Penghuni Pohon Tua

Penghuni Pohon Tua
Rencana Mencari Bala Bantuan


__ADS_3

Madi hanya memejamkan mata, mencoba menarik napas lebih panjang, menenangkan gemuruh jantungnya. Pemandangan yang tadi dilihat benar-benar menyeramkan. Sosok itu sepertinya tidak ingin bermain-main lagi. Mereka harus bergerak cepat. Kalau tidak,


sesuatu yang mengerikan akan terjadi. Bukan hanya nyawa Aulia yang akan terancam, tapi juga Madi.


“Ada apa lagi, Kang? Kok, sepertinya ada yang membuat hati Akang susah ?” Rupanya Aulia dari tadi memperhatikan gerak-gerik Madi yang sedikit berbeda dari biasanya.


“Mungkin rencana untuk sowan ke pesantren nggak bisa ditunda lagi, Dek. Harus dilaksanakan besok. Akang takut tidak lagi mampu menghadapi semua teror ini sendirian. Kekuatan mereka semakin hari akan terus bertambah.”


Aulia menatap wajah Madi. Pias sekali. Tidak menyangka perlawanan yang dilakukan suaminya selama ini ternyata mengundang bahaya. Aulia memang yakin dengan kemampuan suaminya, tapi mendengar pengakuan Madi tadi, menyelipkan sedikit ketakutan dalam hati kecilnya.


“Apa sebaiknya, kita tinggalin aja rumah ini, Kang?” usul Aulia dengan nada suara gemetar.


Madi kembali menarik napas. Sangat panjang, kemudian menghembuskannya perlahan, lalu memberikan sebuah senyuman,


membesarkan hati Aulia yang sedang kalut. Ketakutan karena mendengar perkataan Madi tadi.


“Kita tidak mungkin bisa pindah, Dek. Sudah terlambat. Sosok misterius itu tidak akan mau melepaskan kita begitu saja."


“Maksud, Akang? Kita tidak.mungkin menghindar, gitu?” Wajah Aulia semakin memucat. Tidak menduga sama sekali


akan begini jadinya. Rumah yang dulu dipilih karena bentuknya yang indah dan strategis ternyata menyimpan kekuatan mistis yang selalu siap menelan korban setiap waktu.


“Adek, tenang saja. Kita serahkan saja pada Allah. Nanti kita usahakan untuk bisa bertahan dan menghalau semua makhluk penghuni pohon tua itu. Sekarang, ayo siap-siap. Sebentar lagi, hari terang. Ntar, kesiangan sampe di pasar.”


Setelah mengucapkan kata-kata itu, Madi membawa beberapa bungkusan berisi aneka sayuran ke dalam mobil. Sementara Aulia membawa bungkusan yang lebih kecil, juga sarapan yang terpaksa dijadikan bekal, unfuk dmakan di kios nanti.


Sepanjang perjalanan menuju pasar, Madi dan Aulia, hanya diam, tidak terlibat dalam obrolan, seperti kebiasaan yang mereka lakukan. Ya, mereka sibuk dengan pikiran

__ADS_1


masing-masing. Namun, Madi akhirnya membukka pembicaraan, tidak ingin larut


dalam suasana henng yang tercipta dari tadi.


“Adek, nggak usah khawatir. Akang yakin, pak kyai akan menemukan cara untuk menolong kita.” Aulia hanya mengangguk, mendengar  penuturan Madi. Ia juga sangat berharap kondisi kembali seperti semula. Kondusif tanpa gangguan makhluk penghuni pohon tua itu.


Aulia hanya mengangguk, berusaha tidak menampakkan perasaan takutnya pada Madi. Bagaimana pun dia tidak ingin menambah  beban pikiran Madi, suaminya.


Suasana pasar yang ramai dengan pembeli, dan orang yang sibuk lalu-lalang membuat Aulia sedikit demi sedikit mulai melupakan rasa cemasnya. Sekarang dia tampak biasa-biasa saja. Apalagi setelah melihat keadaan di sekitar pasar juga dalam keadaan normal.


Namun, tanpa sepengatahuan Aulia, Madi sedang bertempur melawan pemilik sosok misterius itu. Sosok itu sudah mulai berani menampakkan wujudnya. Kening Madi terlihat berkerut berusaha mengingat siapa dia. Wajah itu sangat tidak asing. Namun, Madi lupa di mana ia pernah bertemu dengan orang itu.


