
Nenek bungkuk bersama cucunya, mulai mwngancam kyai Sarwa dan Madi, agar segera neninggalkan kediaman orang tua Aulia.
Bukannya takut, malah ucapan suara kyai Sarwa, tegas dan berwibawa, mengusir keberadaan nenek bungkuk dan cucunya.
"Bukan kami yang kalian usir, tapi, kalian yang harus angkat kaki dari tempat ini!"
Muka nenek bungkuk itu seketika merah padam, marah karena ucapan kyai Sarwa. Tangannya tampak dengan gesit menyerang kyai Sarwa, tapi lagi-lagi guru Madi itu hanya tersenyum kecil dan mamlu mengelak serangan nenek bungkuk tersebut.
Melihat serangannya tidak berhasil, nenek itu kembali melancarkan serangan, kali ini lebih cepat dan penuh tenaga dalam.
Kyai Sarwa pun mempersiapkan diri menyambut pukulan si nenek bungkuk. Kemudian menyambut pukulan nenek bungkuk itu , menangkis dengan cepat lalu membalasdengan sebuah pukulan, mengarah ke arah wajahnya. Pertarungan mereka menjadi sangat sengit sekarang.
Madi, tak berani mencampuri pertempuran itu, dan hanya mengawasi dari jarak tak terlalu jauh.
Melihat neneknya mulai bertempur dengan kyai Sarwa, sang cucu pun mencari kesempatan untuk melancarkan serangan. Melihat gelagat Nang yang kurang baik, Madi terlebih dahulu menghadang, mencegah serangannya mengenai kyai Sarwa.
"Madi, minggir, tak usah ikut campur?" teriaknya.
Madi hanya tersenyum tipis, tidak menghiraukan teriakannya, malahan balik balik berkata, "Sudah, Nang, ndak usah main curang! Hadapi aku aja." Madi pun lantad mengeluarkan tantangan. Mengajak cucu nenek bungkuk itu bertarung.
Nang tak membalas ucapan Madi. Kini, ia sekarang malahab langsung menyerang. Terjadilah pertempuran seru antara Madi dan Nang, cucu nenek bungkuk.
Melihat Madi juga tengah berjuang melawan cucu nenek bungkuk itu, kyai Sarwa semakin memusatkan konsentrasi menghadapi neneknya.
"Ni, apa ndak capek, berkelahi seperti ini. Tuh lihat, kedua bocah itu juga sedang berlaga. Mendingan, biar mereka saja yang saling menyerang. Kita udah tua. Lebih cocok jadi penonton saja."
__ADS_1
Ucapan kyai Sarwa seketika menghentikan serangan nenek bungkuk itu. Sesekali dua menyeka keringat dingin yang mengalir di dahi. Bertempur tengah malam seperti ini sangat menguras tenaga.
Kyai Sarwa juga mengambil kesempatan ini dengan menghirup oksigen sebanyak mungkin, untuk memperpanjang napas.
Sementara pertempuran antara Madi dan Nang semakin seru. Masing-masing tidak ada yang mau mengalah. Sebuah senyum mengembang di bibir kyai Sarwa. Bagaimana tidak, sampai sejauh ini Madi telah beberapa kali berhasil memukul Nang.
Melihat cucunya mulai terdesak, tampak si nenek bungkuk, mulai mengarahkan bala bantuan dari beberapa makhluk astral yang setia mengikutinya.
Sosok tinggi besar dan berkulit gelap yang sering mencoba mengganggu Aulia segera berdiri di belakang Madi, mencoba memegang kaki pria muda itu, sehingga sulit bergerak.
Juga ada sebangsa jin menyerupai sepasang orang tua dengan mata tercongkel, berdiri di kiri kanan Madi, mencoba menahan kedua tangannya untuk melemparkan pukulan ke arah Nang.
Melihat ada keterlibatan makhkuk astral, tidak membuar Madi takut. Segera dibacanya beberapa amalan yang khusus ditujukan untuk menghalau serangan makhluk seperti itu.
Makhluk-makhluk itu berusaha bertahan, memegang kaki dan tangan Madi. Namun, akhirnya mereka berhenti, kepanasan, tidak kuat menahan amalan berupa bacaan dan doa yang berasal dari berbagai ayat dan surah dalam Al-Quran.
