Penghuni Pohon Tua

Penghuni Pohon Tua
Menemukan Sesuatu


__ADS_3

Madi dengan teliti memeriksa setiap rak buku. Rasa mual itu mulai berkurang, tapi, hawa dingin yang tadi menyerang masih tersisa. Sambil terus bergerak, Madi mengamati setiap rak buku dengan hati-hati. Mencari sumber hawa negatif yang tadi tiba-tiba ada.


Ketika tiba, di rak buku yang keempat, perasaan mual kembali menghampiri Madi, kali ini lebih kuat dari yang tadi. Hawa dingin pun semakin tebal menyelimuti sekitar rak buku keempat. Setelah menetralisir rasa mual itu, Madi melanjutkan lencaruannya.


Saat tiba di pertengahan rak, Madi melihat ada gulungan kertas, berada di atas sebuah buku lama yang cukup tebal. Penasaran, Madi mengambil dengan cepat gulungan itu.


Hawa dingin dan rasa mual kembali menyerang Madi. Kali ini semakin hebat. Madi pun memejamkan mata, menarik napas panjang, membaca zikir dan hijib, menepis serangan rasa mual itu.


Merasa sudah lebih baik, Madi menguatkan diri membuka gulungan itu. Ternyata, itu sebuah lukisan yang sudah cukup lama. Warnanya pun sudah mulai memudar. Lukisan itu menggambarkan beberapa wajah yang tak dikenal Madi. Semuanya terasa aneh dan aura yang dipancarkan oleh lukisan itu benar-benar jahat.


Madi kemudian menggulung kembali lukisan itu dan membawanya menuju kyai Sarwa. Madi merasa kalau lukisan itu adalah salah tempat makhluk astral yang tadi membuatnya terus menerus merasa mual.


Sementara, kyai Sarwa juga memeriksa perpustakaan itu dari sisi yang berbeda. Apa yang dialami Madi juga dialami oleh kyai Sarwa. Hanya saja, pemimpin pondok ini lebih berpengalaman, jadi sudah lebih mempersiapkan diri saat serangan rasa mual itu datang.


Di salah satu sudut, kyai Sarwa juga menemukan sebuah lukisan yang memancarkan aura yang kurang bagus. Lukisan yang menggambarkan pemandangan desa, tergantung di dinding itu, memang tampak biasa saja di mata orang awam. Namun, jika diteliti dengan mata batin, itu bukan lukisan biasa. Lukisan itu adalah tempat persembunyian makhluk-makhluk astral yang berniat jelek, ingin mengusik ketentraman di pondok.


"Kyai, Madi menemukan sebuah lukisan lama. Tapi, tak mengenal wajah-wajah dalam lukisan itu." Madi memberitahu kyai Sarwa saat bertemu di ujung ruangan.


Kyai Sarwa mengangguk, menerima lukisan yang disodorkan Madi, kemudian mengamatinya dengan cermat. Memejamkan mata, mencoba menerawang dengan penglihatan mata batin, selanjutnya mengunci sementara, agar makhluk astral itu tak keluar saat ini.

__ADS_1


"Iya, Madi. Lukisan itu adalah semacam portal bagi makhluk astral itu untuk memasuki alam manusia." Kyai Sarwa memberi penjelasan sambil menggulung lukisan yang sempat dibukanya tadi.


Madi memandang kyai Sarwa cukup lama, takjub dengan penjelasan kyai Sarwa barusan. Berarti memang benar dugaannya, lukisan itu merplakan tempat persembunyian makhluk-makhluk tak kasat mata.


"Bagaimana seterusnya, Kyai? Apa yang harus kita lakukan?" Kyai Sarwa tersenyum, tipis, mendengar pertanyaan beruntun Madi.


"Untuk saat ini, kita bawa saja dulu lukisan ini ke rumah. Nanti malam, setelah salat isya, kyai akan hadapi makhluk-makhluk ini." Madi mengangguk, setelah mendengar ucapan kyai Sarwa. Memang betul ucapan kyai Sarwa, malam nanti adalah waktu yang tepat untuk menghadapi makhluk-makhluk itu.


"Baik, Kyai. Madi akan mempersiapkan diri lebih baik lagi," ucap Madi bersemangat.


Kyai Sarwa tersenyum lebar melihat Madi yang begitu bersemangat, menanti saat berhadapan dengan makhluk tak kasat mata itu malam nanti.


