
Sememtara kyai Sarwa masih terus mencoba membujuk para jin itu segera pergi dan tidak menganggu keluarga pak Parman lagi, Madi terus berkonsentrasi mengumpulkan tenaga dalam, membuat perangkap, agar makhluk itu
tidak bisa keluar dari kamar kecuali mereka terdepak karena kalah bertempur melawan mereka.
“Kami juga tIdak bisa kembali pada tuan kami begitu saja, sebelum berhasil menjalankan kewajiban,” lagi-lagi pemimpin jin itu mulai berkilah. Makhluk seperti mereka memang paling pandai memperdayai manusia. Namun, kali ini mereka menghadapi lawan yang tangguh. Tidak mudah mereka pengaruhi.
“Kalau begitu, bersiaplah untuk segera pergi dari sini!” Kyai Sarwa tidak mau lagi mengulur-ulur waktu. Mereka harus dipukul secepat mungkin, untuk menghemat tenaga. Jumlah mereka lebih banyak.
Sontak semua jin itu tertawa, seperti mengejek dan meragukan kemampuan kyai Sarwa dan Madi. Makhluk itu merasa yakin bisa mengalahkan manusia yang mereka anggap tidak akan mampu melawan .
Kyai Sarwa dan Madi tidak menggubris tawa jin-jin itu, dan sibuk merapal semua amalan yang bisa digunakan untuk melawan dan mengusir semua jin itu. Kedua tangan kyai dan Madi terlihat mengepal, mengisinya dengan amalan yang siap dipukulkan kepada semua jin-jin itu.
Melihat musih yang sudah bersiaga, jin-jin itu kemudian berpencar, mengelilingi kyai Sarwa dan Madi. Mata mereka terlihat mengerikan
sekarang, merah dan tajam, seolah ingin menelan mangsa yang telah berada di
hadapan dengan bulat-bulat.
"Selalu siaga, Madi! Jangan sampai lengah. Mereka bukan jin sembarangan. Umur mereka pun sudah ribuan tahun!” bisik kyai Sarwa memperingatkan madi. Ya, Madi memang pernah berhadapan dengan jin sebelumnya, tapi, jin yang ini sangat berbeda. Kekuatannya pun berbeda.
Selagi memperingatkan tadi, sebuah serangan telah dilancarkan salah satu jin yang berada di sebelah kyai Sarwa. Meski sedikit terkejut, dengan tenang, kyai Sarwa mengelak dan membalas dengan pukulan pula.
Berkelahi dengan makluk tak kasat mata memang sangat berbeda dengan manusia pada umumnya. Mereka tidak terlihat sehingga pergerakannya terkadang susah ditebak. Orang seperti kyai Sarwa dan Madi, yang telah terbuka penglihatan mata batinnya, bisa dengan leluasa melihat gerakan mereka.
Sebuah pukulan juga diarahkan Madi pada jin yang berada di sebelahnya. Cukup repot, harus menghadapi semua jin itu. Apalagi tadi kyai Sarwa baru saja mengusir jin yang mendiami raga bu Ningsiih.
Tawa jin –jin itu kembali bergema dalam kamar, mengejek kyai Sarwa dan Madi yang sedang kerepotan menghadapi mereka. Kyai Sarwa dan Madi tidak merasa gentar. Berkali-kali mereka berdua mengepalkan tangan dan
melayangkan pukulan ke arah jin-jin itu. Pertempuran seperti ini memang sangat
menguras tenaga.
__ADS_1
Suasana dalam kamar benar-benar kacau Beberapa barang yang ada di sana, seperti meja kecil dan jam dinding, seperti melayang, terkena serangan. Jin-jin itu benar-benar mengeluarkan semua kemampuan untuk bertahan, agar tidak diusir dari rumah pak Parman.
“Ternyata, kalian kuat juga, manusia. Sebaiknya, hentikan saja pertempuaran ini dan mengaku kalah!” ejek pemimpin jin tersebut.
Kyai Sarwa bertambah geram, melihat kepongahan pemimpin jin itu. Bergegas sebuah pukulan ia sarangkan ke jin itu. Sebuah ajian pamungkas telah diselipkan kyai Sarwa tadi. Seketika, pemimpin jin itu
berteriak kesakitan, kelihatannya pukulan kyai Sarwa tadi mengenai jin itu.
