
LakI-laki muda itu yang sering memlerhatikan Aulia, juga tidak menampakkan aktivitas yang mencurigakan. Ia hanya menatap tajam, memantau setiap pergerakan Aulia. Mungkin sosok itu menyadari kalau saat ini tidak mudah untuk mendekati dan mempengaruhi Aulia.
Sementara Madi dan kyai Sarwa sudah sampai di rumah. Bergegas, Madi menuju dapur, mengambil seteko air putih beserta dua buah gelas.
Kyai Sarwa langsung minum air putih yang baru saja dituang Madi. Tampak sekali beliau benar-benar haus. Maklum saja, perjalanan yang mereka lakukan tadi memang cukup jauh.
Setelah menghabiskan segelas air, Madi mendekati kyai Sarwa yang sedang menyeka keringat di dahinya.
"Kyai, apa benar, cucu nenek bungkuk itu juga memiliki ilmu pesugihan dan ilmu hitam lainnya seperti pelet atau santet?"
Sebuah senyum mengembang di bibir laki-laki yang sudah mendekati sepuh itu.
"Iya, Madi, tapi, belum sekuat neneknya. Ndak usah khawatir, kamu masih bisa menandingi kemampuannya. Buktinya, sampe sekarang, kamu masih menghalau gangguannya, bukan?"
Madi mengangguk, membenarkan pendapat sang kyai. Ada benarnya juga ucapan kyai Sarwa, karena selama ini ia masih bisa bertahan dari serangan yang sering dilontarkannya sebagai sosok misterius. Sosok yang senantiasa hadir dan mengawasi semua gerak-gerik Madi.
"Kira-kira, apa yang akan dia lakukan di depan rumah orang tua Aulia, Kyai? tanya Madi penasaran. Heran saja, kenapa Nang itu tidak jera juga, padahal sudah sering sekali gagal mempengaruhi Aulia.
"Hm ..., paling cuma sekadar mengawasi saja. Ternyata, dia masih menaruh cinta pada isterimu, Madi."
Madi seketika menghela napas panjang, menyimpan rasa jengkel yang tiba-tiba saja mengisi hatinya. Kenapa juga si Nang itu belum bisa move on, dan mencari perempuan lain, sebagai pengganti Aulia. Padahal, banyak sekali perempuan yang mungkin bisa menarik perhatian laki-laki muda seperti Nang.
"Susah juga untuk menyingkirkannya, kalau begitu, Kyai," ucap Madi sambil mengumpulkan gelas yang telah kosong, bermaksud menaruhnya di dapur.
__ADS_1
"Ndak susah. Percaya saja, setelah kamu berpuasa besok, mata hati dan pikiranmu akan jauh lebih jernih. Jadi, lebih mudah memahami amalan yang akan Kyai beri untuk menghadang gangguan dan kekacauan yang sering dilakukannya."
Madi kini bisa tersenyum. Dia merasakan semangat hidupnya bangkit kembali. Tidak ada lagi rasa takut atau was-was berlebihan terhadap sosok misterius itu. Ada kyai Sarwa yang siap memberikan beberapa amalan dan hijib yang nantinya diharapkan bisa mengatasi gangguan si Nang itu.
"Kalo begitu, saya pamit dulu, Kyai. Mau bersih-bersih badan dulu, setelah itu baru salat dhuha."
Kyai Sarwa tersenyum dan mengangguk, mempersilahkan Madi melakukan salat dhuha. Sebelumnya, beliau menganjurkan agar Madi tetap menantau perkembangan di rumah orang tua Aulia, melalui penglihatan mata batinnya. Takutnya, terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan.
Sementara itu di runah orang tuanya, Aulia, menyapu teras sambil memperhatikan keadaan sekitar. Dari tadi dia merasa seperti ada yang memperhatikannya. Tak lupa, dia tetap membaca bacaan doa yang telah diajarkan Madi sebelum berangkat ke pondok pesantren.
Meski tangannya asyik menyapu, tapi matanya tetap fokus , memperhatikan kalau-kalau ada hal yang mencurigakan.
Melihat keberadaan Aulia di teras, timbul niat kurang baik dari Nang. Ingin menggoda dan mempengaruhi pikiran Aulia. Sosok itu kini terlihat memejamkan mata, mencoba menpengaruhi Aulia dengan memanggil namanya berulang kali.
