendapat titah, ketiga orang itu segera beranjak, bergerak masuk ke dalam aula. Di sana memang sudah banyak berkumpul santri dan penghuni pondok lainnya.
Beberapa ustad, tampak hilir mudik, memeriksa apakah santri-santri sudah berada dalam aula. Sementara, para santri yang masuk, masih terus berdatangan.
Kurang lebih hampir setengah jam, Madi dan yang lainnya memeriksa dan memastikan kalau semua sudah berada dalam aula.
"Kang, sepertinya, semua santri dan ustad, sudah berada dalam aula!"
Madi mengangguk, membenarkan ucapan Bayu. Keadaan penghuni pondok pun sudah dalam posisi istirahat. Alas tidur, seperti matras sudah digelar. Begitu pula tikar dan kasur busa tipis . Selimut juga sudah dibagikan
Setelah memastikan segala sesuatunya berjalan lancar, Madi, memberi kode, pada semua santri, untuk mengaji, bergantian. Sehingga, bacaan ayat suci tak terputus.
"Ustad Amir dan Bayu, tinggal dalam aula saja!" ucap Madi mengingatkan keduanya. Sesuai dengan rencana yang telah disepakati dari awal, mereka berdua yang harus menjaga dan memelihara kondisi semua santri yang ada di aula supaya tetap tenang.
"Baik, Madi! Kami akan melakukan semampu yang kamii bisa!" kata ustad Amir tegas.
Madi mengangguk, puas dengan jawaban ustad Amir. Setelah saling menyemangati, akhirnya, Madi keluar dan melihat dari ekor matanya, pintu aula ditutup oleh Bayu dan ustad Amir.
"Alhamdulillah! Sudah Kyai," sahut Madi hormat.
Cuaca sekarang sudah bertambah dingin. Tiupan angin pun bertambah kencang kini. Suasana mencekam sedikit demi sedikit nulai terasa. Namun, dengan adanya alunan ayat suci Al-Quran dari aula, mampu menepis sejenak suasana mencekam itu.
"Kang, sepertinya, pasukan Jaka mulai bergerak!" seru kyai Sarwa. Wajah tuanya terlihat sedikit cemas.
"Benar, Sarwa. Jumlahnya pun tak sedikit. Mereka banyak sekali." Kakaknya, kyai Senta membenarkan penglihatan adiknya itu.
Merka berempat pun mulai menyusun formasi, duduk membuat lingkaran. Dengan brgitu mereka bisa saling membantu dan melindungi.
Tiupan angin semakin kencang. bersamaan dengan itu, bermunculan banyak sekali makhluk-makhluk tak kasat mata memasuki ruangan. Sebagian dari mereka mengelilingi aula, mencoba, menembus pertahanan yang telah dibuat kyai Sarwa dan kawan-kawan.
__ADS_1
Suara-suara gaduh, diperdengarkan makhluk-makhluk itu. Mencoba membuat mental penghuni pondok yang berdiam dalam aula jatuh. Sementara, alunan ayat suci Al-Quran masih terus mereka kumandangkan, membuat makhluk tersebut sedikit menjauh.
Sementara dalam ruangan tempatbkyai Sarwa dan yang lainnya berada, telah penuh sesak dengan berbagai macam nakhluk astral. Jin, pocong, kuntilanak, genderuwo, dan jenis lainnya berkerumun, menampakkan wujud jelek mereka.
"He ... he ..., tampaknya kau mendapat bala bantuan, Sarwa!" tiba-tiba saja kelebat nenek bungkuk sudah berada dalam ruangan.
"Sebaiknya, kau menyerah, nenek bungkuk. Bawa semua pasukanmu dari sini!" Kyai Sarwa berkata tegas, mengingatkan si nenek bungkuk.
Belum lagi musuh bebuyutannya ini menjawab, beberapa makhluk tak kasat mata itu mulai mendekati kyai Sarwa dan lainnya. Mencoba masuk ke dalam raga mereka berempat, agar kerasukan.
"Berani kalian masuk ke dalam badan kami, rasakan ini!" Sebuah pukulan hijib dikeluarkan kyai Sarwa. Disusul kyai Senta dan yang lainnya.
Madi menahan napas, tak pernah melihat makhluk tak kasat mata begitu banyak. Sungguh luar biasa memang Jaka ini. Benar-benar sudah menyatu hatinya dengan para iblis ini.
"Tak usah banyak omong! Terima saja serangan kami!" Kali ini si nenek bungkuk memimpin makhluk astral itu menyerang kyai Sarwa dan yang lainnya.
Ketika Madi, sibuk melayani sekutu-sekutu Jaka itu, sosok Nang tau-tau telah berada di hadapannya.
"Desh ...." Sebuah pukulan dari Nang yang tiba-tiba itu hampir saja mengenai Madi. Beruntung pukulan cucu nenek bungkuk itu meleset, sedik melenceng je sebelah tubuh Madi.
"Kau harus lebih berhati-hati, Madi!" ejek Nang.
Madi tersenyum lemah, tak membalas ucapannya. Dia sibuk mengelak serangan beberapa makhlus hakus yang ingin masuk ke dalam tubuhnya. Bacaan zikir, ayat-ayat dari beberapa surat terus dibacanya, memperkokoh pertahanan sekaligus menghalau makhluk tak kasat mata itu.
"Sudahlah, Madi. Menyerah saja, sekarang!" Lagi-lagi, Nang mencoba meruntuhkan nyali Madi.
Kali ini, Madi memberikan sebuah pukulan mengarah pada cucu nenek bungkuk yang selalu mengganggunya.
"Duar ...." Pukulan mereka beradu. Sama-sama mengeluarkan tenaga dalam. Pertarungan yang tak seimbang sebenarnya. Madi melawan Nang dan juga banyak makhluk halus, sekutu pemuda itu.
__ADS_1
Nang tampak surut beberapa langkah, Madi pun demikian. Hanya saja, posisi Madi lebih stabil dibandingkan Nang yang sedikit oleng.
Serangan yang ternyata senakin membangkitkan kemarahan Nang. Dia balik menyerang Madi. Kali ini, Nang tak mau lengah. Sekutunya terus membantu Nang, mencoba mengacaukan konsentrasi Madi. Sungguh menegangkan. Semoga Madi bisa bertahan.