Penghuni Pohon Tua

Penghuni Pohon Tua
Sama-sama Bertarung


__ADS_3

Ketika Madi sedang sibuk mempersiapkan diri melawan semua makhluk penghuni pohon tua itu, kyai Sarwa beserta yang lain juga, sedang bersiap, menerima serangan makhluk astral kiriman Jaka.


Bayu dan ustad Amir, terlihat khusuk berzikir, membantu pertahanan kyai Sarwa. Benar saja, belum selesai Madi berhadapan dengan makhluk penghuni pohon tua, kini giliran kyai Sarwa yang diserang beberapa makhluk dari dimensi lain.


Sesosok jin bertubuh sangat tinggi, tiba-tiba saja menyerang kyai Sarwa dan lainnya, tanpa memberi kesempatan menyerang. Dasar jin, gumam ustad Amir, geram. Kyai Sarwa


memberi isyarat pada ustad Amir dan Bayu, karena hanya mereka yang mampu melihat


kehadiran sosok halus tersebut. Sementara para santri dan dua ustad yang lain, belum mampu.


Serangan jin itu membabi buta, ditujukan pada semua yang hadir dalam aula. Kyai Sarwa, lantas menepis serangan jin bertubuh tinggi besar itu. Sementara beberapa sosok astral lain, telah berjejer, mengelilingi mereka.


“Apa maksud kalian membuat keributan di sini?” tanya kyai Sarwa, usai menahan serangan jin tersebut.


“Ha … ha … sudah saatnya kalian semua menjadi budak kami!” seru jin bertubuh jangkung itu. Sepertinya dia adalah pemimpin rombongan makhluk-makhluk tak diundang itu.


“Sebaiknya urungkan saja niat kalian, kalo tidak, kalian akan menyesal nanti!” gertak kyai Sarwa tak mau kalah. Jin dan makhluk tepung lainnya yang sengaja mengganggu manusia, memang tak boleh dibiarkan. Kalau manusia merasa ketakutan dan mencoba berdamai dengan makhluk tersebut, yang ada malah berakibat buruk. Bisa-bisa akan selalu


ditakut-takuti terus menerus, sehingga pada akhirnya terpaksa menuruti kehendak


makhluk-makhluk itu.


Semua makhluk gaib yang mengelilingi kyai Sarwa dan yang lainnya itu, hanya tertawa panjang, menyeringai buas sembari memperlihatkan tampang mereka yang jelek. Mengejek, sengaja membangkitkan amarah, sehingga dengan demikan makhluk tak kasat mata itu nantinya akan mudah menguasai pikiran rombongan kyai Sarwa  yang sedang berzikir.

__ADS_1


“Kami, tak akan pergi sebelum selesai melaksanakan perintah!” tba-tiba saja, makhluk yang berada di sebelah jin bertubuh tinggi itu menjawab. Suarnya begitu berat dan mampu menghipnotis siapa saja yang tak siap menghadapinya.


Kyai Sarwa memperhatikan semua murid dan ustad yang masih bisa bertahan dari gangguan makhluk jahat tersebut. Madi, juga tak luput dari perhatian kyaii. Sebuah pukulan segera dilayangkan kyai Sarwa, tatkala, satu sosok perempuan, berwajah jelek, tua dengan rambut kusut masai, mencoba mendekati Bayu .


Makhluk perempuan itu terkekeh, sangat panjang, membuat bulu kuduk merinding. Tampaknya, makhluk yang menyerupai nenek tua itu memilih Bayu untuk menjadi lawannya. Santri yang sudah cukup lama mondok, dan belajar langsung debgan kyai Sarwa ini, juga menyadari bahaya yang mengancam.


Pertahanan pun semakin ia perkuat. Termasuk membaca zikir dan semua amalan dan hijb yang disalurkan ke tangan dan seluruh tubuh, untuk menangkal pengaruh buruk dari makkhluk sebangsa dedemit itu.


“He … he … tangguh juga kau, Anak Muda!” seru makhluk itu, memuji pertahanan Bayu. “Tapi, lihat saja, nanti, masih sanggupkah kau, anak muda, menghindar dari pengaruh dan seranganku!”


Tawa  makhluk itu semakin keras, seperti


sengaja ingin mengganggu konsentrasi Bayu dan yang lainnya.


