
Pertarungan antara Madi dan makhluk tak kasat mata yang tersisa masih terus berlangsung. Begitu pula antara kyai Sarwa dan Nang, cucu nenek bungkuk.
"Menyerah saja, anak muda. Jumlah kami terlalu banyak, tak mudah untuk kau kalahkan!"
Madi terhenyak, mendengar ejekan gerombolan makhluk tak kasat mata yang mengelilinginya. Dilihat dari jumlah, Madi memang kalah dengan mereka. Namun, Madi tetap tak akan takut, menghadapi mereka semua.
"Aku tak akan menyerah, hai, makhluk-makhluk tak kasat mata! Kalianlah yang harus hengkang dari sini.!
Madi yang kini menghardik kumpulan makhluk astral itu. Bukannya takut, malahan mereka tertawa, mengejek Madi. Namun, tak diperdulikan oleh Madi.
"Ha ... ha ...!" Kami tak akan takut padamu, Madi!"
"Kalau begitu, bersiaplah menerima seranganku, hai makhluk jahat. Sudah cukup kalian berada di sini!"
Secepat kilat, Madi melesatkan sebuah pukulan hijib mengarah ke semua makhluk tak kasat mata itu.
Sepasang kakek nenek cebol berwajah sangat mengerikan itu, mengelak serangan dan langsung membalas. Sementara, satu makhluk yang berbentuk seperti binatang, terlempar, terkena serangan Madi tadi.
"Panas ...! Awas, kau, anak muda! Kali ini, aku berhasil kau kalahkan, tapi, lain hari, aku pasti akan kembali. Menggoda kaummu yang lemah iman!"
Madi hanya tersenyum, tak menanggapi ucapan lelembut tadi. Kakek nenek bertubuh cebol tadi, tiba-tiba menyerang Madi, tanpa memberi aba-aba.
"Crash ...!"
Pukulan sepasang kakek nenek itu beradu dengan hijib Madi. Suara benturannya sangat memekakkan telinga.
"Enyahlah, kalian, hai, para makhluk jahat! Kehadiran kalian hanya membuat onar saja!"
"Des ....!"
Sekali lagi, Madi memberikan hijib yang sering membuat makhluk tak kasat mata tak berkutik. Merasakan hawa panas akibat pukulan hijib itu.
Sepasang kakek nenek bertubuh cebol, dengan lincah, melayang, menghindari sinar pukulan Madi.
"He ... he ... hanya sebegitu kah kehebatan pukulanmu, anak muda?"
Sepasang kakek nenek itu terkekeh, tak henti mengejek Madi.
Bukannya marah, Madi malah tersengum kecil, tak menanggapi. Murid kyai Sarwa ini sedang mempersiapkan sebuah hijib yang mampu menumbangkan makhluk tersebut.
Tak lupa zikir dan doa pun selalu didawamkan Madi, menambah ketenangan dan kekuatatan untuk mengusir semua makhluk itu
__ADS_1
"Aduh ... argh ... panas ... panas sekali!"
Sebuah suara tiba-tiba terdengar, menahan rasa sakit dan panas. Ternyata berasal dari salah satu makhluk astral yang masih tersisa itu.
Sepasang kakek nenek itu murka kini, karena satu per satu temannya, telah berhasil dikalahkan Madi.
"Perbuatanmu tak akan pernah dimaafkan, anak muda.Tunggu saja, balasan kami secepatnya!"
Sebuah serangan dilesatkan lagi oleh sepasang kakek nenek itu. Jumlah mereka tinggal bertiga. Rekan mereka baru saja menghilang, tak tahan dengan hijib yang tadi dipukulkan Madi.
"Shit ... shit ...!"
Bunyi pukulan makhluk itu, menimbulkan hawa yang sangat dingin, membuat tubuh Madi bergetar, menggigil.
"Rasakan itu, hai, manusia! Kali ini, kau bisa merasakan kehebatan makhluk seperti kami!"
"Ha ... ha ...!" satu sosok makhluk yang lain ikut tertawa.
"Kalian jangan senang dulu, lihat ini seranganku!"
Ketiga makhluk itu seketika berhenti tertawa, terpental, terkena serangan Madi. Satu, makhluk yang bertubuh tinggi besar, tak mampu bertahan lagi.
Badannya seperti terbakar. Bagi makbluk gaib seperti mereka, jika terkena hijib, yang pada dasarnya merupakan kumpulan ayat-ayat suci yang dilatih menjadi satu kekuatan tenaga dalam, akan merasa kepanasan.
"Kakek, aku tak bisa membantumu lagi!"
