Penghuni Pohon Tua

Penghuni Pohon Tua
Saatnya Pulang ke Rumah


__ADS_3

Semenjak subuh, Aulia dan Madi telah sibuk bersiap-siap, berkemas pulang ke rumah mereka yang letaknya sekitar 2 jam perjalanan.


"Lia, jangan lupa sarapan dulu sebelum pulang!" Ibu Aulia mengingatkan Aulia. Dengan usia kandungan yang baru beberapa bulan, tentu saja cukup rentan.


"Iya, Bu. Lia pasti sarapan dulu," sahut Aulia lembut, tersenyum lebar. Wajahnya terlihat begitu segar pagi ini.


"Bawa juga untuk bekal makan siang kalian, nantinya. Ibu sudah masak cukup banyak!" Kembali ibu Aulia berkata. Aulia kali ini hanya mengangguk, berterima kasih atas perhatian ibunya.


Sebuah pelukan hangat diberikan sang ibu saat Aulia berpamitan, meminta restu untuk pulang kembali ke rumah mereka


"Hati-hati di jalan, Lia, Madi," ucap ibu Aulia, saat melepas kepergian mereka berdua.


"Iya, Bu. Kami akan selalu berhati-hati. Ibu tak perlu khawatir," jaeab Madi dan Aukia, melambaikan tangan dan berlaku dari sana.


"Kang, bagaimana keadaan rumah kita sekarang?" Aulia bertanya saat di perjalanan, mengisi kekosongan mengurangi rasa jenuh.


"Rumah sudah bersih sekarang, Dik. Kemarin, terlihat berdebu dan kotor."


Aulia tersenyum mendengar jawaban Madi, membuang pandabgannya ke luar jendela. Rasanya sudah lama sekali ia tak melewati jalan ini. Aulia benar-benar merindukan suasana di tempat tinggalnya.


"Bagaimana fengan penghuni pohon tua itu, Kang. Apa mereka masih ada di situ?" Kembali Aulia bertanya Meski rindu dengan rumah mereka, tapi tetap ada sedikit rasa takut menyelinap dalam hatinya.


"Mereka masih ada di sana, Dik. Kemarin, sewaktu Akang memebetsihkan rumah, mereka terlihat kurang senang dengan kehadiran Akang."


"Tapi nggak apa-apa kan, kalau Kita pulang dan tinggal kembali di sana?" Suara Aulia bergetar sedikit, nenahan takut yang tiba-tiba menyergap.


"Tenang saja, Dik. Akang akan berusaha mencegah gangguan mereka."


Aulia mengangguk, menyemburkan napas panjang, merasa lega saat mendengar ucapan suaminya tadi. Sepanjang sisa perjalanan, Aulia tak lagi berkata-kata. Dia menyandarkan kepala pada jok mobil, mrndengar alunan murotal yang diputar dari tapel. Perasaan tenang terus mengalir, membuang keresahan dan ketakutan yang tadi sempat menghampiri.

__ADS_1


Sesekali kepala Aulia bergoyang, menahan kantuk. Meski waktu perjalanan hanya menempuh sekitar dua jam saja, Aulia cukup menikmatinya.


Ketika tiba di rumah, Aulia tersenyum lebar. Akhirnya mereka pulang juga setelah beberapa lama mengungsi. Binar mata Aulia memancarkan kegembiraan. Tak sabar rasanya ingin segera masuk ke dalam rumah.


"Kang, tidak ada yang berubah ya, dengan rumah kita?" ucap Aulia, senang.


"Iya, Dik. Akang sudah membersihkan dan merapikannya semua kemarin," jawab Madi.


"Bismillah, ayo kita masuk, Dik!" Madi kemudian mengajak isterinya Aulia, masuk ke dalam rumah. Aulia mengangguk. Sama seperti pertama kali memasuki rumah ini, perempuan muda merasakan sensasi yang luar biasa. Kesenangan karena bisa memiliki sehuah rumah.


"Akang pasti capek ya, membersihkan rumah ini sendirian kenarin?"


"Sedikit, Dik. Itu semua agar Adik merasa nyaman karena rumah sudah dalam keadaan bersih."


"Terima kasih ya, Kang."


Madi tersenyum Gembira, mendengar ucapan terima kasih dari isterinya. Rasa pegal dan capai akibat membersihkan rumah kemarin tak lagi durasakannya.


"Iya, Kang. Adik akan istirahat sebentar, setelah itu, bantu Akang untuk merapikan peralatan di dapur.


