
Benar saja, setelah salat Isya, kyai Sarwa dan
Madi sudah bersiap di depan rumah. Belum lama mereka menunggu, sebuah mobil berwarna hitam menghampiri mereka Seorang laki-laki berusia kurang lebih 40 tahun turun dari dalam mobil, dan segera mencium punggung tangan kyai Sarwa dengan hormat.
“Maaf, Kyai, kalau menunggu lama.” Kyai Sarwa hanya tersenyum. Setelah berbasa-basi sebentar, Laki-laki yang namanya Parman itu, segera mengajak kyai Sarwa dan Madi masuk ke dalam mobil. Pak Parman sepertinya sudah lama mengenal kyai. Buktinya mereka berdua tidak sungkan berbincang-bincang.
“Jadi yang sakit isterimu, Parman?” Kyai Sarwa menanyakan perihal kepastian siapa yang sedang sakit di rumah pak Parman.
“Benar, Kyai. Sudah beberapa hari, isteri saya menjerit-jerit kalau malam hari. Keadaannya sangat memprihatinkan,” ucap pak Parman menjelaskan.
Kyai Sarwa mengangguk-angguk mendengar penjelasan pak Parman. Kelihatannya kyai Sarwa sudah bisa menduga apa penyebab sakitnya.
“Kalau begitu, segera percepat bawa mobilnya. Jangan hirauan apa pun yang menghadang!” Pak Parman menjadi tegang setelah mendengar perkataan kyai barusan.
Mobil yang mereka kendaraai pun ditambah kecepatannya. Pak Parman ingin segera tiba
di rumah, agar kyai Sarwa bisa segera mengobati isterinya. Madi memperhatikan
mulut kyai Sarwa yang terus komat-kamit membaca doa. Sepertinya kyai mencoba
menghalau makhluk-makhluk dari dimensi lain yang mencoba menghambat perjalanan
mereka.
“Madi, coba pejamkan matamu berkonsentrasi, dan amalkan ilmu yang baru Kyai ajarkan!” Tiba-tiba saja, kyai Sarwa meminta Madi mengamalkan ilmunya yang baru dipelajari.
Madi kemudian menuruti perintah gurunya itu, dan apa yang dilihatnya membuat ia benar-benar terkejut. Di depan mobil yang mereka kendarai terdapat dua makhluk bertubuh sangat besar dan tinggi. Wajah dan kulitnya hitam legam. Mereka berusaha
menghalangi lajunya mobil. Di kiri kanan mobil juga terlihat beberapa makhluk yang bermaksud sama.
“Kyai, kenapa dan siapa yang mereka?” Madi bertanya, heran dengan gangguan yang mereka alami saat ini.
“Mereka adalah kiriman seseorang yang tidak menginginkan kita membantu pak Parman. “
__ADS_1
Kyai Sarwa menjawab smbil mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya mengusir makhluk-makhluk itu. “Coba pukul, makhluk yang berada di sisi mobil ini, Madi. Kyai, akan mencoba memukul makhluk yang ada di depan mobil!” Kyai Sarwa melanjutkan ucapannya.
Mendengar perkataan kyai Sarwa, Madi segera mempersiapkan diri membaca amalan dan doa disertai tenaga dalam, mencoba memukul makhluk-makhluk itu.
“Dug …, terdengar bunyi cukup keras mengenai dinding mobil. Seperti perintah kyai Sarwa tadi, Pak Parman tidak menggubris suara itu, dan tetap memacu laju mobil.
Wajah makhluk-makhluk itu semakin menyeramkan, bertambah sangar dan semakin ingin mencoba mengalahkan Madi dan menghentikan mobil.
Kali ini, sepasang tangan mencoba masuk melalui kaca jendela, mencekik leher Madi. Namun, dengan cepat Madi, memukul kembali sepasang tangan itu hingga terpental. Kemarahan makhlukmakhluk itu semakin memuncak. Bukan hanya Madi saja yang diserang, tapi, juga pak Parman.
Sepasang tangan makhluk yang lain, kali ini mengincar leher pak Parman. Beruntung Madi
segera menyingirkan sepasang tangan itu, sehingga tidak sempat melukai pak Parman.
“Pak Parman, tetap jalan saja, ya! Tidak usah menghiraukan kejadian-kejadian yang
cukup aneh ini!” Madi kemudian memperingatkan pak Parman. Tindakan ini perlu dilakukan agar konsentrasi Pak Parman menyetir tidak terganggu, sehingga mereka
bisa aman sampai tujuan.