Makhluk itu pun segera menghilang, tak sanggup lagi berada di sana. Tingvallah sepasang kakek nenek itu yang menjadi lawan Madi.
Sementara, Nang yang menjadi lawan kyai Sarwa, mulai bisa ditenangkan. Kyai Sarwa mulai bisa menguasai keadaan. Salah satu kendala yang ada, hanyalah demit perempuan yang merasuki raga Nang.
Dengan kecepatan kilat, sepasang tangan Nang, telah sampai di leher kyai Sarwa. Tangan yang telah bersatu dengan tangan milik kuntilanak itu, menyebabkan kuku Nang menjadi panjang, runcing dan tajam.
"Kyai, waspada!"
Teriakan Madi, membuat kyai Sarwa masih sempat menghindar. Hawa dingin dan kejam, masih tertinggal usai serangan Nang tadi.
"Bagaimana, orang tua, pukulanku tadi?"
Madi berkacak pinggang, teriss menantang, membangkitkan emosi kyai Sarwa.
"Tenang saja, Nang. Aku, orang tua, masih bisa bertahan!"
__ADS_1
"He ... he ...! Bagus ... bagus ...!" Kalau begitu, bersiaplah menerima serangan lebih lanjut!"
Kyai Sarwa, tetap tenang, saat menerima serangan beruntun dari Nang. Kali ini, cucu nenek bungkuk itu harus bisa nerasakan phkhlan kyai Sarw, agar kapok, dan berpikir panjang dulu sebelum membuat keonaran.
Sebuah hijib, ajian, zikir dan doa, dipersiapkan secara matang. Ketika, ada kesempatan, kyai Sarwa segera memukul Nang. Akibatnya, sungguh di luar dugaan. Bukan hanya Nang yang terpental, tapi, juga, demit perempuan yang menyatu dengan Nang.
"Panas ... panas ...Nang!" pekiknya.
Kyai Sarwa hanya memperhatikan pemandangan di hadapannya dengan tenang. Demit perempuan itu sekali ini, tak mampu lagi bertahan.
Nang, yang merasa bisa dipukul, akhirnya gusar, geram dan mengamuk. Kuntilanak yang tadi diserang kyai Sarwa, sudah menghilang. Tak tahan, dengan ajian dan hijib, yang dilesatkan pemimpin pondok pesantren itu.
"Orang tua, terimalah ini!"
Sebuah pukulan kembali di arahkan Nang, penuh kemarahan. Membabi buta.
Kyai Sarwa, yang menerima serangan Nang, menangkisnya dengan cekatan. Lengan Nang sampai terpelintir, saat berhadapan dengan kyai Sarwa.
Pukulan demi pukulan kemudian diterima oleh Nang. Membuat, cucu nenek bungkuk itu, tersudut, mundur beberapa langkah.
"Argh ... aduh ...!"
Nang terus mengeluh, menahan rasa sakit. Kali ini, ia mati kutu, tak mampu lagi memberi perlawanan.
Tangannya memerah dan bengkak kini. Mulutnya terus mengaduh, menahan rasa sakit.
"Lebih baik sekarang, kau, pergi saja, Nang! Ndak usah lagi, ganggu Aulia dan Madi!"
Nang, tak berkata apa-apa, diam, menahan rasa jengkel. Ingin melawan, tapi, dia tak punya kemampuan lagi untuk menyerang. Seluruh tubuhnya merasa sakit.
Sepasang kakek nenek cebol yang tadi menyerang Madi, seketika, terpaku, mengurungkan semua pukulan yang ingin dilesatkannya.
"Bagaimana, makhluk jelek! Tuanmu sudah berhasil dikalahkan!"
Sepasang kakek nenek bertubuh cebol itu, tak berkutik, diam. Ingin melanjutkan perlawanan, tapi, merasa sudah kalah duluan.
Bahkan ucapan Madi pun tak lagi digubrisnya. Melihat tuannya telah dikalahkan, segera mereka mendekati Nang, kemudian membawa cucu nenek bungkuk itu, menghilang, lenyap dari pandangan Madi dan kyai Sarwa.
"Syukur Alhamdulillah, Kyai. Akhirnya mereka bisa juga diusir dari sini!"
"Alhamdulillah, Madi. Kita masih bisa diberi kemudahan dan perlindungan, sehingga, terus bisa mengalahkan Nang dan sekutunya."
__ADS_1
"Iya, Kyai. Semoga, itu membuat Nang jera, tak lagi mengusik ketenangan kami!"
Kyai Sarwa mengangguk, membenarkan pernyataan Madi tadi. Mungkin, untuk beberapa waktu, cucu nenek bungkuk itu, tak akan berani muncul bersama sekutu-sekutunya, mengganggu Aulia.