
Nang yang sudah dirasuki, semakin liar menyerang Madi. Semakin kuat dan berbahaya. Madi yang sempat tersambar pukulan di bahunya, semakin waspada. Tak ingin merasakan pukulan Nang lagi.
Makhluk tak kasat mata lainnya tertawa senang, bersorak, melihat tuan mereka bisa mendesak Madi. Lengkingan tawa mereka memecah malam.
Madi berusaha agar tak terpengaruh, dan terus menangkis semua pukulan cucu nenek bungkuk, sambil membalas jika memungkinkan.
"He ... he ..., kali ini kau akan mengakui kemenangan kami, Madi!" Nang terus memprovokasi Madi, berharap mental Madi jatuh.
"Jangan mimpi, kau, Nang! Lebih baik kau bersiap menerima seranganku!"
Madi tak lagi meladeni ejekan dan hasutan Nang, memberikan pukulan hijib yang bisa melumpuhkan makhluk yang berada dalam tubuh Nang.
"Argh ... panas ...! Dasar, kau, Madi!" Makhluk yang berada dalam tubuh Nang, menjerit kepanasan, saat hijib Madi mengenainya. Namun, makhluk itu masih belum mau beranjak, keluar dari badan Nang. Bersama Nang, kembali menyerang, membalas pukulan hijib Madi tadi.
Merasa punya peluang untuk bisa mengeluarkan makhluk yang bersinergi dengan Nang, Madi dengan tenang melayani serangan mereka. Kali ini, dia juga lebih serius mengarahkan setiap serangan ke bagian titik lemah Nang.
Kembali ke pondok, di mana kyai Sarwa sudah mulai bisa menguasai keadaan. Namun, pemimpin makhluk yang dihadapi kali ini lebih licik dan kuat. Terkadang, makhluk itu bisa mengecoh penglihatan kyai Sarwa. Berubah jadi sezeorang yang dikenalnya.
Kyai Sarwa sendiri jadi ragu saat akan menyetang ketika melihat kalau bukan makhluk berwajah seram dan berbadan amis itu yang berhadapan dengannya. Seperti saat ini, makhluk itu menyamar, menyerupai putrinya.
"Asta, minggir! Abah akan menyerang makhluk itu!" Kyai Sarwa berteriak sangat keras, menghentikan serangannya tiba-tiba.
Makhluk yang menyamar jadi Asta, putri kyai Sarwa itu tetsenyum, pua, bisa mengelabuhi lemimpin pondok. Sebuah serangan balasan pun di arahkan, mengincar bagian jantung kyai Sarwa.
__ADS_1
Setelah beberapa saat tertipu oleh pandangan semu di depannya, kyai Sarwa akhirnya sadar, tapi, terlambat, pukulan makhluk itu sudah mengenai dirinya. Brruntung, tadi, kyai Sarwa sempat berlari menghindar, bukan bagian jantung yang terkena pukulan, tapi lengan kiri.
Sambil meringis, menahan sakit, kyai Sarwa menarik napas, merapal ajian dan hijib untuk melumpuhkan makhluk tersebut. Kali ini, tak noleh meleset, karena, Madi, saat ini sangat membutuhkan bantuannya.
"Bagaimana rasanya pukulanku, orang tua?" ejek makhluk tersebut. Menjengkelkan memang melihat tampang makhluk yang merasa sudah bisa unggul dari kyai Sarwa.
"Hm ... tunggulah, jangan besar kepala dulu, kau, makhluk jelek! Sebentar lagi, tubuhmu akan terbakar rasa panas!" ancam kyai Sarwa.
Makhluk tak kasat mata itu tertawa, sangat panjang, diikuti oleh kedua rekannya. Kyai Sarwa tak terpengaruh sedikit pun. Sebuah hijib pun sudah dilepaskan.
Makhluk itu menjerit keras, tak lagi pongah atas kemenangannya tadi. Persis seperti yang dikatakan kyai Sarwa tadi, tubuhnya seperti terbakar, merasakan panas yang luar biasa.
"Ampun ... pukulan apa yang mengenaiku ini, orang tua? Rasanya panas sekali .... Ampun ...!" Berkali-kali makhluk itu meraung, tak tahan dengan hawa panas akibat hijib kyai Sarwa.
"Bayu, Amir, kalian bisa kan mengatasi makhluk-makhluk ini?"