Madi tersenyum, melangkah ke pojok ruangan, menghidupkan murotalbyang berada di sana. Mereka harus terus menciptakan nuansa yang berisi aura positif agar hawa negatif yang dipancarkan dari pohon tua itu bisa ditepis.


Ketika memasuki dapur, Madi dihadang oleh arwah perempuan yang selama ini menetap dalam rumahnya.


"Tolong sempurnakan kematianku, Tuan. Aku tak ingin terjebak di sini. Sudah sepatutnya, aku berada di alam sana, tanpa harus berada di sini."


Arwah perempuan itu memohon belas kasihan Madi untuk bisa bebas dari ikatan tumbal yang menjadikannya sebagai korban pesugihan oleh seseorang yang ternyata nasih kerabatnya sendiri. Madi, menghela napas, berpikir mencari jalan agar arwah itu bisa kembali ke alam yang sesungguhnya. Tidak bergentayangan seperti ini.


"Baiklah. Nanti, Saya akan coba. Sebaiknya, Mbak tetap saja di sini,bjangan berkeluaran ke mana-mana!"

__ADS_1


Arwah itu tersenyum. Mengangguk merasa sangat berterimakasih jarena Madi bersedia menolongnya. Setelah itu, arwah itu pun menghilang dari hadapan Madi, bersembunyi di antara tembok dapur yang berwarna putih.


"Akang ...." Panggilan Aulia, membuat Madi tersadar.


"Akang di dapur, Dik," sahut Madi.


"Oh ..., Akang di dapur. Adik bantuin ya, ngerapiin barang-barang, sekaligus menaruh bekal makan siang kita."


Madi mengangguk. Selanjutnya pasangan muda itu pun mulai sibuk menata dan merapikan kembali rumahbyang sudah cukup lama mereka tinggalkan itu.


Menjelang magrib, seperti biasa ketika mereka tinggal di sana dulu, murotal terus mereka putar. Mereka berdua juga sudah siap dengan air wudhu dan peralat salat. Bacaan zikir terus didawamkan Madi sampai saat azan magrib berkumandang.


Suasana di luar rumah sudah mulai gelap, saat Madi dan Aulia usai salat magrib. Udara dingin terasa sampai ke tulang. Gerimis perlahan mulai turun. Ini adalah suasana yang sangat disukai makhluk-makhluk tak kasat mata, seperti penghuni pohon tua itu.


"Kang, Akang ngerasain kalo udara semakin dingin?"


"Iya, Dik. Akang, merasakannya juga, kok. Tak usah cemas Kita bisa mengatasi hawa dingin ini. Yakin dan percaya saja!"


Madi memberi semangat pada Aulia, agar tak didera rasa takut. Hal itu wajar, karena sudah berulang kali makhluk-makhluk gaib penghuni pohon tua itu, mengganggu mereka.


"Iya, Kang. Adik tau kok. Akang pasti bisa mengatasi gangguan mahkluk-makhkuk itu."


Madi mengangguk pelan, mengumbar senyum di wajahnya. Sementara, ia terus berzikir, membentengi diri dan rumah.


Dari salat magrib sampai salat isya, belum ada gangguan nyata dari makhluk-makhluk itu. Menjelang tengah malam, baru makhkuk-makhluk itu berani mubcul, mengusik pasangan suami isteri itu. Udara bertambah dingin saja. Yang terdengar hanya bunyi jangkrik dan binatang malam lainnya.


Aulia masih tertidur lelap. Dia tak menyadari ada sepasang tangan, tiba-tiba mencoba mencekik lehernya. Sepasang tangan berbulu lebat dengan kuku runcing di setiap jarinya. Madi yang terjaga dari tadi, segeta memukul tangan itu, dengan sebuah hijib.


Pemilik tangan itu, sontak menarik dan menjauh dari Aulia. Madi, turun dari ranjang, membuat semacam batas gaib dan mengejar makhluk itu hingga ke ruang tengah. Ternyata, makhluk ini bisa menembus benteng gaib yang selama ini dibuat oleh Madi. Mungkin, karena belum dipertebal, makanya makhluk gaib itu bisa menembusnya.

__ADS_1


"Siapa Kau, hai makhluk pengganggu?" tanya Madi, membentak.


"Aku adalah salah satu bagian dari mereka!" jawabnya sangar. Matanya memerah memendam dendam, siap menyerang Madi.


__ADS_2