Penghuni Pohon Tua

Penghuni Pohon Tua
Persiapan Kembali ke Rumah


__ADS_3

Madi berada di rumah mertuanya sekitar tiga hari. Setelah melihat keadaan kesehatan fisik dan mental Aulia terus membaik, akhitnya Madi dan Aulia memutuskan untuk kembali, pulang ke rumah mereka. Hal itu disampaikan Madi dan Aulia, pagi hari, setelah tiga hari kepulangan Madi.


"Maaf, Yah, Bu. Akang Madi dan Aulia ingin menyampaikan sesuatu," ucap Aulia perlahan. Sebuah senyum manis dan lembut bertengger di bibirnya.


"Ada apa Aulia?" ibunya yang bertanya


"Begini, Bu. Lia dan Akang Madi berencana untuk pulang besok, kalau Ayah dan Ibu tak keberatan."


Ayah dan ibu Aulia tampak merenung, seperti memikirkan sesuatu. Terlebih ibu Aulia yang sering merasa cemas dengan keadaan Aulia, putri satu-satunya.


"Apa kondisimu sudah benar-benar siap, Lia?"


"Lia sudah siap, Bu. Doakan saja keadaan Auiia semakin kuat." Aulia berusaha meredakan kekhawatiran ibunya.


"Iya, Bu Saya juga tak mungkin membiarkan Dik Aulia kenapa-kenapa." Madi menimpali, menegaskan pernyataan isterinya tadi.


"Sepertinya, mereka memang sudah harus pulang, Bu. Lama-lama di sini, nanti mereka berdua malahan kehilangan mata pencaharian."


Ibu Aulia mengangguk, tampak setuju dengan ucapan suaminya. Memang betul apa yang diucapkan ayah Aulia. Sudah cukup lama, kios anak dan menantunya itu tutup. Kalau dibiarkan terus tutup, pelanggan mereka akan lari Tentunya akan susah untuk mengumpulkan pelanggan lagi.


"Baiklah, Lia. Kalian boleh pulang. Tapi, dengan satu syarat. Kalian harus tetap waspada. Salat lima waktu jangan sampai tinggal. Dan satu lagi, kalian berdua harus segera menghubungi Ayah dan Ibu, kalau terjadi sesuatu!"


"Terima kasih, Bu. Lia akan ingat semua pesan Ibu!"


"Benar, Bu. Madi juga akan memeriksa dan mengawasi kondisi Dik Lia setiap saat."


Setelah mendengar ucapan kedua anak dan menantunya itu, kedua orang tua Aulia itu bertambah yakin untuk melepas kepulangan mereka. Mereka, yakin Madi akan mampu menjaga Aulia dengan baik.

__ADS_1


"Kalau kalian bersikeras untuk pulang, Ayah dan Ibu tak akan memaksa kalian tinggal lebih lama fi sini. Kalian boleh pulang besok."


"Makasih, Bu Lia janji, akan jaga kondisi Lia sebaik mungkin."


Ibu Aulia tersenyum, memeluk hangat putrinya. Mencoba melepas sang puteri dengan ikhlas.


Madi mengucapkan terima kasih atas izin yang diberikan ayah dan ibu mertuanya. Itu berarti, dengan restu yang mereka berikan, dia dan isterinya, Aulia akan lebih mudah menghadapi semua rintangan. Termasuk gangguan dari para penghuni pohon tua itu.


"Ya, sudah. Kalian, sarapan saja dulu. Setelah itu, beres-beres semua keperluan kalian untuk pulang besok."


Madi dan Aulia mengangguk, memulai sarapan dan kembali beraktivitas seperti biasa. Madi, berencana untuk pulang dahulu harì, untuk membersihkan rumah. Jadi, besok rumah sudah dalam keadaan bersih.


Setelah berpamitan, Madi melajukan kendaraan, menuju rumahnya di dekat pohon tua. Hari belum terlalu siang, saat dia memasuki rumah. Matahari bersinar tak terlaku terik.


"Pulang, Madi?" tegur salah satu tetangganya yang rumahnya bersebelahan dengan rumah Madi. Meski letak rumah di sana jaraknya cukup lebar-lebar, tapi, tak menghalangi untuk tetap bersilaturahmi. Saling menyapa satu sama lain.