Bersamaan, makhluk itu mencoba memukul dan membalikkan mobil. Melihat ulah makhluk itu, kyai Sarwa tidak tinggal diam. Beliau pun bersiap dengan amalan, doa serta tenaga dalam yang sudah terhimpun menghadapi serangan makhluk itu.
‘Dug … kembali terdengar mobil seperti membentur benda yang keras. Mereka yang ada dalam mobil, pak Parman, Madi dan kyai Sarwa tampak sedikit tegang menerima serangan dari makhluk yang menyeramkan itu.
Ternyata kyai Sarwa baru saja menghantam
pertahanan sepasang mahluk menyeramkan tadi. Tampak seringai kemarahan terpancar dari wajah-wajah mereka. Seiring dengan itu mereka menyerang kyai Sarwa dan Madi lagi.
‘Des …,’ terdengar pukulan kyai Sarwa dan Madi mengenai makhluk-makhluk itu dan
mementalkan mereka. Sementara pak Parman terus memacu mobil, dan tidak ingin
berlama-lama di jalan.
__ADS_1
“Menyingkirlah kalian, hai makhluk-makhluk tak kasat mata. Jangan halangi perjalanan kami!” Kyai Sarwa membentak semua makhluk itu. Pekik kemarahan terus saja mereka perdengarkan menyambut ucapan kyai Sarwa. Bukannya berhenti dan pergi, semua makhluk itu bahkan semakin gencar menyerang.
Kyai Sarwa pun tidak memberi ampun lagi, setelah member sebuah isyarat pad Madi, dia pun segera mengirimkan amalan pamungkasnya. Makhluk-makhluk itu harus segera dienyahkan, kalau ingin menyelamatkan nyawa isteri pak Parman secepatnya.
Madi juga mengikuti langkah kyai Sarwa. Meskipun amalan itu baru dipelajarinya, ternyata cukup ampuh untuk mengalahkan makhlukmakhluk yang menyerangnya.
“Berhenati … berhenti! Panas … panas …!” jeritan mulai terdengar dari makhluk-mahluk itu. Kyai Sarwa dan Madi, tidak memperdulikan jeritan mereka, dan terus mengeluarkan amalan agar makhluk-makhluk itu segera menyingkir.
Setelah merasa tidak sanggup lagi melawan kyai Sarwa dan Madi, akhirnya semua makhluk itu menghilang, tak lagi menyerang dan menghalangi perjalanan mereka.
“Bagaimana, Kyai? Apa keadaan sekarang sudah aman?” Pak Parman tiba-tiba bertanya. Mungkin pak Parman juga menyadari kalau ada yang tidak beres.
“Alhamdulillah, Man. Semua sudah beres. Teruslah menyetir, bukankah sebentar lagi kita akan sampai?” Kyai Sarwa menjawab pertanyaan pak Parman sambil tetap
memperingatkan beliau.
“Baik, Kyai. Tidak lama lagi kita akan sampai, tinggal beberatus meter lagi,” sahut pak Parman, masih tetap konsentrasi menyetir.
Gerimis mulai turun, hawa dingin pun semakin menyergap. Madi bersidekap, menahan dinginnya udara. Kyai Sarwa berbisik agar, Madi terus membaca doa dan
amalan-amalan agar tidak terlalu terpengaruh dengan udara dingin yang tidak biasanya itu.
Makhluk halus biasanya melakukan tindakan yang tidak diketahui manusia. Memanipulasi
rasa dingin berlebihan, padahal udara biasa saja, meskipun gerimis turun, tapi hawa dingin yang dirasakan tidak seperti yang dirasakan kini.
“Sebaiknya, mulai sekarang, terus waspada, Madi. Ingat itu. Banyak hal, yang tidak diketahui dan diduga oleh kita. Semua itu terkadang ada hubungannya dengan makhluk tak kasat mata!”
Madi mengangguk, berterima kasih karena mendapat pelajaran berharga dari kyai Sarwa.
Memang ilmu dan amalan sudah ia pelajari, tapi, dengan adanya pengalaman seperti
ini, Madi bisa mengerti bagaimana cara menerapkannya. Madi berharap, semoga
__ADS_1
nanti, bisa lebih trampil menggunakan semua amalan yang telah ia pelajari selama ini.