Madi sendiri terus berkonsentrasi agar tidak lengah menghadapi serangan jarak jauh sosok itu. Apa yang membuat pemilik sosok misterius itu tiba-tiba berani muncul di hadapan Madi, walau hanya sepersekian detik. Mesk hanya berkelebat, Madi bisa melihat dengan jelas penampakannya.


Dengan munculnya sosok misterius itu menjadi pertanda yang kurang baik. Bisa jadi itu karena kekuatan yang dimilikinya bertanbah kuat. Namun, Madi juga bersyukur karena hari masih siang jadi bisa mengendalikan kekuatan sosok itu yang tidak bisa mengendalikan makhluk- makhluk penghuni pohon tua  itu.


Ucapan Aulia sedikit membuyarkan lamunan Madi. Memang benar apa yang dikatakan isterinya tadi. Madi pun lantas menganggukkan kepala.


Mereka pada akhirnya membersihkan dan membereskan sayur-sayur yang tidak laku.


Bersyukurnya jumlah yang tersisa tidak banyak. Allah memang memberikan rejeki


yang lancar pada mereka saat ini.


“Iya, Dek. Kita siap-siap saja. Sisa sayuran yang masih ada kita bawa saja ke rumah bapak.” Madi berkata sembari mengemasi dan membersihkan bekas sayuran yang jumlahnya tidak banyak lagi.


Gantian Aulia yang tersenyum mendengar ucapan Madi. Dia tahu Madi tidak mau sowan ke rumah mertua dengan tangan kosong.  Madi selalu membawa buah tangan kalau bertandang ke rumah orang tua Aulia.

__ADS_1


Dengan cekatan sepasang suami isteri  itu, membersihkan dan mengepak sisa sayuran yang jumlahnya tidak seberapa banyak. Mereka melangkah dengan ringan menuju


pelataran parkir dan melangkah dengan ringan, karena tidak membutuhkan jasa


kuli panggul yang harus dibayar hampir setiap hari.


Sesampainya di rumah, Aulia masuk terlebih dahulu ke dalam rumah. Sementara  aneka macam sayuran dibiarkan saja dalam mobil


tanpa diturunkan. Nanti sore mereka akan pergi ke rumah orang tua Aulia, jadi repot untuk menurunkan dan menaikkannya kembali ke dalam mobil.


Meski Aulia sudah beberapa saat masuk ke dalam rumah, Madi masih berdiri di pekarangan, memandang dengan tajam ke arah pohon tua yang  terleltak di seberang jalan. Hawa negatif masih terasa  sangat kencang, bahkan sampai ke tempat Madi


berdiri.


Dari hari ke hari, sesajen pun semakn banyak


jumlahnya, berserakan di bawah pohon tua itu. Bukannya berkurang bahkan semakin


banyak jumlahnya. Bersyukurnya, makhluk-makhluk itu tidak terlalu suka berkeliaran siang hari. Itu membuat Madi bisa bernapas sedit lega. Sepertinya. mereka juga tidak punya kekuatan, sehingga tidak bisa berkeliaran, menampakkan aktivitas.


Untuk ke sekian kali, pemilik sosok misterius itu muncul lagi. Walau tidak bisa mempengaruhi Aulia, tapi   dia tetap berusaha mengendalikan    semua makhluk penghuni pohon tua itu.  Manusia yang memiliki iman yang lemah, acap tergoda dengan pengaruh sesat atau janji manis, pemilik mau pun makhluk-makhluk itu. Menjadikan mereka korban keserakahan duniawi, menjadi pengikut sesat dengan mengorban kesenangan sesaat.


Kalai ini, sorot mata sosok itu sangat tajam, dingn dan kejam. Benak Madi berputar mencar isiapa sosok misterus itu. Madi memang seperti mengenal laki-laki itu.  Namun, siapa? Semua masih seperti sebuah


teka-teki. Masih sulit untuk bisa mengenalnya lebih dekat.


Berkali-kali Madi mencoba mengingat sosok mistsrius itu. Menggali kembali ingatan lama agar bisa mengenal siapa sebenarnya sosok itu.

__ADS_1


Setelah mencoba mengingat, dengan keras, tapi sepertinya Madi memang benar-benar tak mengetahui siapa sebenarnya sosok misterius itu. Bebar-benar nggak tahu.


__ADS_2