Melihat hal itu, kemarahan semua jin itu tidak terbentung lagi. Mereka pun terus mengelilingi, kyai Sarwa dan Madi, mencoba menyerang dari segala penjuru. Namun, kyai Sarwa dan Madi masih memiliki pertahanan yang cukup kuat, sehinngga tidak mudah ditembus oleh gerombolan jin tersebut.
“Tidak ada salahnya, kalian segera pergi dari sini, sebelum hilang kesabaran kami!” Kali ini, Kyai Sarwa yang menggertak jin-jin itu. Makhluk yang berasal dari dimensi lain itu juga tidak menggubris gertakan kyai Sawra.
Beberapa saat, eperti ada yang mengkoordinir, mereka bergerak bersamaan
menyerang Kyai Sarwa dan Madi dengan mengerahkan seluruh kemampuan. Namanya
juga jin, selain menggunakan pukulan, mereka juga menggunakan tipu daya untuk megalahkan kyai Sarwa dan Madi.
Gerombolan jin itu berusaha mengadu domba kyai Sarwa dan Madi, sehingga mereka akan lebih mudah untu dikalahkan. Tidak mau diadu domba, kyai Sarwa pun kembali menyarangkan pukulan pamungkasnya yang lain
Jin yang berteriak kepanasan itu pun tak lagi bisa melanjutkan serangannya dan segera menghilang dari dalam kamar. Melihat hal itu, pemimpin jin itu pun semakin marah, tak lagi tertawa terkekeh-kekeh. Seringai kejam penuh amarah kini sebagai pengganttinya
“Jangan merasa menang dulu, manusia!” serunya sambil menunjuk kyai Sarwa dan Madi.
Kyai Sarwa tak lagi menggubris amarah pemimpin jin itu,
dan kembali melayangkan satu pukulan ke arah kiri kanan, menghantam dengan
telak salah satu anak buahnya. Kembali teriakan panas. Terdengar memenuhi
ruangan. Satu jin lagi, jatuh terkena serangan kyai sarwa dan Madi.
__ADS_1
“Panas … panas …, ampun!” jin yang terkena serangan kyai Sarwa terus mengaduh kepanasan dan berteriak ampun. Ampun. Tingkah jin itu tidak berlangsung lama. Setelah tidak kuat lagi menahan hawa panas yang menyelubunginya, jain itu segera lenyap, menghilang dari pandangan.
Mellihat dua anak buahnya telah lenyap, pemimpin jin itu
semakin marah. Dia tak lagi segan-segan menyerang kyai Sarwa dan Madi. Jin itu
mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk mengalahkan MadI dan kyai Sarwa.
“Apa yang telah lakukan? Sebaiknya kalian menghentikan
zikir kalian!” Pemimpin jin itu berulang kali mengingatkan kyai Sarwa dan Madi,
menyuruh berhenti berzikir.
“Kalian kira,tidak ada makhluk lain yang lebih kuat dan
bisa mengalahkan kalian?” Kyai Sarwa berkata , kemudian tersenyum tipis. Sementara Madi baru saja
memukul jin yang berdiri paling dekat dengannya
“Panas … panas …!” Kembali teriakan terdengar dari jin
itu. Sepertinya, kyai Sarwa dan Madi , secara perlahan sudah berhasil menguasai
pertempuran ini. Tinggal menunggu gerakan pemimpin jin tersebut.
Melihat beberapa anak buahnya mulai dikalahkan Kyai Sarwa dan Madi, jin itu semakin murka. Dia mengeluarkan seluruh kemampuan untuk mengalahkannya.
“Tunggu saja pembalasanku!” seru pemimpin jin itu sambil menunjuk kyai Sarwa.
Kyai Sarwa tidak merasa gentar mendengar ancaman jin tersebut, malah semakin memperkuat pertahanan agar tidak mampu diserang. Madi juga berbuat hal yang sama. Bahkan kini lebih dahulu menyerang jin yang berada di sisi kanannya.
__ADS_1
“Panas … panas …. Ampun …!” jin itu terus berteriak minta agar Madi segera menghentikan serangan.
Bukannya berhenti, malahan Madi semakin mempergencar serangannya, hingga akhirnya terpental ke luar kamar