Penghuni Pohon Tua

Penghuni Pohon Tua
Gangguan itu Masih Ada


__ADS_3

Madi menatap tajam ke arah makhluk tak kasat mata itu. Udara di ruang tengah terasa semakin dingin. Makhluk itu gantian menatap Madi. Ada bau amis yang menyeruak dari makhluk gaib itu.


Madi sampai menutup indera penciumannya.


"Aku tak pernah melihatmu sebelumnya berada di sini?"


"Aku memang baru bergabung bersama penghuni yang lain. Tempatku berasal jauh dari sini. Nun di sana, daerah pegunungan yang letaknya jauh dari sini."


Madi menarik napas lumayan panjang. Tak terlintas dalam otaknya kalau makhluk-makhluk astral lainnya ada yang akhirnya bergabungvdan tinggal di pohon tua itu.


"Apa yang membuatmu betah berada di sini, hai makhluk tak kasat mata?" tanya Madi sungguh ingin tahu.


"Panggil aku Ki Buto. Dulu, di daerah asalku banyak manusia yang menyembah dan meminta pertolonganku. Di sini juga banyak kaummu yang melakukan hal itu."


Madi semakin resah. Ternyatabyang menbuat makhluk-makhluk seperti itu betah dan merasa nyaman tinggal di sini adalah orang-orang yang senang memberi sesajen dan melakukan ritual di pohon tua itu. Sesaat, Madi tafakur, berzikir, membaca hijib dan meminta pertolongan agar diberi kekuatan oleh Allah agar bisa mengadapi makhluk itu.


"Sebaiknya, Kau, Anak Muda, bersekutu saja dengan kami. Sepertinya, Kau memiliki kemampuan supranatural yang cukup hebat." Makhluk itu mencoba membujuk Madi.


Madi tak menggubris ajakan si makhluk gaib itu. Dia masih sibuk membaca hijib dan zikir, memperkuat pertahanan dan mengisi kepalan tangannya. Siap, menghantam makhluk itu, jika diperlukan.


Menghadapi sikap Madi yang tetap tenang, diam saja. Makhluk itu terlihat mulai gusar. Kuku-kuku tangannya yang runcing mulai digerakkan, hendak mencekik Madi.


"Pergilah dari hadapanku. Jangan mencoba mengganggu Kami!"


Kali ini Madi tak mau tinggal diam lagi. Dia menggeser tubuhnya sedikit, mengelak cekikan makhluk itu. Sebuah hijib melakui kepalan tangannya di arahkan pada makhkuk itu. Tepat di bagian kepalanya.


Makhluk itu menyeringai, sabgat jelek dan menjijikkan. Tubuhnya yang menyerupai raksasa terus berusaha mendekati Madi.Aroma tubuhnya semakin amis. Madi berusaha keras menahan napas, menepis bau yang sabgat menyengat itu.


"Sudahlah, Anak Muda. Bergabunglah bersama Kami. Hidupmu pasti akan jauh lebih suksesvdari sekarang. Kau tak perlu berjyalan sayur tiap pagi." Sambil menyerang makhluk itu terus merayu Madi.

__ADS_1


"Tak perlu susah payah merayuku, Hai Makhluk Terkutuk. Aku tak sudi menjadi sekutumu!" jerit Madi, sembari menyarangkan sebuah hijib lagi.


Makhluk itu kembali tertawa panjang, meremehkan kemampuan Madi.


"Ha ... ha ... ha ...."


Madi tak merasa gentar sedikir pun. Dia semakin berkonsentrasi melawan makhluk tinggi besar itu. Saat sebuah serangan dilancarkan olehnya, makhluk itu telah berada sangat dekat, mencoba mencengkeram pundaknya.


Madi sedikit terperanjat, tapi dia berusaha tetap tenang. Sedikit menjauh dari makhluk itu, sambil melancarkan sebuah hijib.


"Masih melawan ternyata, Kau, manusia. Tak mudah mengusirku dari sini!"


Madi kian bergidik mendengar dentuman langkah makhluk itu. Meski makhluk kasat mata, ternyata makhluk itu memiliki kejuatan yang luar biasa. Bagi orang yang tidak memiliki kenampuan supranatural, jika tersentuh atau tersenggol makhluk ini, bisa dipastikan tubuhnya akan mengalami gangguan luar biasa. Bisa saja sakit tanpa sebab, tanpa bisa dideteksi oleh ilmu kedokteran.


Untuk sepersekian detik, Madi memejamkan mata, menajamkan indera keenam, lebih waspada terhadap serangan makhluk yang bernama ki Buto itu.