"Iya, bisa, Kyai Lagi pula pemimpin mereka sudah berhasil Kyai usir. Jadi, tak ada yang perlu ditakutkan!
Kedua makhluk yang tertinggal, memang tedlihat sedikit goyah, saat melihat pemimpin mereka telah berhasil diusir oleh khai Sarwa.
"Kalau begitu, kalian berdua, hadapilah makhluk-makhluk ini, Kyai akan masuk, melihat kondisi Madi!"
Bayu dan ustad Amir menganvguk, mempersilahkan kyai Sarwa masuk. Mereka merasa, tak akan terlalu sulit mengalahkan kedua makhkuk yang tersisa itu.
__ADS_1
Setelah melihat kondisi sudah tak mengkhawatirkan lagi, kyai Sarwa bergegas .masuk, menuju tubuh Madi yang sedang bersila. Kemudian, duduk di sebelah Madi, meninggalkan raganya, menuju rumah odang tua Aulia.
Di sana, makhluk-makhluk tak kasat mata, seperti kuntilanak dan yang lainnya, sudah mengepung Madi. Nang pun dengan leluasa melancarkan serangan. Meski makhluk yang berada di tubuhnya berkalu-kalu menahan rasa panas.
Dan, pukulan hijib Madi pun akhirnya bisa mengeluarkan sepasang kakek cebol yang mendiami tubuh Nang. Keluarnya, makhluk tak kasat mata, membuat demit perempuan bertaring panjang itu, segera mengambil posisi, mengantikan sepasang kakek tersebut.
Kuntilanak itu lebib ganas serangannya. Jari-jari Nang tiba-tiba saja memiliki kuku yang sangat panjang dan runcing. Bersiap mengincar leher dan bagian vifal tubuh Mafi.
"He ... he ..., memang dasar tak becus itu, kakek nenek. Sama, manusia kayak gini saja, kalah!" Kuntilanak dalam tubuh Nang, mengoceh, mencoba membangkitkan kemarahan Madi.
Tanpa menampakkan rasa cemas yang tadi sempat hinggap, Madi memandang tajam Nang. Mulut Madi terus mengucap zikir dan doa, mohon diberikan kekuatan dan ketenangan saat menghadapi kuntilanak, demit perempuan yang menjadi pemimpin makhluk penghuni pohon tua itu.
"Aku tak akan menyerah, hau, demit! Kali ini, kalian akan mengalami hal yang sama, seperti yang dirasakan anak buahmu tadi. Keluar, bertediak kepanasan.!" Madi berkata, berusaha membangkitkan kemarahan makhluk tepung itu.
"Kita lihat saja, nanti!" Nang yang sudah bersatu dengan kuntilanak itu berteriak, mengeluarkan pukulan demi pukulan. Nang, benar-benar sudah seperti orang kerasukan.Tindakannya pun sudah dipengaruhi oleh kun tilanak tersebut. Kuku tajam yang berada di jari Nang, bergerak tangkas, mencari sasaran
Madi, sebenarnya cukup cemas, karena, tak mudah mengalahkan demit perempuan ini. Meski telah berkali-kali menang, tapi, Madi belum mampu mengusir dan menghancurkan markas demit perempuan, bersama penghuni yang lainnya. Pohon tua yang memiliki usia hampir seratus tahun lamanya. Berada di seberang rumahnya.
Sebuah serangan Nang berhasil, membuat sebuah sobekan di tangan Madi. Baju di bagian lengannya, sedikit koyak, dan kuku Nang pun menggores sedikit kulit tangan Madi yang bajunya sobek tadi.
Rasa perih seketika menjalar ke seluruh badan Madi. Membuat tubuh suami Aulia itu, nyaris kaku. Tanpa membuang waktu, Madi mencoba menetralisir bekas pukulan Nang. Rasa perih tadi mulai berkurang. Nadi, harua bisa membalas serangan Nang tadi.
"Tak mengapa, kalian bisa melukai kulit tanganku. Namun, sudah itu, kalian akan merasakan pembalasanku." Tekad Madi akhirnya bulat, mengerahkan semua kemampuan, untuk mengusir semua makhluk yang bersekutu dengan Nang. Membuat cucu nenek bungkuk itu kapok.
__ADS_1
Makhluk itu kembali tergelak, terus mengejek, berharap Madi goyah, sehingga tak akan mampu membalas mereka. Bahkan Mau menjadi mitra makhluk tersebut