Kang Ujang, tetangga sebelah rumahnya itu, menatap sambil tersenyum. Merasa senang, karena Madi sudah pulang. Berarti, gangguan penghuni pohon tua itu tak akan seseram seperti malam-malam sebelumnya.


"Oh, syukurlah. Kalau butuh bantuan, bilang saja. Akang juga tak ke mana-mana hari ini."


Madi mengangguk, tersenyum, mengucapkan terima kasih atas penawaran tetangganya itu. Lalu, ia perlahan masuk ke dalam rumah. Membuka pintu dan jendela lebar-lebar agar udara segar masuk. Sudah cukup lama rumah ini ditinggal.


Arwah perempuan yang sedang hamil muda itu tampak berdiri di salah satu ruangan, memandang Madi yang sedang membersihkan rumah. Debu-debu memang sudah menebal, melekat pada perabot-perabot rumah.


"Hatchi ... hatchi ...," berkali-kali, Madi bersin, terhirup debu yang menempel.


Semua perabot dibersihkan Madi satu per satu. Lemari, kursi, gorden, bahkan selimut, sarung bantal, semua dicuci hingga bersih. Madi tak ingin Aulia merasa tak nyaman karena rumah dalam keadaan kotor dan berdebu.

__ADS_1


Semoga ini awal yang baik bagi kehidupan mereka nantinya, bisik Madi lirih. Tak lupa pula Madi terus memutar murotal, membersihkan rumah dari hal-hal gaib.


Cukup lama Madi berkutat dengan sapu, pengki dan peralatan kebersihan lainnya. Menjelang salat ashar, Madi akhirnya selesai bersih-bersih. Bekal makan siang pun telah habis di santapnya. Tinggal melaksanakan salat ashar, setelah itu baru pulang ke rumah orang tua Aulia.


Selama membersihkan rumah, Madi bisa merasakan aura negatif berasal dari arah pohon tua itu. Namun, Madi tak menggubrisnya. Terus saja bekerja sambil memutar murotal.


Setelah salat ashar, Madi bergegas menutup kembali jendela-jendela yang tadi terbuka lebar. Dari ekor mata, dia masih bisa melihat arwah perempuan hamil muda itu berada di ruang tengah, memandangnya sayu.


Setelah merasakan keadaan rumah cukup bersih, Madi memutuskan untuk kembali ke rumah orang tua Aulia. Menjelang magrib, dia sudah tiba di sana.


Lagi-lagi, sesaat akan meninggalkan rumah, aura negatif yang berasal dari pohon tua itu terasa kembali. Untuk sekian kali, Madi tak mengacuhkannya, tetap fokus menyetir, memacu kendaraannya.


Sebuah serangan tak terduga dari penghuni pohon tua itu pun ditepisnya. Saat ini, Madi belum mau melayani penghuni pohon tua itu. Dia harus segera tiba di rumah mertuanya, agar Aulia tak cemas.


Sebuah hijib dan zikir Madi lepaskan juga akhirnya saat melewati pohon tua itu. Dari pandangan mata batinnya, ia bisa melihat penghuni pohon tua itu memandang ke arahnya dengan penuh amarah.


'Saat ini, Aku belum mau melayani kalian. Tunggu saja, akan tiba saatnya kalian merasakan hijibku,' ucap Madi menahan diri.


Memang betul ucapan Madi, dia butuh persiapan untuk menghadapi semua penghuni pohon tua itu. Kalau tidak, mereka akan kembali gagal, bahkan ada saja korban yang berjatuhan.


Belum magrib, Madi telah tiba kembali di rumah mertuanya. Aulia sudah menanti kehadirannya dari tadi.


"Alhamdulillah, Akang sudah sampai," ujar Aulia, senang, melihat suaminya memasuki rumah setelah mengucap salam.


"Iya, Dik. Alhamdulillah, masih bisa salat magrib di rumah," sahut Madi, tersenyum melangkah menuju kamar mandi. Membersihkan diri, mengambil wudhu sebagai awal persiapan melaksanakan salat magrib.


Aulia mengikuti langkah suaminya Madi, menuju kamar mandi, mengambil wudhu dan bersamaan menuju ruang khusus bagi mereka sekeluarga untuk salat Magrib berjamaah.

__ADS_1


Di sana, ayah dan ibu Aulia sudah menunggu, siap menunaikan salat magrib bersama-sama. Bermunajat pada Sang Khalik agar diberikan perlindungan dan keberkahan.


__ADS_2