"Dek ... Dek ...." lelaki muda itu memanggil, menirukan suara Madi. Benar-benar mirip dan susah membedakan dengan suara asli Madi.
Di pondok pesantren, Madi sedang khusyuk melaksanakan salat dhuha, sehingga hanya kyai Sarwa yang mengawasi cucu nenek bungkuk itu.
Tampak dari penglihatan beliau, sosok itu semakin meningkatkan gangguannya. Terus memanggil Aulia, masih dengan meniru suara Madi, suaminya.
"Dek ... Dek ..., ini Akang."
Aulia semakin bingung. Di satu sisi, dia tahu kalau suaminya tidak berada di sini, jadi tidak mungkin bisa memanggil namanya.
__ADS_1
Kyai Sarwa lalu memejamkan mata, mencoba menguatkan iman Aulia yang mulai goyah. Aulia tidak boleh lengah sedikit pun, karena yang memanggilnya adalah sosok yang selama ini terus-terusan mengganggunya.
Perlahan, kyai Sarwa tiba-tiba saja berada di hadapan Nang, cucu nenek bungkuk itu, menyebabkan dia sangat terkejut. Rona wajahnya berubah menjadi pucat, tidak percaya kalau musuh neneknya berdiri di depannya sekarang.
"Apa yang membuatmu nekat, terus-menerus mengusik kehidupan mereka, terutama Aulia?" Pertanyaan kyai Sarwa, tak langsung dijawab sosok itu.
Tarikan napas panjang tampak dilakukan pria muda itu. Cukup lama ia terdiam. Perasaan bingung, takut bercampur jadi satu. Dia tahu, kalau kyai Sarwa bukanlah tandingannya.
"Itu bukan urusan, Pak Kyai!" jawabnya ketus.
Kya Sarwa tertawa kecil. Tidak terlalu terpengaruh dengan perkataan ketus pemuda itu. Bahkan kini semakin mendekati laki-laki itu.
Sosok tersebut, kian menciut nyalinya. ini bukan main-main lagi, kalau tidak segera kabur, pasti ia akan mengalami hal yang tak diinginkan.
Melihat gelagat Nang yang hendak melarikan diri, kyai Sarwa hanya tertawa kecil. Membiarkan ia menghilang sebelum memberikan perlawanan.
Kemudian, kyai Sarwa memeriksa pagar gaib yang telah dibikin Madi, sebelum keberangkatannya ke pondok pesantren. Menampal dan mempertebal garis itu, agar tidak mudah dirusak dan dimasuki makhluk tak kasat mata yang diauruh untuk mengganggu Aulia.
Setelah itu, baru kembali ke pondok pesantren. Sementara Aulia segera tersadar dari pengaruh sosok tersebut, dan bergegas masuk ke dalam rumah. Aulia baru menyadari, kalau ada seseorang yang ingin menyeretnya keluar dari rumah.
Setelah sadar kalau suaminya, Madi, memang tidak ada, Aulia bergegas masuk rumah kembali. Membaca istifgar berkali-kali dalam hati, Tidak bisa membayangkan, kalau tadi ia benar-benar tidak bisa menguasai diri dan mengikuti suara itu. Entah kejadian apa yang akan menimpanya nanti.
Usai menyelamatkan Aulia, kyai Sarwa kembali lagi ke pondok pesantren, kembali mengisi raganya yang masih berada di ruang tamu. Sedangkan Madi sudah menyelesaikan salat dhuha, dan kembali menemui kyai Sarwa.
__ADS_1
Melihat Madi, telah selesai salat, kyai Sarwa lalu beranjak tanpa mengatakan sesuatu pada Madi. Kyai Sarwa juga akan salat dhuha, dan bermaksud nanti akan menceritakan semua kejadian yang tadi menimpa Aulia.
Madi pun hanya menatap saja kepergian kyai Sarwa menuju kamar mandi. Pasti beliau juga akan salat dhuha . Biasanya, kyai Sarwa selalu lebih dulu salat dhuha, tapi, entah mengapa, hari ini, ia membiarkan dan menyuruh Madi salat duluan.