
Aulia masih saja terus rewel, menanyakan sesuatu yang membuat dirinya merasa kurang nyaman dengan situasi. Padahal Madi telah berusaha agar Aulia tidak terlalu memperdulukan kehadiranarwah yanf membuatnya sangat tidak nyaman.
“Kang, kenapa Adek tiba-tiba merinding tadi? Apa ada makhluk tak kasat mata yang mengikuti? Kok Aulia gak diapa-apain?”
Madi mengulum senyum mendengar
deretan pertanyaan Aulia yang bertubi-tubi.
“Nggak apa-apa, Dek. Dia bukan penghuni pohon tua itu. Dia hanya roh tersesat yang belum bisa kembali pulang.” Aulia hanya mengangguk mendengar penjelasan Madi. Setidaknya keterangan Madi tadi mampu meredakan ketegangan yang dari tadi menyerang Aulia.
“Siapa, jadinya roh itu, Kang. Selain makhluk penghuni pohon tua itu, selama kita tinggal di rumah ini, kan tidak ada yang lain yang mau masuk ke sini?”
Madi lalu menjelaskan itu arwah perempuan hamil yang tadi diketemukan tewas di bawah pohon tua itu. Sepertinya dia memang sengaja berada di rumah mereka, untuk
menghindari sosok mistreius yang ingin menjadikannya salah satu penghuni pohon
tua itu.
Aulia tambah tidak mengerti. Kembali Madi menjelaskan lebih terperinci bahwa biasanya, manusia yang sudah dijadikan tumbal, rohnya akan diikat dengan perjanjian dan dijadikan penunggu tempat dia mengadakan perjanjian. Atau jika dia hanya jadi korban pesugihan
orang lain, dia pun akan dimasukkan seagai penghuni di mana orang yang melakukan pesugihan mengadakan perjanjian.
__ADS_1
“Seram sekali, Kang. Tega sekali orang-orang itu mengambil nyawa yang tidak berdosa!” Dari nada bicaranya terdengar Aulia sangat gusar. Tidak menerima perlakuan yang akan diterima lara korban tumbal.
“Begitulah, Dek. Sekarang sudah malam, kita siap-siap saja tidur. Murotal biar aja tetap diputar!” Madi berpesan sebelum menggandeng lengan Aulia menuju kamar. Mudah-mudahan saja, mereka bisa lebih siap melewati malam ini.
Ketika kegelapan sudah semakin menyelimuti, Madi dan Aulia tengah tertidur pulas. Hari ini mereka memang terlihat sangat letih. Dalam tidurnya Madi bermimpi didatangi arwah perempuan hamil yang meninggal tadi siang. Dengan air mata bercucuran dia meminta pertolongan Madi agar melepaskan dirinya dari belenggu pemilik pesugihan yang telah menjadikan ia tumbal.
Dia meminta izin untuk bersembunyi dalam rumah Madi, agar terbebas dari kejaran mereka, karena Madi memiliki kelebihan mampu menahan serangan-serangan makhluk penghuni pohon tua itu.
Madi hanya mematung. Dalam mimpi itu ia mencoba menelisik siapa pemilik pesugihan itu. Namun, wanita itu juga tidak mengetahui dengan pasti siapa orangnya. Wanita itu hnaya mengatakan dia dikejar okeh seorang laki-laki bertubuh tinggi besar dengan baju serba hitam mengenakan ikat kepala hitam. Persis seperti sosok yang menampakkan dirinya sekilas pada Madi beberapa waktu lalu.
Kembali dada Madi berdetak kencang, apa sebenarnya tujuan orang itu. Apakah memang pohon gua ini adalahsalah satu tempat berlangsungnya praktek kesugihan? pertanyaan demi lsftanyaan mulai mengisi benak Madi, mencoba mencari jawabannya.
Sebebarnya, Madi sendiri kurang suka kalau arwah itu harus tinggal di rumah. Apalagi kondisi Aulia yang sedang hamil. Sedikit banyak akan menggangu kestabilan emosinya.