Makhluk tersebut mencoba menghindar, tapi, pukulan Bayu dan kyai Sarwa lebih cepat, membuat makhluk itu sedikit bergeser dari tempatnya tadi berdiri. Tampak amarah  mulai menyelimuti seluruh makhluk-makhluk astral lainnya. Jin bertubuh tinggi, demit berbentuk perempuan tua jelek , makhluk setengah ular dan harimau, serta satu sosok perempuan cantik luar biasa dengan lidah menjulur sangat panjang, mulai terlihat gusar dan segera menyerang bersamaan.


Melihat gangguan yang dilakukan semua makhluk itu sudah semakin berbahaya, kyai Sarwa memperingatkan yang lainnya ubtuk berhati-hati. Serangan demi serangan diarahkan semua makhluk gaib itu kepada kyai Sarwa dan muridnya, membuat pertarungan bertambah sengit.


Desis dan auman binatang buas, terdengar begitu keras, membuat ciut nyali siapa saja yang mendengar. Beruntung, kyai Sarwa bukanlah pemimpin pondok biasa. Beliau memiliki banyak ilmu, amalan serta hijib yang mampu mengusir makhluk-makhluk yang berasal dari dunia lain.


Sementara, Madi, juga memiliki pertarungan sendiri. Kali ini berhadapan dengan sepasang kakek dan nenek bertubuh cebol tapi kejam. Makhluk-makhluk itu pun tak memberi kesempatan pada Madi untuk bisa berkomunikasi apalagi memnta bantuan pada kyai Sarwa,


“Menyerahlah, Madi! Lebih baik, ikuti saja kehendak kami!” ucap sepasang kakek nenek bertubuh cebol itu. Madi menggeleng dan menolak permintaan makhluk itu.

__ADS_1


 Melihat Madi terus menolak rayuan mereka, membuat makhluk penghuni pohon tua itu tak lagi mau berkomunikasi dengan Madi. Segera saja semua makhluk itu menyerang Madi secara membabi buta.


Awalnya, Madi sangat kerepotan menghadapi serangan makhluk tersebut yang terkenal brutal. Hawa dingin terasa lewat tiap sebentar di semua sisi tubuhnya, pertanda serangan memang total diarahkan padanya.


Kepalan tinu Madi terlihat bergetar saat meluncurkan hijib yang khusus ditujukan pada makhluk-makhluk seperti itu. Membuat semua makhluk tersebut pergi karena tak tahan dengan panas yang diakibatkan oleh pukulan itu.


“Bagaimana? Apa kalian masih mau mendesakku untuk menjadi pengikut kalian?” Kali ini, Madi mengejek, menantang semua penghuni pohon tua, setelah mereka terlihat kewalahan menghadapi pukulan hijibnya.


Pemimpin makhluk penghuni


pohon tua itu, hanya melengos, kemudian tertawa sangat panjang. Merasa, saat ini masih ada waktu, mempengaruhi Madi dengan sifat asli mereka yang jahat dan kejam. Meniupkan perasaan was-was dalam hati Madi, sehingga berakibat hancurnya


konsentarsi suami Aulia ini.


Melihat situasi Madi yang tampaknya  mengkhawatirkan, kyai Sarwa segera memperingatkannya. Mengingatkan Madi untuk segera fokus lagi, berzikir dan tak boleh lengah menghadapi semua penghuni pohon tua itu, terutama pemimpinnya yang licik.


“Madi, hilangkan rasa cemas dari dalam hatimu. Kita akan baik-baik saja. Itu adalah senjata utama mereka agar bisa meruntuhkan pertahananmu!” Madi yang mulai goyah pertahanannya, perlahan mulai memusatkan kembali konsentrasinya setelah mendengar bisikan kyai Sarwa.


Tadi, dia memang sempat ragu, karena disusupi perasaan was-was, khawatir tak bisa membantu kyai Sarwa menghadapi makhluk astral lainnya yang kini berkumpul dalam mushala.


“Baik, Kyai! Terima kasih, sudah mengingatkan Madi.”


Melihat usahanya gagal mempengaruhi Madi, pemimpin penghuni pohon tua itu pun murka dan menyerang Madi dengan cepat, tanpa memberi kesempatan lagi pada laki-laki muda itu untuk membela diri.

__ADS_1


__ADS_2