Madi tersenyum, senang, bisa berhasil lepas dari serangan makhluk gaib itu. Tangan Nang, yang tinggal beberapa senti lagi dari wajahnya segera ditepis, membuat cucu nenek bungkuk itu terpental.
Melihat sang cucu terduduk dengan wajah pucat, akhirnya nenek bungkuk itu pun memutuskan untuk menghindar malam ini. Sambil mengeluarkan ancaman, dia membawa cucunya, menghilang dari pandangan kyai Sarwa dan Madi.
Melihat situasi sudah aman, kyai dan Madi pun mengakhiri pertempuran dengan mengucap Alhamdulillah. Malam ini mereka bisa menang karena pertolongan Allah.
Madi mengusap keringat yang mengalie di dahinya, ternyata menyita tenaga juga bertempur dengan cucu nenek bungkuk tersebut. Beruntung, kyai Sarwa tadi menolongnya, kalau tidak dia pasti akan sangat kewalahan, bahkan bisa saja terluka.
Kyai Sarwa menatap lembut setelah secara bersamaan melipat sajadah. Madi mengangguk, semakin hormat pada gurunya.
__ADS_1
"Malam ini, kita bisa berhasil menghalau mereka, Madi. Entah, di malam yang lainnya, karena mereka tidak akan jera untuk terus mencoba, sampe tujuan mereka tercapai."
Madi terdiam mendengar ucapan sang kyai. Memang benar apa yang diucapkan kyai Sarwa, karena mereka tidak akan pernah lelah mencoba.
"Iya, Kyai. "Hanya itu yang diucapkan Madi.
"Ya, sudah, siap-siap sahur sana! Hari ini , jadwalmu berpuasa." Madi tersentak, segera beranjak, menuju dapur. Hari ini, dia mulai menjalankan puasa untuk menguasai amalan yang akan diajarkan kyai Sarwa.
Selagi Madi makan sahur, kyai Sarwa kembaki ke dalam kamar, beristirahat, sambil menunggu waktu subuh tiba. Sedang Madi menyantap hidangan sederhana berupa nasi dengan beberapa potong tahu, lengkap dengan sambalnya. Ada juga lalap timun dan kerupuk. Dan semua itu cukup untuk memenuhi jumlah kalori selama berpuasa.
Madi masih terkenang dengan perkelahiannya dengan Nang dan nenek bungkuk itu. Perbuatan mereka tadi terasa semakin mengancam keselamatan Madi dan Aulia.
Tidak habis pikir, hampir setiap saat, mereka selalu mencari celah untuk bisa masuk ke dalam rumah. Ah, kenapa masih ada dendam di hati Nang? Kenapa jua, masih ada orang-orang yang mau mempraktekkan ilmu pesugihan demi kesenangan sesaat.
Madi menarik napas sangat panjang, mengelus dada, dan berharap agar prahara ini segera berakhir. Tidak ada lagi gangguan yang mengganggu ketenteraman rumah tangga yang mereka berdua jalani.
Kemudian, piring , gelas dan mangkuk yang dipergunakan makan tadi, diangkat dan dicuci Madi. Salat subuh masih sekitar empat puluh lima menit lagi, masih ada sela untuk beristirahat.
"Kyai, setelah salat subuh, Madi izin pulang duluan, nggak ikut kajian."
Kyai Sarwa mengangguk, mengiyakan, memberi izin pada Madi. Memang, dibutuhkan waktu lumayan lama untuk membaca seluruh amalan yang telah diberikan kyai Sarwa. Belum lagi, Madi juga harus mengolah tenaga dalam dan mengulang kembali seluruh amalan terdahulu yang pernah diajarkan kyai Sarwa. Itu jelas sangat menyita waktu.
Madi pun ikut mengangguk juga, lega karena sudah mengutarakan permintaannya. Dia memang memerlukan waktu dan tempat khusus untuk mempelajari amalan kali ini.
Setibanya di rumah, Madi langsung menggelar sajadah, mengeluarkan catatan dari kyai Sarwa, kemudian membacanya satu persatu. Catatan berisi tulisan Arab itu, terus dibaca Madi, sambil mengatur pernapasan dan tenaga dalam.
__ADS_1
Berulang kali, Madi terus membaca, mengamalkan dan menyelaraskannya dengan tenaga dalam. Setelah itu baru, mengasah kembali amalan yang lain dengan merapal semua bacaan dan doa, yang ditiupkan pada kedua tangannya yang mengepal, membentuk tinju.