
Salah satu dari makhluk penghuni lukisan itu, kemuduan menyerang Bayu lagi. Mengeluarkan bau amis yang sangat pekat, membuat Bayu menutup hidung, mencoba menghalau rasa tak sedap itu.
"Bagaimana, manusia? Apa sudah menyerah sekarang?" ejek makhluk itu seraya menyeringai. Membuat penampilannya bertambah jelek dan menakutkan.
Bayu tak mampu menjawab ejekan makhluk itu. Bahkan, kini sudah mulai merasa mual dan muntah. Meligat gelagat yang kurang baik itu, Madi mencoba menolong Bayu. Sementara kyai Sarwa dan ustad Amir menghadapi dua makhluk penghuni lukisan yang lain.
"Coba netralisir hawa negatif yang mencoba merasukimu, Bayu. Tarik napas perlahan, lalu bacakan zikir dan hijib yang bisa melepakasmu dari aura buruk makhluk itu!" Madi memberi arahan pada Bayu agar bisa segera pulih dari serangan makhluk itu.
Bayu memandang Madi, melakukan saran yang diuxapkannya, meski terasa sab
ngat sulit, karena berada dalam tekanan makhluk penghuni lukisan itu. Madi juga membantu Bayu menetralisir hawa jahat yang disarangkan makhluk itu ke dalam tubub Bayu.
Melihat tindakan Madi yang memvantu Bayu, makhluk itu segera menyerang kembali. Kali ini, bukan hanya bau amis saja tapi juga disertai hawa yang sangat dingin. Bayu sampai menggigil. Madi jadi narah melihat tindakan makhluk itu.
Madi, segera melancarkan hijib melalui pukulan tinju untuk membuat makhluk itu berhenti sejenak mengganggu Bayu.
Makhluk itu seketika murka karena Madi berhasil lolos dari serangannya. Walaupun Bayu masih terlihat lemas, menggigil akibat serangan yang barusan dilancarkan makhluk itu.
"Bayu, sebaiknya, kau, istirahat dulu!" ucap Madi sambil menyenderkan Bayu di dinding. "Zikir jangan kau hentikan, teruskan saja, meski bau amis dan hawa dingin menyelimutimu!" Madi melanjutkan ucapannya. Tak lupa, Madi membuat semacam garis, membentengi Bayu dari upaya penghuni lukisan yang hendak menyerangnya.
"Terima kasih, Kang!" ucap Bayu lirih, yang dibalas dengan seulas senyum oleh Madi.
Melihat Bayu sudah berhasil mereka taklukkan, ketiga makhkuk jelek berbau amis itu kembali memamerkan seringai dan tertawa sangat keras. Membuat Madi jengkel dan ingin segera mengenyahkan mereka. Namun, sebelum Madi bertindak gegabah, kyau Sarwa segera menghentikannya.
__ADS_1
"Sabar, Madi. Tahan emosimu. Itu yang mereka harapkan!" Mendengar teguran kyai Sarwa, Madi akhirnya sadar, dan segera mengucap istifghar, mengibgat nama Allah, untuk menghalau amarah yang tadi ditiupkan makhluk-makhluk jelek itu.
"Terima kasih, Kyai. Maafkan, tadi Madi benar-benar emosi saat mendengar ejekan mereja."
"Ndak apa. Kyai, maklum. Sekarang, kita harus lebih berhati-hati. Ternyata, mereka lebih kuat dari perkiraan semula."
Madi mengangguk, kali ini rasa marahnya sudah mereda. Dia sudah bisa neredam emosi yang tadi diperlihatkannya saat diejek makhluk-makhluk itu.
"Ha ... ha ... kalian bukanlah tandingan kami. Coba lihat kawan kalian telah berhasil kami singkirkan!" ketiga makhluk itu terus berusaha memvangkitkan amarah Madi, tapi, kali ini, Madi tak terpengaruh lagi. Dia bahkan terus memperbanyak zikir dan membaca hijib yang disalurkannya melalui kepalan tangannya.
Melihat sikap Madi yang sudah tenang, kyai Sarwa mukai tersenyum, lega melihat muridnya itu sudah bisa mengendalikan hawa nafsu yang memang sengaja dibangkitkan oleh ketiga penghuni lukisan itu.
