
Kyai Sarwa, hanya memperhatikan Madi, belum memperlihatkan wujudnya. Sementara Madi tetap berusaha mempertahankan diri, tak mengindahkan ejekan Nang.
Makhluk astral yang tadi bergerombol, mulai bergerak, bukan hanya menonton saja. Satu persatu mereka semakin mendekat, ikut mengeroyok Madi.
Aura negatif semakin tebal, menyelubungi sekitar pekarangan rumah orang tua Aulia. Madi, semakin waspada, tak mau terluka. Zikir dan hijib yang dikuasainya semua dikerahkan, agar bisa bertahan dan mengalahkan Nang dan sekutunya.
"Masih belum menyerah juga, kau, Madi?" Kembali Nang mengejek, bermaksud membuat Madi gusar.
Madi hanya terdiam, tersenyum, tipis, tak perduli dengan ejekan Nang. Tangan Madi sudah terkepal, diisi hijib, siap dilesatkan, mencari sasaran.
Sebelum Nang bertindak, Madi terlebih dahulu mengirimkan sebuah hijib yang terakhir dipelajarinya dari kyai Sarwa. Nang yang tak menduga akan diserang, terhenyak, mundur, saat terkena serangan Madi. Kuntilanank yang berada dalam tubuh Nang, segera membalas dan melesat kencang ke arah Madi.
Kuku tangan Nang yang meruncing, siap merobek seluruh tubuh Madi. Semua makhluk tak kasat mata, seperti sepasang kakek cebol, genderuwo, jin dan makhluk tepung lainnya, juga ikut menyerang.
Madi, sibuk, mengelak, menjauh sedikit dari Nang dan sekutunya. Desiran angin, tiba-tiba begitu kencang disertai udara dingin, membuat Madi sedikit menggigil.
Tanpa menunda lagi, Madi, berusaha menetralisir hawa negatif yang dikeluarkan oleh makhluk astral tersebut. Sangat berbahaya, kalau, Madi tak berhasil keluar dari kungkungan aura jelek itu. Madi bisa saja terkena pengaruh, menyebabkan dia tak sadar diri dan terpengaruh dengan kekuatan gaib milik sekutu Nang tersebut.
Genderuwo, bertubuh hitam itu, tau-tau sudah berada di depan Madi, mengancam keselamatan Madi. Madi berusaha tenang, tak panik, padahal serangan ini bisa membuat dirinya terluka.
"Dar ..."
Hijibnya beradu dengan kekuatan gaib genderuwo itu. Madi, hanya mundur satu atau dua langkah, sementara genderuwo itu terpental cukup jauh. Mulutnya tak henti berteriak kepanasan.
"Bagaimana, Nang? Salah satu sekutumu, sepertinya sudah akan menyerah!"
Kali ini, Madi yang mendapat kesempatan, mengejek Nang.
__ADS_1
"Ha ... ha ..., itu tak menjadi soal, Madi. Masih ada beberapa makhluk lagi yang siap membuatmu bertekuk lutut!"
Cucu nenek bungkuk itu, masih tetap pongah, percaya bahwa dengan kekuatannya malam ini, bisa mengalahkan Madi.
Madi tak mau lagi melayani ucapan Nang tersebut, terus saja berkonsentrasi, memikirkan bagaimana caranya mengalahkan mereka. Di sekitarnya, masih ada 4 atau 5 makhluk tepung lainnya. Dan, yang paling berbahaya adalah demit perempuan yang menyatu dengan tubuh Nang.
Benar saja, belum usai Nang berucap, tubihnya sudah berada sangat dekat dengan Madi. Tampak mata Nang memerah, mengeluarkan pancaran sinar yang dapat menghipnotis. Tak mau gegabah, Madi, segera menghindar, mundur sedikit, sehingga terlepas dari perangkap hipnotis kuntilanak yang merasuki tubuh Nang.
Saat melangkah mundur, beberapa makhluk tak kasat tadi segera mengurung, dan membuat Madi tak bisa bergerak. Situasi yang sangat genting sekali bagi Madi. Jika, Nang bisa mempengaruhi dan menghipnotis Madi, maka dia akan luka dan bisa dijadikan budak, bersekutu dengan Nang dan pengikutnya.
Melihat kondisi yang tak menguntungkan itu, kyai Sarwa segera muncul, memukul makhluk tak kasat mata yang mengungkung pergerakan Madi. Madi pun terlepas dan bisa menghindar dari tangkapan Nang dan kuntilanak itu.