"Sssst ... ," desir angin hijib Madi terdengar menuju makhluk bertubuh raksasa itu.


'Rupanya makhluk ini memang tak bisa dianggap remeh. Kekuatannya sungguh luar biasa," desis Madi.


"Ha ... ha ... ha .... Bagaimana, Anak Muda. Lebih baik menyerah saja sekarang. Mumpung belum terlambat!"


"Sekali lagi, Aku tegaskan, tak akan sudi menerima tawaranmu!" seru Madi, bergerak cepat melancarkan satu, dua pukulan hijib. Dia harus bergerak lebih cepat kini. Tak boleh gegabah dalam bertindak.


Makhluk itu pun tak lagi berupayavmembujuk Madi. Ia akhirnya meladeni permainan Madi. Sesekali hawa panas akibat serangan Madi membuat gerakannya berhenti. Namun, seperti memiliki kekuatan super, makhluk iru kembali menyerang Madi.


Walau awalnya bingung menemukan cara yang paling efektif mengusir makhluk itu, akhirnya Madi menemukan jalannya juga. Madi, terus membaca berbagai amalan yang telah ia pelajari dari kyai Sarwa. Juga membaca zikir-zikir yang bisa mengusir makhluk-makhluk tak kasat mata, seperti ki Buto itu.


Makhluk itu tetap berusaha mencengjeram, mencekik leher Madi. Kuku runcing tajamnya juga selalu mencoba mengoyak setiap bagian tubuh Madi. Menyayatnya menjadi irisaj-irisan daging.

__ADS_1


Madi tak terpengaruh lagi dengan ejekan yang bermaksud menjatuhkan mentalnya. Bahkan Madi semakin berani melancarkan hijibnya ke arah makhluk itu. Setiap bagian makhluk itu menjadi sasaran hijib Madi. Mulai dari bagian kepala, dada, perut sampai kaki. Tak ada bagian yang dilewatkan oleh Madi.


"Rasakan ini, hai Makhluk Tak Kasat Mata!" pekik Madi, melancarkan sebuah hijib ke arah dada makhluk itu.


Sontak makhluk itu berteriak kepanasan. Kali ini, hijib Madi bisa bersarang di tubuhnya.


"Panas ... panas ... panas ...."


Madi terus siaga, mempersiapkan hijib untuk menyerang lagi. Sementara makhluk itu tampak menetralisir hawa panas dari hijib yang tadi dipukulkan Madi.


"Masih belum menyerah juga, Kau, Ki Buto?" ejek Madi, kali ini, berusaha membuat makhkuk itu semakin beetambah marah.


"Aku belum menyerah, Anak Muda. Serangan hijibmu ini, masih tak berarti apa-apa."


Madi tersenyum lebar mendengar sahutan ki Buto. Mungkin saja makhkuk itu bisa menetralisir hawa panas yang tadi disebabkan oleh hijibnya, tapi, hawa panas itu tidak akan segera menghilang. Makhluk itu akan tetap merasakan hawa panas, apalagi jika ditambah serangan hijib yang lainnya lagi.


"Kalau begitu. Bersiaplah Ki Buto, terimalah hijibku ini!"


Madi lantas dengan cepat menyarangkan sebuah kepalan tinju yang berisi hijib tepat di bagian pundak makhluk itu. Sekali lagi makhluk bertubuh raksasa itu menjerit kepanasan. Sepertinya, Madi mulai menemukan titik kelemahan makhluk astral itu.


"Panas ... panas ... panas .... Dasar Kau, Manusia!"


Makhluk itu tampak mencoba membuang hawa panas, akibat serabgan hijib Madi. Mulutnya komat-kamit seperti membaca sesuatu untuk menangkal hawa panas yang tadi ia rasakan.


"Sekarang, menyerah saja. Pergilah dari sini. Jangan ganggu kami lagi!"


"Jangan sombong, Kau, Manusia! Aku masih belum kalah."


Madi tertawa kecil, menertawakan kesombongan makhkuk itu. Meski sudah terkena beberapa kali pukulan hijibnya, makhluk itu masih belum mengaku kalah.

__ADS_1


"Jangan mengejekku Manusia! Lihatbaik-baik seranganku!"


Madi segera bersiap menyambut serangan ki Buto. Memang, makhluk tadi sempat berteriak kepanasan, tapi, serangannya kali ini benar-benar sangat berbahaya. Tubuh besarnya mencoba melindas tubuh Madi.


__ADS_2