Roh tersesat wanita hamil itu cmenyanggupi, bahkan dia berjanji akan melindungi Aulia dari serangan penghuni makhluk pohon tua itu semampunya. Setelah berkomunikasi kurang lebih setengah jam, Madi bangun tiba-tiba.
Keringat dingin memenuhi dahinya. Ada apa lagi ini? Belum lagi satu perkara selesai, sudah datang lagi perkara lain. Benar-benar bikin pusing. Akhirnya, Madi memutuskan untuk salat tahajud saja. Jam memang sudah menunjukkan pukul dua malam, waktu di mana Madi biasa salat malam.
Lagi-lagi sebelum pergi ke kamar mandi, Madi kembali membuat pagar gaib di sebelah tempat tidur, mencegah serangan usil dari makhluk penghuni pohon tua itu, terutama perempuan berparas cantik dengan taring tajam di sela giginya.
Di tengah menuju kamar mandi, benar saja, arwah perempuan hamil itu tengah duduk di pojok dapur. Menatap Madi dengan wajah pucatnya. Madi hanya memandang sekilas dan tetap berjalan masuk ke dalam kamar. mandi.
__ADS_1
Ketika ia masih di dalam kamar mandi, terrdengar seperti orang bertengkar hebat, datangnya dari luar rumah. Dan, ketika, Madi melintas dapur, ternyata arwah perempuan itu sudah tidak ada lagi. Entah ke mana ia menghilang, tanya Madi sambil mengangkat bahu, bisiknya kirih.
Madi akhirnya memutuskan kembali masuk kamar secepatnga. tidak memperdulikan keadaan yang aneh tadi. Menggelar sajadah dan mhlai salat malam. Setelah salat, suara pertengkaran yang ia dengar dari arah luar tiba-tiba saja terdengar lagi. Bahkan lebih keras.
Ada apa lagi? tanya Madi bingung, memejam-
kan mata, mencoba mempertajam pendengaran, mencari tahu siapa yang sedang bertengkar.
Madi terus memejamkan mata dan menajamkan mata batinnya, mencoba menyelidiki apa yang terjadi. Ternyata roh perempuan hamil tadi mencoba menghalangi masuknya perempuan cantik bertaring itu. Bahkan ia rela bertarung dengan kuntilanak itu, meski jadi bulan-bulanan.
Tampak sekali arwah perempuan hamil itu tak memiliki kekuatan dan kemampuan menghadapi kuntilanak itu. Meski demikian ja terus menghalangi mereka untuk masuk.
Melihat arwah itu tersudut, lewat indera keenamnya Madi memanggil arwah perempuan hamil itu agar menyingkir saja, kembali masuk ke dalam rumah, karena tidak akan mampu menghalangi kuntilanak itu. Makhluk astral itu terlalu tangguh buat ia.
Setelah kepergian si arwah tersesat tadi, sontak terdengar tawa melengking dari kuntilanak lebih mirip demit perempuan itu. Tawa penuh kemenangan dan kepuasaan karena tak akan ada yang menghalangi mereka masuk.
Setelah mendapat isyarat dari Madi tadi, arwah perempuan hamil itu pun melayang masuk ke dalam rumah, menuju pojok dapur tempat ia tinggal dari tadi. Sementara, demit perempuan itu berusaha masuk menembus pagar gaib Madi.
Suami Aulia itu pun tidak tinggal diam saja melihat gelagat yang kurang baik itu. Dia pun kembali berzikir sembari merapal banyak ayat dan doa. Makin hari kekuatan pemimpin makhluk penghuni pohon tua itu semakin kuat dan kian mengkhawatirkan.
Suara keras mulai terdengar mencoba membuyarkan konsentrasi Madi. Bahkan berkali-kali, pagar gaib yang sudah dipersiapkan Madi hampir jebol. Namun, Madi juga mempertahankan pagar gaib itu sekuat tenaga. Menyerahkan semuanya pada perlindungan Allah. Bacaan beberapa ayat pun kian diperkeras, agar bisa mencegah masuknya makhluk-makhluk itu.
__ADS_1
Geraman keras penuh amarah dan kebencian kembali terdengar dari makhluk bertaring itu. Tampaknya, dia benar-benar marah kini. Tawanya pun kian keras membelah malam.