"Orang tua, jangan ikut campur dengan urusan kami!"
Suara Nang yang dipengaruhi demit perempuan itu terdengar melengking. Marah, karena tak berhasil mengalahkan Madi.
Kyai Sarwa membalas ucapan Nang dengan pernyataan tegas. Nang dan sekutunya, sudah sepantasnya diberi ganjaran, agar jera, tak lagi mengganggu ketenangan Madi dan Aulia.
"Kalau begitu, jangan salahkan kami, kalau berbuat kasar!"
Kali ini, pekik Nang sangat keras terdengar, bersamaan dengan itu, serangan demi serangan telah dilesatkan. Semua pukulan yang dilepaskan Nang tak ada yang ringan.Semuanya berbahaya, dan mampu meluluh lantakkan kyai Sarwa dan Madi.
"Terima kasih, kyai sudah bersusah payah mau membantu Madi." Ucap Madi, sebelum menerima pukulan. Nang.
Kyai Sarwa memandang Madi, melemparkan sebuah senyuman, isyarat bahwa hal itu memang sudah merupakan kewajibannya sebagai seorang guru.
"Sekarang, bersiaplah, menerima serangan mereka. Kyai akan membantu membereskan semua ini!"
__ADS_1
Madi mengangguk, tak sempat lagi menjawab perkaraan kyai Sarwa. Sibuk melayani serangan makhluk-makhluk, sekutu Nang.
Sementara kyai Sarwa mengambil posisi, berhadapan dengan Nang. Mencoba mengusir kuntilanak yang menyetir raga Nang.
Kuku tangan Nang yang berubah menjadi menyeramkan, terus mengincar seluruh tubuh kyai Sarwa. Sabetan tangan Nang sangat berbahaya, bunyi serangan itu sendiri seperti angin tornado yang siap menggulung korbannya.
Kyai Sarwa sendiri, tampak cukup kerepotan meladeni perempuan, demit yang mendiami raga Nang. Sangat disayangkan kekuatan cucu nenek bungkuk ini disalah gunakan. Kalau saja dipergunakan untuk hal-hal yang baik, pastilah akan sangat bermanfaat buat banyak orang.
"Des ..."
Sebuah pukulan Nang, lewat di samping tubuh kyai Sarwa. Terasa sangat dingin.
Setelah berhasil menghindar, kyai Sarwa membalas pukulan Nang tadi. Sebuah ajian disarangkannya. Pukulan yang bisa membuat musuhnya akan merasa seperti terbakar, apalagi kalau mengenai makhluk astral.
Kekuatan supranatural kyai Sarwa tak lagi diragukan. Banyak pihak sudah mengakui keunggulan kyai Sarwa. Bukan hanya manusia tapi juga makhluk-makhluk yang berasal dunia gaib. Banyak di antara mereka yang sudah mendengar nama besar kyai Sarwa, tak mau berhadapan secara langsung dengannya.
Nang yang disetir demit perempuan yang berada dalam tubuhnya, menghindar serangan kyai Sarwa. Tubuhnya seperti melayang, mundur, sambil mempersiapkan sebuah pukulan.
Madi sendiri sibuk melayani makhluk tak kasat mata yang tadi mengerangnya. Sepasang kakek yang berwajah seram itu, menyerang Madi. Juga, makhluk halus lainnya, yang rata-rata memiliki bentuk dan wajah yang aneh. Ada yang tubuhnya tinggl, besar dengan mata melotot. Ada juga yang menyerupai seperti binatang. Semua, berlomba, ingin mengalahkan Madi.
"Terimalah serangan kami, manusia! Sudah sepantasnya, kau, tak mengusik kami!"
"Kalianlah, yang harus keluar dan tak mengganggu kehidupan kami!"
Madi tak mau kalah, balik menggertak semua makhkuk astral tersebut.
Madi pun tak ingin berlama-lama lagi, bersilat lidah dengan penghuni pohon tua dan beberapa makhluk yang lain. Satu per satu mereka mendapat serangan hijib dari Madi.
__ADS_1
Tak mau kalah makhluk-makhluk tak kasat mata itu juga balik menyerang Madi. Pertarungan tak seimbang, satu orang harus melawan hampir lima sosok makhluk tak kasat mata.. Terutama sepasang kakek nenek yang tak pernah jera melawan Madi. Meski sudah beberapa kali dikalahkan, tapi, kembali dan terus mencoba sampai Madi bisa kalah.