
Di pondok, para santri sudah banyak yang berkumpul di mushala yang terletak di tengah-tengah areal ponndok pesantren. Udara sejuk pegunungan begitu sejuk saat menyentuh kulit. Ya, pondok pesantren yang didirikan dan dipimpin kyai Sarwa ini terletak di daerah pegunungan. Pemandangan di pagi hari biasanya sangat indah, kalau kabut tidak turun menyelimuti daerah sekitar pindok.
Madi kelihatan berjalan di samping kyai Sarwa saat menuju mushala. Berkali kepala kyai mengangguk, saat beberapa santri menyapa dan mencium punggung tangan beliau. Hari ini, cuaca sangat dingin, rintik hujan mulai turun, membasahi bumi. Membuat Madi lebih merapatkan kancing jaket, mengusir hawa dingin yang menusuk tulang-tulangnya.
Perlahan, mereka masuk ke dalam mushala, dan kyai Sarwa langsung mengambil tempat di mana biasa duduk. Tidak lama setelah adzan dikumandangkan, pemimpin pondok pesantren itu mengambil tempat di bagian iman, memimpin salat subuh.
Kembali salat ditunaikan secara berjamaah dengan khusyuk oleh mereka semua. Setelah salat subuh, kali ini, kyai Sarwa memberikan kajian yang berisi tentang penerapan berbagai ilmu yang telah dipelajari selama ini di masyarakat setelah santri nanti kembali ke rumah masing-masing.
Karena kyai Sarwa membawakannya dengan santai, maka banyak santri yang menyukai kajian tersebut. Bahkan tidak jarang pula, di antara para santri tersebut banyak yang bertanya atau sekadar berdiskusi, membagikan pengalaman di rumah masing-masing saat pulang liburan.
Setelah selesai memberikan kajian kyai Sarwa mengajak Madi berkeliling pondok pesantren. Semenjak lulus dari pesantren, sekitar tiga tahun yang lalu, perubahan yang terjadi di pesantren ini cukup banyak.
Tampak ada beberapa bangunan sudah diperbaiki, bahkan ada satu bangunan yang masih terbilang baru. Ruangan, bagi santri yang ingin menggali bakat di berbagai bidang, baik seni ataupun olahraga seperti pencak silat. Ruangan asrama pun sudah di perbaiki sehingga santri merasa nyaman, saat menuntut ilmu, mondok di sini.
"Kyai, apa pagar gaib, tetap dipertahankan di sekitar pesantren?" Madi bertanya saat melewati beberapa lahan kosong yang baru saja dipanen tanamannya. Para santri biasa menanam aneka sayuran untuk dimakan dan dijual. Ini untuk melatih para santri untuk berwira usaha dengan memanfaakan lahan yang masih tersedia.
"Hm, iya, Madi. Apalagi akhir-akhir ini, suasana sekitar pesantren, terlihat kurang bersahabat."
Madi menatap heran kyai Sarwa. Ada peristiwa apa sebenarnya? bathinnya. Tidak seperti biasanya.
"Hal apa itu, Kyai?" tanya Madi, penasaran sekali. Baru saja tiga tahun meninggalkan pondok, sudah ada peristiwa yang bisa mengguncang ketenangan pondok.
__ADS_1
Tampak, kyai Sarwa menarik napas agak panjang. Pandangannya lurus pada satu titik. Entah apa yang ditatapnya. Madi sendiri heran, bertambah penasaran.
"Dulu, sebelum pondok pesantren ini dibangun, penduduk di sekitar sini banyak yang menjadi pengikut nenek bungkuk. Mereka banyak yang belum mengenal agama, sehingga praktek pesugihan dan sejenisnya sangat sering diamalkan."
Kyai Sarwa berhenti sejenak, memejamkan mata, baru melanjutkan ceritanya lagi. "Karena keluarga kyai tidak mau menjadi pengikut nenek bungkuk itu maka mulai dari saat itu, keluarga kyai pun dimusuhi. Dan kebenciannya bertambah semenjak khai membuka pesantren ini."
