
Setelah nenek bungkuk menghilang membawa cucunya, tinggal Jaka sendiri bersama makhluk-makhluk tak kasat mata yang akan dihadapi kyai Sarwa dan yang lainnya. Mereka telah berhasil memanfàatkan kelemahan Nang.
Melihat situasi yang kurang menguntungkan, Jaka kemudian menarik seluruh makhluk astral yang membantunya, lalu ia sendiri juga ikut lenyap. Menghilang dari sana tanpa mampu dicegah.
"Kali ini, aku mengalah, Kyai. Tapi, tunggu saja pembalasanku. Hidup kalian akan kubuat tak tenang!"
Itu pesan yang diucapkan Jaka dengan lsntang sebelum benar-benar sirna dari hadapan kyai Sarwa dan yang lainnya.
"Alhamdulillah ..., akhirnya mereka bisa juga kita atasi!" seru kyai Sarwa lega.
"Syukurlah, mereka tak berlama -lama di sini," sahut kyai Senta. Madi dan Silo hanya mengangguk. Silo sendiri masih sedikit kesakitan terkena pukulan Jaka tadi.
"Kau, ndak apa-apa, Silo?" tabya kyai Senta, mendekati dan memeriksa tubuh Silo.
"Masih terasa sakit, Kyai, tapi, tak sesakit tadi," jawab Silo, meringis saat fiperiksa bagian pundaknya oleh kyai Senta.
"Sebaiknya kita pulang dan beristirahat, Sarwa. Silo, biar Akang yang ngobatin!"
Kyai Sarwa mengangguk, setuju dengan saran dan perkataan kyai Senta, kakaknya. Hari juga sudah larut. Para santri juga dudah mulai lelah.
Sebelum pulang, Madi bergerak menuju aula, memberi khabar kalau Jaka sudah brrhasil diudir. Untuk sementara mereka akan aman dari gangguan mantan murid kyai Sarwa itu.
Wajah lega terpampang di seluruh wajah para santri yang masih terjaga Rasa cemas yang beberapa jam yang lalu menghiasi wajah mereka telah lenyap. Semuanya merasa sangst bersyukur bisa lepas dari gangguan si Jaka.
"Malam ini, para santri biarkan saja beristirahat dalam aula. Besok pagi setelah salat subuh, baru kembsli ke kamar masing-masing!" pesan Madi pada Bayu dan ustad Amir.
"Baik, Kang," jawab Bayu, mengiringi Madi ke pintu aula.
Madi lalu pamit dan menyusul kyai Sarwa dan lainnya pulang. Malam ini, mereka bisa beristirahat sedikit lebih nyenyak dibandingkan malam-malam sebelumnya.
Di tempat kediaman nenek bungkuk, Nang masih tergeletak lemah. Dadanya msih terasa lemah.
__ADS_1
"Minumlah ramuan ini, Nang. Luka dalammj bisa segera sembuh!" ucap nenek bungkuk, memberikan segelas air rebusan obat yang masih hangat.
"Terimakasih, Nek. Ampuni Nang, tadi lengah."
Kepala si Nang tertunduk, tak berani menatap nenek bungkuk.
"Sudahlah, Nang! Tak usah dipikirkan. Sekarang, yang penting kondisimu bisa segera pulih." Nenek bungkuk berusaha membesarkan hati cucunya itu.
Nang mengangguk, lega mendengar jawaban nenek bungkuk. Ternyata, dia masih masih diperhatikan oleh neneknya.
"Sekarang, istirahatlah! Nanti, setelah keadaanmu membaik, Nenek akan membawamu ke rumah buyut, Nyi Sentari."
Kembali Nang mengangguk. Berkunjung ke rumah Nyi Sentari, itu berarti, dia akan menerima ilmu yang selama ini hanya diwariskan pada nenek bungkuk.
Ilmu yang selama ini hanya diwariskan secara turun temurun. Ilmu hitam yang penuh dengan aura sesat, bekerja sama dengan iblis.
Di pondok, melihat situasi sudah mulai aman, Madi bermaksud minta izin untuk pulang. Kasihan Aulia, isterinya masih membutuhkannya. Apalagi srkarang kondisinya sedang mengandung. Jaka sendiri juga sementara tak mengadakan pergerakan. Nenek bungkuk masih berkonsentrasi menyembuhkan cucunya.