"Ya, sudah, sekarang kita, cukupkan saja dulu, pencarian keberadaan makhluk-makhluk itu. Bentengi saja tempat ini dengan pagar gaib, sehingga bisa mencegah kembalinya makhluk-makhluk jahat itu.


Sebelum tiba di rumah, kyai Sarwa sudah menemui Bayu dan ustad Amir, untuk turut membantu menghadapi makhluk astral yang berada dalam lukisan, setelah magrib. Rencananya, mereka akan berzikir bersama setelah salat magrib, dilanjutkan dengan salat isya berjamaah di rumah. Malam ini, kyai Sarwa meminta salah satu ustad senior untuk menggantikan tempatnya, menjadi imam.


Akhirnya, waktu yang dinantikan pyn tiba. Kyai Sarwa, Madi, Bayu dan ustad Amir, duduk membentuk sebuah lingkaran. Kyai Sarwa meletakkan satu gulungan lukisan yang tadi ditemukan Madi. Sementara lukisan yang satunya masih disimpan dan dikunci secara gaib, sehingga makhlum astral di dalamnya tak bisa keluar untuk beberapa waktu.


Perlahan, lukisan itu pun dibuka sang kyai. Hawa dingin langsung menebar, menyelimuti ruangan. Aura mistis dan jahat lun ikut menyertai. Berhubung dari tadi mereka tah berzikir dan memasang hijib, rasa mual akibat kehadiran makhluk berniat jahat itu, bisa dibendung oleh kyai Sarwa dan yangainnya.

__ADS_1


Tiga makhluk bertampang sangat jelek tiba-tiba keluar dari dalam lukisan. Bau sangat amis terpancar dari tubuh ketiga makhluk tak kasat mata itu. Benar-benar bisa membuat terus menerus mual.


Ketiga makhluk itu, terkekeh saat melihat Madi, Bayu dan ustad Amir, seperti menahan napas, tak kuat dengan bau amis yang disebarkan oleh mereka.


"Hai, manusia, untuk apa kalian menahan kami dalam lukisan?" salah satu dari makhluk itu bertanya, membuka komunikasi.


"Seharusnya kalian tak boleh berada dalam lukisan. Untuk apa kalian menjadikan lukisan itu sebagai tempat tinggal?" Gantian, kyai Sarwa bertanya sambol terus berzikir.


"Ha ... ha ... lukisan itu sangat cocok untuk kami jadikan rumah. Bisa lebih leluasa mengganggu kalian manusia yang imannya lemah!" Makhluk astral yang lain, mulai berkoar.


Kyai Sarwa memandang tak berkedip semua makhluk tak kasat mata itu. Tatapan dingin, mengisyaratkan perang. Makhluk astral itu pun, sontak terdiam, sesaat mengamati kyai Sarwa.


"Tidak semudah itu, hai makhluk-makhluk jahat. Siapa yang mengizinkan kalian menjadikan lukisan itu sebagai rumah?" Penasaran, Madi ikut bertanya.


"Seorang manusia bernama Jaka. Dia, yang mengizinkan kami tinggal dalam lukisan itu," jawab makhluk itu bersamaan.


"Dia ndak memiliki hak untuk mengizinkan kalian untuk tinggal dan mengusik penghuni di sini. Lebih baik, enyahlah dari sini!" Kyai Sarwa kembali berkata, kali ini lebih tegas.


Bukannya pergi malah salah satu dari makhluk itu mulai menyerang. Sasarannya adalah Bayu dan ustad Amir. Mungkin mereka menganggap kalau mereka berdua adalah lawan yang paling mudah dihadapi.

__ADS_1


Namun, ternyata dugaan mereka meleset, Bayu dan ustad Amir, cukup trampil, mengelak serangan makhluk-makhluk tersebut. Bahkan, Bayu dan ustad Amir, sudah berani menyerang kembali, bukan hanya sekadar bertahan


Kyai Sarwa tersenyum lebar, tambah merasa yakin, bisa kembali mengusir para makhluk yang berniat mengusik ketenangan santri di pondok. Dengan kekuatan mereka berempat, makhluk tersebut, pasti bisa diusir , tak lagi membuat keonaran di pondok. Kesempatan Jaka untuk menguasai pondok pun akan semakin kecil nantinya.


__ADS_2