"Kalian bukan apa-apa kami!" Gantian kyai Sarwa yang mencoba membuat ketiga makhluk itu murka.
"Ha ... ha ... ha ... mana bisa manusia. Kalian tak akan mampu mengalahkan kami!" Kembali ketiga makhluk itu tertawa keras dan terus menerus mengeluarkan kata-kata ejekan.
Madi kemudian menghela napas panjang, mengalirivkedua tangannya dengab hijib, membaca zikir dan segera melesatkan pukulan hijib ke arah ketiga makhluk yang sedang tertawa keras itu.
Mendapat serangan yang tak diduga, tawa ketiga makhluk penghuni lukisan itu seketika terhenti. Ternyata hijib Madi mengenai salah satu dari ketiga makhluk itu. Sontak, kemarahan mereja tujukan pada Madi.
"Jangan sombong manusia! Kami akan membalas pukulanmu." Madi tersenyum sinis mendengar ucapan penuh kemarahan dari makhluk tak kasat mata itu.
Kyai Sarwa menepuk pundak Madi, isyarat agar lebih berhati-hati untuk bertindak. Jangan gegabah seperti tadi.
__ADS_1
Belum lagi, Madi semlat mengucapkan sesuatu, ketiga makhluk sudah krmbali menyerang. Bukan hanya bau amis dan hawa dingin, tapi tangan mereka sepergi sudah sangat dengan leher Madi dan ustad Amir serta kyai Sarwa.
Ustad Amir terlihat megap-megap, ketika sepasang tangan milik salah satu makhluk itu telah berhasil mencapai lehernya. Madi sendiri berhasil menyelamatkan diri, setelah berhasik menghalau sepasang tabgan milik makhlhk itu debgan hijib yang selama ini ia asah dan amalkan.
Makhluk yang menyerang ustad Amir segera dipukul Madi. Cekikan makhluk itu segera lepas dan ustad Amir mampu bernapas kembali.
"Hati-hati, Ustad. Kita tak boleh lengah kalau sedang berhadapan dengan makhluk seperti mereka!" Madi mengingatkan ustad Amir agar lebih berhati-hati lagi mulai sekarang. Di saat Madi meneh ke arah kyai Sadwa, ternyata nakhkuk yang mencoba mencekik lemimpun pondon pesantrsn ifu oun sudah berhasil dipukul mundur.
"Apa kalian masih belum mau pergi juga?" tanya kyai Sarwa, sedikit jengkel dengan tindakan makhluk tersebut yang mulai melewati batas.
"Kami tak akan berhenti sampai maksud kami tercapai!" seru alah satu makhluk, yang merjpakan pemimpinnya.
"Kalau begitu, lebih baik kalian bersiap, kami tak akan membiarkan kalian, mengganggu dam membjat onar di sini!" Kalj ini, Madi tak mau lagi menggubris ocehan para makhkuk itu dan mulai melancarkan pukulan hijibnya.
Tindakan Madi akhirnya diikuti oleh kyai Sarwa dan ustad Amir. Mereka bertiga bahu membahu menyerang makhluk penghuni lukisan itu. Meski pun tadi ustad Amir sempat tak berkutik saat diserang, tapi, sekarang dia akan mengerahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya. Membaca zikir dan melepaskan pukulan hijib, meski tak semumpuni milik kyai Sarwa atau Madi.
"Bagus, Amir! Teruskan. Lama kelamaan mereka pasti akan bisa kita usir!" Kyai Sarwa berteriak, terus membakar semangat ustad Amir.
Merasa mendapat dukungan, ustad Amir semakin bersemangat, mencoba mengalahkan dan mengusir makhluk-makhluk itu. Madi juga tak mau tinggal diam, dia pun semakin gencar melancarkan pukulan hijibnya.
Bau amis, hawa dingin, maupun sepasang tangan milik makhluk itu masib terus mengancam kyai Sarwa, Madi dan ustad Amir. Namun, sedikit demi sedikit, mereka mulai bisa mengatasinya.
Tawa panjang serta ejekan yang sedari tadi diperdengarkan oleh makhluk penghuni lukisan itu kini tak terdengar lagi. Yang ada hanya geraman kemarahan, jengkel karena dari tadi belum berhasil mempengaruhi kyai Sarwa, Madi dan ustad Amir.
__ADS_1