Kyai Sarwa memandang Madi lekat. Seulas senyum menggores di bibirnya.
"Kamu ndak apa pulang dulu Madi. Mumpung Jaka dan pasukannya masih belum bergerak."
Madi tersenyum. Ada perasaan bahagia mengalir ke seluruh pembuluh darahnya. Sudah rindu rasanya ingin bertemu dengan Aulia.
"Terima kasih, Kyai. Kalau ada sesuatu hal yang membahayakan pondok, Kyai bisa segera hubungi Madi," sahut Madi.
"Iya, Kau ndak usah khawatir, Madi. Siapa lagi yang bisa dimintai tolong."
Madi tersenyum kecil menanggapi ucapan kyai Sarwa. Memang benar, Madi adalah salah seorang yang akan dimintai tolong untuk mengamankan pondok dari gangguan Jaka nantinya.
"Saat pulang, Kau harus tetap melatih hijib-hijib yang pernah Kyai ajarkan!"
__ADS_1
"Baik, Kyai. Madi, pasti akan terus berlatih."
Madi mempertegas kata-kata kyai Sarwa tadi. Dia memang harus rutin danvrajin berlatih agar hijib yang dimilikinya tetap memiliki keampuhan saat dipergunakan.
"Sekarang, Kau, siap-siap, kyai Senta akan tetap berada di sini, sementara Kau pulang."
"Benar, Kyai ...?" Madi sangat senang. Itu berarti, di sisi kyai Sarwa masih ada seseorang yang membantunya jika suatu waktu, Jaka berniat memetintahkan sekutu-sekutunya mengganggu ketentraman pondok.
"Iya, benar. Jadi, Kau ndak usah khawatir lagi. Aulia juga sudah cukup lama ditinggal."
Senyum Madi sudah semakin lebar, tak sabar menunggu saat pulang. Perasaannya berbunga -bunga, tak sabar ingin melihat wajah isteri dan rumahnya.
"Nanti, saat pulang kembali pulang ke rumahmu sendiri, Kau boleh coba usir para penghuninya!"
Madi agak terperanjat mendengar ucapan kyai Sarwa. Mengusirnya, dengan hanya mengandalkan kekuatannya sendiri?
"Iya, Madi. Beberapa penghuninya bisa Kau usir sendiri, sebelum mereka bertambah banyak."
Madi mengangguk saja, tak terlalu yakin bisa mengusir penghuni pohon tua yang jumlahnya cukup banyak. Seperti kata kyai Sarwa tadi, beberapa penghuni pohon tua yang kekuatannya masih di bawah Madi, sudah boleh disingkirkan satu per satu. Sehingga, lama kelamaan tak banyak lagi makhluk gaib yang mau bertempat tinggal di sana.
"Baik, Kyai. Madi akan berusaha semampu Madi untuk mengusir mereka!" jaeab Madi tegas, penuh semangat. Satu tekad telah mengisi benaknya. Keyakinan bisa membuat keadaan di sekitar rumahnya aman dari gangguan makhluk yang menghuni pohon tua.
"Ya, sudah. Kau, sebaiknya segera siap-siap. Hanya itu, wejangan yang ingin Kyai sampaikan. Kalau ada apa-apa, segera hubungi Kyai!"
Madi mengangguk. Setelah berbincang-bincang, Madi pun pamit, bermaksud mempersiapkan kepulangannya. Memang tak banyak yang akan dipersiapkan. Hanya beberapa lembar pakaian dan perlengkapan pribadi lainnya. Dia juga harus berpamitan pada kyai Senta dan bebrapa santri dan ustad seperti Bayu dan Amir yang telah bekerja sama dengannya selama ini.
Cuaca di sekitar pondok, terlihat terang. Matahari bersinar dengan teriknya, mengusir udara dingin yang sering menyelimuti pondok. Aura negatif perlahan mulai mencair, menghilang seiring dengan kepergian Jaka untuk sementara. Kegiatan di pondok pun berlangsung nornal seperti biasanya.
Madi tersenyum, merasa sangat bersyukur bisa dan pernah mengenyam ilmu di sini. Dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat Bayu dan ustad Amit berjalan menghampirinya.
Madi kian tersenyum saat mereka berdua sudah berada di hadapannya, memberi salam dan menjabat kedua tangannya dengan hangat. Saat ini, Madi merasa tenang pulang karena banyak yang masih setia pada kyai Sarwa.
__ADS_1