Madi mengangguk, baru mengerti mengapa nenek bungkuk itu selalu menganggap kyai Sarwa sebagai musuh. Dalam setiap kesempatan, senantiasa berusaha menyerang kyai Sarwa dan pondok pesantren ini. Ternyata itu penyebabnya, kenapa kyai Sarwa selalu membuat pembatas dan pagar gaib untuk melindungi pesantren dari gangguan nenek bungkuk tersebut.
Madi menghirup oksigen sebanyak mungkin, mengisi sampai penuh paru-paru miliknya. Jaket tebal yang iai kenakan masih bisa ditembus udara dingin pegunungan. Padahal matahari sudah mulai beranjak dari peraduannya.
"Udara di sini masih dingin ya, Kyai?" ujar Madi sembari menggosok-gosok kedua telapak tangan untuk menimbulkan rasa hangat.
"Iya, masih seperti dulu. Ndak banyak yang berubah. Coba kamu lihat perumahan penduduk di bawah sana, masih sama seperti beberapa tahun yang lalu."
Tiba-tiba Madi tercekat, melalui penglihatan mata bathin, dia melihat ada kegiatan yang agak aneh di beberapa rumah.
"Apa masih banyak pengikut nenek bungkuk di sana, Kyai? Kenapa di beberapa rumah seperti banyak makhluk astral yang berada di seputaran rumah mereka."
Tampang kyai Sarwa langsung berubah. Ada rona kesedihan di sana. Pasti ada sesuatu yang membuat beliau bersikap seperti ini.
"Iya, memang di antara penduduk di sana, masih ada pengikut nenek bungkuk. Mereka adalah orang-orang yang tidak tahan lagi hidup menderita dan mencari kekayaan dengan jalan instan."
__ADS_1
Madi bisa mengerti kerisauan kyai Madi. Pasti sangat sulit untuk mengajak mereka kembali, walau pesugihan yang mereka amalkan itu bisa mengambil nyawa orang lain sebagai tumbal dan pada akhirnya juga harus merelakan diri mereka sendiri menjadi pengikut abadi dan akan terus gentayangan karena harus mengikuti kemauan pemilik pesugihan.
"Kalau begitu, sudah banyak korban berjatuhan di sekitar sini, Kyai?" Madi melepas rasa ingin tahunya yang besar dengan bertanya.
"Hm, syukurnya mereka tidak mau mengambil resiko, mengambil tumbal di sekitar sini. Mungkin, mereka masih takut dengan Kyai."
Madi manggut-manggut, mendengar penjelasan kyai Sarwa tadi. Masuk di akal sih penjelasan kyai tadi. Makhluk astral di sekitar pesantren banyak yang menyingkir jika bertemu kyai Sarwa. itu sudah berlaku dari dulu, semenjak kyai mulai tinggal di sini dan membangun pondok pesantren.
"Itu berarti, mereka harus mengambil tumbal di daerah lain, ya, Kyai?"
Kyai Sarwa hanya mengangguk. Sementara beliau masih dengan seksama memeriksa keadaan sekitar pesantren. Hampir setiap hari, beliau melakukan ini, sekadar berjaga-jaga saja.
"Ayo, Madi, sudah cukup kita memeriksa keadaan di sini. Kita kembali saja ke rumah, sekarang!"
Madi menuruti saja perkataan kyai Sarwa. Kakinya juga sudah mulai pegal, dari tadi tidak berhenti berjalan. Sementara, nun jauh di sana, Aulia juga baru saja menjalankan kegiatan rutin, membersihkan rumah.
Madi memang senantiasa memantau dari jauh, jika ada gangguan yang berasal dari sosok misterius itu.
Bersyukur sekali lagi, pagar gaib yang dibuat Madi masih berfungsi sampai saat ini. Belum ada satu lun makhluk gaib yang mencoba mengusik dia bisa masuk.
Tidak jauh dari rumah Aulia, seorang laki-laki muda berdiri, memandang ke arah Aulia dengan tatapan penuh kemarahan. Meski, masih ada setitik rasa cinta terpancar di sana. Rasa cinta yang berubah menjadi dendam.
__ADS_1
Madi membiarkan saja laki-laki itu, cuma mengawasi dari jauh. Kyai Sarwa yang juga mengetahui keberadaannya, juga tidak bereaksi, menunggu tindakan dari sosok itu.